On Sun, 13 Nov 2005, Syafril Hermansyah wrote:

> Di India (kata dia), ptn/pts menyewa konsultan atau surveyor utk memberi
> masukan. Saat dosen mrk tugas belajar keluar negeri salah satu tugasnya
> adalah mencari tahu pasar masa depan dan melaporkannya ke rektor.

Hampir mirip dg tempat saya, ketika dosen kuliah ke LN, mereka diharap
bisa menarik pengetahuan apa yg ada di LN itu ke kampus (report langsung
ke rektor dan purek, ndak lewat jalur hierarki yg mumet). Bila perlu orang
tersebut (dosen, prof atau orang industri) diundang ke kampus utk nularin
pengetahuannya. Termasuk bukan orang akademis.

Tapi salah satu kendala kami di LN yg melakukan hal ini adalah, bila
kampus di LN atau orang tersebut membutuhkan referensi dan mereka bertanya
ke pemerintah Indoensia atau badan pemerintah, Mereka sering
mereferensikan PTN top saja. 

Jadi sering sulit sekai usaha meyakinkan mereka utk datang dan sharing
pengetahuan, kecuali sudah tercapai hubungan pribadi. 

> > Tapi mungkin sesuai pertimbangan, jangankan 5 tahun pak, tahun depan
> > bisa makan aja belum tentu. Jadi yg jelas aja dulu. 
> 
> Memang sih walau bagaimana maslow pyramid tetap berlaku.
> Cuma masalahnya kata "cukup" bisa berbeda antara satu orang dg orang yg
> lain.
> Perlu entrepreneurship utk melakukan terobosan :-)

Cukup buat beli Maybach :-)

IMW


--
Right or wrong my list. Unsubscribe option is currently unavailable.
Indeed, it's available upon request .. but: cepek dulu donk!

Kirim email ke