Suatu kali ketika sedang mengendarai mobil ia melihat ada suatu peristiwa
tabrak lari yang menyebabkan seorang nenek berusia lebih dari enam puluh
tahun. Nenek itu sedang berjualan kue dan gula-gula.
Untunglah ia tidak menderita luka yang berat.Meskipun bukan ia yang menabrak
tapi ia menghentikan mobilnya untuk menolong nenek itu, mengobatinya serta
mengantarkannya pulang.
Nenek itu ternyata tinggal di gubuk yang sangat kumuh
Ternyata menantu nenek itu sedang sakit, sedangkan anaknya sendiri tidak
jelas sekarang ada di mana, ada yang bilang ia bekerja sebagai supir di
Bankapi, tetapi ada pula yang mengatakan ia dipenjara. Nenek itu tidak punya
uang untuk membawa menantunya ke dokter. 
Akhirnya karena terdorong oleh rasa kasihan ia memberikan uang untuk biaya
pengobatannya serta untuk kebutuhan sehari-hari mereka. Hal itu disambut
sang nenek dengan perasaan terharu.

Beberapa waktu kemudian kawannya semasa masih bersekolah dulu datang
mengunjunginya. Sang kawan ini mempunyai perusahaan besar, tetapi sekarang
sedang dirudung kesulitan keuangan. Ia telah sepuluh hari di Bangkok untuk
mencari pinjaman ke kawan-kawan yang dulu pernah ditolongnya, tetapi
hasilnya nihil. Ia adalah harapan terakhir kawannya itu, yang perusahaannya
terancam bangkrut. Akhirnya ia bersedia  memberikan pinjaman uang itu,
meskipun jumlahnya cukup besar. Temannya itu amat berterima kasih serta
mengatakan bahwa kalau kali ini ia gagal lagi maka ia akan bunuh diri saja.

Beberapa waktu kemudian meletuslah Perang Pasifik, banyak pesawat Sekutu
menjatuhkan bom di kota Bangkok. 
Ketika itu adalah Hari Waisak, yang mana peristiwa paling mengesankan dalam
hidupnya terjadi. Saat itu ia sedang ada di Daerah Paruhat untuk keperluan
bisnis, terdengarlah sirine yang menandakan bahwa pesawat Sekutu sedang
mendekati Bangkok dan akan menjatuhkan bom. Orang-orang berlarian menuju
tempat perlindungan.

Pada saat itulah ia melihat seorang gadis kecil menangis sedang mencari
ibunya, tetapi tak seorangpun menaruh perhatian karena saat itu sedang kacau
balau. Bom-bom meletus makin dekat dan makin dekat. Timbul keinginannya
untuk menyelamatkan gadis kecil itu, ketika jarak mereka semakin dekat,
tiba-tiba anak kecil itu terjatuh. Ia segera membungkuk untuk mengangkatnya
bangun. Pada saat bersamaan sebuah bom meledak di dekat mereka berada.
Pecahannya memapas bagian atas topi yang sedang dikenakan olehnya.

Perasaannya saat itu sedang di antara hidup dan mati, kalau saja ia tidak
membungkuk untuk menolong si gadis kecil itu maka ia tentu sudah mati!
Padahal yang ada di pikirannya hanya menolong gadis kecil tersebut.
Singkatnya akhirnya keduanya selamat.
Demikian perbuatan baik yang dilakukannya telah meluputkan dirinya dari
maut.

Akhirnya perangpun usai, ternyata nenek itu adalah ibu dari Cherd. Cherdlah
yang mencuri perhiasan mereka, dan peti itu ditanam di halaman. Setelah
mencuri itu kawan-kawannya mengajak untuk melakukan suatu perampokan, tetapi
ketahuan dan Cherdpun dipenjara, tetapi karena ia memberikan pengakuan
lengkap maka mendapat keringangan hukuman. Setelah bebas saat pulang ia
terkejut karena ternyata keluarganya berada dalam keadaan yang baik-baik
saja, tidak seperti dugaan sebelumnya. Cherd kemudian menggali kembali
perhiasan yang dicurinya serta mengembalikan pada mereka. 

Semoga pengalaman ini dapat memberikan manfaat bagi kita.


---------------------------------------------------------------------
Milis Kelenteng - Quan Shui
URL: http://lists.quanshui.org
Posting, email: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke