By: frans
Posted: Sun Feb 09, 2003 2:12 pm    
Post subject: Masalah Kelahiran Kembali Diteliti Dari Sudut Pandang Barat
Sumber: Tempat Diskusi SiuTao.com
URL: http://www.siutao.com/forums/

Masalah Kelahiran Kembali Diteliti Dari Sudut Pandangan Barat 

Pendahuluan 

Pembahasan kali ini dapat dikatakan sebagai suatu resensi dan juga 
ringkasan dari sebuah buku berjudul "Where Reincarnation And Biology 
Intersect", karya seorang professor dalam bidang psikiatri dan direktur 
dari "divisi riset kepribadian" pada Health Sciences Center di Universitas 
Virginia. Beliau telah menerbitkan sembilan buku mengenai risetnya sejak 
tahun 1966. Ternyata masalah kelahiran kembali ini telah menarik perhatian 
pengamat dari dunia Barat sejak lama. 

Subyek Penelitian 

Ada anak-anak yang sanggup untuk mengingat kehidupannya masa lampau. 
Kasus-kasus istimewa ini lebih banyak terjadi di negeri-negeri di mana 
kepercayaan akan reinkarnasi atau kelahiran kembali adalah demikian kuatnya 
seperti: Negara-negara Hindu dan Budhis, dan lain sebagainya. Mengapa 
demikian? Karena di negeri-negeri tersebut jika seorang anak menyebutkan 
mengenai kehidupannya di masa lampau, maka orang tuanya akan memahaminya, 
tidak seperti di negara-negara yang tidak mempercayai adanya kelahiran 
kembali/ reinkarnasi, di mana jika seorang anak mengatakan hal yang tidak 
umum demikian akan menimbulkan kesalah pahaman bagi orang tuanya. Meskipun 
demikian ada juga beberapa kasus yang terjadi di Barat. Kasus-kasus yang 
terjadi yang disebutkan di buku ini semuanya telah dibuktikan kebenarannya. 

Setelah mempelajari kasus-kasus yang ditulis di buku ini kita dapat menarik 
kesimpulan, bahwa wujud fisik kelahiran suatu makhluk dapat ditentukan oleh 
kondisi pikirannya sendiri maupun interaksi dengan kondisi pikiran orang 
atau makhluk lain, yang mana di dalam buku ini akan dibahas satu persatu. 
Semoga setelah mempelajari kasus-kasus ini kita dapat hidup lebih baik dan 
menjaga pikiran kita. 

Perubahan kondisi fisik yang disebabkan oleh kekuatan pikiran orang lain 

Prof. Ian Stevenson telah mengumpulkan 300 laporan medis mengenai hal ini 
yang terjadi di Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman, Itali, Belanda, 
serta Belgia. 

Sebagai contoh untuk hal ini ada seorang ibu yang sedang mengandung, 
kemudian saudaranya ada yang menderita kanker pada organ tubuhnya dan harus 
diamputasi. Sang ibu ini timbul ingin tahunya, ia ingin melihat organ tubuh 
saudaranya yang telah diamputasi tersebut. Dan anehnya setelah lahir 
bayinya juga tidak mempunyai organ tubuh tersebut. Kasus semacam ini 
menurut Prof. Ian Stevenson di dalam bukunya mempunyai peluang yang sangat 
kecil yakni 1 di dalam 30.000.000 

Jadi di buku ini halaman 25 disebutkan juga bahwa pertumbuhan bayi adalah 
sangat pekanya pada triwulan pertama usia kehamilan, jadi pengaruhnya 
adalah lebih besar pada usia kehamilan ini daripada usia kehamilan 
berikutnya. Kejutan menakutkan yang dialami sang ibu dapat mempengaruhi 
wujud fisik dari bayi yang dikandungnya. Bayi pada usia kehamilan tersebut 
juga sangat peka terhadap obat- obatan berbahaya seperti : thalidomide, 
juga infeksi karena virus. 

Kasus berikutnya: Hal ini terjadi di Srilanka pada seorang bayi laki-laki 
bernama Sampath Priyasantha, yang mana kasus ini telah dinvestigasi sendiri 
oleh Professor Ian Stevenson. Sampath dilahirkan tanpa lengan dan 
kakinyapun juga cacat berat. Bayi itu kemudian meninggal pada usia dua 
puluh bulan. Desa tempat tinggal Samprath letaknya terpencil dan susah 
dicapai. Pertama kali sang professor membuat hipotesa/ dugaan, bahwa 
barangkali Sampath adalah reinkarnasi dari seseorang yang juga cacat. Maka 
ia menanyakan pada ayah sang bayi, apakah ia kenal seseorang yang sebelum 
meninggal mengalami kecelakaan sehingga mengakibatkan kecacatan tersebut. 
Sang ayah mengiakan dan mengatakan, "Ia adalah orang yang kubunuh dengan 
jalan memotong lengan dan kakinya dengan menggunakan sebuah pedang." Ia 
menjelaskan bahwa orang yang dibunuhnya adalah preman di desa itu. Ibu dari 
orang yang dibunuh itu sangat dendam dan mengutuk keluarga itu bahwa mereka 
akan mempunyai anak yang cacat. 

Kasus-kasus kelahiran kembali yang dipengaruhi oleh masa lalu Maung Myint 
Aung adalah seorang Burma yang lahir Burma Hulu pada tahun 1972. Ketika 
mulai dapat berbicara ia mengatakan adalah seorang serdadu Jepang yang 
terbunuh di Rangoon, jauh dari desa kelahirannya, pada saat melarikan diri 
dari serbuan Inggris. Agar tidak tertangkap ia dan empat orang rekannya 
melakukan bunuh diri, dan ia melakukan bunuh diri dengan memotong batang 
lehernya sendiri. Tempat ia bunuh diri itu ialah di suatu kebun binatang di 
Kota Rangoon. Dan memang sejak lahir Maung Myint Aung mempunyai tanda 
kelahiran pada bagian lehernya, selebar 1 cm yang membentang horizontal 
pada hampir seluruh bagian depan lehernya. Tanda itu mirip dengan tanda 
luka yang telah sembuh pada orang yang pernah memotong lehernya sendiri dan 
berhasil bertahan hidup. Professor Ian sendiri telah membandingkan hal itu 
dengan sebuah foto luka orang lain yang telah memotong lehernya sendiri, 
tapi orang ini tidak berhasil diselamatkan. Dan ternyata hal tersebut mirip 
sekali dengan tanda kelahiran pada leher Maung Myint Aung. Maung Myint 
Aung kemudian mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang mirip dengan orang Jepang, 
seperti sikap duduknya, juga ia kurang senang jika tim sepak bola Jepang 
kalah. Ia juga suka bermain sebagai tentara dan sikapnya kasar seperti 
seorang prajurit juga. Maung juga terus-terusan ingin kembali ke Jepang. 
Mengapa hal ini bisa terjadi? Maung mengatakan bahwa setelah mati ia tetap 
berdiam di kebun binatang itu, sampai orang yang menjadi bakal ayahnya itu 
mengunjungi kebun binatang itu. Dan memang benar ayahnya mengakui bahwa 
sebelum kelahiran Maung ia memang mengunjungi kebun binatang di Rangoon itu. 

Chanai Choomalaiwong, lahir di Thailand Tengah pada tahun 1967, pada saat 
dilahirkan ia memiliki dua buah tanda kelahiran, yang pertama terdapat pada 
bagian belakang kepalanya, sedangkan yang kedua di bagian depan kepalanya, 
tepatnya di atas mata kirinya. Orang tuanya pertama kalinya masih belum 
mengetahui makna dari tanda kelahiran ini. Sampai saat Chanai berusia 3 
tahun, ketika bermain dengan anak-anak lainnya ia sangat suka bermain 
menjadi seorang guru, serta mengatakan bahwa ia adalah guru pada 
kehidupannya yang lalu dan bernama Bua Kai. Ia menyebutkan bahwa ia 
mempunyai seorang istri dan anak-anak. Ia menceritakan pula bahwa ia telah 
dibunuh ketika sedang dalam perjalanan ke sekolah dengan jalan ditembak. 
Chanai kemudian menyebutkan pula bahwa ia dulu tinggal di sebuah tempat 
bernama Khao Phra dan memohon agar ia dibawa ke sana. Akhirnya neneknya 
setuju membawanya ke Khao Phra. Chanai masih mengingat di mana rumahnya 
yang dulu, dan membawa neneknya ke sebuah rumah, dan berhasil mengenalinya 
sebagai orang tuanya yang dulu. Dan ternyata memang benar mereka pernah 
menjadi mempunyai seorang anak bernama Bua Kai, yang dibunuh pada tahun 
1962, dan anehnya Chanai berhasil menyebutkan semua detail mengenai 
kehidupan Bua Kai dengan cukup akurat. Ia berhasil pula mengenali anggota 
keluarganya yang dulu. Ternyata setelah diteliti Bua Kai terbunuh pada pagi 
hari tanggal 23 Januari 1962 dengan tembakan melalui bagian belakang 
kepalanya dan pelurunya keluar lagi menembus bagian depan kepalanya, di 
atas mata kirinya, persis dengan tanda kelahiran yang dimiliki Chanai. 

Aristide Kolotey seorang Ghana (Afrika) mempunyai tanda kelahiran memanjang 
dari bagian leher turun ke dada, hingga mencapai perut bawahnya. Aristide 
dikatakan sebagai reinkarnasi dari pamannya yang mati tenggelam dan 
badannya terbelah di bagian lehernya, ketika ia sedang menyelam di daerah 
yang berbatu-batu dan tidak memperhatikan batu-batu yang berbahaya 
tersebut, hingga akhirnya badannya terpotong oleh batu-batu tersebut dan 
meninggal. Aristide memang mempunyai rasa ketakutan (phobia) terhadap air. 

Metin K騽basi lahir di desa Hatun K騽, dekat Iskenderun, Turki, pada 
tanggal 11 Juni 1963. Sebelum kelahirannya, orang tuanya bermimpi bahwa 
Metin adalah kelahiran kembali dari saudara mereka Hasim K騽basi, yang 
telah terbunuh sekitar 5 bulan sebelumnya, pada suatu kerusuhan di desa 
mereka. Pada saat kelahirannya ditemukan tanda kelahiran pada bagian depan 
kanan dari lehernya. Pertama kali tidak diketahui makna dari tanda 
kelahiran (birth mark) itu. Sampai Professor Ian mempelajari laporan 
kematian dari Hasim K騽basi, yang memang benar bahwa ia ditembak pada 
tempat yang sama dari tanda kelahiran Metin itu. Metin juga menunjukkan 
kebencian yang luar biasa kepada orang yang pernah menembak Hasim, dan 
pernah ia suatu kali mengambil senapan ayahnya untuk balas menembak orang 
itu, tapi untung berhasil dicegah. (Hal 43-44) 

Tali Sowaid lahir pada Bulan Agustus 1965 pada sebuah desa kecil Btebyat di 
pegunungan sebelah timur Beirut, Libanon. Ia mempunyai tanda kelahiran 
berupa lingkaran pada tiap-tiap pipinya. Begitu ia mulai dapat berbicara ia 
mulai menyebutkan tentang kehidupan seorang pria yang tinggal di desa 
Btechney (sekitar 4 km dari Btebyat). Ia menjelaskan bahwa ketika ia sedang 
minum kopi seorang pria mendatanginya dan menembaknya. Apa yang diceritakan 
oleh Tali itu ternyata tepat sekali dengan kematian seorang pria bernama 
Said Abul-Hisn, yang memang benar tinggal di Btechney. Ia ditembak oleh 
seorang yang mengalami ketidak stabilan mental, pelurunya menembus bagian 
samping dari wajah Said dan keluar lagi pada sisi satunya. Pelurunya itu 
juga menyebabkan lidah Said luka parah. Ia akhirnya dibawa ke rumah sakit, 
dan dipasangi alat bantu napas. Namun ternyata dalam suatu kecelakaan Said 
terjatuh dari tempat tidurnya, yang menyebabkan alat bantu napasnya rusak, 
dan ia meninggal dunia setelah itu. Hal ini juga dicatat oleh rumah sakit 
tersebut, sehingga menjadi bukti otentik tentang kebenaran kasus ini. 
Professor Ian mempelajari lebih jauh mengenai tanda kelahiran yang ada pada 
pipi Tali, ternyata kedua tanda lingkaran itu ada salah satu yang lebih 
besar dari yang lainnya, hal ini bersesuaian dengan luka masuknya peluru 
yang lebih kecil sedangkan tanda yang lebih besar pada pipi kanan 
bersesuaian dengan luka keluarnya peluru. Karena luka di bagian lidah Said, 
Tali menunjukkan kesukaran dalam mengucapkan bunyi-bunyi tertentu. Tali 
juga menolak ketika dipanggil dengan namanya, melainkan minta dipanggil 
dengan namanya yang dulu yakni Said. (Hal 44-45) 

Sunita Khandelwal, lahir di kota Laxmangarh di negara bagian Rajasthan, 
India pada tanggal 19 September 1969. Ayah Sunita bernama Radhey Shyam 
Khandelwal, adalah pedagang pasir, biji-bijian, serta pupuk.. Sesaat 
setelah Sunita lahir, didapati suatu tanda kelahiran besar pada bagian 
kanan dari kepalanya. Ketika lahir tanda kelahiran itu mengeluarkan darah, 
namun keluarganya memberi bedak pada luka itu, dan sembuh setelah tiga hari 
kemudian. Tanda itu berbentuk bundar, tidak ditumbuhi rambut, serta jauh 
lebih gelap dari daerah di sekitarnya. Pada usia sekitar 2 tahun Sunita 
mulai menyebutkan kehidupan masa lalunya. Ia mengatakan bahwa ia berasal 
dari suatu tempat yang bernama Kota, di mana ia mempunyai orang tua dan dua 
orang saudara. Ia menambahkan lagi secara lebih mendetail, bahwa 
keluarganya mempunai sebuah toko kerajinan dari perak (silver shop). Ia 
menceritakan pula bahwa ia telah terjatuh sambil menunjuk ke kepalanya, 
pada tanda kelahirannya, kemudian berkata, "Lihatlah ini. Aku telah 
terjatuh." Sunita menambahkan pula bahwa ia telah didorong jatuh oleh 
saudara sepupunya pada usia 8 tahun, rupanya itulah yang menyebabkan 
kematiannya. Orang tuanya tentu saja tidak mengerti apa yang dimaksud 
Sunita, karena mereka memang belum pernah pergi ke tempat yang bernama Kota 
itu. Sunita kemudian meminta kepada orang tuanya untuk dibawa ke tempat 
itu. Akhirnya orang tuanya mengabulkan hal itu dan membawa Sunita ke tempat 
yang dimintanya itu. Ketika sampai Sunita ternyata dapat menyebutkan detail 
dari tempat itu, seperti pojokan Chauth Mata Bazaar, di mana dulu toko 
kerajinan peraknya berada. Mereka kemudian mencari informasi mengenai 
pemilik toko kerajinan perak di Chauth Mata Bazaar yang telah kehilangan 
anak perempuannya karena terjatuh. Pencarian ini mengantar mereka ke toko 
kerajinan perak milik Prabhu Dayal Maheshwari, yang benar mempunyai seorang 
anak yang meninggal karena jatuh bernama Sakuntala, dengan detail yang 
tepat seperti dikatakan oleh Sunita. Yaitu pada saat ia berusia 8 tahun, 
ketika sedang bermain-main di balkon, mereka saling mendorong yang 
mengakibatkan Sakuntala kehilangan keseimbangan, sehingga akhirnya terjatuh 
dengan kepala menyentuh lantai dan meninggal. Semua yang dikatakan Sunita 
mengenai hal itu sebagian besar tepat adanya. 

Wilfred Meares, lahir di Queen Charlotte City, British Columbia Canada pada 
tanggal 22 November 1961, sebelum mengandung Wilfred ibunya Ruby Meares 
bermimpi bertemu dengan saudara mereka yang bernama Victor Smart, yang mana 
dalam mimpi itu Ruby Meares berkata padanya, "Tetaplah berkunjung padaku". 
Bahkan pada saat Victor masih hidup ia pernah berkata, bahwa kalau 
seandainya ia dapat bereinkarnasi maka ia ingin menjadi anak dari Ruby 
Meares. Victor Smart adalah orang yang ramah hanya saja ia adalah seorang 
peminum (alcoholic). Victor Smart mempunyai kebiasaan yang berbahaya, yaitu 
ketika naik mobil ia suka menyandar pada pintu. Suatu saat ketika sedang 
bermobil dengan kawan-kawannya, mobil itu mengalami kecelakaan, pintunya 
terbuka, ia terlempar keluar. Kepalanya membentur jalan dan meninggal 
seketika itu juga. Data kematian ini telah dicatat pada rumah sakit yang 
menangani mayat Victor. Wilfred mempunyai tanda kelahiran selebar 5 
milimeter dan sepanjang dua cm, berupa bagian yang tidak ditumbuhi rambut 
pada bagian belakang kepalanya. Ketika mulai dapat berbicara Wifred membuat 
beberapa pernyataan tentang Victor Smart. Anehnya meskipun masih kecil 
Wifred telah mempunyai ketertarikan akan alkohol dan akan berjalan 
berkeliling seputar orang dewasa yang sedang minum-minum, dengan harapan 
mereka akan memberinya alkohol. Namun ia selalu bersikap sopan mengenai hal 
ini, dan tidak pernah minum sebelum itu ditawarkan atau diberikan padanya. 
(Hal 54) 

Anurak lahir di Bangkok, Thailand pada tanggal 14 Desember 1969. Ia 
mempunyai tanda kelahiran yang mencolok pada lengan kanannya (pada buku 
gambar nomor 1. Professor Ian Stefenson dan Professor Kloom Vajropala 
dari Thailand (Professor Kloom ini adalah ilmuwan Buddhis yang berusaha 
menyelaraskan antara Ilmu pengetahuan dan agama) melakukan wawancara dengan 
orang tuanya. Anurak dipercaya sebagai kelahiran kembali dari kakaknya 
Chatchewan yang mati tenggelam di sungai. Sebelum Chatchewan dikremasi, 
keluarganya membuat tanda dari batu bara pada lengan kanannya, dengan 
harapan apabila ia dilahirkan kembali, maka dapat mudah dikenali dengan 
tanda kelahiran pada tempat yang sama. Ketika Anurak mulai dapat berbicara 
ia membuat beberapa pernyataan mengenai Chatchewan, serta dapat menemukan 
pakaian seragam kepanduan Chatchewan yang terletak dalam sebuah lemari. 
Anurak juga menunjukkan ketakutan akan air (phobia). (Hal 79) 

M. Karaytu dilahirkan pada tahun 1931 di Desa Kavakli, dekat Adana, Turki. 
Ia dilahirkan dengan suatu tanda kelahiran berbentuk mirip segitiga pada 
bagian punggung bawah. Ketika berusia 3 �tahun ia mulai mengatakan tentang 
seseorang bernama Haydar Karad闤, yang mempunyai tanah pertanian dengan 
bekerja sama dengan seseorang. Kita sedang makan dan minum dengan rekan 
kerja samanya itu, mereka mengalami pertengkaran. Haydar memukul rekannya 
itu serta pergi meninggalkan tempat itu. Rekannya mengambil pisau dan 
mengejar Haydiar dan kemudian menusukkan pisau itu pada bagian punggungnya. 
Pisau yang digunakan untuk menusuk adalah jenis yang ditajamkan salah satu 
sisinya, dan meninggalkan luka seperti tanda kelahiran yang ada pada 
Karaytu. (Hal 89) 

Kisah berikut ini terjadi di Burma. Maung Zaw Win Aung dilahirkan di 
Meiktila, Burma Hulu (Upper Burma) pada tanggal 9 Mei 1950, orang tuanya 
bernama U Tin Aung dan Daw Kyin Htwe. Ia adalah anak pertama dari ke dua 
belas orang anak yang dimiliki pasangan itu. Maung Zaw Win Aung merupakan 
seorang albino, yaitu orang yang terlahir dengan warna kulit lebih terang 
atau lebih putih dari rekan sebangsanya. Warna rambutnya juga pirang. Dan 
anehnya lagi mata Win Aung tidak menunjukkan ciri-ciri Mongoloid seperti 
yang dipunyai oleh orang Burma lainnya, melainkan menunjukkan ciri-ciri 
Kaukasoid, yaitu yang dipunyai oleh orang Barat pada umumnya. Pada saat 
mulai dapat berbicara Win Aung mengatakan bahwa ia dulunya adalah seorang 
penerbang Amerika yang pesawatnya ditembak jatuh di dekat Meiktila, bahkan 
ia dapat menyebutkan pula bahwa namanya dahulu adalah John Steven.Ia juga 
ingat bahwa pesawat tempur yang diterbangkannya tidak berbasis di Burma. Ia 
kadang-kadang minum alkohol bila mereka sedang dalam misi pengeboman. Dan 
memang dalam catatan sejarah beberapa pesawat tempur Amerika yang 
berbasiskan di dekat Calcutta pernah ditembak jatuh di dekat Meiktila oleh 
Jepang pada Perang Dunia II. Win Aung menunjukkan kebiasaan-kebiasaan yang 
tidak biasa di keluarganya yang dapat dikategarikan sebagai "kebiasaan 
Barat". Ia mempunyai kenangan dengan Amerika, dan menyebutkan bahwa ia 
ingin kembali ke sana bila dapat. Ia juga membanggakan Amerika sebagai 
tempat yang lebih baik untuk hidup dibandingkan Burma, juga ia menunjukkan 
kemarahan kepada orang Jepang. Anehnya ia juga lebih menyukai pakaian Barat 
daripada pakaian Burma, seperti sepatu, celana, dan juga sabuk. Ia begitu 
tertarik dengan pesawat terbang, serta bertahun-tahun ia mengatakan bahwa 
ia akan menjadi pilot pesawat terbang. Ia juga menolak untuk makan dengan 
tangan (yang mana dilakukan oleh hampir semua orang Burma) dan makan dengan 
sendok sampai ia berusia dua belas tahun. Ia tidak suka makanan Burma dan 
lebih menghendaki susu dan biskuit. Win Aung nampaknya juga memiliki 
keinginan yang kuat akan alkohol, meskipun sebagai anak kecil ia tidak 
pernah mengekspresikan hal itu. Suatu hal penting adalah adalah pada saat 
masih kecil, Win Aung menunjukkan suasana hati yang mudah berubah. Suatu 
saat ia berbicara dengan berapi-api mengenai misi pengemboman yang 
dilakukannya, tapi dengan segera ia akan meloncat ke hal sebaliknya, yaitu 
tentang penyesalannya telah membunuh begitu banyak orang. Ia memperlihatkan 
bahwa ia ingin menjadi seorang Bhiksu Budha untuk menebus kejahatan perang 
yang pernah dilakukannya (pada usia yang masih muda ia masih belum mengerti 
bahwa sebenarnya tidak ada pengampunan dosa di dalam ajaran Budha, tapi ia 
mungkin telah salah mengira bahwa bhiksu-bhiksu Budha itu sebagai para 
biarawan di Barat, yang sama-sama mengenakan jubah panjang.) Ketika tumbuh 
menjadi besar akhirnya Win Aung berusaha untuk menjadi orang Burma, namun 
ia masih tetap mempunyai ingatan akan kehidupan yang lebih baik di Amerika. 
Win Aung kemudian masuk sekolah kedokteran, menikah dan mempunyai anak yang 
normal seperti layaknya orang Burma. Satu keanehan lagi pada saat Maung Zaw 
Win Aung berusia sepuluh tahun, ibunya bermimpi didatangi oleh seorang 
wanita Barat yang meminta ijin untuk dilahirkan di keluarga mereka, agar 
dapat dekat dengan saudara laki-lakinya. Dan benar setelah itu ibunya 
melahirkan seorang bayi perempuan yang juga menunjukkan ciri-ciri seperti 
orang Barat. Anak perempuan itu kemudian diberi nama Dolly Aung (hal 157- 
159). 

Berikut ini adalah mengenai anak kembar. Ma Khin Ma Gyi dan Ma Khin Ma Nge 
adalah anak kembar yang dilahirkan di Negara Bagian Shan, Burma, pada 
tanggal 5 Februari 1961. Orang tua mereka bernama U Ba Thaw dan Daw Mya 
Tin. Sebelum kelahiran mereka, ibunya bermimpi bahwa orang tuanya akan 
terlahir kembali sebagai anak mereka. Ketika mulai dapat berbicara mereka 
menyebutkan tentang kehidupan dari kakek dan nenek mereka. Ma Khin Ma Gyi 
dapat mengingat kehidupan kakek mereka, sedangkan Ma Khin Ma Nge dapat 
mengingat kehidupan dari nenek mereka (hal 161-162). 

