"Seorang penjahat tak bisa tiba-tiba berubah menjadi pahlawan," katanya
dalam Seminar Cerdas Memilih Presiden Indonesia di aula gedung Pascasarjana
Universitas Islam Kadiri, Selasa, 17 Juni 2014.



salam,

ananto

=====



Istri Munir: Pilih Capres yang Bebas dari Pelanggaran HAM

Selasa, 17 Juni 2014 | 17:31 WIB



*KEDIRI, KOMPAS.com* — Suciwati, istri almarhum pegiat hak asasi manusia
(HAM), Munir Said Thalib, berharap, siapa pun presiden yang terpilih nanti
haruslah pribadi yang bebas dari latar belakang pelanggar HAM.


Oleh sebab itu, ia mengimbau masyarakat agar bersikap arif sesuai nurani
dalam memberikan hak pilihnya pada Pilpres 9 Juli nanti. Dia mengatakan,
masyarakat diharapkan benar-benar mempertimbangkan rekam jejak tiap calon
presiden pada Pilpres 2014, terutama masalah HAM.


"Masyarakat harus cerdas memilih dan melihat rekam jejak," kata Suciwati
saat menjadi salah satu narasumber dalam seminar Cerdas Memilih Presiden
Indonesia yang digelar oleh Fakultas Hukum Universitas Islam Kediri, Jawa
Timur, Selasa (17/6/2014).


Suciwati menegaskan, penolakannya terhadap capres Prabowo Subianto ialah
karena mantan Danjen Kopassus itu dianggap harus menyelesaikan hingga
tuntas masalah pelanggaran HAM dalam ranah pengadilan. Ia juga menegaskan,
tuntutannya itu tak lantas mengisyaratkan bahwa ia mendukung capres pesaing
Prabowo, yaitu Joko Widodo.


"Saya punya posisi yang jelas, independen. Saya enggak mau ditarik bahwa
ketika saya menolak Prabowo, belum tentu saya *aminin* Jokowi," imbuhnya.


Jokowi, menurut Suciwati, saat ini relatif bersih dari catatan masalah HAM
karena faktanya memang belum tersangkut. Hanya, kata dia, di sekitar
Jokowi, dia mengungkapkan, juga ada orang-orang yang dianggapnya tidak
bersih.


"Seperti Hendropriyono, Muchdi Purwoprandjono, serta Wiranto yang kasusnya
belum selesai dan seharusnya dibawa ke pengadilan agar selesai," ujarnya.


Dia juga menyayangkan, para korban pelanggaran HAM hanya menjadi komoditas
saat gelaran pemilu saja dan selama beberapa kali pemerintahan berganti,
belum ada satu pun pemimpin yang beriktikad menyelesaikan kasus ini.


Sementara itu, seminar tersebut diikuti oleh para mahasiswa fakultas hukum
dari beberapa kampus yang ada di Kediri. Selain Suciwati, narasumber
lainnya adalah Darin Arif yang berlatar belakang akademisi dan Zainal
Arifin dari Komisi Pemilihan Umum Kota Kediri.



Penulis

: Kontributor Kediri, M Agus Fauzul Hakim

Editor

: Farid Assifa



Sumber:

http://indonesiasatu.kompas.com/read/2014/06/17/1731379/Istri.Munir.Pilih.Capres.yang.Bebas.dari.Pelanggaran.HAM





Suciwati: Penjahat Tak Bisa Jadi Pahlawan

Selasa, 17 Juni 2014 | 17:54 WIB



*TEMPO.CO <http://TEMPO.CO>, Kediri *- Suciwati, aktivis hak asasi manusia
(HAM) yang juga istri mantan Ketua Kontras Munir, meminta masyarakat tak
memilih calon presiden yang terlibat kejahatan kemanusiaan seperti Prabowo
Subianto. Menurut dia, jika calon presiden seperti ini terpilih, mereka
berpotensi menerapkan cara-cara kekerasan dalam melanggengkan kekuasaan
saat memerintah.


"Seorang penjahat tak bisa tiba-tiba berubah menjadi pahlawan," katanya
dalam Seminar Cerdas Memilih Presiden Indonesia di aula gedung Pascasarjana
Universitas Islam Kadiri, Selasa, 17 Juni 2014.


Di depan puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kediri,
Suciwati mengatakan apa yang dilakukan Prabowo pada masa lalu tak bisa
diabaikan begitu saja. Apalagi hingga saat ini calon presiden yang diusung
poros Partai Gerakan Indonesia Raya itu tak pernah diajukan ke pengadilan
HAM atas perbuatannya. Jadi, seluruh alibinya soal pengalihan tanggung
jawab hanyalah klaim yang tak bisa dibuktikan. (Baca: Tim Sukses Prabowo
Dekati Suciwati).
<http://en.tempo.co/read/news/2014/05/25/078580291/Tim-Sukses-Prabowo-Dekati-Suciwati>


<http://en.tempo.co/read/news/2014/05/25/078580291/Tim-Sukses-Prabowo-Dekati-Suciwati>Suciwati
mencontohkan, tragedi kematian Munir yang diracun oleh Pollycarpus
menunjukkan adanya kekuatan sistemik yang menghalalkan cara-cara kekerasan.
"Pollycarpus tak kenal Munir. Dia digerakkan kekuatan besar yang bisa
mengendalikan pranata hukum," ujarnya.


Karena itu, dia mendorong lembaga penegakan HAM seperti Komnas HAM diberi
kewenangan besar seperti KPK. Selama ini Komnas HAM hanya berwenang
melakukan investigasi dan mengeluarkan rekomendasi. Sedangkan penyidikan
hingga pengajuan ke persidangan HAM masih dipercayakan pada jaksa. Hal ini
pula yang kerap membuat upaya penegakan hukum, khususnya kejahatan HAM, tak
pernah sesuai dengan harapan. (Baca: Didekati Tim Sukses Prabowo Istri
Munir Menolak).
<http://www.tempo.co/read/news/2014/05/26/269580381/Didekati-Tim-Sukses-Prabowo-Istri-Munir-Menolak>


<http://www.tempo.co/read/news/2014/05/26/269580381/Didekati-Tim-Sukses-Prabowo-Istri-Munir-Menolak>Prabowo
Subianto memang disebut terlibat dalam sejumlah kasus HAM masa lalu. Di
antaranya adalah penculikan aktivis yang membuatnya dicopot dari jabatan
Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat. Pencopotan itu
merupakan rekomendasi Dewan Kehormatan Perwira TNI yang menyatakan Prabowo
bersalah dalam kasus itu dan sejumlah kasus lainnya. Namun hingga saat ini
Prabowo belum diajukan ke pengadilan HAM. (Baca: Suciwati Jadi Rujukan
Mahasiswa Uniska di Pilpres).
<http://www.tempo.co/read/news/2014/06/16/269585490/Suciwati-Jadi-Rujukan-Mahasiswa-Uniska-di-Pilpres>


<http://www.tempo.co/read/news/2014/06/16/269585490/Suciwati-Jadi-Rujukan-Mahasiswa-Uniska-di-Pilpres>*HARI
TRI WASONO*



Sumber:

http://www.tempo.co/read/news/2014/06/17/078585855/Suciwati-Penjahat-Tak-Bisa-Jadi-Pahlawan



-- 
http://harian-oftheday.blogspot.com/

"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

Kirim email ke