Apresiasi NU terhadap Kebudayaan Minang


Politik penjajah yang divide et impera (memecah belah) itu tidak ingin
adanya kesatuan yang akan mengarah pada kekuatan untuk menumbangkan
koloninya. Karena itu bangsa ini dipecah per etnis seolah tidak ada titik
temunya. Dikatakan misalnya NU itu organisasinya orang Jawa, sehingga
seolah di luar Jawa tidak ada organiasasi ini, sehingga mereduksi kekuatan
NU.


Memang NU banyak mengapresiai kebudayaan Jawa, tetapi pada saat yang sama
juga mengapreasiasi kebudayaan yang lain misalanya Bugis, Banjar, Minang
dan sebagainya. Karena pada dasarnya NU lahir untuk mengukuhkan kebudayaan
Islam Nusantara. Maka sebenarnya NU itu adalah Islam Nusantara, karena
dasar keislaman di Nusantara adalah yang dikukuhkan dan perjuangkan NU.


Sebagai contoh ketika NU mengharamkan memakai celana dana dasi yang
merupakan produk Belanda, kemudian disusul dengan anjuran pemakaian pakaian
tradisi yang bahannya diproduksi di dalam negeri. Ini mengandung semangat
Swadesinya Gandhi. Dengan demikian produksi sarung, produksi tenun dan
border berkembang. Itulah politik kebudayaan NU yang ditetapkan dalam
Muktamar Surabaya. Lebih penting lagi mental bangsa tidak dibelandakan.


Sebagai kelanjutannya NU dalam Muktamarnya yang ke-13 di Menes Banten tahun
1938 menganjurkan para santri dan remaja puteri NU untuk memakai pakaian
tradisi Minangkabau sebagaimana yang diperagakan oleh seorang pejuang
wanita asal Minang yaitu Rangkayo Rasuna Said. Dengan anjuran Itu hampir
semua remaja puteri terutama para siswa dan santriwati ramai-ramai
memakainya. Apalagi saat itu Rasuna Said namanya sedang ngetop ketika
ditangkap dan dipenjara oleh Belanda di Semarang. Dengan memakai kerudung
itu para ulama NU tidak hanya bermaksud melestarikan tradisi Minang tetapi
juga mengobarkan semangat juang yang dipelopori wanita itu.


Pemakaian adat dari berbagai etnis, misalnya pemakaian sarung Samarinda,
peci Bugis, beskap Palembang atau Sunda merupakan wujud sebuah persatuan
adat yang melahirkan kesatuan Budaya yang akan melahirkan kesatuan
cita-cita politik. Strategi budaya itu tidak cukup terendus oleh Belanda
sehingga bisa berjalan aman. Belanda baru terkejut ketika perjuangan
kemerdekaan kaum santri muncul sebagai kekuatan melawan mereka, mereka
dihimpun melalui organisasi keagamaan yang diikat secara kultural dalam
bentuk tradisi termasuk cara berpakaian.


Karena pakaian itu dianjurkan maka penggunaannya menjadi massif bahkan
secara resmi menjadi salah satu seragam di berbagai pesantren dan madrasah
di lingkungan NU di seluruh Nusantara yang dikenal dengan baju kurung atau
pakaian Minang yang terus berkembang hingga akhir tahun 1970-an bahkan awal
1980-an itu di kalangan remaja puterinya, sementara di kalangan gadis dan
orang tua menggunakan kebaya Jawa. Tetapi pertengahan 1980 tradisi ini
berangsur hilang ketika terjadi revolusi Iran di mana semangat revolusinya
antara lain revolusi berpakaian melanda seluruh dunia Islam, sehingga
kemudian jilbab mulai diperkenalkan, jubah mulai dipakai wanita Indonesia.
Saat itu kerudung atau pakaian Minang mulai tak kelihatan, demikian juga
kebaya Jawa sudah mulai hilang.


Islam lokal tergerus oleh revolusi Iran. Islam dipersatukan dalam budaya
Timur Tengah, sehingga presiasi terhadap tradisi lokal terkikis, dan ini
mebuat terkikis pula industri tenun dan border nasional. Sementara di sisi
lain masuk juga peradaban Barat dengan pakaian yang serba mini dan ketat,
sebagian umat Islam juga mulai menggunakan pakaian Barat, sehingga pakaian
tradisional Jawa, Minang, Bugis, Sunda dan sebagainya sirna dan hanya
dipakai pada upacara adat yang itu belum tentu dilakukan setahun sekali.
Politik kebudayaan seperti dalam Muktamar di Surabaya dan Muktamar Menes
itu perlu dirumuskan kembali sehingga identitas dan kepribadian NU sebagai
Islam Nusantara bisa diperkuat kembali. []



(Abdul Mun’im DZ)



-- 
http://harian-oftheday.blogspot.com/

"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

Kirim email ke