Dulcina Karasek dilahirkan sekitar tahun 1919 di Dom Feliciano, negara 
bagian Rio Grande do Sul, Brasilia. Orang tuanya bernama Patricio dan 
Georgeta de Albuquerque. Dulcina menyatakan bahwa dirinya dulu bernama 
Zeca, dan ia menyebutkan detail-detail kehidupan dari saudara sepupu dari 
orang tuanya yang bernama Jose Martins Ribeiro, yang juga dipanggil Zeca. 
Zeca lahir sekitar tahun 1872. Sebagai seorang pemuda Zeca menyibukkan 
dirinya dengan aktivitas- aktivitas politik serta masalah-masalah 
revolusioner, serta mengalami petualangan-petualangan yang terekam di 
ingatan Dulcina. Zeca kemudian membangun suatu bisnis di kota Dom Feliciano 
serta menikah, tetapi kemudian sakit dan meninggal pada tahun 1895, 
kemungkinan karena syphilis. Dulcina mati-matian menyebut dirinya sebagai 
Zeca, serta menolak dipanggil Dulcina dengan mengatakan, "Jangan panggil 
aku Dulcina, aku ini Zeca, seorang pria, dan telah menikah." Ia secara 
berulang kali menolak bahwa dirinya adalah wanita, dan menyatakan bahwa 
dirinya adalah seorang pria. Suatu kali ia bertanya pada ibunya," Kenapa 
jenis kelaminku berubah? Aku dulunya adalah pria dan sekarang adalah 
seorang wanita." Pada kesempatan lain, ia melihat dirinya di cermin dan 
bertanya pada ibunya,"Mengapa warna mataku dapat berubah?" (Zeca mempunyai 
mata biru, sedangkan Dulcina coklat). 

Dulcina juga lebih memilih untuk mengenakan pakaian laki-laki. Ketika 
bertambah dewasa, bentuk fisiknya menunjukkan sifat-sifat maskulin. Setelah 
melewati masa pubertas, badan Dulcina ditumbuhi rambut, juga tubuhnya 
menjadi berotot menunjukkan ciri-ciri maskulin (hal 162-163) 

Maung Myo Min Thein dilahirkan di desa Wundwin, Burma Hulu, pada tanggal 14 
September 1967. Ayahnya bernama U Aung Maw dan ibunya Daw Thoung Nyunt. 
Pada saat dilahirkan Maung Myo Min Thein ia mempunyai tanda kelahiran yang 
mencolok, yaitu suatu daerah yang tidak ditumbuhi rambut pada bagian 
kepalanya. Pada saat itu orang tuanya masih belum tahu makna dari tanda 
kelahiran tersebut. Tanda-tanda pertama yang menunjukkan kehidupannya yang 
lampau, adalah ketika ia berusia 8 bulan, tatkala orang tuanya membawanya 
ke sebuah biara bernama Thein-gottara, dimana mereka merencanakan untuk 
melewatkan hari itu dalam suasana keagamaan. Di biara itu Maung menjadi 
ketakutan dan mulai menangis. Orang tuanya tidak berhasil menenangkannya, 
dan mereka akhirnya pulang ke rumah. Ketika Maung telah menjadi lebih 
besar, ia mencoba untuk menjelaskan tentang ingatannya mengenai masa lalu, 
sebelum ia mempunyai perbendaharaan kata yang cukup. Ia akan menunjuk ke 
Biara Thein- gottara, dan menunjukkan dengan tangannya bahwa ia telah 
dipukul pada bagian kepalanya. Pada saat itu Maung telah berusia tiga 
tahun. Pada usia empat atau lima tahun Maung telah mempunyai perbendaharaan 
yang memadai untuk menjelaskan secara terperinci mengenai kehidupannya di 
masa lampau. Ia menjelaskan bahwa ia dulunya adalah Yang Arya U Warthawa 
dari Biara Thein-gottara dan telah dipukul pada bagian belakang kepalanya 
oleh sebuah baut pintu yang berat. Mendengar hal ini orang tuanya melakukan 
pengujian yang lebih teliti dan mendapati bahwa pada bagian belakang kepala 
Maung, ternyata ditemukan suatu cekungan (depression) yang mereka tidak 
pernah perhatikan sebelumnya. Maung membuat pernyataan yang lain mengenai 
kehidupannya di masa lampau, yaitu ia menyebutkan bahwa pembunuhnya adalah 
seorang asing yang menderita gangguan mental. Ia menyebutkan juga bahwa 
bahwa tidak lama sebelum kematiannya, bahwa ia telah meminta salah seorang 
dari bikhu di vihara itu untuk membatalkan perjalanannya ke Mandalay, yang 
telah direncanakan sebelumnya, tetapi ia menolak membatalkannya dan tetap 
meneruskan rencananya. Pernyataan Maung Myo Min Thein semuanya tepat dengan 
keadaan kematian dari Bhikku U Warthawa, yang merupakan kepala biara yang 
sangat dihormati dari Biara Thein-gottara. Seorang bhikku asing datang ke 
biara itu suatu hari, dan Yang Arya U Warthawa menawarkan keramahannya. 
Tidak ada yang memperhatikan bahwa bhikku asing itu sebenarnya sakit 
mental. Maung menunjukkan pula beberapa kebiasaan yang menarik, yaitu 
kebiasaan yang tidak umum di keluarga itu, namun berhubungan dengan Yang 
Arya U Warthawa, yakni antara lain: Ia menunjukkan ketakutan terhadap 
bhikku-bhikku yang tidak dikenalnya, yang nampaknya menjadi bagian 
ingatannya yang sebelumnya telah dibunuh oleh seorang bhikku yang tidak 
dikenal sebelumnya. Sebagai seorang anak Maung Myo Min Thein menyukai duduk 
dengan menyilangkan kedua kakinya, sikap duduk yang merupakan kebiasan dari 
para bhikku Buddha. Secara mencolok ia lebih memilih duduk di tempat yang 
lebih tinggi dan lebih baik, dan tidak mau duduk di a tas karang beras 
kosong yang dibentangkan di lantai, untuk duduk anggota keluarga itu. Hal 
itu menunjukkan peran seorang Bhikku Buddha, yang mana umat awam di 
negara-negara yang menganut agama Budha Theravada jika mengunjungi seorang 
Bhikku akan duduk di lantai atau tempat yang lebih rendah dari tempat duduk 
sang bhikku. Yang Arya U Warthawa wafat pada tanggal 1 April 1949, selang 
waktu antara kematian Beliau dan lahirnya Maung adalah dengan demikian 
lebih dari 18 tahun, yang merupakan salah satu rentang waktu terpanjang 
dari kasus-kasus yang pernah diteliti oleh Professor Ian Stevenson (hal 
132-134). 

