By: frans
Posted: Sun Feb 09, 2003 2:12 pm
Post subject: Masalah Kelahiran Kembali Diteliti Dari Sudut Pandang Barat
Sumber: Tempat Diskusi SiuTao.com
URL: http://www.siutao.com/forums/
Masalah Kelahiran Kembali Diteliti Dari Sudut Pandangan Barat
Pendahuluan
Pembahasan kali ini dapat dikatakan sebagai suatu resensi dan juga
ringkasan dari sebuah buku berjudul "Where Reincarnation And Biology
Intersect", karya seorang professor dalam bidang psikiatri dan direktur
dari "divisi riset kepribadian" pada Health Sciences Center di Universitas
Virginia. Beliau telah menerbitkan sembilan buku mengenai risetnya sejak
tahun 1966. Ternyata masalah kelahiran kembali ini telah menarik perhatian
pengamat dari dunia Barat sejak lama.
Subyek Penelitian
Ada anak-anak yang sanggup untuk mengingat kehidupannya masa lampau.
Kasus-kasus istimewa ini lebih banyak terjadi di negeri-negeri di mana
kepercayaan akan reinkarnasi atau kelahiran kembali adalah demikian kuatnya
seperti: Negara-negara Hindu dan Budhis, dan lain sebagainya. Mengapa
demikian? Karena di negeri-negeri tersebut jika seorang anak menyebutkan
mengenai kehidupannya di masa lampau, maka orang tuanya akan memahaminya,
tidak seperti di negara-negara yang tidak mempercayai adanya kelahiran
kembali/ reinkarnasi, di mana jika seorang anak mengatakan hal yang tidak
umum demikian akan menimbulkan kesalah pahaman bagi orang tuanya. Meskipun
demikian ada juga beberapa kasus yang terjadi di Barat. Kasus-kasus yang
terjadi yang disebutkan di buku ini semuanya telah dibuktikan kebenarannya.
Setelah mempelajari kasus-kasus yang ditulis di buku ini kita dapat menarik
kesimpulan, bahwa wujud fisik kelahiran suatu makhluk dapat ditentukan oleh
kondisi pikirannya sendiri maupun interaksi dengan kondisi pikiran orang
atau makhluk lain, yang mana di dalam buku ini akan dibahas satu persatu.
Semoga setelah mempelajari kasus-kasus ini kita dapat hidup lebih baik dan
menjaga pikiran kita.
Perubahan kondisi fisik yang disebabkan oleh kekuatan pikiran orang lain
Prof. Ian Stevenson telah mengumpulkan 300 laporan medis mengenai hal ini
yang terjadi di Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman, Itali, Belanda,
serta Belgia.
Sebagai contoh untuk hal ini ada seorang ibu yang sedang mengandung,
kemudian saudaranya ada yang menderita kanker pada organ tubuhnya dan harus
diamputasi. Sang ibu ini timbul ingin tahunya, ia ingin melihat organ tubuh
saudaranya yang telah diamputasi tersebut. Dan anehnya setelah lahir
bayinya juga tidak mempunyai organ tubuh tersebut. Kasus semacam ini
menurut Prof. Ian Stevenson di dalam bukunya mempunyai peluang yang sangat
kecil yakni 1 di dalam 30.000.000
Jadi di buku ini halaman 25 disebutkan juga bahwa pertumbuhan bayi adalah
sangat pekanya pada triwulan pertama usia kehamilan, jadi pengaruhnya
adalah lebih besar pada usia kehamilan ini daripada usia kehamilan
berikutnya. Kejutan menakutkan yang dialami sang ibu dapat mempengaruhi
wujud fisik dari bayi yang dikandungnya. Bayi pada usia kehamilan tersebut
juga sangat peka terhadap obat- obatan berbahaya seperti : thalidomide,
juga infeksi karena virus.
Kasus berikutnya: Hal ini terjadi di Srilanka pada seorang bayi laki-laki
bernama Sampath Priyasantha, yang mana kasus ini telah dinvestigasi sendiri
oleh Professor Ian Stevenson. Sampath dilahirkan tanpa lengan dan
kakinyapun juga cacat berat. Bayi itu kemudian meninggal pada usia dua
puluh bulan. Desa tempat tinggal Samprath letaknya terpencil dan susah
dicapai. Pertama kali sang professor membuat hipotesa/ dugaan, bahwa
barangkali Sampath adalah reinkarnasi dari seseorang yang juga cacat. Maka
ia menanyakan pada ayah sang bayi, apakah ia kenal seseorang yang sebelum
meninggal mengalami kecelakaan sehingga mengakibatkan kecacatan tersebut.
Sang ayah mengiakan dan mengatakan, "Ia adalah orang yang kubunuh dengan
jalan memotong lengan dan kakinya dengan menggunakan sebuah pedang." Ia
menjelaskan bahwa orang yang dibunuhnya adalah preman di desa itu. Ibu dari
orang yang dibunuh itu sangat dendam dan mengutuk keluarga itu bahwa mereka
akan mempunyai anak yang cacat.
