Assalamu'alaikum Tepat sekali! ini sangat rancu bahkan perbedaannya sangat tipis sekali dengan kemusyrikan. Sekali lagi kerancuan ini pun kadang ulahnya setan, yang dikemas sebagai bentuk amal yang indah. manusia akhirnya banyak yang tergelincir.
Kalau Gusti diartikan bukan Tuhan, okelah bisa diterima. Tetapi kata gusti itu selalu disandingkan dengan kata Pangeran = Tuhan, misal Gusti Pangeran. Setahu saya banyak orang yang dari "sono", (bukan..bukan di Indonesia lho maksudnya) menyebut Gusti Pangeran itu untuk Tuhan mereka, seandainya ia beragama Islam, maka yang dimaksud Tuhan adalah Allah SWT. Namun jika mereka beragama hindu, budha atau katholik maka Gusti Pangeran tsb berarti Tuhan mereka. Lalu apa bedanya Allah SWT dengan Tuhan mereka kalau gitu. Belum lagi seandainya kata Pangeran disandingkan dng nama orang, misal Pangeran Joyoboyo. Terus bagaimana ini? Pangeran = Tuhan, berarti Tuhan Joyoboyo begitukah? Ini sama saja menuhankan manusia dan memanusiakan Tuhan, meniru-niru umat Nasrani. Padahal Nabi SAW bersabda barangsiapa yang menyerupai (meniru) suatu kaum, maka ia bagian dari kaum itu. Bagaimana dengan Allah SWT, Allah SWT Maha Kaya dan Maha Mulia dari sifat-sifat demikian dan jelas sekali Dia tidak layak disifati dengan sifat-sifat demikian, juga dengan menamainya nama-nama / gelar-gelar mahluknya. Allah tidak butuh sanjungan dari mahluknya apalagi hanya berupa gelar yang sama dengan mahluknya. Kata Allah dalam hadist qudsi-Nya, "Seandainya seluruh manusia dan jin baik dari yang awal maupun sampai yang akhir nanti, bertaqkwa layaknya orang yang paling taqwa diantara kalian, maka sungguh tak sedikitpun menambah kekuasaan Ku atas segala sesuatu". Demikian pula NAbi SAW, beliau telah maksum tidak perlu berlebihan menyanjungnya karena beliaupun tidak senang disanjung-sanjung. wallahu a'lam bish shawab wassalam fAtiH --- In [email protected], "Naufal" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > ayooo yang orang jawa angkat tangan..... ngaku....he..he > kayaknya Mas Yusa dan Mas Ramdan jawa tulen tuh.... > padahal ada lagi lho selain "kanjeng Gusti" yang sering dipakai untuk gelar, > yaitu "pangeran".... > saat digunakan untuk nama orang berarti gelar, misalnya pangeran diponegoro > sedangkan saat berdoa pangeran diartikan sebagai Tuhan........ > > ah dasar orang jawa gak bisa cari istilah yang tepat...dan bikin bingung > orang yang bukan orang jawa...he..he > tanya...kenapa...? > > salam > > > ----- Original Message ----- > From: Yusa Miafatmah > To: [email protected] > Sent: Thursday, Aug 24, 2006 5:38 PM > Subject: [keluarga-islam] predikat kanjeng gusti > > > Sedikit menambahkan > > Kalo yang dimaksud Pak Abu Tuhan, maka bunyinya Kanjeng Gusti Allah,... > gitu pak Abu...Jangan Salah persepsi ya Pak Abu. > Jadi untuk Nabi, Kanjeng Gusti Rasul atau Kanjeng Gusti Nabi > Muhammad.... > Mungkin orang jawa lebih familiar dengan gelar-gelar tersebut. Mungkin > bisa sedikit membantu > > Maaf Jika Tidak Berkenan > > Wassalamualaiku Warrokhmatullahi wabarokatuh > Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata'ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila terus diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan. Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata'ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/keluarga-islam/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