Diskusi umum 

Dalam bagian diskusi umum Professor Ian Stevenson menyebutkan bahwa jika 
seseorang dapat lahir kembali, maka timbul pertanyaan zat apakah yang 
dtransmisikan dari kehidupan satu ke kehidupan berikutnya. Professor Ian 
menemukan bahwa penggunaan istilah diathanatic cukup membantu. Diathanatic 
berarti dibawa melalui kematian ("carried through death"), suatu istilah 
untuk mewakili suatu "bagian" dari orang yang meninggal, yang dapat 
mencapai kelahirannya kembali. Bagian-bagian apakah yang merupakan 
diathanatic? Dari kasus-kasus yang sudah kita pelajari di atas maka kita 
dapat menyebutkan: beberapa informasi kognitif tentang kejadian-kejadian 
dari masa lalu, bermacam-macam kesukaan, ketidak sukaan, dan 
kebiasaan-kebiasaan lainnya, dan dalam beberapa kasus, sisa-sisa luka atau 
tanda-tanda lainnya pada tubuh fisik yang sebelumnya. Bayi-bayi dapat pula 
dilahirkan dengan tanda-tanda kelahiran, yaitu tanda-tanda tertentu atau 
cacat pada bagian luka pada kehidupan sebelumnya. Kita dapat memahami lebih 
baik hilangnya melalui proses kematian beberapa atau banyak kepribadian 
(personality) dari kehidupan sebelumnya dengan membedakan antara istilah 
personality dan individuality (catatan: kedua istilah ini segaja tidak 
penulis terjemahkan agar artinya tidak hilang). Yang dimaksud personality 
adalah sifat-sifat, baik yang nampak maupun tidak nampak yang mungkin 
dimiliki seseorang dari kehidupan sebelumnya atau banyak kehidupan 
sebelumnya, demikian juga dengan kehidupan yang sekarang, sedangkan 
personality adalah bagian-bagian dari individuality yang saat ini 
diekspresikan, atau kemampuan untuk menyampaikan atau mengekspresikan 
sesuatu (capable of _expression). Sebagai contoh jika kita mempelajari 
Bahasa Swahili pada hidup kita yang lampau, tetapi tidak mempunyai 
kemampuan untuk mengucapkannya pada kehidupan yang sekarang, maka bakat 
demikian merupakan bagian dari individuality kita, tetapi bukan bagian dari 
personality kita. Jika kita mencoba untuk belajar Bahasa Swahili pada 
kehidupan kita yang sekarang maka kita akan lebih mudah untuk mempelajarinya. 

"Personality" orang yang telah meninggal mungkin juga mempengaruhi tubuh 
fisik yang akan datang dengan jalan memilih dan menyeleksi sel telur yang 
dibuahi (fertilized ova) atau embrio. Terlepas dari hal- hal lain yang 
relevan, pemilihan semacam itu menjadi penting jika "personality" itu tidak 
berubah jenis kelaminnya dari kehidupan satu ke kehidupan berikutnya. 
Bahkan di Birma dimana 26 persen dari kasus yang ada adalah perubahan jenis 
kelamin semacam itu, beberapa pemilihan dari tubuh fisik yang tepat adalah 
penting bagi sebagian besar kasus. Saya (Professor Ian Stevenson) tidak 
dapat menjelaskan bagaimana orang yang meninggal mengalami hal itu. 
Professor Stevenson hanya dapat menjelaskan bahwa berdasarkan fakta- fakta 
yang mendukung, kondisi psikologis dapat merubah cairan tubuh wanita untuk 
memberikan kondisi yang menguntungkan bagi kromosom Y (yang mana jenis 
kelamin pria berasal), atau sebaliknya memberikan kondisi yang lebih 
menguntungkan bagi kromosom X (yang membawa jenis kelamin wanita). Jika 
"personality" orang yang meninggal dapat - sebagaimana yang ditunjukkan 
oleh beberapa kasus - memiliki rasa "kemelekatan" pada ibu yang sedang 
hamil, maka mungkin hal dapat juga mempengaruhi kondisi fisik sang ibu, 
yang mana berpengaruh untuk lebih memberikan peluang bagi jenis kelamin 
laki-laki atau wanita. Selanjutnya kelahiran kembali berikutnya juga 
ditentukan dengan jalan menyeleksi orang tua mereka. Kemudian juga memori 
dari orang yang telah meninggal itu juga mempengaruhi tubuh fisik yang 
akan datang, seperti misalnya kasus- kasus mengenai tanda-tanda kelahiran. 
Jadi mereka menyimpan memori mengenai jenis luka-luka pada tubuh fisiknya 
yang dulu. Professor Ian mengandaikan bahwa ada suatu "pembawa" memori itu, 
yang membawa ingatan tentang tubuh fisik, kemampuan dan juga kebiasaan- 
kebiasaan terdahulu dari orang yang meninggal itu. Beliau mengusulkan 
istilah psycophore yang artinya "pembawa pikiran/ mind carrying", bagi 
"kendaraan perantara/ intermediate vehicle" itu. Professor Ian menambahkan 
bahwa bagi agama-agama yang mengakui adanya reinkarnasi memiliki istilah 
tersendiri untuk "kendaraan perantara" itu, namun penggunaan istilah itu 
akan membelokkan makna dari karya ilmiah ke agama tertentu itu. Beliau juga 
berpendapat bahwa psycophore itu bersifat seperti suatu medan atau kumpulan 
dari beberapa medan (field), yang membawa informasi mengenai tubuh fisik 
dan ingatan lain, dan kemudian mereproduksinya lagi dengan kadar yang 
berbeda-beda pada janin yang akan menjadi tubuh barunya. Istilah 
medan/field ini pertama kali digunakan oleh Michael Faraday untuk 
menjelaskan hubungan mengenai kelistrikan dan kemagnetan. Pada tahun 1920 
beberapa ahli biologi mulai menggunakan istilah ini untuk menjelaskan 
mengenai perkembangan janin mulai dari sel telur yang dibuahi, embrio, 
janin, dan selanjutnya menjadi bayi. Mereka menyebutkan istilah 
Morphogenetic field, yang "mengatur/ governing" perkembangan bentuk 
organ-organ fisik tubuh akan menjadi seperti apa nantinya selama di dalam 
kandungan. 

Berikutnya akan penulis kutipkan kata-kata penutupan dari buku ini yang 
bagus untuk direnungkan: "Hingga saat ini saya tidak berkata apa-apa 
mengenai nilai yang potensial dari gagasan mengenai reinkarnasi dalam 
mengurangi rasa takut akan kematian, yang mana sangat umum di Barat. 
Dikatakan secara bijaksana bahwa pertanyaan mengenai hidup setelah kematian 
adalah hal terpenting yang seorang ilmuwan - atau - orang lain dapat 
tanyakan. Saya dengan sengaja menyembunyikan aspek mengenai reinkarnasi ini 
sampai ke halaman terakhir ini, karena saya benar-benar sadar bahwa 
ketakutan akan kematian, dapat membangkitkan suatu kepercayaan akan 
kehidupan sesudah mati. Adalah benar bahwa banyak dari kita ingin percaya 
pada kehidupan sesudah kematian, namun harapan kita bahwa sesuatu mungkin 
benar, tidak membuatnya menjadi salah. Kita mungkin, setelah semua ini, 
terlibat dalam suatu evolusi ganda, yakni evolusi dari tubuh dan jiwa atau 
pikiran kita. 

Demikian akhir dari makalah ini. Semoga ringkasan ini bisa berguna bagi 
semuanya. Terakhir kata marilah kita ucapkan agar semua makhluk berbahagia.

============================================================
By: dhammawan
Posted: Fri Feb 14, 2003 10:50 pm    
Post subject: buku
Sumber: Tempat Diskusi SiuTao.com
URL: http://www.siutao.com/forums/
 
Halo Frans dan teman2 yang lain, 

kebetulan saya punya bukunya tuh : "Where Reincarnation and Biology 
intersect", 
Siapa yang mau kopiny silakan hubungin saya. 

CU,....

===================================================
By: Rudy_Dewantara
Posted: Sat Feb 15, 2003 1:56 pm    
Post subject: 
Sumber: Tempat Diskusi SiuTao.com
URL: http://www.siutao.com/forums/

Selama ini pikiran (ilmiah) yang mendasari adanya reinkarnasi setahu saya kan 
adanya hukum fisikia mengenai kekekalan energi. Saya hanya ingin tahu kira2 
ada nggak hukum2 serupa yang bisa menguatkan reinkarnasi? Terima kasih 

Salam TAO

========================================================
By: Life
Posted: Tue Feb 18, 2003 11:33 pm    
Post subject: Sebenarnya
Sumber: Tempat Diskusi SiuTao.com
URL: http://www.siutao.com/forums/
 
Hallo Frans, 

Sebenarnya dari Asia Timur yaitu RRC sudah ribuan tahun terkandung suatu 
tradisi turun temurun bahwa orang saat hamil , baik ibu maupun bapaknya tidak 
boleh melakukan hal2 yang kurang baik. Misalnya: Jika istri sedang hamil, 
dirumah kita adakan pengecetan maka yang akan terjadi adalah saat bayi keluar 
akan terdapat tanda di badannya. Bahkan ada kejadian yang pantek2, maka ada 
tanda dibadannya terdapat seperti tusukan paku. 

Sekarang anda mengutip dari bule2 secara ilmiah bagus juga, tapi jangan lupa 
baca2 yang di RRC juga yach agar makalah anda lebih afdol dengan urutan zaman 
sebelum masehi. 

Salam, 
Life

---------------------------------------------------------------------
Milis Kelenteng - Quan Shui
URL: http://lists.quanshui.org
Posting, email: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke