dari http://eramuslim.com/br/bc/49/13379,1,v.html

Dewi Hughes: Amalan Tanpa Ilmu Tidak Ada Artinya

Publikasi: 17/09/2004 15:43 WIB

Desak Made Hugheshia Dewi lebih dikenal dengan nama Dewi Hughes. Siapa yang tak kenal dengan presenter kondang, yang pernah menjadi duta Indonesia untuk kampanye anti perdagangan anak-anak dan perempuan. Acara-acara seperti Angin Malam, Mimpi Kali Yee, membawa nama Hughes menjadi seorang selebritis yang cukup terkenal di negeri ini. Pada eramuslim, Hughes berbagi cerita soal pengalamannya menjadi muallaf dan pandangannya seputar umat Islam di Indonesia. Berikut petikan wawancaranya...

Ini mungkin pertanyaan yang sering dilontarkan, apa sih yang mendorong Hughes memeluk agama Islam?

Prosesnya panjang. Sebenarnya dari kecil Hughes sudah mengenal Islam. Waktu itu Hughes pindah dari Bali ke Serang. Banten kan Islam nya kuat banget. Jadi otomatis disekolah belajar agama Islam, belajar ngaji, belajar sholat, memang dari kecil. Cuma waktu itu belum tertarik masuk Islam, karena kalau Hughes lihat Islamnya bercampur dengan budaya, bahkan culture-nya lebih kuat. Waktu itu Hughes berfikir, nggak asik banget sih nih agama, orangnya fanatik-fanatik. Pokoknya belum simpatik, gitu.
Setelah SMP, Hughes pindah ke Jakarta, Hughes malah memilih masuk Katolik. Karena kayaknya lebih simpatik dan elegan gitu. Nah, ketika kuliah, Hughes baru dapat hidayah, dengan melihat contoh bagaimana sebenarnya kehidupan orang Islam. O... ternyata bagus agama ini sebetulnya, tidak seperti yang Hughes bayangkan sebelumnya. Dari situ Hughes mikir, kayaknya kalau digali lebih jauh, jadi lebih seru gitu. Akhirnya Hughes belajar perbandingan agama, dan mempelajari Islam sebenarnya gimana, baru akhirnya tahun ?93 masuk Islam. Itupun bukan karena sudah tahu semua soal Islam, tapi karena supaya tidak ada dualisme aja. Dengan memilih salah satu (agama Islam), Hughes jadi bisa lebih fokus belajar tentang Islam...

Orang yang memilih pindah ke agama, biasanya menghadapi tentangan baik dari lingkungan atau keluarga, Hughes sendiri gimana?

Ohh enggak? kalau keluarga Hughes memang sudah biasa dengan agama Islam. Mama sama Papa Hindu, ada kakak yang Hindu, yang Kristen dan ada kakak yang Islam. Dan di keluarga, orang tua, karena dulu pernah tinggal di Serang, jadi sama Islam tidak terlalu kaget.

Punya pengalaman rohani yang mengesanan ketika baru menjadi Mualaf?

Tahun ?97 kalau enggak salah, Alhamdulillah saya seperti mendapat penjelasan lebih lanjut... soalnya waktu saya masih bingung siapa sih Rasulullah, kenapa ia tidak disembah seperti Isa. Rasulullah enggak disembah tapi koq diagung-agungkan. Nah, itu dapat jawabannya saat saya umroh. Kebetulan ada tante dan pergi sama Hughes, dia tuh ngejelasinnya panjang lebar, ini Ghes? ini mesjidnya nabi, ini rumahnya nabi, semua diceritain? siapa Rasulullah, dimana dia dulu sembunyi dulu ketika melarikan diri dari kaum Quraisy, semuanya bener-bener detil. Sampe Akhirnya Hughes ngerasain, ohh dia ya Rasul kita, oo? itu sebabnya kita harus sayang sama dia? gitu. Alhamdulillah juga, pulang dari sana Hughes mendapat gambaran tentang sejarah Islam, ternyata kalo kita mau belajar Islam kita juga harus tahu sejarahnya disamping ilmu Tauhidnya. Alhamdulillah pulang dari umroh itu Hughes jadi lebih mantap, dan bener-bener banyak petunjuk selama Hughes disana bahwa ini memang jalan Hughes dan harus dijalankan dengan benar. Makanya Hughes sempat ngambil kuliah di IAIN jurusan dakwah dan penyiaran Islam.

Yang namanya iman kan sering naik turun, apa yang Hughes biasa lakukan ketika merasa iman sedang goyah?

Satu hal yang Hughes selalu ingat, amalan tanpa ilmu itu enggak ada artinya. Jadi ke Taklim itu gak boleh dilepas, belajar gak boleh berhenti.Hughes kebayang banget, di dunia entertainment yang Hughes jalanin ini, kalau kita lepas dari Taklim sih udah gak bakal ketolong ?.pasti bablas. Nikmatnya dunia entertainment itu kan menggoda sekali, tapi dengan ke Taklim ya ?Insya Allah ada filter gitu. Biasanya kalau lagi down banget, ya kita harus nyeret kaki tuh ke Taklim, pulang dari Taklim kita dapat pencerahan lagi. Kalo gak gitu sih, Hughes pikir Hughes lost banget.

Apakah Hughes juga akan menerapkan konsep Islami dalam keluarga nanti?

Pointnya yang dari pertama kita ambil dari awal menikah, kita mau menyelesaikan masalah yang kita punya berdasarkan Al-Quran dan Hadist gitu. Basic nya kesitu. Misalnya kalau kita lagi ribut, soal kerjaan misalnya, aku maunya begini, suami maunya begitu, ya udah kita akan ke ustadz dan tanya di Al-Quran dan Hadist tuh aturannya gimana gitu.Itu sudah kita jalanin selama 3 tahun dan Alhamdulillah ya jadi lebih ringan. Karena saya pikir, semua ini kan harus ada aturan dan pakem yang jelas mana yang akan kita pakai. Itu tidak bisa diganggu gugat karena kita sudah sepakati.

Bagaimana Hughes melihat Muslim Indonesia sekarang ini yang katanya masih dikesampingkan?

Hughes tidak bisa ngasih pendapat sendiri. Tapi ada satu artikel yang Hughes baca kemarin, bahwa umat Muslim di Indonesia ini sudah merasa bangga karena menjadi kaum mayoritas. Sehingga sudah merasa cukup dengan menjadi Muslim saja, padahal kan enggak selesai sampai disitu. Hughes rasa, baru sedikit yang mau belajar betul. Kita masih lihat, banyak umat Muslim yang pergi ke dukun, nonton tontonan mistik, yang kayak gitu. Seperti dibilang sama ibu Irene Handono ya, baru 10 persen orang Islam yang bisa membaca dan mengerti Al-Quran, lalu sisanya kemana gitu. Hughes pikir betul juga, karena banyak yang sibuk mengIslamkan orang, tapi orang yang sudah Islam sendiri tidak melanjutkan ke step berikutnya, bahwa mereka harus memperdalam ajaran agamanya untuk menjadi Muslim yang kafah. Belajarnya berhenti, makanya kemudian taklim-taklim kadang-kadang isinya orangnya yang itu-itu aja ? Tapi kita harus gembira karena kalau kita lihat perempuan-perempuan Indonesia sekarang tuh sudah banyak yang senang pergi ke Taklim di mesjid-mesjid. Hughes juga kadang-kadang ngeliat orang yang benar-bener ngejar belajar Islam, bukan mereka yang Islam dari kecil gitu, tapi mereka yang Mualaf. Gak tahu kenapa ya ?.

(ln)



Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata'ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila terus diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan.
Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata'ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu.




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke