----------  Forwarded Message  ----------
Subject: Asal usul Imlek 
Date: Thu, 30 Jan 2003 10:47:16 +0700
From: [EMAIL PROTECTED]

diambil dari :
http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/Budaya_Bangsa/Pecinan/Imlek.htm

Imlek_di_IndonesiaImlek di Indonesia


Aslinya Imlek atau Sin Tjia adalah sebuah perayaan yang dilakukan oleh
para petani di Cina yang biasanya jatuh pada tanggal satu di bulan
pertama di awal tahun baru. Perayaan ini juga berkaitan dengan pesta
para petani untuk menyambut musim semi. Perayaan ini dimulai pada
tanggal 30 bulan ke-12 dan berakhir pada tanggal 15 bulan pertama.
Acaranya meliputi sembahyang Imlek, sembahyang kepada Sang Pencipta, dan
perayaan Cap Go Meh. Tujuan dari persembahyangan ini adalah sebagai
wujud syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih
banyak, untuk menjamu leluhur, dan sebagai sarana silaturahmi dengan
kerabat dan tetangga.

Karena perayaan Imlek berasal dari kebudayaan petani, maka segala bentuk
persembahannya adalah berupa berbagai jenis makanan. Idealnya, pada
setiap acara sembahyang Imlek disajikan minimal 12 macam masakan dan 12
macam kue yang mewakili lambang-lambang shio yang berjumlah 12. Di Cina,
hidangan yang wajib adalah mie panjang umur (siu mi) dan arak. Di
Indonesia, hidangan yang dipilih biasanya hidangan yang mempunyai arti
"kemakmuran," "panjang umur," "keselamatan," atau "kebahagiaan," dan
merupakan hidangan kesukaan para leluhur.

Kue-kue yang dihidangkan biasanya lebih manis daripada biasanya.
Diharapkan, kehidupan di tahun mendatang menjadi lebih manis. Di samping
itu dihidangkan pula kue lapis sebagai perlambang rezeki yang
berlapis-lapis. Kue mangkok dan kue keranjang juga merupakan makanan
yang wajib dihidangkan pada waktu persembahyangan menyambut datangnya
tahun baru Imlek. Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue
mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol
kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok.

Ada juga makanan yang dihindari dan tidak dihidangkan, misalnya bubur.
Bubur tidak dihidangkan karena makanan ini melambangkan kemiskinan.

Kedua belas hidangan itu lalu disusun di meja sembahyang yang bagian
depannya digantungi dengan kain khusus yang biasanya bergambar naga
berwarna merah. Pemilik rumah lalu berdoa memanggil para leluhurnya
untuk menyantap hidangan yang disuguhkan.

Di malam tahun baru orang-orang biasanya bersantap di rumah atau di
restoran. Setelah selesai makan malam mereka bergadang semalam suntuk
dengan pintu rumah dibuka lebar-lebar agar rezeki bisa masuk ke rumah
dengan leluasa. Pada waktu ini disediakan camilan khas Imlek berupa
kuaci, kacang, dan permen.

Pada waktu Imlek, makanan yang tidak boleh dilupakan adalah lapis legit,
kue nastar, kue semprit, kue mawar, serta manisan kolang-kaling. Agar
pikiran menjadi jernih, disediakan agar-agar yang dicetak seperti
bintang sebagai simbol kehidupan yang terang.

Tujuh hari sesudah Imlek dilakukan persembahyangan kepada Sang Pencipta.
Tujuannya adalah sujud kepadaNya dan memohon kehidupan yang lebih baik
di tahun yang baru dimasuki.

Lima belas hari sesudah Imlek dilakukan sebuah perayaan yang disebut
dengan Cap Go Meh. Masyarakat keturunan Cina di Semarang merayakannya
dengan menyuguhkan lontong Cap Go Meh yang terdiri dari lontong, opor
ayam, lodeh terung, telur pindang, sate abing, dan sambal docang.
Sementara di Jakarta, menunya adalah lontong, sayur godog, telur
pindang, dan bubuk kedelai.

Pada waktu perayaan Imlek juga dirayakan berbagai macam keramaian yang
menyuguhkan atraksi barongsai dan kembang api.


---------------------------------------------------------------------
Milis Kelenteng - Quan Shui
URL: http://lists.quanshui.org
Posting, email: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke