http://www.sabili.co.id/telut-e23thXIII05.htm

Pelecehan Islam di IAIN

Seorang dosen Fakultas Dakwah IAIN Supel menyebut al-Qur'an sebagai
mahluk. Ia juga menginjak-injak lafadz Allah di hadapan para
mahasiswa. Heboh. Bagaimana di perguruan tinggi Islam lainnya?

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel (Supel), Surabaya,
Jawa Timur, 6 Mei 2006. Perkuliahan di Fakultas Dakwah berlangsung.
Sulhawi Ruba, dosen Sejarah Peradaban Islam (SPI) menyampaikan
kuliahnya di depan para mahasiswa semester dua Fakultas Dakwah. Di
saat yang sama, perkuliahan juga berlangsung di sejumlah fakultas di
kampus Islam kebanggaan arek-arek Suroboyo itu. Seperti biasanya,
proses transfer ilmu di IAIN Supel berjalan tertib dan tenang.

Namun ketenangan proses belajar-mengajar itu pecah oleh ulah tidak
pantas Sulhawi Ruba. Di hadapan para mahasiswa/inya, dosen SPI yang
tidak fasih membaca "kitab kuning" itu, mengatakan bahwa al-Qur'an,
kitab suci orang Islam sebagai mahluk. Sama seperti mahluk ciptaan
Allah SWT lainnya, seperti rumput, harimau dan lainnya. "Al-Qur'an
itu hasil kebudayaan manusia," kata laki-laki yang mengaku diri
penganut paham liberal itu.

Tak cukup menyebut al-Qur'an sebagai mahluk. Dosen yang sering
menyebut dirinya dengan syekh (sebutan orang untuk para ulama dan
pemikir Islam –red) ini, menginjak-injak lafadz Allah yang
ditulisnya sendiri di atas secarik kertas kemudian dibuangnya ke
lantai. "Niat saya untuk keilmuan. Saya lakukan itu untuk memberikan
pemahaman kepada para mahasiswa agar tidak syirik," tandasnya, tanpa
ada rasa takut sedikit pun akan protes umat Islam.

Penghinaan di atas seakan belum cukup buat Ruba. Ketika sejumlah
mahasiswa protes, sikap dosen yang diragukan kemampuan agamanya ini
malah makin menjadi-jadi. Menurutnya, sah saja menginjak-injak
lafadz Allah, seperti menginjak rumput. "Karena al-Qur'an itu mahluk
dan hasil budaya manusia, maka ketika menginjak lafadz Allah, sama
seperti saya menginjak mahluk Allah lainnya," ujar lelaki yang
mengaku sealiran dengan grup band Dewa ini.

Sikap nyeleneh Ruba tersebut sempat membuat heboh suasana
perkuliahan di kelas. Karena tidak senang mendengar dan melihat Ruba
melecehkan Allah SWT dan Islam, sejumlah mahasiswi tak kuat menahan
tangis. Yang lain, sambil menangis sejadi-jadinya, bergegas keluar
meninggalkan perkuliahan. "Terus terang, hati saya sakit mendengar
Allah dan Islam dilecehkan. Sambil menahan tangis, saya keluar dan
menangis sejadi-jadinya," tutur salah seorang mahasiswi, mengenang
kejadian yang tidak pantas tersebut.

Kejadian yang menyayat hati umat ini bemula ketika Ruba memberi
kuliah tentang iqra (bacalah) kepada para mahasiswa semester dua
Fakultas Dakwah. Awalnya, perkuliahan berjalan baik, apalagi Ruba
menyampaikan materinya diselingi dengan humor.

Penyimpangan terjadi saat Ruba mengatakan bahwa al-Qur'an adalah
mahluk. Dengan maksud memperjelas pandangannya tersebut, ia meminta
lembaran kertas kepada seorang mahasiswi dan menuliskan lafadz Allah
dengan huruf Arab di atas kertas tersebut.

Sejurus kemudian, Ruba membuang lembaran kertas yang tertulis lafadz
Allah tersebut ke lantai dan langsung menginjak-injak dengan
sepatunya. Nah, jadilah kasus pelecehan al-Qur'an oleh oknum dosen
IAIN Supel ini, heboh.

Ruba sendiri tidak terlalu mengkhawatirkan pandangan dan
perbuatannya tersebut. Ia mengatakan, pendapatnya ini dalam konteks
akademis. Seperti yang dikemukakannya kepada SABILI saat
mewawancarai dosen SPI ini di kampus IAIN Supel, Surabaya, Jatim
beberapa waktu lalu.

"Saya ingin memberikan pemahaman kepada mahasiswa apa itu
kebudayaan. Kebudayaan adalah hasil cipta manusia. Tulisan Allah,
alif lam ha, adalah budaya. Kemudian saya tulis di atas kertas
dengan tulisan lafadz Allah. Ini bukan Allah. Jangan didewakan.
Untuk apa? Maksud saya supaya tidak syirik," paparnya, memberi
alasan.

Ia menambahkan, "Karena itu, ketika saya demo menginjak-injak lafadz
Allah harus dilihat niatnya. Kalau niatnya pelecehan, harus dibunuh.
Tapi, niat saya adalah kelilmuan. Saya ingin memberikan pemahaman
kepada mahasiswa agar tidak jatuh pada kesyirikan."

Tak ayal pandangan nyeleneh dan aksi menginjak-injak lafadz Allah
tersebut memantikkan kemarahan kaum Muslimin. Gelombang protes akan
aksi tak pantas tersebut datang dari alim-ulama, tokoh masyarakat,
kalangan akademisi dan masyarakat.

Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Ma'ruf Amin
berpendapat menginjak-injak lafadz Allah sama saja dengan menginjak-
injak al-Quran. Karena itu dia mengatakan, tindakan Ruba tersebut
merupakan penodaan dan penghinaan terhadap al-Qur'an. "Jangan
menginjak-injak al-Qur'an. Para ulama tidak akan rela ada al-Qur'an
diinjak-injak," kata ulama yang dikenal tegas pada paham sekular,
plural dan liberal ini.

Ia juga mengatakan akan mengusut tuntas kasus ini. Kiai Ma'ruf akan
meminta MUI Jawa Timur untuk meneliti kasus ini dan segera
melaporkannya ke MUI Pusat. "Paham seperti ini tidak bisa dibiarkan,
apalagi ada penodaan agama. Kita sepakat dalam kebebasan tidak boleh
ada penodaan agama," ujarnya.

Pandangan tak kalah kerasnya datang dari Ketua FUUI KH. Athian Ali
M. Da'i. Tokoh Islam asal Bandung ini mengatakan, orang yang
menginjak-injak lafadz Allah itu telah dikatakan kafir karena murtad
dari keyakinannya. "Di negara Islam orang seperti ini harus
dipancung, baik karena kemurtadannya juga karena ajakannya agar
orang tidak mengakui adanya Allah," tegas tokoh Islam yang pernah
memberi fatwa mati untuk Ulil Abshar Abdalla itu.

Athian juga menyayangkan sikap tak tegas pemerintah terhadap kasus-
kasus pelecehan Islam selama ini. Sehingga, lanjutnya, menyebabkan
para pengasong paham nyeleneh itu menjadi leluasa dan berani
menyatakan pemikiran dan tingkah lakunya yang tidak sejalan dengan
aturan Islam. "Tak ada sanksi yang membuat mereka jera," tambahnya.

Pandangan senada dikemukakan Peneliti LPPI Hartono A Jaiz. Penulis
buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia ini menyatakan, kasus
menginjak-injak lafadz Allah merupakan pelecehan ayat-ayat Allah.
Menurut ulama, jika orang itu tidak segera bertaubat, maka
hukumannya dibunuh.

"Kalau pelecehannya kepada Nabi Muhammad tidak usah diminta taubat,
tapi langsung dibunuh. Namun jika menghina ayat-ayat Allah, maka
diminta taubat terlebih dahulu. Jika tidak mau bertaubat, maka
hukumannya adalah dibunuh. Karena prosedur hukum mati sulit
dijalankan, maka diajukan ke pengadilan dengan tuduhan penodaan
agama," tegasnya.

Protes keras juga datang dari institusi tempat Ruba mengais rejeki,
IAIN Supel sendiri. Pembantu Dekan III Fakultas Dakwah Supel Sunarto
menyatakan, Sulhawi tidak layak menginjak-injak lafadz Allah,
apalagi di depan mahasiswa. Meski hanya simbol, sambung Sunarto,
namun seharusnya ia tahu bahwa lafadz Allah itu adalah simbol zat
Yang Maha Kuasa.

"Kalau ia punya prinsip seperti itu, ya yakini sendiri saja, jangan
didemonstrasikan di depan mahasiswa. Ini kan institusi Islam, sangat
tidak layak melakukan penginjakan lafadz Allah. Saya kira dia harus
mempertimbangkan apa yang dia diperbuat. Kalau ada yang sekadar
protes, masih untung. Tapi kalau ada yang pakai cara lain,
bagaimana?" Ia juga mengatakan akan menggalang dukungan di internal
kampus untuk melakukan peneguran kepada Ruba.

Protes yang sama juga datang dari Guru Besar IAIN Supel Prof. Dr.
Syechul Hadi Purnomo. Dewan Penasihat MUI Surabaya ini menyatakan,
tindakan Ruba tersebut bukan lagi tindakan bodoh, tapi penghinaan
terhadap Islam. "Ini semakin besar karena dilakukan di hadapan para
mahasiswa," ujarnya.

Dewan Syuriah Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur ini juga menyatakan
bahwa tindakan dosen SPI itu sama dengan penghinaan Islam yang
dilakukan mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati (SGD), Bandung pada tahun
2004 yang menyebut "Selamat datang di area bebas tuhan." "Mereka
sudah kufur dan murtad," tegasnya.

Mahasiswa UIN SGD ketika itu memasang spanduk bertuliskan, "Selamat
datang di area bebas tuhan." Di hadapan mahasiswa baru, para
pengecer SEPILIS itu juga mengajak mahasiswa baru untuk berdzikir
dengan ucapan "Anjing hu akbar." Kejadian yang direkam baik dalam
bentuk VCD itu juga merekam pembicaraan salah seorang di antaranya
yang mengatakan, "Allah kita telah mati."

Saat ini, para pengasong SEPILIS (sekularisme, pluralisme dan
liberalisme) mulai unjuk gigi di IAIN Supel, Surabaya. Mereka protes
keras saat pihak rektorat mengeluarkan kebijakan kode etik mahasiswa
IAIN Supel yang salah satu poinnya memuat kewajiban memakai pakaian
Muslimah atau jilbab di bawah lutut.

Mereka juga giat melakukan propaganda dengan membuat buletin,
seminar, kajian dan diskusi yang mengusung ide SEPILIS. Tapi,
gerakan mereka belum terlalu menyebar dan separah seperti di UIN
Syarif Hidayatullah, Jakarta. Hal ini dikarenakan para dosen yang
lurus masih dapat mengimbangi para pengasong SEPILIS tersebut. Meski
demikian, mereka berusaha merintis dan membangun gerakannya agar
cepat atau lambat IAIN Supel akan seperti di UIN Jakarta.

Cerita pelecehan Islam ternyata tak hanya "monopoli" IAIN Supel,
Surabaya saja. Di sejumlah perguruan tinggi Islam itu juga mengemuka
kasus-kasus penodaan Islam seperti itu. Misalnya seperti kejadian di
UIN Sunan Gunung Djati (SGD), Bandung, Jawa Barat, para pengasong
SEPILIS juga gencar mengampanyekan ide-idenya.

Mereka juga bergerak dalam tataran wacana. Beberapa waktu lalu
misalnya, mereka menggelar seminar tentang pembelaan terhadap
Ahmadiyah dan pemikiran liberal. Meskipun belakangan, mereka tidak
terlalu berani dan vulgar melontarkan berbagai pemikiran SEPILIS
karena banyak counter dari mahasiswa lainnya. "Mereka pikir dua kali
untuk berkoar secara vulgar saat ini," kata sumber SABILI yang minta
tak disebutkan identitasnya.

Kini, mereka menjalankan trik baru dengan mengusung budaya hedonisme
yang tentu saja bertolak belakang dengan niai-nilai Islam. Akibatnya
muncul sikap-sikap tidak islami, seperti budaya pergaulan bebas,
pemakaian obat-obatan terlarang.

Mereka pernah juga mengadakan festival band yang di dalamnya
dibumbui perkelahian antar peserta dan panitia. Parahnya, pada tahun
2005 lalu, mereka pernah mengadakan lomba kecantikan bencong yang
sama sekali tidak ada kaitannya dengan persoalan akademik.

Praktik-praktik seperti ini mendapat respon serius dari Direktur
Pascasarjana UIN SGD, Bandung Dr. Afif Muhammad. Ia tak memungkiri
ada pemikiran nyeleneh di kampusnya, namun jumlahnya bisa dihitung
dengan jari. "Tidak bisa digeneralisir sebab banyak juga mahasiswa
yang baik. Mereka mengembangkan pemikiran Islam, seperti TPA dan
TQA," ujarnya.

Ia menambahkan, saat ini kampusnya sedang melakukan sejumlah revisi
kurikulum yang ada dan melakukan berbagai pengawasan untuk
mengembalikan tatanan ilmu kepada nilai-nilai Islam
sebenarnya. "Kita berusaha menjadikan UIN lebih baik. Selain itu
harus dilihat bahwa IAIN tidak sedikit memberikan kontribusi positif
bagi masyarakat," ujarnya.

DI UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta lain lagi ceritanya. Di sini,
berpikiran nyeleneh bukanlah barang baru. Bahkan, boleh dibilang UIN
Jakarta menjadi contoh bagi IAIN lainnya dalam hal berpikir nyeleneh
ini. Sejumlah oknum dosen dan mahasiswanya sering melontarkan
pandangan SEPILIS. Misalnya, mereka menyebut semua agama sama. Ada
juga yang mengatakan bahwa Budha, Hindu termasuk agama samawi.

Padahal, ini bertentangan dengan konsep Islam yang dibawa para nabi.
Agama yang dibawa para nabi, mulai dari Nabi Adam sampai Nabi
Muhammad hanya satu, yaitu Islam. Mereka membawa satu risalah Allah,
yaitu Islam.

Tak sebatas melontarkan persamaan semua agama. Wacana mengkritisi
(membongkar—red) al-Qur'an juga mencuat ke permukaan. Mereka
menyebut, al-Qur'an wajib dikritisi dan ditafsir ulang untuk
menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Itulah sebabnya, tidak
sedikit buku yang tujuannya membongkar al-Qur'an bermunculan dari
perguruan tinggi Islam ini.

Fenomena maraknya pemikiran SEPILIS di UIN Jakarta ini mendapat
tanggapan dari pihak rektorat. Pembantu Rektor IV Bidang
Pengembangan Lembaga Prof. Dr. Suwito membantah jika institusinya
mengembangkan studi pengkritisi (revisi--red) al-Qur'an. "UIN tak
mengajarkan seperti itu.

Meski demikian, Suwito tak membantah jika di UIN Jakarta
diperkenalkan berbagai pendapat aliran dalam Islam, seperti
Jabariyah, Mu'tazilah, Qodariyah dan lainnya. Ia juga tidak mengelak
jika terjadi diskusi karena perbedaan pandangan tersebut. "Itu jalan
memperoleh kebenaran. Jadi, jangan disimpulkan bahwa diskusi-diskusi
itu merupakan keputusan final," ujarnya.

Sependapat dengan pandangan sejumlah tokoh Islam bahwa UIN, IAIN
atau STAIN adalah aset bangsa. Oleh karena itu, perlu ada upaya
serius oleh semua pihak, baik dari internal maupun ekstral mereka
untuk menyelamatkan perguruan tinggi Islam ini dari berbagai "virus"
yang mematikan, seperti paham SEPILIS dan sejenisnya.

UIN, IAIN dan STAIN harus dikembalikan ke khittahnya sebagai lembaga
tafaqquh fiddin yang nantinya menelurkan para sarjana yang tidak
hanya berwacana saja. Tapi benar-benar sarjana yang menghayati nilai-
nilai Islam yang sesuai tuntutan Nabi Muhammad saw untuk kemudian
mengamalkan dan mendakwahkannya ke masyarakat.

Rivai Hutapea
Laporan: Chairul Ahmad, Apriadi Murwanto, Diyah Kusumawardani, Deffy
Ruspiyandy (Bandung), Habibi Mahabbah.







Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata'ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila terus diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan.
Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata'ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu.




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke