Saat Urus Jakarta, Ternyata Jokowi Putuskan Melalui Klenik & Dukun Ki Drajat
JAKARTA (voa-islam.com) - Selama ini Jokowi 
percaya pada unsur unsur Kejawen. Setiap mengambil keputusan penting, ia 
konsultasi dulu dengan penasihat spiritual.
Tugas para dukun ini selama jadi Gubenur DKI, Jokowi sering memanggil mereka 
untuk dimintai terawangan-terawangan mistis tentang keputusan 
yang akan diambil.
Di Jakarta, para penasihat spiritul Jokowi di 
tempatkan di Gang Arab. Mereka kebanyakan berasal dari Solo dan 
sekitarnya. Nah, kegemaran Jokowi tentang minta nasihat para dukun ini, 
klop dengan AM Hendropriyono.
Edo, panggilan akrab AM Hendropriyono dalam 
menjalankan operasi intelejen juga gemar minta petunjuk dukun. Tak hanya itu, 
Edo juga sering meminta jimat ke dukun. Salah satu jimat Edo 
adalah batu akik yang matanya berasal dari Bacan, Maluku. Ia meminta 
jimat itu karena SBY juga memakainya.
Walaupun pakai batu akik yg sama, tapi pamor Edo tetap kalah dengan pamor SBY 
karena akik Edo KW 1 alias aspal
Kegemaran Edo tersebut cocok dengan Jokowi, makanya mereka klop sejak Pilkada 
Solo. Mereka rukun sampai sekarang.
Ambil Nomor Urut Capres, Jokowi Jalani Ritual Klenik
Nah, seminggu sebelum pengambilan nomor urut 
capres di KPU, Jokowi bertemu dengan Ki Drajat, dukun kepercayaannya. 
Oleh Ki Drajat, Jokowi disuruh puasa mutih sehari, yaitu sehari sebelum 
mengambil nomor undian di KPU.
Sebagai titik berangkat, Jokowi juga diminta 
berangkat dari daerah yang dekat dengan Jalan Cendana. Mengapa? Di 
kalangan Kejawen, Suharto adalah tokoh Kejawen yg disegani. Energi 
spiritual Suharto besar. Makanya Jokowi perlu menyerapnya.
Makanya dipilihlah Taman Menteng sebagai titik 
berangkat Jokowi, yang dianggap paling dekat dg Jalan Cendana. Jokowi 
memilih dekat SuhartoDengan berangkat dari Taman Menteng, Jokowi 
berharap pamor Suharto bisa pindah pada dirinya.
Seminggu sebelum pengambilan nomor, Jokowi juga 
melakukan ritual. Yaitu memotong ayam hitam dan perkutut Majapahit. 
Perkutut Majapahit khusus di datangkan dari Pacitan, kampung SBY. 
Tujuannya u menyerap pamor SBY.
Patut diketahui, Jokowi merupakan trah Mataram, 
padahal presiden selama ini, selain Habibie, adalah trah Majapahit. 
Semua ritual tersebut bertujuan agar Jokowi mendapatkan nomor urut 1.
Sebelum mengambil nomor, Jokowi baca mantra dulu. Setelah baca mantra dia 
mengatupkan kedua tangan di bibir, baru 
mengambil. Ternyata dapat nomor 2. Makanya Jokowi jadi agak pucat karena tdk 
sesuai harapan, yaitu mendapatkan nomor 1.
Mengapa Jokowi menghindari nomor 2? Ini tidak hanya berdasarkan 
menurut pertimbangan mudah untuk kampanye, tapi lebih karena 
pertimbangan klenik.
Waktu Pemilu 2004, ketika mega berpasangan dengan Hasyim, juga 
mendapatkan nomor 2 dan kalah. Waktu itu SBY nomor 4. Nah, angka yang 
dekat dengan nomor 4 dalam pandangan klenik, yaitu nomor 1, karena 
batangnya sama-sama 1. Makanya Jokowi memburu nomor 1. Dan dia gagal 
mendapatkan. Begitu dapat nomor 2, dia langsung teringat kekalahan Mega 
di 2004.
Ternyata, Calon presiden Jokowi sangat percaya kepada klenik.
Jokowi kerap meminta pertimbangan kepada dukunnya untuk memutuskan perkara. 
Bahkan setelah Jokowi mendapatkan nomor urut 2 di Pilpres 2014, mantan Wali 
Kota Solo itu memecat dukunnya. "Setelah 
pengambilan nomer di KPU, dukun Jokowi dipecat. Malam-malam dia 
dipulangkan ke Sukaharjo via travel," kata Ragil Nugroho melalui akun 
Twitter, @ragilnugroho1 seorang mantan aktivis PRD.

