Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah memandang perlu
dibangun hubungan intensif ulama dan zuama untuk mengajarkan Islam yang
kafah (menyeluruh-Red), damai dan berkeadilan.
Demikian hasil rekomendasi dari pertemuan "Jakarta
Internasional Islamic Conference yang diselenggarakan Lembaga Dakwah
Nahdlatul Ulama (NU) dan Lembaga Tabligh dan Dakwah Khusus Muhammadiyah
selama tiga (13-15 Oktober 2003) di Hotel Sari Pan Pasific, Jakarta.
Untuk mewujudkan maksud tersebut, perlu ditingkatkan
kualitas pendidikan dan sumber daya umat yang diimplementasikan dalam
bentuk kurikulum atau materi pengajaran Islam yang rahmatan
lil'alamin.
Mantan Menteri Agama Tarmizi Taher yang juga sebagai ketua
pelaksana dalam penutupan pertemuan yang dihadiri 150 ulama dari dalam dan
luar negeri itu menegaskan, Islam teroris hanya akan mencoreng muka kaum
Muslimin. Setelah kedok mereka terbongkar di Tanah-Air ternyata mereka
yang berjihad untuk membela Islam itu hanya menggunakan dalil-dalil agama
yang sebagian-sebagian, tidak kafah (tidak lengkap).
"Untuk itu, ulama NU dan Muhammadiyah harus mampu
membentengi umat dan bangsa Indonesia dari racun-racun radikalisme Islam.
Ukhuwah NU dan Muhammadiyah merupakan obat mujarab melawan
kelompok-kelompok radikal," ujar Tarmizi.
Dia juga meminta seluruh ulama NU dan Muhammadiyah untuk
tidak membiarkan kelompok-kelompok kecil yang radikal mengkafirkan
kelompok lainnya. "Kita tidak boleh membiarkan kelompok-kelompok kecil
radikal itu dengan seenaknya mengkafirkan orang Islam di luar kelompok
mereka, ulama NU dan Muhammadiyah harus merapatkan barisan dalam memimpin
umat dan bangsa Indonesia."
Pertemuan ulama ASEAN tersebut juga mengeluarkan rekomendasi
yang ditujukan kepada pemerintah dan DPR, pesan kepada bangsa, nasihat
kepada umat, pesan kepada Barat, dan regional ASEAN.
Dalam pesannya kepada Barat, ulama ASEAN menyeru kepada
Amerika Serikat dan negara-negara maju untuk menerapkan kebijakan politik
dan sosialnya secara adil dan berkeadaban, khususnya menyangkut umat Islam
internasional, khususnya menyangkut konflik Israel-Palestina.
"Radikalisme dan terorisme bukan bentuk seteru Timur dan
Barat, khususnya bukan tubrukan Islam dengan Barat. Pemahaman kepada
faktor-faktor dasar radikalisme harus terus dikaji secara mendalam dan
tidak berstandar ganda."
Sedangkan dalam pesannya kepada umat, ulama ASEAN mengajak
untuk menghidupkan dan membangun forum ukhuwah dan silaturahmi jamaah NU
dan Muhammadiyah sampai ke lapisan bawah untuk landasan kuat persatuan dan
kesatuan masyarakat dan bangsa.
Menurut Tarmizi, radikalisme dalam tubuh umat hanya akan
menimbulkan masalah dan tidak menyelesaikan masalah kemiskinan dan
keterbelakangan umat terutama dalam kompetisi global dan ketidakadilan.
"Mari kita hentikan konflik yang melelahkan dan menghabiskan
tenaga dan dana, agar kita dapat keluar dari multi krisis yang
berkepanjangan," ujarnya menambahkan.
Tarmizi menjelaskan, ukhuwah NU-Muhammadiyah sebagai
organisasi dakwah yang beranggotakan hampir sejuta umat Islam, membikin
bangsa akan tenang dan tindakan kekerasan yang jauh dari nilai Islam.
Wajah Islam di Tanah-Air telah dicoreng sekelompok umat yang
picik pandangannya. Dunia Islam saat ini tidak hanya di Indonesia
(Lamongan, Banten, Ngruki) tapi tersebar dari Kutub Utara sampai Kutub
Selatan, di seluruh penjuru dunia. Sikap menghargai kemajemukan agama dan
kerukunan antarumat beragama adalah wajah dunia beradab hari ini.
(dik)