By: dhammawan
Posted: Mon Feb 03, 2003 12:12 pm    
Post subject: Agama Tao difitnah
Sumber: Tempat Diskusi SiuTao.com
URL: http://siutao.com/forums/

Saudara-saudara, 
Inilah contoh kesaksian palsu yang dibuat pihak Kristen ( 
www.kristenonline.com/kristen/kesaksian/tao.txt ) untuk mengadu domba sesama 
umat Tridharma dan khususnya untuk menjelekkan agama Tao!!!. 

Harap saudara-saudari berhati-hati dengan ucapan / pernyataan yang dilemparkan 
oleh pihak Kristen untuk memecah belah umat Tridharma (dengan umat agama lain 
juga) dengan memberikan info keliru mengenai agama Tao (ataupun agama Budha 
dan agama Konghucu). Mereka sedang memecah belah kita!!! 

Jelas-jelas bahwa kesaksian ini dibuat oleh seorang oknum Kristen yang ingin 
menyebarkan info palsu seakan-akan agama Tao itu kejam, dan setara dengan 
black-magic, seperti yang disebutkan di artikel tsb (menggunakan 12 tengkorak 
bayi). 
Jelas bahwa hal ini bertentangan dengan konsep agama Tao yang sebenar-benarnya 
,yaitu: mementingkan welas asih dan kesucian. (Entah mengapa ada orang yang 
begitu jahatnya memfitnah agama orang lain, apalagi menerbitkannya di 
web-site yang mudah dicapai umum). 

Seperti di Amerika juga, cara-cara mengadu domba antar umat ini juga dilakukan 
oleh gol.Kristen. Disisi lain, mereka mengatakan bahwa agama Budha adalah 
pesimis, auto-erotis, atheis ; agama Konghucu adalah bukan agama melainkan 
filsafat. Mereka ingin agar mereka yang beragama Budha memandang negatif Tao 
dan Konghucu, mereka yang beragama Tao memandang negatif Budha dan Konghucu, 
dan mereka yang beragama Konghucu memandang negatif agama Budha dan Tao. 
Dengan demikian maka kita akan saling menjelekkan satu dengan yang lain TANPA 
mengetahui ajaran mulia yang sesungguhnya. Apabila kita sebagai umat 
Tridharma / Klenteng mempercayai hal ini dan dengan mudahnya dipecah-belah, 
maka mereka tentu tertawa terbahak-bahak merasa bahwa taktiknya berhasil. 

Dari artikel itu, yang bersangkutan jelas bukan umat Tridharma. Hal ini 
terlihat jelas bahwa menulisnya saja keliru (mis: "Trydharma"). Demikian pula 
ybs tidak tahu dengan jelas mengenai metode agama Tao sehingga menyebutnya 
dengan "Yoga" yang jelas berbeda. Lagi pula menganggap bahwa 'Tao Te King' 
(jelas penggunaan dialek hokkian dan mandarin yang campur aduk) sebagai 
sebuah kitab meditasi…..jelas-jelas dibuat oleh orang yang tidak mengerti. 
Bahkan membaca Tao Te Cing pun barangkali belum pernah. Lagipula, jelas 
sekali orang ini tidak mengerti konsep "kekosongan" (sunyata) dalam agama Tao 
sehingga main anggap saja "kosong" sebagai "kosong pikiran". 

Begitu juga kekeliruan pandangannya dalam hal 'berjalan di atas api' maupun 
'mandi minyak mendidih' yang apabila ybs benar-benar mengerti maka tidaklah 
perlu menghubungkannya dengan 'roh' dsb. Demikian juga mengenai spelling 
penyebutan nama Dewa-dewi Tao yang salah ejaan dan dicampur adukkan dengan 
Po-sat yang merupakan Buddha. 

Jelas sekali bahwa 'kesaksian' ini adalah palsu dan rekayasa saja untuk 
mempengaruhi umat Klenteng agar bertobat masuk Kristen dengan cara-cara 
menjelekkan yang tidak terpuji. 

Sedangkan nama sdr. Eddy Tatimu (termasuk PT Innimexintra, Jakarta) sudah saya 
check. Ternyata adalah kebohongan semua. (Yang di Jkt, coba tolong dicheck 
sekali lagi....) 

Oleh karena itu, harap umat Budha, Tao dan Konghucu tidak terpengaruh dan 
dapat bersatu melawan Kekristenan yang menggunakan cara-cara bejat dan 
menghalalkan segala cara ini. 
---------------------------------------------------------------------- 
Lampiran: 

PEMBELOT DEWI KWAN IM 
Taipak dan guru Yoga : Eddy Tatimu 
(Seperti dikisahkan Bpk. Eddy Tatimu kepada Kabar Baik) 

Silat! Ya, sifat dan karakter hidupku dibentuk oleh buku-buku silat Cina yang 
baca. Begitu banyak. Buku-buku silat Tiongkok seperti Chi Yung atau Kho Ping 
Ho itu mengandung ilmu yang sangat tinggi. 
Begitu asyiknya saya membaca, sehingga menjiwai saya bahkan menguasai roh 
saya. Pendeknya buku silat itu seperti belahan jiwa saya. Kalau dapat saya 
katakan, buku-buku yang saya baca seperti memiliki roh. Betapa tidak, tiap 
kali membaca, roh saya seperti tenggelam dalam cerita buku silat itu. 

Sejak usia 16 tahun. 
Sejak kecil saya sudah terbiasa dengan buku-buku silat Cina. Sebenarnya kalau 
hanya sekedar baca tidak menjadi soal, sekedar untuk mengetahui. Tapi 
buku-buku itu mengajarkan sebuah ilmu atau beberapa ilmu, yaitu ilmu untuk 
menghilang, berjalan diatas bara api, disiram minyak mendidih dan anehnya 
saya ingin sekali mempelajari, menguasai dan mem-praktekan ilmu itu. 
Untuk dapat menguasai ilmu-ilmu itu, ada beberapa syarat yang perlu dilakukan, 
seperti melakukan yoga, meditasi, membaca mantra-mantra dan permohonan doa 
kepada dewa-dewa. 
Karena ingin menguasai ilmu, saya mulai belajar yoga dalam usia 16 tahun, 
masih remaja. Ini dimulai tahun 1964, yakni ketika saya masih duduk di kelas 
II SMA di Manado, Sulawesi Utara, tepatnya di sebuah Klenteng besar di kota 
Manado. 


Dari keluarga Budha 
Saya terlahir dari keluarga Budha. Saya lahir di kota Siau, Sangir Talaud, 
Sulawesi Utara, tanggal 06 Agustus 1948. Ayah bernama Ngo Gian Tiet, Ibu 
bernama Suantje Tatimu. Saya sendiri adalah anak ke-5 dari enam bersaudara. 
Kami semua dilahirkan dari keluarga Budha. Tetapi lama-lama kakak-kakak dan 
adik saya masuk Kristen, yaitu Kristen Pantekosta kecuali saya, tetap Budha, 
tentu saja bersama ke dua orang tua saya. 
Meskipun saya bukan Kristen, mungkin saya lebih dahulu tahu, bahwa dewanya 
orang Kristen itu bernama Yesus. Soalnya saya juga mempunyai Alkitab, sebuah 
buku yang menulis lengkap tentang Yesus. 

Dewi Kwan Im 
Dewi Kwan Im lah tuhan saya. Dalam buku-buku silat yang saya baca, Dewi Kwan 
Im sangat di junjung tinggi. Saya menyembah Dewi Kwan Im sejak mulai belajar 
Yoga, yaitu usia 16 tahun. Dalam melakukan Yoga, ada satu hal yang sedikit 
menyiksa saya, yaitu selalu mengasingkan diri dari kesenangan para remaja 
seusia saya. Saya belajar Yoga pada guru terkenal. Yoga itu mengandung magic. 
Jadi dengan beryoga, artinya saya sudah berada di arena magic. Saya tidak 
pernah menyadari itu sebelumnya. Setelah ilmu yoga telah saya kuasai, 
akhirnya saya sendiri mempunyai murid 40 ― 50 orang. 

Mendalami ilmu 
Setelah menguasai yoga, dan kemudian menjadi guru yoga, tahun 1973, dari Budha 
saya pindah agama To (Tao). To itu adalah satu dari Sam Kau atau Try Dharma. 
Yang dimaksud dengan Sam Kau atau Try Dharma, yaitu tiga agama yang masih 
dalam satu aliran, masing-masing adalah : Agama Budha, Kong Hu Cu dan To. 
Untuk lebih jelas, Sam Kau ini dapat dirinci sebagai berikut. 
Budha, agama yang mengajarkan tentang cinta kasih, seperti mengasihi sesama, 
musuh, binatang termasuk semut. 
Kong Hu Cu, merupakan agama yang mengajarkan tentang moral, etika, tata krama 
dan kedisiplinan. 
To, adalah agama yang mengajarkan tentang power, kehebatan atau mujizat, 
ilmu-ilmu sakti, termasuk magic, gaib dll. 
Kalau seseorang beragama Kong Hu Cu, pasti dia tahu tentang Budha dan 
sebaliknya. Penganut agama To, juga tahu tentang Budha dan Kong Hu Cu. Tapi 
Budha dan Kong Hu Cu tidak akan pernah tahu tentang To, kalau mereka tidak 
mengkhususkan diri untuk mempelajarinya. 
Dalam usia 16 saya sudah masuk agama To, dengan tujuan untuk menguasai 
ilmu-ilmu diatas. Dalam agama To ini, mau tidak mau kita harus melibatkan 
diri dalam dunia roh, dan itu sudah saya lakukan sejak tahun 1973. 
Tidak mudah mengikuti agama ini. Sejak 1973, setiap malam saya harus meditasi 
selama 2 jam. Itu saya lakukan selama 20 tahun dan tiada malam tanpa semedi. 
Tiap jam 00.00 saya mulai semedi sampai jam 02.00 dini hari. Pada saat-saat 
tertentu saya juga bermeditasi di siang hari. Ada bermacam-macam cara untuk 
bermeditasi. Sering di tempat sepi, seperti tengah malam. Tapi sering juga di 
tempat ramai, misalnya semedi sambil menyetel televisi keras-keras. Ini 
maksudnya untuk melatih konsentrasi. 

Mengosongkan diri 
Dalam kitab Tao Te King, tujuan orang bermeditasi adalah mengosongkan diri. 
Maksudnya, tidak ada beban yang memberatkan hati dan pikiran. Bila 
pengosongan diri telah terjadi, kekuatan itu akan datang. Dalam kekosongan 
itu kita kuat. Kekosongan itu sebenarnya inti dari meditasi. 
Dalam kitab Tao Te King, kita juga dilarang untuk makan daging, berhubungan 
seks atau hura-hura. Kita hanya boleh makan nasi, sayur atau buah. Bahkan 
saat-saat tertentu harus bertapa/puasa. 
Di usia remaja, saya menjadi manusia alim. Waktu saya hanya habis di Klenteng, 
meditasi, bertapa dan belajar hal-hal yang bersifat religius. Di samping itu 
saya juga tetap aktif bersekolah sampai kuliah. 

Berhubungan dengan roh 
Pada tingkat ilmu tertentu, saya sudah dapat berkomunikasi dengan roh-roh. 
Tidak hanya sekedar komunikasi, bahkan roh-roh itu ada dalam kuasa saya. Saya 
dapat mengendalikan mereka. 
Saya suruh satu-dua roh untuk pergi bergelantungan di tubuh seseorang, sampai 
orang itu merasakan kesakitan. Kalau saya mau sampai ia jatuh sakit, bahkan 
mati. Tapi sampai tingkat jatuh sakit tidak pernah saya lakukan. Melihat 
roh-roh itu bisa tunduk sudah merupakan suatu kebanggaan. Jadi berhubungan 
dengan dunia roh itu adalah hal biasa. Dan saya kira setiap taipak atau 
paranormal, berhubungan dengan dunia roh/gaib adalah kegiatan sehari-hari. 

Berjalan diatas bara api 
Untuk masa kini, melihat orang berjalan di atas bara api, bukan lagi tontonan 
baru. Tapi pada tahun-tahun 70-an sampai 80-an, melihat orang berjalan diatas 
bara api masih merupakan tontonan yang mendebarkan. 
Itulah yang saya lakukan. Apa yang saya baca dibuku-buku silat Cina dulu, kini 
saya mempraktekan sendiri. Saya berjalan-jalan dengan bebas di atas bara api. 
Bara itu ditaruh di wadah sepanjang 5 meter dengan ketebalan bara kira-kira 20 
cm. Kalau diinjak, pergelangan kaki akan masuk seluruhnya. Bagaimana saya 
bisa melakukannya tanpa merasa kepanasan? Itulah ke-saktiannya. Roh-roh itu 
sangat berperan di sini. Sebelum bara di injak, saya cabut kekuatan api atau 
panasnya api. Ini berkat bantuan roh-roh tadi. 
Di hari-hari raya China, biasanya pertunjukan seperti ini diadakan 25 tahun 
sekali. Tapi saya dan teman-teman dapat melakukannya tiap hari. Kami anggap 
itu adalah main-main saja, seperti anak-anak bermain petak umpet. 

