----------  Forwarded Message  ----------
Subject: [fordian] Imlek
Date: Thu, 30 Jan 2003 22:37:58 +0700
From: "Suhadi" 
To: "Forum Dian" 

Berikut adalah cuplikan tulisan sdr Herlianto di Glorian Cyber Ministries
 (www.glorianet.org)

Bagaimana umat Kristen melihat Imlek dalam terang firman Tuhan? Dalam hal
 Imlek, khususnya orang Tionghoa yang telah menjadi Kristen perlu membedakan
 antara 'merayakan' Imlek dan 'menghadiri' peringatan Imlek. Merayakan Imlek
 artinya kita terlibat langsung dalam upacara Imlek seperti misalnya sujud
 dan sembahyang dengan dupa di depan meja sembahyang pada Toa Pe Kong dapur
 dan tengah malam sebelum Imlek membakar hio (dupa) sebagai ekspresi
 penyembahan dewa dan menyenangkan roh-roh nenek-moyang dalam 'Sembayang
 Tahun Baru' yang dilakukan dengan sujud (kui) di depan meja sembayang tempat
 menyimpan abu nenek moyang, apalagi kalau mengikuti sembayang 'Sam Seng'
 (sembayang pengorbanan 'tiga hewan') yang adalah ritus pengorbanan kafir.

Tidak ada larangan bahwa seorang Tionghoa yang menjadi Kristen tidak boleh
 'Menghadiri peringatan Imlek' yang tentu berbeda dengan ikut merayakan
 upacaranya. Seseorang yang telah menjadi Kristen bisa saja hadir dalam
 pertemuan keluarga di hari Imlek karena disitu berkumpul anggota keluarga
 yang belum Kristen dan masih merayakan upacara Imlek, dan menjadi kesempatan
 reuni keluarga. Tentu seorang Kristen tidak perlu mengikuti upacaranya yang
 bisa mendukakan Roh Kudus di dalam kita.

Soja kui didepan meja sembahyang jelas bukan kebiasaan Kristen demikian juga
 soja kui didepan orang tua perlu disudahi karena kita hanya menyembah Tuhan
 saja. Sebenarnya yang menjadi masalah adalah bahwa bagi seorang Kristen
 Tionghoa ia sebenarnya dapat mengasihi orang tuanya sepanjang tahun, karena
 itu bila dilihat kasihnya itu oleh orang tua, bila ia tidak soja kui pada
 hari Imlek tentu tidak menjadi masalah. Kasih yang tulus dan menerus secara
 Kristiani lebih berarti daripada tata-cara budaya sembah setahun sekali.

Menghadirkan barongsai atau mengundang barongsai di lingkungan kita harus
 dibedakan dengan hanya melihat barongsai di TV misalnya. Kita harus
 menyadari bahwa bagi yang merayakan termasuk yang memainkan, Barongsai bukan
 sekedar tarian akrobatik tetapi merupakan tarian religi yang berbobot mistik
 dan okultis. Sumber-sumber ahli masalah budaya cina sendiri mengatakan
 bahwa:

"Dalam pemujaan dan dalam upacara-upacara magis yang terdapat dalam
 kebudayaan-kebudayaan religi, banyak bentuk simbol dianggap mempunyai daya
 misterius yang mempengaruhi orang. Daya ini adalah daya magis .
 Simbol-simbol religi juga bisa ampuh karena simbol-simbol ini dalam dirinya
 mempunyai kemampuan untuk mengundang roh dan memerintah roh tersebut .
 Beberapa simbol memang benar mempunyai daya magis . Singa dipercaya sebagai
 lambang dan berkah dan juga untuk mengusir pergi pengaruh jahat dengan
 mendatangi rumah-rumah dan kantor-kantor. Tarian ini disertai dengan pukulan
 tambur dan gembreng serta mercon untuk mengusir roh jahat (Ong Hean Tat,
 Simbolisme Hewan Cina, hlm.5-7, 234).

Jelas bahwa dalam iman Kristen tidak dipercaya adanya dewa-dewi dan
 penyembahan kepada roh nenek moyang bukan kehendak Tuhan, apalagi kalau
 manusia mengharapkan figur 'naga' sebagai simbol juruselamat, karena hanya
 ada satu juruselamat yaitu Tuhan sendiri yang menjelma menjadi manusia
 'Yesus Kristus.' Karena itu, pertunjukan naga (liong) atau ekspresinya dalam
 bentuk 'barongsai' tidak lain adalah ekspresi 'penyembahan roh-roh' yang
 perlu dihadapi dengan kritis oleh umat Kristen, apalagi kalau menghadirkan
 Barongsai dalam lingkungan Kristen sebab kita tahu bahwa fungsi barongsai
 adalah 'mengusir' roh-roh kegelapan sedangkan kepercayaan itu sendiri bagi
 orang Kristen sebenarnya adalah 'kegelapan' juga.

Kita tahu bahwa pertunjukan barongsai bukan sekedar seni tari atau bagian
 budaya saja sebab dalam tradisi Tionghoa, budaya dan agama menjadi satu
 karena merupakan budaya. Itulah sebabnya mempertunjukkan barongsai dalam
 lingkungan Kristen (di rumah, gereja atau kampus sekolah dan Universitas
 Kristen) merupakan penyangkalan dari hakekat iman Kristen yang diemban
 keluarga, jemaat, dan kampus Kristen dan dapat mendukakan 'Roh Kudus Tuhan.'

Bagaimana sebaiknya kita menghadapi tradisi budaya setelah kita percaya?
 Tradisi budaya ada yang baik tetapi ada yang berlawanan dengan iman Kristen.
 Rasul Paulus kepada umat yang telah menerima Kristus menasehati agar :
 "Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang
 kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi
 tidak menurut Kristus." (Kol.2:8).

-------------------------------------------------------


---------------------------------------------------------------------
Milis Kelenteng - Quan Shui
URL: http://lists.quanshui.org
Posting, email: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke