Berbuat kebaikan ada perbedaan besar dan kecilnya, pada prinsipnya terbagi
menjadi 2 macam :
1.      Diukur dari "Tingkat Kesungguhan Hati"
Misalnya si kaya menyumbangkan uang 100 yen, si miskin juga menyumbang 100
yen. 100 yen yang disumbangkan si kaya bagaikan sehelai bulu yang dicabut
dari seekor lembu, sebaliknya 100 yen dari si miskin itu mungkin jatah
makannya untuk beberapa hari. Oleh karenanya tingkat kesungguhan hati sangat
jauh berbeda, biarpun sama-sama 100 yen, sangat lebih besar amal yang
diberikan si miskin, benih kebaikan yang ditanampun jauh lebih besar. Jadi
terkadang si miskin menyumbangkan beberapa puluh yen akan lebih menang dari
sumbangan beberapa ribu atau berpuluh ribu yen yang dilakukan si kaya.

Misalkan pula, A dan B memberikan sumbangan dengan jumlah yang sama, namun A
setelah memberikan sumbangan, hatinya sering mengingat-ingat dan sering
punya rasa menonjolkan pahala. Sebaliknya B setelah menyumbang tidak pernah
ada rasa menonjolkan pahala serta tidak ada pula keinginan agar segera
menerima karma baik, ia tetap rendah hati, hemat dan hati-hati serta ulet
bekerja.
Dengan demikian tingkat kesungguhan hati A dan B berdua sangat jauh berbeda,
tentu saja karma yang mereka terima nantinya B lebih besar dari A.

"Kesungguhan Hati" adalah "Titik Tolak". Titik tolak dengan hati yang welas
asih. Bagi orang yang mempelajari Buddha dan Tao, orang yang bertekad
merubah nasib agar lebih baik,  harus memancarkan hati yang welas asih,
bukan hanya untuk dirinya, tetapi demi orang banyak dengan tekun melakukan
kebaikan sedikit demi sedikit, lambat laun dengan sendirinya akan
mendapatkan panen yang melimpah.

2.      Diukur dari "Tingkat Menerima Manfaat"
Misalnya kebaikan yang dilakukan A hanya seorang yang mendapatkan
manfaatnya, sedangkan yang dilakukan B, banyak orang yang mendapatkan
manfaatnya, tentu saja B lebih unggul dari A. Misalkan pula C seorang yang
cara hidupnya tidak benar, gemar berjudi dan perbuatan maksiat lainnya,
hutangnya setumpuk. Lalu A dengan uangnya melunasi hutangnya sehingga C
tertolong dari tuntutan hukum. Sebaliknya B dengan tutur katanya memberikan
pengarahan dan nasehat, sehingga C sadar dan berjalan di arah yang benar dan
selanjutnya C hidup bahagia. A dan B sama-sama memberikan manfaat pada
seseorang, tetapi A hanya untuk sementara memberikan manfaat pada C,
sedangkan B untuk selamanya memberikan manfaat pada C, jelaslah bahwa pahala
B lebih besar. Jadi belum tentu hanya dengan "Uang" barulah dapat melakukan
amal kebajikan.

Dikutip dari : "Hakekat Utama dan Satu-satunya cara untuk Memperbaiki Nasib"

---------------------------------------------------------------------
Jangan Lewatkan!
Pecinan.com - http://www.pecinan.com
Tionghoa dalam Budaya dan Tradisi

---------------------------------------------------------------------
Milis Kelenteng - Quan Shui
URL: http://lists.quanshui.org
Posting, email: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke