Kelenteng (1) satulelaki.com - Dalam bahasa Indonesia, kata kelenteng dipakai untuk menyebut tempat ibadah kaum penganut Konghucu, Taoisme, dan Chinese-Budhisme. Konon, kata ini berasal dari berasal dari bunyi "teng-teng" atau "klenteng-klenteng", suara genta kecil ataupun lonceng besar yang sering terdengar dari dalam bangunan tempat ibadah itu ketika diadakan upacara ritual.
Adapula yang menganggap kata kelenteng berasal dari "Kwan Im Ting" atau tempat pemujaan Dewi Kwan Im. Di Cina sendiri tak ada istilah kelenteng, bahkan masing-masing penganut Konghucu, Taoisme dan Chinese-Budhisme memiliki tempat ibadah masing-masing. Kata "Miao" (Bio - Hokkian) berarti kelenteng besar, dan "Ci" berarti kelenteng kecil. Miao atau Ci adalah tempat pemujaan terhadap "gui-shen' (Kwi sin - Hokkian) atau arwah suci. Kata "Gong" dan "Guan" adalah kelenteng bagi penganut Taoisme menyembah dewa-dewa. Sedangkan kelenteng Budhisme menggunakan istilah "An" (Am-Hokkian) untuk yang dihuni kaum Bhiksuni, dan "Si" untuk yang dihuni para Bikhu. Seperti kuil Shaolin Si dan Biyun Si di Cina. Da Jue Si (Tay Kak Sie) di Semarang, dan Chao Jue Si (Tiao Kak Sie) di Cirebon. Kaum Tionghoa Indonesia biasanya menganut ajaran San Jiao (Sam Kao) yaitu perpaduan ajaran Konghuchu, Taoime dan Chinese-Budhisme. Sebuah kalimat menggambarkan hal itu, yaitu bahwa orang Cina "bertopi Konfusianisme, berikat pinggang Taoisme, dan besepatu Budhisme. Oleh sebab itu dalam kelenteng-kelenteng di Indonesia terdapat altar dewa-dewi dari ketiga ajaran tersebut. [Redant/hrw/wsd] --------------------------------------------------------------------- Milis Kelenteng - Quan Shui URL: http://lists.quanshui.org Posting, email: [EMAIL PROTECTED] Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