Kasus-kasus kelahiran kembali yang dipengaruhi oleh masa lalu Maung Myint
Aung adalah seorang Burma yang lahir Burma Hulu pada tahun 1972. Ketika
mulai dapat berbicara ia mengatakan adalah seorang serdadu Jepang yang
terbunuh di Rangoon, jauh dari desa kelahirannya, pada saat melarikan diri
dari serbuan Inggris. Agar tidak tertangkap ia dan empat orang rekannya
melakukan bunuh diri, dan ia melakukan bunuh diri dengan memotong batang
lehernya sendiri. Tempat ia bunuh diri itu ialah di suatu kebun binatang di
Kota Rangoon. Dan memang sejak lahir Maung Myint Aung mempunyai tanda
kelahiran pada bagian lehernya, selebar 1 cm yang membentang horizontal
pada hampir seluruh bagian depan lehernya. Tanda itu mirip dengan tanda
luka yang telah sembuh pada orang yang pernah memotong lehernya sendiri dan
berhasil bertahan hidup. Professor Ian sendiri telah membandingkan hal itu
dengan sebuah foto luka orang lain yang telah memotong lehernya sendiri,
tapi orang ini tidak berhasil diselamatkan. Dan ternyata hal tersebut mirip
sekali dengan tanda kelahiran pada leher Maung Myint Aung. Maung Myint
Aung kemudian mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang mirip dengan orang Jepang,
seperti sikap duduknya, juga ia kurang senang jika tim sepak bola Jepang
kalah. Ia juga suka bermain sebagai tentara dan sikapnya kasar seperti
seorang prajurit juga. Maung juga terus-terusan ingin kembali ke Jepang.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Maung mengatakan bahwa setelah mati ia tetap
berdiam di kebun binatang itu, sampai orang yang menjadi bakal ayahnya itu
mengunjungi kebun binatang itu. Dan memang benar ayahnya mengakui bahwa
sebelum kelahiran Maung ia memang mengunjungi kebun binatang di Rangoon itu.
Chanai Choomalaiwong, lahir di Thailand Tengah pada tahun 1967, pada saat
dilahirkan ia memiliki dua buah tanda kelahiran, yang pertama terdapat pada
bagian belakang kepalanya, sedangkan yang kedua di bagian depan kepalanya,
tepatnya di atas mata kirinya. Orang tuanya pertama kalinya masih belum
mengetahui makna dari tanda kelahiran ini. Sampai saat Chanai berusia 3
tahun, ketika bermain dengan anak-anak lainnya ia sangat suka bermain
menjadi seorang guru, serta mengatakan bahwa ia adalah guru pada
kehidupannya yang lalu dan bernama Bua Kai. Ia menyebutkan bahwa ia
mempunyai seorang istri dan anak-anak. Ia menceritakan pula bahwa ia telah
dibunuh ketika sedang dalam perjalanan ke sekolah dengan jalan ditembak.
Chanai kemudian menyebutkan pula bahwa ia dulu tinggal di sebuah tempat
bernama Khao Phra dan memohon agar ia dibawa ke sana. Akhirnya neneknya
setuju membawanya ke Khao Phra. Chanai masih mengingat di mana rumahnya
yang dulu, dan membawa neneknya ke sebuah rumah, dan berhasil mengenalinya
sebagai orang tuanya yang dulu. Dan ternyata memang benar mereka pernah
menjadi mempunyai seorang anak bernama Bua Kai, yang dibunuh pada tahun
1962, dan anehnya Chanai berhasil menyebutkan semua detail mengenai
kehidupan Bua Kai dengan cukup akurat. Ia berhasil pula mengenali anggota
keluarganya yang dulu. Ternyata setelah diteliti Bua Kai terbunuh pada pagi
hari tanggal 23 Januari 1962 dengan tembakan melalui bagian belakang
kepalanya dan pelurunya keluar lagi menembus bagian depan kepalanya, di
atas mata kirinya, persis dengan tanda kelahiran yang dimiliki Chanai.
Aristide Kolotey seorang Ghana (Afrika) mempunyai tanda kelahiran memanjang
dari bagian leher turun ke dada, hingga mencapai perut bawahnya. Aristide
dikatakan sebagai reinkarnasi dari pamannya yang mati tenggelam dan
badannya terbelah di bagian lehernya, ketika ia sedang menyelam di daerah
yang berbatu-batu dan tidak memperhatikan batu-batu yang berbahaya
tersebut, hingga akhirnya badannya terpotong oleh batu-batu tersebut dan
meninggal. Aristide memang mempunyai rasa ketakutan (phobia) terhadap air.
Metin K騽basi lahir di desa Hatun K騽, dekat Iskenderun, Turki, pada
tanggal 11 Juni 1963. Sebelum kelahirannya, orang tuanya bermimpi bahwa
Metin adalah kelahiran kembali dari saudara mereka Hasim K騽basi, yang
telah terbunuh sekitar 5 bulan sebelumnya, pada suatu kerusuhan di desa
mereka. Pada saat kelahirannya ditemukan tanda kelahiran pada bagian depan
kanan dari lehernya. Pertama kali tidak diketahui makna dari tanda
kelahiran (birth mark) itu. Sampai Professor Ian mempelajari laporan
kematian dari Hasim K騽basi, yang memang benar bahwa ia ditembak pada
tempat yang sama dari tanda kelahiran Metin itu. Metin juga menunjukkan
kebencian yang luar biasa kepada orang yang pernah menembak Hasim, dan
pernah ia suatu kali mengambil senapan ayahnya untuk balas menembak orang
itu, tapi untung berhasil dicegah. (Hal 43-44)
Tali Sowaid lahir pada Bulan Agustus 1965 pada sebuah desa kecil Btebyat di
pegunungan sebelah timur Beirut, Libanon. Ia mempunyai tanda kelahiran
berupa lingkaran pada tiap-tiap pipinya. Begitu ia mulai dapat berbicara ia
mulai menyebutkan tentang kehidupan seorang pria yang tinggal di desa
Btechney (sekitar 4 km dari Btebyat). Ia menjelaskan bahwa ketika ia sedang
minum kopi seorang pria mendatanginya dan menembaknya. Apa yang diceritakan
oleh Tali itu ternyata tepat sekali dengan kematian seorang pria bernama
Said Abul-Hisn, yang memang benar tinggal di Btechney. Ia ditembak oleh
seorang yang mengalami ketidak stabilan mental, pelurunya menembus bagian
samping dari wajah Said dan keluar lagi pada sisi satunya. Pelurunya itu
juga menyebabkan lidah Said luka parah. Ia akhirnya dibawa ke rumah sakit,
dan dipasangi alat bantu napas. Namun ternyata dalam suatu kecelakaan Said
terjatuh dari tempat tidurnya, yang menyebabkan alat bantu napasnya rusak,
dan ia meninggal dunia setelah itu. Hal ini juga dicatat oleh rumah sakit
tersebut, sehingga menjadi bukti otentik tentang kebenaran kasus ini.
Professor Ian mempelajari lebih jauh mengenai tanda kelahiran yang ada pada
pipi Tali, ternyata kedua tanda lingkaran itu ada salah satu yang lebih
besar dari yang lainnya, hal ini bersesuaian dengan luka masuknya peluru
yang lebih kecil sedangkan tanda yang lebih besar pada pipi kanan
bersesuaian dengan luka keluarnya peluru. Karena luka di bagian lidah Said,
Tali menunjukkan kesukaran dalam mengucapkan bunyi-bunyi tertentu. Tali
juga menolak ketika dipanggil dengan namanya, melainkan minta dipanggil
dengan namanya yang dulu yakni Said. (Hal 44-45)
Sunita Khandelwal, lahir di kota Laxmangarh di negara bagian Rajasthan,
India pada tanggal 19 September 1969. Ayah Sunita bernama Radhey Shyam
Khandelwal, adalah pedagang pasir, biji-bijian, serta pupuk.. Sesaat
setelah Sunita lahir, didapati suatu tanda kelahiran besar pada bagian
kanan dari kepalanya. Ketika lahir tanda kelahiran itu mengeluarkan darah,
namun keluarganya memberi bedak pada luka itu, dan sembuh setelah tiga hari
kemudian. Tanda itu berbentuk bundar, tidak ditumbuhi rambut, serta jauh
lebih gelap dari daerah di sekitarnya. Pada usia sekitar 2 tahun Sunita
mulai menyebutkan kehidupan masa lalunya. Ia mengatakan bahwa ia berasal
dari suatu tempat yang bernama Kota, di mana ia mempunyai orang tua dan dua
orang saudara. Ia menambahkan lagi secara lebih mendetail, bahwa
keluarganya mempunai sebuah toko kerajinan dari perak (silver shop). Ia
menceritakan pula bahwa ia telah terjatuh sambil menunjuk ke kepalanya,
pada tanda kelahirannya, kemudian berkata, "Lihatlah ini. Aku telah
terjatuh." Sunita menambahkan pula bahwa ia telah didorong jatuh oleh
saudara sepupunya pada usia 8 tahun, rupanya itulah yang menyebabkan
kematiannya. Orang tuanya tentu saja tidak mengerti apa yang dimaksud
Sunita, karena mereka memang belum pernah pergi ke tempat yang bernama Kota
itu. Sunita kemudian meminta kepada orang tuanya untuk dibawa ke tempat
itu. Akhirnya orang tuanya mengabulkan hal itu dan membawa Sunita ke tempat
yang dimintanya itu. Ketika sampai Sunita ternyata dapat menyebutkan detail
dari tempat itu, seperti pojokan Chauth Mata Bazaar, di mana dulu toko
kerajinan peraknya berada. Mereka kemudian mencari informasi mengenai
pemilik toko kerajinan perak di Chauth Mata Bazaar yang telah kehilangan
anak perempuannya karena terjatuh. Pencarian ini mengantar mereka ke toko
kerajinan perak milik Prabhu Dayal Maheshwari, yang benar mempunyai seorang
anak yang meninggal karena jatuh bernama Sakuntala, dengan detail yang
tepat seperti dikatakan oleh Sunita. Yaitu pada saat ia berusia 8 tahun,
ketika sedang bermain-main di balkon, mereka saling mendorong yang
mengakibatkan Sakuntala kehilangan keseimbangan, sehingga akhirnya terjatuh
dengan kepala menyentuh lantai dan meninggal. Semua yang dikatakan Sunita
mengenai hal itu sebagian besar tepat adanya.
Wilfred Meares, lahir di Queen Charlotte City, British Columbia Canada pada
tanggal 22 November 1961, sebelum mengandung Wilfred ibunya Ruby Meares
bermimpi bertemu dengan saudara mereka yang bernama Victor Smart, yang mana
dalam mimpi itu Ruby Meares berkata padanya, "Tetaplah berkunjung padaku".
Bahkan pada saat Victor masih hidup ia pernah berkata, bahwa kalau
seandainya ia dapat bereinkarnasi maka ia ingin menjadi anak dari Ruby
Meares. Victor Smart adalah orang yang ramah hanya saja ia adalah seorang
peminum (alcoholic). Victor Smart mempunyai kebiasaan yang berbahaya, yaitu
ketika naik mobil ia suka menyandar pada pintu. Suatu saat ketika sedang
bermobil dengan kawan-kawannya, mobil itu mengalami kecelakaan, pintunya
terbuka, ia terlempar keluar. Kepalanya membentur jalan dan meninggal
seketika itu juga. Data kematian ini telah dicatat pada rumah sakit yang
menangani mayat Victor. Wilfred mempunyai tanda kelahiran selebar 5
milimeter dan sepanjang dua cm, berupa bagian yang tidak ditumbuhi rambut
pada bagian belakang kepalanya. Ketika mulai dapat berbicara Wifred membuat
beberapa pernyataan tentang Victor Smart. Anehnya meskipun masih kecil
Wifred telah mempunyai ketertarikan akan alkohol dan akan berjalan
berkeliling seputar orang dewasa yang sedang minum-minum, dengan harapan
mereka akan memberinya alkohol. Namun ia selalu bersikap sopan mengenai hal
ini, dan tidak pernah minum sebelum itu ditawarkan atau diberikan padanya.
(Hal 54)
Anurak lahir di Bangkok, Thailand pada tanggal 14 Desember 1969. Ia
mempunyai tanda kelahiran yang mencolok pada lengan kanannya (pada buku
gambar nomor 1. Professor Ian Stefenson dan Professor Kloom Vajropala
dari Thailand (Professor Kloom ini adalah ilmuwan Buddhis yang berusaha
menyelaraskan antara Ilmu pengetahuan dan agama) melakukan wawancara dengan
orang tuanya. Anurak dipercaya sebagai kelahiran kembali dari kakaknya
Chatchewan yang mati tenggelam di sungai. Sebelum Chatchewan dikremasi,
keluarganya membuat tanda dari batu bara pada lengan kanannya, dengan
harapan apabila ia dilahirkan kembali, maka dapat mudah dikenali dengan
tanda kelahiran pada tempat yang sama. Ketika Anurak mulai dapat berbicara
ia membuat beberapa pernyataan mengenai Chatchewan, serta dapat menemukan
pakaian seragam kepanduan Chatchewan yang terletak dalam sebuah lemari.
Anurak juga menunjukkan ketakutan akan air (phobia). (Hal 79)
M. Karaytu dilahirkan pada tahun 1931 di Desa Kavakli, dekat Adana, Turki.
Ia dilahirkan dengan suatu tanda kelahiran berbentuk mirip segitiga pada
bagian punggung bawah. Ketika berusia 3 �tahun ia mulai mengatakan tentang
seseorang bernama Haydar Karad闤, yang mempunyai tanah pertanian dengan
bekerja sama dengan seseorang. Kita sedang makan dan minum dengan rekan
kerja samanya itu, mereka mengalami pertengkaran. Haydar memukul rekannya
itu serta pergi meninggalkan tempat itu. Rekannya mengambil pisau dan
mengejar Haydiar dan kemudian menusukkan pisau itu pada bagian punggungnya.
Pisau yang digunakan untuk menusuk adalah jenis yang ditajamkan salah satu
sisinya, dan meninggalkan luka seperti tanda kelahiran yang ada pada
Karaytu. (Hal 89)
Kisah berikut ini terjadi di Burma. Maung Zaw Win Aung dilahirkan di
Meiktila, Burma Hulu (Upper Burma) pada tanggal 9 Mei 1950, orang tuanya
bernama U Tin Aung dan Daw Kyin Htwe. Ia adalah anak pertama dari ke dua
belas orang anak yang dimiliki pasangan itu. Maung Zaw Win Aung merupakan
seorang albino, yaitu orang yang terlahir dengan warna kulit lebih terang
atau lebih putih dari rekan sebangsanya. Warna rambutnya juga pirang. Dan
anehnya lagi mata Win Aung tidak menunjukkan ciri-ciri Mongoloid seperti
yang dipunyai oleh orang Burma lainnya, melainkan menunjukkan ciri-ciri
Kaukasoid, yaitu yang dipunyai oleh orang Barat pada umumnya. Pada saat
mulai dapat berbicara Win Aung mengatakan bahwa ia dulunya adalah seorang
penerbang Amerika yang pesawatnya ditembak jatuh di dekat Meiktila, bahkan
ia dapat menyebutkan pula bahwa namanya dahulu adalah John Steven.Ia juga
ingat bahwa pesawat tempur yang diterbangkannya tidak berbasis di Burma. Ia
kadang-kadang minum alkohol bila mereka sedang dalam misi pengeboman. Dan
memang dalam catatan sejarah beberapa pesawat tempur Amerika yang
berbasiskan di dekat Calcutta pernah ditembak jatuh di dekat Meiktila oleh
Jepang pada Perang Dunia II. Win Aung menunjukkan kebiasaan-kebiasaan yang
tidak biasa di keluarganya yang dapat dikategarikan sebagai "kebiasaan
Barat". Ia mempunyai kenangan dengan Amerika, dan menyebutkan bahwa ia
ingin kembali ke sana bila dapat. Ia juga membanggakan Amerika sebagai
tempat yang lebih baik untuk hidup dibandingkan Burma, juga ia menunjukkan
kemarahan kepada orang Jepang. Anehnya ia juga lebih menyukai pakaian Barat
daripada pakaian Burma, seperti sepatu, celana, dan juga sabuk. Ia begitu
tertarik dengan pesawat terbang, serta bertahun-tahun ia mengatakan bahwa
ia akan menjadi pilot pesawat terbang. Ia juga menolak untuk makan dengan
tangan (yang mana dilakukan oleh hampir semua orang Burma) dan makan dengan
sendok sampai ia berusia dua belas tahun. Ia tidak suka makanan Burma dan
lebih menghendaki susu dan biskuit. Win Aung nampaknya juga memiliki
keinginan yang kuat akan alkohol, meskipun sebagai anak kecil ia tidak
pernah mengekspresikan hal itu. Suatu hal penting adalah adalah pada saat
masih kecil, Win Aung menunjukkan suasana hati yang mudah berubah. Suatu
saat ia berbicara dengan berapi-api mengenai misi pengemboman yang
dilakukannya, tapi dengan segera ia akan meloncat ke hal sebaliknya, yaitu
tentang penyesalannya telah membunuh begitu banyak orang. Ia memperlihatkan
bahwa ia ingin menjadi seorang Bhiksu Budha untuk menebus kejahatan perang
yang pernah dilakukannya (pada usia yang masih muda ia masih belum mengerti
bahwa sebenarnya tidak ada pengampunan dosa di dalam ajaran Budha, tapi ia
mungkin telah salah mengira bahwa bhiksu-bhiksu Budha itu sebagai para
biarawan di Barat, yang sama-sama mengenakan jubah panjang.) Ketika tumbuh
menjadi besar akhirnya Win Aung berusaha untuk menjadi orang Burma, namun
ia masih tetap mempunyai ingatan akan kehidupan yang lebih baik di Amerika.
Win Aung kemudian masuk sekolah kedokteran, menikah dan mempunyai anak yang
normal seperti layaknya orang Burma. Satu keanehan lagi pada saat Maung Zaw
Win Aung berusia sepuluh tahun, ibunya bermimpi didatangi oleh seorang
wanita Barat yang meminta ijin untuk dilahirkan di keluarga mereka, agar
dapat dekat dengan saudara laki-lakinya. Dan benar setelah itu ibunya
melahirkan seorang bayi perempuan yang juga menunjukkan ciri-ciri seperti
orang Barat. Anak perempuan itu kemudian diberi nama Dolly Aung (hal 157-
159).
Berikut ini adalah mengenai anak kembar. Ma Khin Ma Gyi dan Ma Khin Ma Nge
adalah anak kembar yang dilahirkan di Negara Bagian Shan, Burma, pada
tanggal 5 Februari 1961. Orang tua mereka bernama U Ba Thaw dan Daw Mya
Tin. Sebelum kelahiran mereka, ibunya bermimpi bahwa orang tuanya akan
terlahir kembali sebagai anak mereka. Ketika mulai dapat berbicara mereka
menyebutkan tentang kehidupan dari kakek dan nenek mereka. Ma Khin Ma Gyi
dapat mengingat kehidupan kakek mereka, sedangkan Ma Khin Ma Nge dapat
mengingat kehidupan dari nenek mereka (hal 161-162).
Dulcina Karasek dilahirkan sekitar tahun 1919 di Dom Feliciano, negara
bagian Rio Grande do Sul, Brasilia. Orang tuanya bernama Patricio dan
Georgeta de Albuquerque. Dulcina menyatakan bahwa dirinya dulu bernama
Zeca, dan ia menyebutkan detail-detail kehidupan dari saudara sepupu dari
orang tuanya yang bernama Jose Martins Ribeiro, yang juga dipanggil Zeca.
Zeca lahir sekitar tahun 1872. Sebagai seorang pemuda Zeca menyibukkan
dirinya dengan aktivitas- aktivitas politik serta masalah-masalah
revolusioner, serta mengalami petualangan-petualangan yang terekam di
ingatan Dulcina. Zeca kemudian membangun suatu bisnis di kota Dom Feliciano
serta menikah, tetapi kemudian sakit dan meninggal pada tahun 1895,
kemungkinan karena syphilis. Dulcina mati-matian menyebut dirinya sebagai
Zeca, serta menolak dipanggil Dulcina dengan mengatakan, "Jangan panggil
aku Dulcina, aku ini Zeca, seorang pria, dan telah menikah." Ia secara
berulang kali menolak bahwa dirinya adalah wanita, dan menyatakan bahwa
dirinya adalah seorang pria. Suatu kali ia bertanya pada ibunya," Kenapa
jenis kelaminku berubah? Aku dulunya adalah pria dan sekarang adalah
seorang wanita." Pada kesempatan lain, ia melihat dirinya di cermin dan
bertanya pada ibunya,"Mengapa warna mataku dapat berubah?" (Zeca mempunyai
mata biru, sedangkan Dulcina coklat).
Dulcina juga lebih memilih untuk mengenakan pakaian laki-laki. Ketika
bertambah dewasa, bentuk fisiknya menunjukkan sifat-sifat maskulin. Setelah
melewati masa pubertas, badan Dulcina ditumbuhi rambut, juga tubuhnya
menjadi berotot menunjukkan ciri-ciri maskulin (hal 162-163)
Maung Myo Min Thein dilahirkan di desa Wundwin, Burma Hulu, pada tanggal 14
September 1967. Ayahnya bernama U Aung Maw dan ibunya Daw Thoung Nyunt.
Pada saat dilahirkan Maung Myo Min Thein ia mempunyai tanda kelahiran yang
mencolok, yaitu suatu daerah yang tidak ditumbuhi rambut pada bagian
kepalanya. Pada saat itu orang tuanya masih belum tahu makna dari tanda
kelahiran tersebut. Tanda-tanda pertama yang menunjukkan kehidupannya yang
lampau, adalah ketika ia berusia 8 bulan, tatkala orang tuanya membawanya
ke sebuah biara bernama Thein-gottara, dimana mereka merencanakan untuk
melewatkan hari itu dalam suasana keagamaan. Di biara itu Maung menjadi
ketakutan dan mulai menangis. Orang tuanya tidak berhasil menenangkannya,
dan mereka akhirnya pulang ke rumah. Ketika Maung telah menjadi lebih
besar, ia mencoba untuk menjelaskan tentang ingatannya mengenai masa lalu,
sebelum ia mempunyai perbendaharaan kata yang cukup. Ia akan menunjuk ke
Biara Thein- gottara, dan menunjukkan dengan tangannya bahwa ia telah
dipukul pada bagian kepalanya. Pada saat itu Maung telah berusia tiga
tahun. Pada usia empat atau lima tahun Maung telah mempunyai perbendaharaan
yang memadai untuk menjelaskan secara terperinci mengenai kehidupannya di
masa lampau. Ia menjelaskan bahwa ia dulunya adalah Yang Arya U Warthawa
dari Biara Thein-gottara dan telah dipukul pada bagian belakang kepalanya
oleh sebuah baut pintu yang berat. Mendengar hal ini orang tuanya melakukan
pengujian yang lebih teliti dan mendapati bahwa pada bagian belakang kepala
Maung, ternyata ditemukan suatu cekungan (depression) yang mereka tidak
pernah perhatikan sebelumnya. Maung membuat pernyataan yang lain mengenai
kehidupannya di masa lampau, yaitu ia menyebutkan bahwa pembunuhnya adalah
seorang asing yang menderita gangguan mental. Ia menyebutkan juga bahwa
bahwa tidak lama sebelum kematiannya, bahwa ia telah meminta salah seorang
dari bikhu di vihara itu untuk membatalkan perjalanannya ke Mandalay, yang
telah direncanakan sebelumnya, tetapi ia menolak membatalkannya dan tetap
meneruskan rencananya. Pernyataan Maung Myo Min Thein semuanya tepat dengan
keadaan kematian dari Bhikku U Warthawa, yang merupakan kepala biara yang
sangat dihormati dari Biara Thein-gottara. Seorang bhikku asing datang ke
biara itu suatu hari, dan Yang Arya U Warthawa menawarkan keramahannya.
Tidak ada yang memperhatikan bahwa bhikku asing itu sebenarnya sakit
mental. Maung menunjukkan pula beberapa kebiasaan yang menarik, yaitu
kebiasaan yang tidak umum di keluarga itu, namun berhubungan dengan Yang
Arya U Warthawa, yakni antara lain: Ia menunjukkan ketakutan terhadap
bhikku-bhikku yang tidak dikenalnya, yang nampaknya menjadi bagian
ingatannya yang sebelumnya telah dibunuh oleh seorang bhikku yang tidak
dikenal sebelumnya. Sebagai seorang anak Maung Myo Min Thein menyukai duduk
dengan menyilangkan kedua kakinya, sikap duduk yang merupakan kebiasan dari
para bhikku Buddha. Secara mencolok ia lebih memilih duduk di tempat yang
lebih tinggi dan lebih baik, dan tidak mau duduk di a tas karang beras
kosong yang dibentangkan di lantai, untuk duduk anggota keluarga itu. Hal
itu menunjukkan peran seorang Bhikku Buddha, yang mana umat awam di
negara-negara yang menganut agama Budha Theravada jika mengunjungi seorang
Bhikku akan duduk di lantai atau tempat yang lebih rendah dari tempat duduk
sang bhikku. Yang Arya U Warthawa wafat pada tanggal 1 April 1949, selang
waktu antara kematian Beliau dan lahirnya Maung adalah dengan demikian
lebih dari 18 tahun, yang merupakan salah satu rentang waktu terpanjang
dari kasus-kasus yang pernah diteliti oleh Professor Ian Stevenson (hal
132-134).
Diskusi umum
Dalam bagian diskusi umum Professor Ian Stevenson menyebutkan bahwa jika
seseorang dapat lahir kembali, maka timbul pertanyaan zat apakah yang
dtransmisikan dari kehidupan satu ke kehidupan berikutnya. Professor Ian
menemukan bahwa penggunaan istilah diathanatic cukup membantu. Diathanatic
berarti dibawa melalui kematian ("carried through death"), suatu istilah
untuk mewakili suatu "bagian" dari orang yang meninggal, yang dapat
mencapai kelahirannya kembali. Bagian-bagian apakah yang merupakan
diathanatic? Dari kasus-kasus yang sudah kita pelajari di atas maka kita
dapat menyebutkan: beberapa informasi kognitif tentang kejadian-kejadian
dari masa lalu, bermacam-macam kesukaan, ketidak sukaan, dan
kebiasaan-kebiasaan lainnya, dan dalam beberapa kasus, sisa-sisa luka atau
tanda-tanda lainnya pada tubuh fisik yang sebelumnya. Bayi-bayi dapat pula
dilahirkan dengan tanda-tanda kelahiran, yaitu tanda-tanda tertentu atau
cacat pada bagian luka pada kehidupan sebelumnya. Kita dapat memahami lebih
baik hilangnya melalui proses kematian beberapa atau banyak kepribadian
(personality) dari kehidupan sebelumnya dengan membedakan antara istilah
personality dan individuality (catatan: kedua istilah ini segaja tidak
penulis terjemahkan agar artinya tidak hilang). Yang dimaksud personality
adalah sifat-sifat, baik yang nampak maupun tidak nampak yang mungkin
dimiliki seseorang dari kehidupan sebelumnya atau banyak kehidupan
sebelumnya, demikian juga dengan kehidupan yang sekarang, sedangkan
personality adalah bagian-bagian dari individuality yang saat ini
diekspresikan, atau kemampuan untuk menyampaikan atau mengekspresikan
sesuatu (capable of _expression). Sebagai contoh jika kita mempelajari
Bahasa Swahili pada hidup kita yang lampau, tetapi tidak mempunyai
kemampuan untuk mengucapkannya pada kehidupan yang sekarang, maka bakat
demikian merupakan bagian dari individuality kita, tetapi bukan bagian dari
personality kita. Jika kita mencoba untuk belajar Bahasa Swahili pada
kehidupan kita yang sekarang maka kita akan lebih mudah untuk mempelajarinya.
"Personality" orang yang telah meninggal mungkin juga mempengaruhi tubuh
fisik yang akan datang dengan jalan memilih dan menyeleksi sel telur yang
dibuahi (fertilized ova) atau embrio. Terlepas dari hal- hal lain yang
relevan, pemilihan semacam itu menjadi penting jika "personality" itu tidak
berubah jenis kelaminnya dari kehidupan satu ke kehidupan berikutnya.
Bahkan di Birma dimana 26 persen dari kasus yang ada adalah perubahan jenis
kelamin semacam itu, beberapa pemilihan dari tubuh fisik yang tepat adalah
penting bagi sebagian besar kasus. Saya (Professor Ian Stevenson) tidak
dapat menjelaskan bagaimana orang yang meninggal mengalami hal itu.
Professor Stevenson hanya dapat menjelaskan bahwa berdasarkan fakta- fakta
yang mendukung, kondisi psikologis dapat merubah cairan tubuh wanita untuk
memberikan kondisi yang menguntungkan bagi kromosom Y (yang mana jenis
kelamin pria berasal), atau sebaliknya memberikan kondisi yang lebih
menguntungkan bagi kromosom X (yang membawa jenis kelamin wanita). Jika
"personality" orang yang meninggal dapat - sebagaimana yang ditunjukkan
oleh beberapa kasus - memiliki rasa "kemelekatan" pada ibu yang sedang
hamil, maka mungkin hal dapat juga mempengaruhi kondisi fisik sang ibu,
yang mana berpengaruh untuk lebih memberikan peluang bagi jenis kelamin
laki-laki atau wanita. Selanjutnya kelahiran kembali berikutnya juga
ditentukan dengan jalan menyeleksi orang tua mereka. Kemudian juga memori
dari orang yang telah meninggal itu juga mempengaruhi tubuh fisik yang
akan datang, seperti misalnya kasus- kasus mengenai tanda-tanda kelahiran.
Jadi mereka menyimpan memori mengenai jenis luka-luka pada tubuh fisiknya
yang dulu. Professor Ian mengandaikan bahwa ada suatu "pembawa" memori itu,
yang membawa ingatan tentang tubuh fisik, kemampuan dan juga kebiasaan-
kebiasaan terdahulu dari orang yang meninggal itu. Beliau mengusulkan
istilah psycophore yang artinya "pembawa pikiran/ mind carrying", bagi
"kendaraan perantara/ intermediate vehicle" itu. Professor Ian menambahkan
bahwa bagi agama-agama yang mengakui adanya reinkarnasi memiliki istilah
tersendiri untuk "kendaraan perantara" itu, namun penggunaan istilah itu
akan membelokkan makna dari karya ilmiah ke agama tertentu itu. Beliau juga
berpendapat bahwa psycophore itu bersifat seperti suatu medan atau kumpulan
dari beberapa medan (field), yang membawa informasi mengenai tubuh fisik
dan ingatan lain, dan kemudian mereproduksinya lagi dengan kadar yang
berbeda-beda pada janin yang akan menjadi tubuh barunya. Istilah
medan/field ini pertama kali digunakan oleh Michael Faraday untuk
menjelaskan hubungan mengenai kelistrikan dan kemagnetan. Pada tahun 1920
beberapa ahli biologi mulai menggunakan istilah ini untuk menjelaskan
mengenai perkembangan janin mulai dari sel telur yang dibuahi, embrio,
janin, dan selanjutnya menjadi bayi. Mereka menyebutkan istilah
Morphogenetic field, yang "mengatur/ governing" perkembangan bentuk
organ-organ fisik tubuh akan menjadi seperti apa nantinya selama di dalam
kandungan.
Berikutnya akan penulis kutipkan kata-kata penutupan dari buku ini yang
bagus untuk direnungkan: "Hingga saat ini saya tidak berkata apa-apa
mengenai nilai yang potensial dari gagasan mengenai reinkarnasi dalam
mengurangi rasa takut akan kematian, yang mana sangat umum di Barat.
Dikatakan secara bijaksana bahwa pertanyaan mengenai hidup setelah kematian
adalah hal terpenting yang seorang ilmuwan - atau - orang lain dapat
tanyakan. Saya dengan sengaja menyembunyikan aspek mengenai reinkarnasi ini
sampai ke halaman terakhir ini, karena saya benar-benar sadar bahwa
ketakutan akan kematian, dapat membangkitkan suatu kepercayaan akan
kehidupan sesudah mati. Adalah benar bahwa banyak dari kita ingin percaya
pada kehidupan sesudah kematian, namun harapan kita bahwa sesuatu mungkin
benar, tidak membuatnya menjadi salah. Kita mungkin, setelah semua ini,
terlibat dalam suatu evolusi ganda, yakni evolusi dari tubuh dan jiwa atau
pikiran kita.
Demikian akhir dari makalah ini. Semoga ringkasan ini bisa berguna bagi
semuanya. Terakhir kata marilah kita ucapkan agar semua makhluk berbahagia.
============================================================
By: dhammawan
Posted: Fri Feb 14, 2003 10:50 pm
Post subject: buku
Sumber: Tempat Diskusi SiuTao.com
URL: http://www.siutao.com/forums/
Halo Frans dan teman2 yang lain,
kebetulan saya punya bukunya tuh : "Where Reincarnation and Biology
intersect",
Siapa yang mau kopiny silakan hubungin saya.
CU,....
===================================================
By: Rudy_Dewantara
Posted: Sat Feb 15, 2003 1:56 pm
Post subject:
Sumber: Tempat Diskusi SiuTao.com
URL: http://www.siutao.com/forums/
Selama ini pikiran (ilmiah) yang mendasari adanya reinkarnasi setahu saya kan
adanya hukum fisikia mengenai kekekalan energi. Saya hanya ingin tahu kira2
ada nggak hukum2 serupa yang bisa menguatkan reinkarnasi? Terima kasih
Salam TAO
========================================================
By: Life
Posted: Tue Feb 18, 2003 11:33 pm
Post subject: Sebenarnya
Sumber: Tempat Diskusi SiuTao.com
URL: http://www.siutao.com/forums/
Hallo Frans,
Sebenarnya dari Asia Timur yaitu RRC sudah ribuan tahun terkandung suatu
tradisi turun temurun bahwa orang saat hamil , baik ibu maupun bapaknya tidak
boleh melakukan hal2 yang kurang baik. Misalnya: Jika istri sedang hamil,
dirumah kita adakan pengecetan maka yang akan terjadi adalah saat bayi keluar
akan terdapat tanda di badannya. Bahkan ada kejadian yang pantek2, maka ada
tanda dibadannya terdapat seperti tusukan paku.
Sekarang anda mengutip dari bule2 secara ilmiah bagus juga, tapi jangan lupa
baca2 yang di RRC juga yach agar makalah anda lebih afdol dengan urutan zaman
sebelum masehi.
Salam,
Life
---------------------------------------------------------------------
Milis Kelenteng - Quan Shui
URL: http://lists.quanshui.org
Posting, email: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]