Ragil, 
mantan aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) ini menyatakan bahwa 
seminggu sebelum pengambilan nomor urut capres di KPU, Jokowi bertemu 
dengan Ki Drajat, dukun kepercayaannya. 

"Oleh Ki Drajat, Jokowi disuruh puasa mutih sehari, yaitu sehari sebelum 
mengambil nomor undian di KPU," papar Ragil. 

Ragil mengatakan, seminggu sebelum pengambilan nomor, Jokowi juga 
melakukan ritual. Yaitu memotong ayam hitam dan perkutut Majapahit. 
"Perkutut Majapahit khusus di datangkan dari Pacitan, kampung SBY. 
Tujuannya untuk menyerap pamor SBY," ungkap Ragil. 

Ragil 
mengungkapkan, waktu pengambilan nomor urut di KPU, tim spiritual Jokowi
 juga menyebar bunga tiga warna di halaman KPU. "Semua ritual tersebut 
bertujuan agar Jokowi mendapatkan nomor urut 1. Sebelum mengambil nomor,
 Jokowi baca mantra dulu," jelas Ragil.

Lanjut Ragil, setelah 
baca mantra dia mengatupkan kedua tangan di bibir, baru mengambil. 
Ternyata dapat nomor 2. "Makanya Jokowi jadi agak pucat karena tidak 
sesuai harapan, yaitu mendapatkan nomor 1," paparnya. 

Mengapa 
Jokowi menghindari nomor 2? Ini tidak hanya berdasarkan pertimbangan 
mudah untuk kampanye, tapi lebih karena pertimbangan klenik. 

Ragil mengutarakan, malam harinya Ki Drajat dievaluasi karena Jokowi 
dapat nomor urut 2. Dengan enteng Ki Drajat mengatakan, kalau aura 
Jokowi kalah sama Prabowo. 

"Jokowi melupakan pesan Ki Drajat 
agar menyalami lebih dulu Prabowo, ternyata justru Prabowo yang lebih 
dulu menyalami Jokowi," pungkas Ragil. 
Bagi umat Islam percaya pada dukun adalah syirik. Naudzubillah.
Itulah #kabaranginpagi, bagi umat Islam tak usah terlalu dipercaya, karena 
fakta ini hanya 
sebatas ungkap fakta. Kita lebih percaya kepada Allah Subhanahu wa 
ta'ala.
Barang siapa yang mendatangi seorang dukun dan bertanya sesuatu maka dia tidak 
akan diterima sholatnya selam empat puluh hari."
Rasulullah SAW.   bersabda yang artinya : "Barang siapa yang mendatangi seorang 
dukun dan bertanya sesuatu maka dia tidak akan diterima sholatnya selam empat 
puluh hari."
Dan dari Abu Hurairah juga : 
"Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun dan dia percaya 
dengan apa yang dikatakannya meka dia telah kufur dengan apa yang 
diturunkan kepada Muhammad SAW."
Hadist itu meyakinkan muslim beriman, 
bahwa “dukun” adalah media setan yang sok tau ilmu ghaib, padahal hanya 
mereka reka dengan berita palsu yang didengarnya. Sedangkan rahasia alam ghaib 
, itu hanya Allah yang, tak ada seorangpun manusia yang tau 
sebagaimana firmannya: 
Allah Ta'ala berfirman dalam surat Al-An'am (6) : 59 yang artinya :"Dan pada 
sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang 
mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di 
daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan 
Dia mengetahuinya (pula), dan tidaklah jatuh sebutir biji pun dalam 
kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan 
tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh )." [petikan/dedi]
- See more at: 
http://www.voa-islam.com/read/citizens-jurnalism/2014/06/04/30755/saat-urus-jakarta-ternyata-jokowi-putuskan-melalui-klenik-dukun-ki-drajat/#sthash.RLaEPYJz.dpuf

Kirim email ke