"Bune Haba Mbojo"
-------------------------
 
Kemarin saya beli HP baru cap Smart, tipe Haier D1200P. Harga banderolnya 333 
ribu rupiah, tapi saya dapat diskon. Harga itu sudah termasuk pulsa 10 ribu, 
enam bulan internetan ditambah bonus 2000 SMS tiap bulan. Lumayan sebagai 
alternatif IM2 yang saya pakai selama ini. Lumayan juga kecepatannya. Cukup 
stabil (stabil pelan, maksud saya). Kira-kira stabil seperti orang nggenjot 
sepeda di pematang sawah, gitulah…..
 
Baru hari ini piranti yang sengaja saya beli untuk menunjang kegiatan online 
itu dapat bekerja lancar, meski kemarin sempat rada uring-uringan karena 
beberapa kali dicoba kok enggak konek-konek. Pas tadi sore berhasil konek, 
tiba-tiba muncul YM (Yahoo Messenger) dari seseorang yang kalau melihat 
namanya, saya belum familiar. Sebut saja namanya Sri (bukan nama sebenarnya, 
selanjutnya nama aslinya saya ganti dengan Sri). 
 
Bunyi pesan YM-nya begini : "aba iskandar lagi ngapain? bune haba mbojo".
 
Agak lama saya pelototin pesan itu. Kalimat sapaannya kok susah saya pahami. 
Jelas bukan bahasa Jawa. Dialek preman Jogja, rasanya juga bukan. Plesetan gaya 
Jogja, apalagi…. Sambil mikir-mikir, ini Sri siapa ya?  Berharap kalau tahu 
orangnya, maka saya akan bisa menebak apa maksudnya. Tapi kok ya tidak nyambung 
juga. 
 
Kemudian saya membalasnya sambil iseng saja: "lagi mbalas YM. maaf ini Sri 
mana?"
 
Selama ini saya sering menambah teman YM begitu saja. Maksudnya, setiap kali 
ada permintaan pertemanan, tanpa pikir panjang langsung saya iyakan dan klik 
"Finish". Saya berasumsi baik saja, bahwa kalau ada yang minta ditambahkan 
namanya ke daftar kontak YM, berarti orang tersebut tahu saya. Entah kenal 
langsung atau lewat tulisan. 
 
Sri lalu membalas pertanyaan saya: "nae...........adek sendiri lupa.skrg sri 
lagi di padang....msh dibima. kapan nikah???".
 
Waduh, tambah bingung aku….. Lha, anak saya sudah dua gede-gede je….. Saat itu 
juga saya langsung menduga bahwa Sri ini pasti salah menyasar orang. Yang 
membuat saya tertarik bukan Sri-nya, melainkan Sri ini orang mana sih, 
kok bahasa yang digunakannya kedengaran asing di telinga saya. Tapi toh saya 
penasaran juga, jangan-jangan saya yang lupa sama Sri ini. Untuk memancingnya 
saya asal balas saja: "sebentar... saya ingat-ingat..... ini Sri Bandung?". 
 
Jawaban Sri malah membuat saya tersenyum sendiri, karena semakin meyakinkan 
dugaan saya bahwa jelas Sri ini sedang berkomunikasi dengan orang yang salah. 
Masih dengan logat bahasanya, Sri menjawab : "ini sri anak om jahar itu, blkg 
rumahnya eti anaknya ibu madu............ ih bonae..............". 
 
Agar dialog tidak semakin kebablasan, sementara saya bukanlah orang yang 
dimaksud oleh Sri, maka baiknya segera saya akhiri saja. Dan saya jawab: "Oooo, 
kalau gitu saya yakin Sri pasti salah orang. Coba Sri pastikan lagi, 
kelihatannya bukan saya (Yusuf Iskandar) yang Sri maksudkan.......". 
 
Tanpa sedikitpun menunjukkan rasa bersalah setelah menyadari kekeliruannya, Sri 
lalu mengakhiri pembicaraan dengan enteng saja: "ya udah dech kalo 
gitu............................" (titik-titik di belakangnya poanjang banget). 
 Saya pun membalas: "OK". 
 
Tapi beberapa menit kemudian gantian Sri yang rupanya penasaran, lalu begini 
katanya: "yusuf mana sih kamu? org mana?". Dan tidak lama kemudian muncul 
tulisan : Sri has signed out.
 
*** 
 
Ngabuburit menjelang maghrib di Yogya pun usai. Tinggal menyisakan rasa 
penasaran saya, yaitu tentang bahasa apa atau dialek mana sih yang digunakan 
oleh Sri? Sepertinya saya kurang familiar dan nyaris belum pernah saya dengar. 
Terpaksa saya cari tahu juga lewat internet.
 
Legalah saya akhirnya, setelah tahu bahwa rupanya mbak Sri ini orang Bima 
(Sumbawa, Nusa Tenggara Barat), dan bahasa yang digunakannya adalah bahasa 
Bima. Kalimat sapaan "bune haba mbojo", dalam bahasa Bima berarti : "Apa kabar 
Bima" (mudah-mudahan tebakan saya benar, wong namanya juga mencoba 
mengotak-atik bahasa orang lain). Mbojo adalah nama lain untuk Bima. Tiwas 
(telanjur) saya berprasangka buruk, karena mbojo dalam dialek Jawa bisa 
berkonotasi negatif.
 
Terima kasih, Sri. Kini saya jadi kenal dan suka mbojo, eh nggahi mbojo (bahasa 
Bima, maksudnya), sebagai salah satu kekayaan negeri tercinta. Kapan-kapan ke 
sana, ah….
 
Yogyakarta, 11 Pebruari 2009
Yusuf Iskandar


      

Kirim email ke