Tahajud Dapat Mengganti Fungsi Tidur

               MANFAAT melaksanakan shalat tahajud ternyata tak hanya menambah 
pundi-pundi pahala. Di balik itu, tersimpan kedahsyatan lain bila kita mau 
menjalankan shalat tengah malam ini dengan khusyuk dan ikhlas. Shalat tahajud 
bisa menjadi terapi kejiwaan dan mampu membebaskan seseorang dari berbagai 
penyakit. 
 
 Bila dijalankan dengan penuh kesungguhan, khusyuk, ikhlas dan berkelanjutan, 
shalat tahajud akan menumbuhkan persepsi dan motivasi positif. Rasa tenang dan 
ketentraman yang luar biasa akan datang. 
 
 “Si pengamal shalat tahajud akan menghadapi hidup secara realistis dan 
optimistis serta tetap bersikap konstruktif. Sebaliknya, ketidakikhlasan hanya 
akan menimbulkan kekecewaan, kecemasan, presepsi negatif, dan rasa tertekan,” 
ujar Prof Dr H Mohammad Sholeh MPd PNI, trainer pelatihan shalat tahajud, dalam 
seminar dan pelatihan bertajuk “Hidup Sehat dengan Shalat Tahajud” di Hotel 
Grasia, Sabtu (13/4) siang.
 
 Doktor pada bidang psikoneuoroimonologi dari Fakultas Kedokteran Universitas 
Airlangga itu menjelaskan, negatif atau positifnya persepsi dapat diukur dari 
besaran kortisol darah yang bekerja. 
 
 Jika kortisol darah tetap rendah dan stabil, maka dipastikan bahwa kekhusyukan 
shalat tahajud dapat tercapai. Begitu pula sebaliknya. “Sehingga dapat 
disimpulkan, tolok ukur dari niat ikhlas itu adalah bilangan kortisol,” katanya.
 Suasana yang tenang dan sunyi pada malam hari kala mengerjakan shalat tahajud, 
dapat menunjang konsentrasi. Sehingga kekhusyukan lebih mudah didapat. 
 
 “Dalam kondisi seperti ini, bacaan shalat dan doa yang dipanjatkan dapat lebih 
mudah diresapi maknanya,” tuturnya dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh 
Majelis Taklim Insan Mulya Jl Prof Dr Hamka itu.
 Munfarid Menurut pria kelahiran Kediri 9 Desember 1960 itu, melakukan tahajud 
tak akan membuat manusia kehilangan waktu beristirahat. Justru tahajud yang 
dilakukan dengan khusyuk dapat menggantikan fungsi tidur, yaitu untuk 
mengistirahatkan sistem syaraf tubuh seperti otak. “Meski tidur 16 jam, tapi 
jika pikiran di otak ke mana-mana, sama saja dengan tidak istirahat,” tuturnya.
 
 Shalat tahajud dapat dilakukan secara berjamaah, meski lebih utama bila 
dilakukan secara munfarid atau sendiri. Karena dengan melakukan secara 
munfarid, kekhusyukan beribadah akan bisa dicapai lebih maksimal.“Tapi jika 
sebulan sekali dilakukan secara berjamaah tidak apa-apa. Cara berjamaahnya 
seperti apa yang dilakukan Nabi Muhammad, seperti shalat wajib berjamaah pada 
umumnya,” papar Guru Besar Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya itu di 
hadapan ratusan peserta
        

Kirim email ke