Disiram minyak mendidih 
Hampir sama seperti berjalan di atas api. Disiram minyak mendidih, badan saya 
tidak melepuh. Dihadapan orang, memang nampak minyak itu panas. Tapi mereka 
tidak tahu, sebelum minyak panas disiramkan, panasnya minyak sudah saya 
cabut. 
Memang ngeri bagi orang lain. Tapi ini merupakan permainan yang menyenangkan. 
Apalagi pengalaman saya dalam 20 tahun menjadi pengikut Dewi Kwan Im? Masih 
ada. Saya bisa raib. Orang tidak dapat melihat saya, meskipun saya ada di 
antara mereka. Selain itu, saya juga bisa memanggil seseorang secara 
diam-diam dan orang itu akan datang pada saya secara diam-diam pula. Kalau 
saya berdiri 50 meter di belakang Anda dan Anda tiba-tiba menoleh pada saya, 
ketahuilah, saya telah menyuruh satu roh untuk "menarik" kuping Anda ke 
samping, agar bisa melihat saya. 

Im Yang 
Inilah ilmu terakhir yang saya pelajari, bahkan saya "ciptakan" sendiri, yaitu 
Im Yang. Ilmu ini dapat dikatakan sangat berbahaya, kalau kita sengaja 
memanfaatkannya secara keliru. Im Yang bisa menolong orang, bisa juga 
membunuh orang. 
Untuk menguasai Im Yang, saya harus mengumpulkan 12 tengkorak kepala anak 
kecil, 6 laki-laki dan 6 perempuan. Dan itu artinya saya harus menyantet 12 
anak-anak, untuk memperoleh tengkorak mereka. Tetapi belum lagi ilmu itu 
terwujud, saya mengalami sesuatu yang mengubah seluruh sisa hidupku. 

Dewa orang Kristen 
Dalam sebuah buku Meditasi, disebutkan bahwa agama To, yaitu agama saya, 
memiliki banyak dewa. Selain Dewi Kwan Im, ada dewa yang bernama Goan Shie 
Thian Chun, Thai Sang Lo Khun dan Yo Ong Po Sat. Dewa-dewa ini adalah raja 
dibidangnya masing-masing. 
Dalam buku meditasi itu ternyata ada nama Yesus. Yesus disana ditulis sebagai 
dewanya agama Kristen. Tidak banyak yang ditulis tentang Yesus, itu sebabnya 
saya menganggap Yesus itu tidak lebih hebat dari Dewi Kwan Im atau dewa-dewa 
lain tersebut diatas. Bahkan ketika saya membaca Alkitab, saya menjadi sangat 
benci dengan nama Yesus itu. 
Dikatakan dalam buku Meditasi itu, kalau orang beragama Budha, Khong Hu Cu 
atau To, mereka boleh memanggil dewa-dewa tersebut diatas untuk meminta 
pertolongan. Tapi bagi yang beragama Kristen, dapat memanggil nama Yesus. 

Papa sakit jantung 
Tanggal 30 Nopember 1987, Papa saya mendadak sakit jantung dan segera dibawa 
ke Rumah Sakit Gunung Wenang Manado, langsung dimasukan ke Ruang Gawat 
Darurat (ICU) karena kondisinya sudah koma. Kalau orang normal, detakan 
jantungnya 70, tapi Papa 140. 
Ada dua dokter yang menangani penyakit Papa. Begitu melihat angka 140 di layar 
monitor, dokter yang satu berkata, Papa tidak ada lagi harapan. Saya mulai 
takut, tapi saya tidak putus asa karena saya belum memanggil dewa-dewaku. 
Dari 140, tiba-tiba naik secara mendadak menjadi 172. Dokter yang lain datang 
dan berkata, Papa dibawa pulang saja, apa saja yang Papa minta dituruti saja. 
Tidak! Masih ada waktu bagiku untuk memanggil dewa-dewaku. Saya mundur 
beberapa langkah ke belakang dan bersemedi. Saya mengucapkan mantra-mantra, 
memanggil dewa Goan Shie Thian Chun. Dalam ilmu Cina yang saya pelajari, Goan 
Shie Thian Chun adalah raja ilmu. Saya minta dia, dengan segala ilmu yang 
kumiliki, agar dapat menolongku untuk menyembuhkan Papa. Tapi tiada jawaban. 
Saya panggil dewa yang lain, yaitu Thai Sang Lo Kun. Dia adalah raja doa. Saya 
minta supaya dia menjawab doaku, yaitu menyembuhkan Papa. Tapi tidak ada 
tanggapan. Papa terkapar tak berdaya. 
Dewa Yo Ong Po Sat adalah raja obat. Saya panggil nama Yo Ong Po Sat agar 
bertindak segera. Papa sedang gawat. Saya meditasi dengan berkeringat. Saya 
ucapkan mantra-mantra, tapi dewa yang kusanjung hanya membisu. 
Terakhir saya panggil Dewi Kwan Im. Ini dewa terakhir yang menjadi tumpuan 
harapan. Setelah ini tidak ada lagi dewa yang saya miliki. Tapi sama saja 
dengan yang lain. Tidak ada reaksi. Detakan jantung Papa di layar mo-nitor 
masih tetap 172. 
Saya heran. Ke mana perginya segala ilmu yang kupelajari selama 20 tahun 
menjadi pengikut Dewi Kwan Im? Mengapa dulu saya begitu sakti, namun kini 
kesaktian itu hilang? 
Saya menangis. Saya kecewa, untuk apa 20 tahun saya menghabiskan banyak waktu 
di Klenteng untuk bersemedi, bertapa dan belajar bermacam-macam ilmu sakti? 
Bukankah dalam buku Bersemedi, kita boleh memanggil dewa yang sesuai dengan 
agama kita bila membutuhkan pertolongan? 
Rasanya saya ingin memanggil nama Yesus, tapi Dia bukan dewa saya. Dia dewanya 
orang Kristen, lagi pula Yesus adalah dewa yang paling ku benci. Tidak 
mungkin aku memanggilNya, selain itu Yesus belum tentu lebih hebat dari Dewi 
Kwan Im. 
Papa tergeletak bagaikan mayat. Apa lagi yang harus ku lakukan? Segala upaya 
telah dilakukan? Segala upaya telah dilakukan. Tapi angka 172 tak juga mau 
beranjak turun. 
"Yesus", kataku tiba-tiba, "kalau Engkau mau menyembuhkan Papaku, aku mau 
menjadi pengikutMu" lanjutku. Aku kembali mendekati tempat tidur, dimana Papa 
tergeletak. Tak sengaja mataku terbelalak melihat kelayar monitor. Dari angka 
172 mulai bergerak turun, 171, 170, 169, 168….terus turun sampai 160. Turun 
lagi 150. Persis diangka 148, teriakan Papa mengejutkan semua yang ada di 
ruangan itu. "Aku hidup lagi', teriak Papa, sambil menggerakan tubuhnya, 
seolah ada sesuatu yang baru saja masuk ke dalam tubuh itu. 
Mengapa Papa berkata "Aku hidup lagi" ? Apakah tadinya dia sudah mati? Saya 
tidak terlalu memperdulikan itu, sebab aku sendiri belum hilang dari rasa 
terkejut. Beberapa menit yang lalu aku masih memohon-mohon kepada dewa Goan, 
dewa Thai, Yo dan Dewi Kwan Im. Aku tidak menyangka secepat ini aku menjadi 
pengikut Yesus, sesuatu yang tak pernah terpikirkan kemarin, tadi pagi sampai 
sejam yang lalu. Secepat inikah aku beralih keyakinan? Apakah dewa-dewa itu 
tidak akan murka kalau aku membelot? 

Dibaptis 
Melihat Papa sudah sembuh, malam saya tidak bisa tidur. Bukan karena stress, 
tapi saya sangat bahagia, terkejut dan kagum sudah bercampur baur. Bagaimana 
mungkin saya menjadi Kristen hanya dalam sekejab. 
Tiga minggu setelah mujizat di RS Gunung Wenang, Manado itu, saya memberi diri 
dibaptis (selam) di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Manado. 
Pengalaman yang menakjubkan ini setiap kali saya saksikan di gereja-gerja atau 
persekutuan doa, kapanpun saya sempat menyaksikannya. 
Meskipun saya sibuk di kantor (Bapak Eddy Tatimu adalah Direktur PT. 
Innimexintra Jakarta- Red) tapi tiap kali ada undangan kebaktian, saya selalu 
sempatkan diri untuk menyaksikan kemurahan Tuhan pada saya ini. Tentu saja 
saya harus pandai ―pandai mengatur waktu antara kerja dan pelayanan, supaya 
tidak ada pihak yang dirugikan. 
Waktu saya terima Yesus, istri saya juga, Thio Mei Lin ikut terima Yesus, 
bersama dua anak kami, Stanley Tatimu dan Cicilia Tatimu, yang kini sudah 
beranjak remaja. Saya berbahagia karena anak dan istri saya sangat mendukung 
saya, tidak hanya dalam pekerjaan, tapi juga dalam pelayanan.



---------------------------------------------------------------------
Milis Kelenteng - Quan Shui
URL: http://lists.quanshui.org
Posting, email: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke