selamat menyimak...****

 ****

salam,****

ananto****

---------- Forwarded message ----------
From: <[email protected]>
Date: 2013/10/22
Subject: OPINI: Kemarahan SBY



Heboh Bunda Putri dan Marah Presiden

Bambang Soesatyo
Anggota Komisi III DPR RI
Fraksi Partai Golkar

PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono kembali terpojok akibat kelambanan para
pembantunya merespons fakta persidangan kasus suap impor daging sapi.
Tampak sangat jelas bahwa para pembantu presiden tidak sensitif ketika
Presiden dan kabinetnya dilecehkan. Bunda Putri terkesan punya imunitas,
karena para pembantu presiden tidak segera berkoordinasi dengan aparat
penegak hukum untuk segera mengungkap sosok dan sepak terjang wanita
misterius ini?

Dibandingkan dengan kesaksian Ridwan Hakim di Pengadilan Tipikor Jakarta
pada Kamis 29 Agustus 2013, tidak ada yang baru dari penuturan Luthfi Hasan
Hasan Ishaaq (LHI) ketika dia juga bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta,
Kamis (10/10). Dalam dua sidang dengan waktu yang berbeda itu, baik Ridwan
maupun Luthfi menjadi saksi untuk terdakwa Ahmad Fathanah dalam kasus suap
kuota impor daging sapi.

Menjawab pertanyaan majelis hakim  Tipikor, Luthfi mengatakan, Bunda Putri
adalah orang yang sangat dekat dengan Presiden. Luthfi menggambarkan Bunda
Putri tahu informasi mengenai kebijakan reshuffle kabinet. "Bunda Putri
orang yang setahu saya sangat dekat dengan SBY. Dia sangat tahu informasi
kebijakan reshuffle," ujar Luthfi saat bersaksi. Sungguh, penuturan Luthfi
ini predictable sehingga tidak mengejutkan. Sebab,Luthfi hanya mengulang.
Bukankah Informasi serupa sudah dimunculkan pada kesaksian Ridwan, Agustus
lalu?.

Bahkan, kesaksian atau penuturan Ridwan jauh lebih komprehensif dan detil,
karena dilengkapi dengan memperdengarkan rekaman percakapan Luthfi, Ridwan
dan Bunda Putri. Dalam rekaman itu misalnya, ada sosok yang oleh saksi
Ridwan disebut dengan inisial Sengman. Menjawab pertanyaan majelis Hakim,
saksi Ridwan menjelaskan bahwa Sengman adalah utusan presiden

Dalam rekaman itu, Bunda Putri sempat berucap begini,  ”Nanti, kalau Maret
ada reshuffle, ya sudah saja, nanti saya ngomong sama Pak Lurah; bener apa
yang kamu bilang tentang Haji Susu itu, sudah babat saja, aman. Bunda
gituin aja, aman. Bunda disuruh ngurus beliau, emang di atas satu orang?
Banyak orang; saya tantang.”  Pada bagian lai percakapan itu, Bunda Putri
berujar, “Jadi, kalo si Fathan itu kita minta tempatkan atau reshuffle,
kita barter-lah dengan Dirjen, itu masih beratlah. Ini cuma untuk pintu
masuk…………”

Bunda juga Putri kecewa pada sosok lain berinisial Haji Susu. Semua
permintaan atau saran Haji Susu sudah dipenuhi Bunda Putri, dan Bunda Putri
ingin agar sosok lain berinisial Pak Lurah tahu perihal ketaatan Bunda
Putri pada Haji Susu.

Rekaman pembicaraan itu memberi gambaran bahwa peran Bunda Putri sangat
dominan dalam menggerakan kartel impor daging sapi. Dia sudah melobi Pak
Lurah, dan Pak Lurah menyarankan Bunda Putri untuk berkomunikasi dengan
Haji Susu. Kemudian Haji Susu minta Bunda Putri melobi sejumlah pejabat
terkait.

Bunda Putri dan koleganya sangat marah, karena seorang pejabat (diduga
menteri) yang sebelumnya sangat diandalkan, menolak menggunakan
otoritasnya. Maka, kolega Bunda Putri pun berujar,  “Dia (menteri) ‘kan
decission maker; itu otoritas dia untuk menentukan. Sementara yang diminta
dia bukan otoritas-nya Bunda. Bunda hanya mengondisikan orang-orang
pengambil keputusan agar keputusannya sesuai apa yang dia mau. Dan, lebih
berat pekerjaan dia (Bunda Putri) dari pada pekerjaan Menteri. Yang
menentukan ya kewenangan dia sendiri.”

Rekaman dialog ini sudah membuat republik cukup heboh waktu itu. Rekaman
dialog itu mestinya punya implikasi politik luas. Sebab, sekelompok orang
yang bersekutu dalam kartel berupaya mendikte kabinet untuk memenuhi
keinginan mereka. Dan tragisnya, saat itu, puluhan juta keluarga Indonesia
tak mampu mengonsumsi daging sapi, karena harganya sangat-sangat mahal.

Sangat Memalukan

Sebuah keniscayaan jika saat itu juga DPR mempertanyakan masalahnya kepada
Presiden. Wajar pula kalau para politisi ramai-ramai mendesak penegak hukum
mengungkap sosok Bunda Putri. Apalagi, dari Bunda Putri, bisa diungkap
siapa yang dimaksud dengan Pak Lurah, Haji Susu dan juga sosok Sengman.
Oleh karena rekaman dialog itu melecehkan presiden selaku pemegang hak
prerogatif untuk mengangkat dan memberhentikan seorang menteri (reshuffle
kabinet), institusi penegak hukum dan kantor presiden pun mestinya segera
berkoordinasi untuk merespons kesaksian yang sudah menjadi fakta
persidangan itu.

Sekretariat negara dan juga sekretaris kabinet pun mestinya tidak tinggal
diam, karena rekaman dialog itu tak hanya melecehkan kabinet, tetapi juga
memunculkan asumsi kabinet bisa diintervensi kartel impor daging sapi. Per
logika politik, esensi dialog di rekaman itu amatlah sensitif karena
menyangkut wibawa presiden dan kabinet, serta berkait langsung dengan
persepsi publik tentang bersih atau tidak bersihnya pemerintahan sekarang
ini.

Sayang, kesaksian Ridwan dan pemutaran rekaman pembicaraan hampir dua bulan
lalu itu tidak direspons sebagaimana seharusnya. Padahal, sangat jelas
bahwa pasca kesaksian itu, presiden dan kabinetnya terancam karena berada
di posisi tidak nyaman. Akhirnya, ketidaknyamanan presiden menjadi
kenyataan ketika Luthfi memberi kesaksian. Penuturan Luthfi mestinya tidak
menimbulkan kehebohan baru.

Namun, karena presiden langsung memberi tanggapan dalam nada tinggi, heboh
susulan tentang sosok Bunda Putri pun tak terhindarkan. Sekembalinya dari
Brunei Darussalam, presiden menggelar jumpa pers di Pangkalan TNI Angkatan
Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, untuk menjelaskan posisinya terkait
kesaksian Luthfi. Sayang, pernyataan Presiden tak otomatis meredakan
spekulasi.

Bahkan, muncul lagi keanehan baru. Untuk mendapatkan deskripsi tentang
Bunda Putri, Presiden harus bergerak sendiri mencari tahu. Selama 30 menit,
presiden mengumpulkan informasi dari berbagai pihak; dari Menteri
Sekretaris Negara Sudi Silalahi, Sekretaris Kabinet Dipo Alam, sekretaris
pribadi, hingga keluarganya. Tak ada yang mengaku kenal.

Informasi juga dimintakan dari Menteri Pertanian Suswono dan Wamentan
Rusman Heriawan. Dari keduanya didapat info Bunda Putri adalah istri
seorang pejabat Kementerian Pertanian. Informasi ini pun tidak baru, karena
ceritanya sudah beredar kemana-mana. Bahkan, presiden sebenarnya kalah
cepat dalam memperoleh informasi, karena cerita tentang wanita super
berjuluk Bunda Putri itu sudah berkembang sangat jauh.

Pertanyaannya kemudian, kemana intelijen dan apa saja yang dilakukan para
pembantu presiden sehingga Kepala Negara tidak memiliki informasi apa pun
tentang Bunda Putri? Padahal, Bunda Putri sudah menjadi faktor yang
berpotensi mengganggu kredibilitas presiden dan kabinet, karena gambaran
tentang sepak terjangnya sudah dimunculkan hampir dua bulan lalu di
Pengadilan Tipikor Jakarta, serta mendapat publikasi demikian luas.

Kalau pihak berwenang dan kantor presiden tidak juga bisa menghadirkan dan
mengungkap sosok Bunda Putri untuk diketahui publik, benar-benar sangat
memalukan. Demikian lemahkah negara ini sehingga semua alat kelengkapan
negara tak mampu melindungi presiden dan kabinet dari kesan buruk yang
ditimbulkan oleh Bunda Putri?

Menteri pertanian pernah bertemu, sementara Sekretaris Kabinet Dipo Alam
diketahui pernah berfoto bersama Bunda Putri. Begitu juga dengan mantan
Menteri Pemuda dan Olah Raga Andi Malarangen. Bahkan Andi pernah menginap
di rumahnya di Jawa Timur. Dia pun istri seorang Direktur Jenderal di
Kementerian Pertanian. Mestinya tidaklah sulit mengungkap dan menghadirkan
Bunda Putri. Tetapi, mengapa perempuan ini sengaja ‘disembunyikan’ terus
sehingga tetap menjadi misteri yang membuat pemerintah tidak nyaman? Kalau
dia tak pernah dimunculkan untuk membuat klarifikasi, sama artinya semua
pihak berwenang di negara ini memberi imunitas kepada perempuan yang telah
melecehkan presiden dan kabinetnya itu.

Kalau kita menyimak penjelasan istana. Bahwa tidak akan mengungkap jatidiri
Bunda Putri, hal itu justru mengkonfirmasi bahwa sosok Bunda Putri ini
bukan orang sembarangan. Sampai-sampai istana terpaksa mempertaruhkan
kredibilitas presiden SBY dihadapan publik. Yakni stigma SBY Plin-Plan,
sulit dihindari.

Kita masih ingat hari kamis pekan lalu Presiden SBY begitu marah dan geram
serta menyebut LHI 2000 persen bohong karena dikaitkan soal "Bunda Putri".
SBY pun berjanji kepada rakyat Indonesia akan mengungkap kepada publik
siapa "bunda putri" ini dalam 1-2 hari. Tiba-tiba sekarang SBY melalui
Jubir dan staff khusus Presiden mengatakan tidak akan mengungkap ke publik.

Aneh dan janggal memang. Karena mengungkap sosok dan peran Bunda Putri
bukan hal yang sulit. Foto, alamat dan sosoknya sudah hadir diruang publik
sejak pertama kali namanya muncul dipengadilan tipikor dua bulan lalu.
Jaksa dan hakim tipikor serta KPK pun memiliki kewenangan utk mengungkap
siapa dan apa peran Bunda Putri itu dlm kasus impor daging dll terkait LHI,
Dipo, Pak Lurah, Sengman, Menteri Suswono dan lain-lain. []****


Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
Teruuusss...! ****



--
http://harian-oftheday.blogspot.com/

"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

Kirim email ke