pak wandy,
dengan kerendahan hati mohon perkenannya untuk bisa memberikan penjelasan kembali atas tulisan pak wandy, yaitu
1. Al-Quran sendiri telah menabuh genderang peperangan terhadap para muqallid, yaitu mereka yg menghinakan diri, meremehkan akal mereka sendiri untuk mengikuti apa yg diyakini nenek moyang atau para pembesar mereka, dan pemikiran- pemikiran yg mereka anut (QS Al-Baqarah 170-171).
Pertanyaan saya adalah kami yang bertaklid kepada Imam Syafe'i apakah termasuk suatu kesalahan dan termasuk orang yang hina dan meremehkan akal kami, karena kami mengikuti keyakinan nenek moyang kami yang bermadzhab Imam Syafe'i dan mengikuti pemikiran-2 mereka ? Apakah kami termasuk kelompok yang terkena tabuhan genderang perang dari Al Quran ? Terus terang saja kami tidak bisa mengambil keputusan syar'i dari diri sendiri, hal ini karena ketidakmampuan kami dalam bahasa arab (sebagai
bahasa agama yang harus jadi rujukan), hapalan kami atas ayat-2 Al Qur'an dan hadits-2 Rosulullah saw
2. Sesungguhnya kewajiban seorang muslim ialah mencari kebenaran serta mengetahuinya berdasarkan dalil-dalil yang memuaskan akalnya dan sejalan dengan hati nuraninya, bukan budak hawa nafsu dan taklid buta.
Pertanyaan saya adalah ketika kami mencari kebenaran dan mengetahuinya dengan dalil-2 yang memuaskan dan sejalan dengan hati nurani kami, yang mana itu semua kami temukan didalam madzhab Imam Syafe'i, lalu hal itu kami jadi pedoman dan kami bertaklid kepadanya karena ketidakmampuan kami dalam pemahaman agama, apakah kami termasuk budak hawa nafsu dan taklid buta ?
Pertanyaan saya adalah ketika kami mencari kebenaran dan mengetahuinya dengan dalil-2 yang memuaskan dan sejalan dengan hati nurani kami, yang mana itu semua kami temukan didalam madzhab Imam Syafe'i, lalu hal itu kami jadi pedoman dan kami bertaklid kepadanya karena ketidakmampuan kami dalam pemahaman agama, apakah kami termasuk budak hawa nafsu dan taklid buta ?
3. Saya ingin pencerahan dari pak wandy tentang keharusan seorang muslim berpedoman kepada Al Qur'an dan Al Hadits, saya juga setuju dengan pendapat seperti itu. Namun dalam pelaksanaannya apakah
kita harus memahami dari kalimat dalam hadits tsb ataukah kita tafsirkan sendiri, dan setiap orang boleh menafsirkan sendiri tanpa perlu melihat kemampuan ilmunya ? misal tukang becak yang tidak bisa bahasa arab dan dia memahaminya dari terjemahan.
4. Apakah qiyas dan ijma' ulama boleh dijadikan pedoman ibadah ?
Sebuah kepastian bahwa segala kejadian di dunia ini adalah sudah ditakdirkan oleh Allah SWT, bila pertanyaan ini dibalas oleh pak wandy maupun ikhwan di milis KI ini maka saya panjatkan puji syukur kepada Allah SWT..alhamdulillah.
ana urid, anta turid, wa Allahu ma yurid
al afwu minkum
wassalam
iwan
wandysulastra <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
wandysulastra <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
Tugas-tugas Penuntut Ilmu
- Pemahaman Yg Benar
Tugas pertama seorang penuntut ilmu adalah mencurahkan seluruh
kesungguhannya hingga mampu menguasai, mendalami dan mencernanya.
Dengan bekal tersebut ia dapat melampaui fase pengetahuan kepada
fase pemahaman. Al-Quran menuntut kita untuk memperdalam agama,
tidak hanya sebatas belajar saja (QS At-Taubah:122).
- Membebaskan Diri dari Belenggu Taklid
Seorang penuntut ilmu harus berusaha membebaskan diri dari taklid
kepada orang lain dan beralih kepada pemahaman yang independen,
bukan hanya bersandar kepada hasil pemikiran orang lain tanpa
mempelajari dari sumbernya secara jelas. Para ulama menganggap,
bahwa taklid bukanlah ilmu. Karena ilmu ialah yg diperoleh melalui
pencarian argumen, dalil dan bukti. Al-Quran sendiri telah menabuh
genderang peperangan terhadap para muqallid, yaitu mereka yg
menghinakan diri, meremehkan akal mereka sendiri untuk mengikuti apa
yg diyakini nenek moyang atau para pembesar mereka, dan pemikiran-
pemikiran yg mereka anut (QS Al-Baqarah 170-171).
Sesungguhnya kewajiban seorang muslim ialah mencari kebenaran serta
mengetahuinya berdasarkan dalil-dalil yang memuaskan akalnya dan
sejalan dengan hati nuraninya, bukan budak hawa nafsu dan taklid
buta.
- Mengamalkan ilmu
Kewajiban bagi seorang berilmu adalah berbuat sesuai dengan yang
diketahuinya, serta menjadi teladan bagi yang lain.
- Menyebarluaskan ilmu
Hak ilmu atas pemiliknya adalah diajarkan kepada orang lain. Karena
islam mengajarkan bahwa pada setiap nikmat terdapat zakatnya. Zakat
ilmu adalah mengajarkannya kepada orang lain.
- Berhenti pada Batas yang Diketahuinya
Diantara kewajiban penuntut ilmu adalah berhenti sampai batas yang
diketahuinya secara ilmiah. Dia tidak boleh memasuki wilayah yang
tidak diketahuinya berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah. Diwajibkan bagi
seorang alim yang muslim, apabila ditanyakan tentang sesuatu yg
tidak diketahuinya, hendaknya berkata, "saya tidak tahu". Karena
dalam ilmu tidak ada keangkuhan.
Yang paling berbahaya adalah apabila seseorang berkata dalam suatu
hal yg tidak diketahuinya tentang ajaran agama Allah, kemudian
menghalalkan dan mengharamkan tidak berdasar dalil dan keterangan
dari Allah, maka dosa orang yang mendengar dan melaksakan
perkataanya akan dibebankan kepadanya (Al-Hadits).
*Diringkas dari Fikih Taysir, Dr. Yusuf Qardhawi
Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata'ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila terus diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan.
Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata'ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/keluarga-islam/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail.yahoo.com
Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata'ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila terus diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan.
Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata'ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu.
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "keluarga-islam" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
