Membaca tulisan tersebut, saya jadi ingat dengan omong-omong saya dengan
seorang yang kebetulan mendalami ajaran kejawen. Dia berkata bahwa memang
ada 3 unsur dalam diri seorang manusia, istilah dia, raga, jiwa, dan sukma.
Raga adalah bentuk fisik kita sekarang ini. Sedangkan jiwa merupakan tempat
untuk menampung kehidupan kita yang sekarang, jadi kalo hidup kita sekarang
rapornya merah maka jiwanya juga kurang baik. Dan sukma adalah tabungan
total kita dari kehidupan kita yang dulu2. Ada kemiripan dengan apa yang
dikatakan oleh Prof. Ian Stevenson. Kalo kita lihat secara logika, memang
masuk akal. Reinkarnasi kita akan tergantung dari jiwa kita sekarang dan isi
dari sukma kita. Bila jiwa kita sekarang rapornya merah, misalnya, asal
tabungan kita pada sukma kita belum habis, maka hasil reinkarnasi kita yang
akan datang hidup kita paling hanya downgrade aja. Bgmana pendapat teman2?

Salam,
kris.


----- Original Message -----
From: Handoyo <[EMAIL PROTECTED]>
To: Milis Kelenteng <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, 19 February, 2003 09:30
Subject: [Kelenteng] Masalah Kelahiran Kembali Diteliti Dari Sudut Pandang
Barat


By: frans
Posted: Sun Feb 09, 2003 2:12 pm
Post subject: Masalah Kelahiran Kembali Diteliti Dari Sudut Pandang Barat
Sumber: Tempat Diskusi SiuTao.com
URL: http://www.siutao.com/forums/

Masalah Kelahiran Kembali Diteliti Dari Sudut Pandangan Barat

---------- cut ----------
Diskusi umum

Dalam bagian diskusi umum Professor Ian Stevenson menyebutkan bahwa jika
seseorang dapat lahir kembali, maka timbul pertanyaan zat apakah yang
dtransmisikan dari kehidupan satu ke kehidupan berikutnya. Professor Ian
menemukan bahwa penggunaan istilah diathanatic cukup membantu. Diathanatic
berarti dibawa melalui kematian ("carried through death"), suatu istilah
untuk mewakili suatu "bagian" dari orang yang meninggal, yang dapat
mencapai kelahirannya kembali. Bagian-bagian apakah yang merupakan
diathanatic? Dari kasus-kasus yang sudah kita pelajari di atas maka kita
dapat menyebutkan: beberapa informasi kognitif tentang kejadian-kejadian
dari masa lalu, bermacam-macam kesukaan, ketidak sukaan, dan
kebiasaan-kebiasaan lainnya, dan dalam beberapa kasus, sisa-sisa luka atau
tanda-tanda lainnya pada tubuh fisik yang sebelumnya. Bayi-bayi dapat pula
dilahirkan dengan tanda-tanda kelahiran, yaitu tanda-tanda tertentu atau
cacat pada bagian luka pada kehidupan sebelumnya. Kita dapat memahami lebih
baik hilangnya melalui proses kematian beberapa atau banyak kepribadian
(personality) dari kehidupan sebelumnya dengan membedakan antara istilah
personality dan individuality (catatan: kedua istilah ini segaja tidak
penulis terjemahkan agar artinya tidak hilang). Yang dimaksud personality
adalah sifat-sifat, baik yang nampak maupun tidak nampak yang mungkin
dimiliki seseorang dari kehidupan sebelumnya atau banyak kehidupan
sebelumnya, demikian juga dengan kehidupan yang sekarang, sedangkan
personality adalah bagian-bagian dari individuality yang saat ini
diekspresikan, atau kemampuan untuk menyampaikan atau mengekspresikan
sesuatu (capable of _expression). Sebagai contoh jika kita mempelajari
Bahasa Swahili pada hidup kita yang lampau, tetapi tidak mempunyai
kemampuan untuk mengucapkannya pada kehidupan yang sekarang, maka bakat
demikian merupakan bagian dari individuality kita, tetapi bukan bagian dari
personality kita. Jika kita mencoba untuk belajar Bahasa Swahili pada
kehidupan kita yang sekarang maka kita akan lebih mudah untuk
mempelajarinya.

"Personality" orang yang telah meninggal mungkin juga mempengaruhi tubuh
fisik yang akan datang dengan jalan memilih dan menyeleksi sel telur yang
dibuahi (fertilized ova) atau embrio. Terlepas dari hal- hal lain yang
relevan, pemilihan semacam itu menjadi penting jika "personality" itu tidak
berubah jenis kelaminnya dari kehidupan satu ke kehidupan berikutnya.
Bahkan di Birma dimana 26 persen dari kasus yang ada adalah perubahan jenis
kelamin semacam itu, beberapa pemilihan dari tubuh fisik yang tepat adalah
penting bagi sebagian besar kasus. Saya (Professor Ian Stevenson) tidak
dapat menjelaskan bagaimana orang yang meninggal mengalami hal itu.
Professor Stevenson hanya dapat menjelaskan bahwa berdasarkan fakta- fakta
yang mendukung, kondisi psikologis dapat merubah cairan tubuh wanita untuk
memberikan kondisi yang menguntungkan bagi kromosom Y (yang mana jenis
kelamin pria berasal), atau sebaliknya memberikan kondisi yang lebih
menguntungkan bagi kromosom X (yang membawa jenis kelamin wanita). Jika
"personality" orang yang meninggal dapat - sebagaimana yang ditunjukkan
oleh beberapa kasus - memiliki rasa "kemelekatan" pada ibu yang sedang
hamil, maka mungkin hal dapat juga mempengaruhi kondisi fisik sang ibu,
yang mana berpengaruh untuk lebih memberikan peluang bagi jenis kelamin
laki-laki atau wanita. Selanjutnya kelahiran kembali berikutnya juga
ditentukan dengan jalan menyeleksi orang tua mereka. Kemudian juga memori
dari orang yang telah meninggal itu juga mempengaruhi tubuh fisik yang
akan datang, seperti misalnya kasus- kasus mengenai tanda-tanda kelahiran.
Jadi mereka menyimpan memori mengenai jenis luka-luka pada tubuh fisiknya
yang dulu. Professor Ian mengandaikan bahwa ada suatu "pembawa" memori itu,
yang membawa ingatan tentang tubuh fisik, kemampuan dan juga kebiasaan-
kebiasaan terdahulu dari orang yang meninggal itu. Beliau mengusulkan
istilah psycophore yang artinya "pembawa pikiran/ mind carrying", bagi
"kendaraan perantara/ intermediate vehicle" itu. Professor Ian menambahkan
bahwa bagi agama-agama yang mengakui adanya reinkarnasi memiliki istilah
tersendiri untuk "kendaraan perantara" itu, namun penggunaan istilah itu
akan membelokkan makna dari karya ilmiah ke agama tertentu itu. Beliau juga
berpendapat bahwa psycophore itu bersifat seperti suatu medan atau kumpulan
dari beberapa medan (field), yang membawa informasi mengenai tubuh fisik
dan ingatan lain, dan kemudian mereproduksinya lagi dengan kadar yang
berbeda-beda pada janin yang akan menjadi tubuh barunya. Istilah
medan/field ini pertama kali digunakan oleh Michael Faraday untuk
menjelaskan hubungan mengenai kelistrikan dan kemagnetan. Pada tahun 1920
beberapa ahli biologi mulai menggunakan istilah ini untuk menjelaskan
mengenai perkembangan janin mulai dari sel telur yang dibuahi, embrio,
janin, dan selanjutnya menjadi bayi. Mereka menyebutkan istilah
Morphogenetic field, yang "mengatur/ governing" perkembangan bentuk
organ-organ fisik tubuh akan menjadi seperti apa nantinya selama di dalam
kandungan.

Berikutnya akan penulis kutipkan kata-kata penutupan dari buku ini yang
bagus untuk direnungkan: "Hingga saat ini saya tidak berkata apa-apa
mengenai nilai yang potensial dari gagasan mengenai reinkarnasi dalam
mengurangi rasa takut akan kematian, yang mana sangat umum di Barat.
Dikatakan secara bijaksana bahwa pertanyaan mengenai hidup setelah kematian
adalah hal terpenting yang seorang ilmuwan - atau - orang lain dapat
tanyakan. Saya dengan sengaja menyembunyikan aspek mengenai reinkarnasi ini
sampai ke halaman terakhir ini, karena saya benar-benar sadar bahwa
ketakutan akan kematian, dapat membangkitkan suatu kepercayaan akan
kehidupan sesudah mati. Adalah benar bahwa banyak dari kita ingin percaya
pada kehidupan sesudah kematian, namun harapan kita bahwa sesuatu mungkin
benar, tidak membuatnya menjadi salah. Kita mungkin, setelah semua ini,
terlibat dalam suatu evolusi ganda, yakni evolusi dari tubuh dan jiwa atau
pikiran kita.

Demikian akhir dari makalah ini. Semoga ringkasan ini bisa berguna bagi
semuanya. Terakhir kata marilah kita ucapkan agar semua makhluk berbahagia.

--------- cut ---------


----------------------------------------------------------------------------
 Ikuti polling TELKOM Memo 166 di www.plasa.com dan menangkan hadiah masing-masing Rp 
250.000 tunai
 ----------------------------------------------------------------------------

---------------------------------------------------------------------
Milis Kelenteng - Quan Shui
URL: http://lists.quanshui.org
Posting, email: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke