Sampurasun kang Adnan Kumincir.

Nu dihandap dibewarakeun dina kompas, saleresna salah
saurang kidulur Sunda nu wastana kang Nandang ti Balai
Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Jawa Barat dua
taun katukang waktu ngayakeun padungdengan (Seminar)
di Cigugur dina raraga seren taun pernah medarkeun
kamotekarananana, malahan kungsi di"demo"keun oge dina
acara eta, nyaeta tina wanda aksara latin kana wanda
aksara sunda cacarakan, malahan kang Nandang teh keur
nalungtik pikeun ngagunakeun wanda aksara lainna.
Hasil panaluktikan kang Nandang jeung Tim, geus
nyidekeun yen di wilayah Pasundan teh kungsi
digunakeun rupa-rupa wanda aksara(mun teu salah) tepi
ka 52 wanda aksara ti mimiti aksara sunda nu paling
sederhana (tangtu nu leuwih kolot/purwa anu sok kadang
disebut huruf paku) nepi ka aksara sunda nu geus
dirarangkenan unsur seni/kaligrafi nyaeta Cacarakan.
Kaabus oge  aksara-aksara ti luar saperti aksara
Palawa, aksara Arab Gundul jeung sajabana ti eta.
Rencana harita waktu padungdengan "software" jeung
hasil panalungtikanana rek disebarluaskeun, tapi
hanjakal kuring teu ngilo kamajuanana geus tepi
kamana, tapi nya leuwih jentrena mah bisa ditanyakeun
ka kang Nandang. Didieu netelakeun yen urang sunda ge
teu eleh dina kamotekaranana, ngan soal pangrojong ti
pamarentah jugana kurang, anu antukna panalungtikan
sok loba nu bantut.

Sakitu, panginten.

Cag heula kang.
  
--- kumincir <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Kanggo pieunteungeun ieu mah, di batur mah bisa jadi
> tesis geuning...
> 
>
---------------------------------------------------------------------------------
> Selasa, 11 Januari 2005
> 
> Widiartha, Pencipta Alat Penerjemah Aksara "Jejawan"
> 
> BELAJAR menulis dan membaca aksara Jejawan kini
> lebih mudah dan
> praktis. Aksara Sasak, Lombok-turunan aksara
> Jawa-itu diaplikasikan
> dalam komputer. Dengan menekan tuts keyboard
> komputer berhuruf Latin,
> aksara Sasak itu ditransliterasikan ke aksara Latin,
> atau sebaliknya
> tulisan Sasak diterjemahkan ke aksara Latin.
> 
> PENCIPTA alat transliterasi perangkat lunak itu
> adalah Ida Bagus Ketut
> Widiartha, warga Kompleks Perumahan Griya Pagutan
> Indah, Mataram, Nusa
> Tenggara Barat (NTB). Katanya, aksara Jejawan
> berjumlah 18 huruf itu
> menjadi pelajaran muatan lokal di sekolah dasar (SD)
> dan sekolah
> menengah pertama (SMP) di Lombok. Namun, membaca dan
> menulis aksara
> itu menjadi keluhan. Untuk menjawab keluhan
> tersebut, ia menciptakan
> alat tersebut.
> 
> Kebetulan pula Widiartha punya referensi ilmiah.
> 
> "Huruf Jejawan punya persamaan dengan Wreastra,
> salah satu kelompok
> aksara Bali," ujar dosen Jurusan Teknik Elektro
> Fakultas Teknik
> Universitas Mataram ini. Lewat tesis Pembuatan
> Perangkat Lunak
> Transliterator Aksara Latin ke Aksara Bali, dan
> Aksara Bali ke Aksara
> Latin, Widiartha menyelesaikan program S2 di
> Universitas Gadjah Mada,
> Yogyakarta, tahun 2001.
> 
> Memang antara aksara Sasak dan Bali ada sedikit
> perbedaan. Contoh,
> tanda baca titik (cecek) dilambangkan dengan tanda
> dua koma (") dalam
> aksara Sasak, sedangkan dalam aksara Bali
> dilambangkan dengan tanda
> garis miring ke kiri (\\).
> 
> Persoalannya adalah untuk memulai pekerjaannya,
> Widiartha kesulitan
> mendapatkan referensi aksara Sasak. Sebab, selain
> langka, aksara
> Jejawan itu juga hanya ditulis tangan dan
> penulisannya tidak sempurna.
> Padahal, tanda baca yang khas pada aksara Jejawan,
> seperti cecek dan
> gantungan (tanda huruf mati), sangat memengaruhi
> pembacaan dan arti
> kata.
> 
> Widiartha melakukan proses pemrograman pada
> perangkat lunak dari
> mendesain bentuk karakter huruf dengan program bantu
> yang sudah
> tersedia dalam komputer, seperti Borland Delphi 5.
> Itulah perangkat
> lunak pemrograman visual yang dijalankan di bawah
> sistem operasi
> Windows dengan bahasa pemrograman berbasis Pascal.
> 
> Transliterator ini memiliki dua editor. Sebuah untuk
> aksara Latin yang
> digunakan untuk mengetik aksara lain yang akan
> ditransliterasikan
> menjadi aksara Sasak. Lainnya, editor aksara Sasak
> untuk mengetik
> aksara kemudian diterjemahkan ke aksara Latin. Itu
> dilakukan dengan
> memencet satu-dua tuts (ctrl +…) guna membantu dan
> menulis tanda baca
> yang tidak ditemukan pada papan tik komputer. Editor
> itu memiliki
> fasilitas standar untuk mengetik dan menyunting
> naskah, dilengkapi
> fasilitas real time (waktu nyata) layar untuk
> menulis huruf Latin dan
> aksara Jejawan sehingga transliterasi huruf per
> huruf kedua aksara
> langsung terpantau.
> 
> Proses pekerjaan digitasi itu dilakukan selama enam
> bulan,
> Januari-Juni 2004. Bersama 19 orang lainnya,
> Widiartha meraih
> penghargaan Teknologi Tepat Guna yang
> diselenggarakan Badan
> Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB,
> berikut hadiah uang Rp
> 2,8 juta yang diterimanya saat hari ulang tahun NTB,
> 17 Agustus 2004.
> 
> SEBENARNYA, lelaki yang lahir pada 17 Mei 1970 di
> Desa Penarukan,
> Kabupaten Buleleng, Bali, ini tidak berniat
> mengikutkan karyanya untuk
> mendapat penghargaan. Ia melakukannya sebagai hobi,
> seperti juga
> persinggungannya dengan listrik, yang diawali dengan
> kesenangan
> mengutak-atik barang elektronik sejak sekolah
> menengah pertama.
> 
> Keterampilan anak ke delapan dari sembilan
> bersaudara pasangan suami
> istri Ida Bagus Suweta-Ida Ayu Made Ratih ini acap
> kali dimanfaatkan
> tetangga yang hendak memasang instalasi listrik.
> Katanya, "Dibayar
> syukur, tidak dibayar pun tidak apa-apa. Malu, ndak
> enak minta ongkos
> pada tetangga."
> 
> Rekan-rekannya yang mengetahui sikapnya yang pendiam
> mendorong ayah
> dua putri itu untuk ikut mempresentasikan karyanya
> di hadapan panitia.
> 
> "Niat awal saya hanya satu, hasil karya saya bisa
> dimanfaatkan orang
> banyak, terutama siswa sekolah (SD, SMP, dan SMA)
> maupun yang berminat
> belajar dan menulis aksara Sasak. Saya bersyukur
> karya saya kemudian
> mendapat penghargaan. Saya tidak sangka," tutur
> suami Ida Ayu Suastini
> itu.
> 
> Temuannya relevan mengingat banyaknya naskah lontar
> yang disimpan
> masyarakat di Pulau Lombok yang masih memelihara
> tradisi memaos
> (membaca naskah lontar). Naskah-naskah berhuruf Jawa
> Kuno itu umumnya
> dibaca kalangan tua, terutama pada acara perkawinan,
> khitanan, dan
> lainnya. Bahkan, ahli sastra kuno Zoetmoelder
> menyebut Pulau Lombok
> sebagai "media konservasi" naskah lontar dalam
> perspektif Islam.
> 
> Naskah itu umumnya berupa cerita, pendidikan budi
> pekerti, falsafah
> hidup, agama, sistem pengobatan, yang penting
> diketahui oleh generasi
> muda. Sementara orang muda lebih suka menikmati
> hiburan dan suguhan
> informasi melalui media elektronik dan media
> informasi pandang-dengar
> lainnya.
> 
> Memang, alat bantu membaca dan menulis aksara Sasak
> masih ada yang
> perlu dilengkapi. Umpamanya huruf Q dalam aksara
> Sasak diberi tanda
> atau coretan di tengahnya sehingga fonemnya menjadi
> lebih lunak
> diucapkan. Misalnya, kata Amak (biasanya fonem k
> diucapkan seperti
> kata badak), maka dalam aksara Sasak, huruf k
> diganti huruf Q tadi.
> Kekurangan itu diketahui belakangan dari hasil
> membaca sejumlah
> referensi beraksara Sasak, setelah transliteratornya
> dipublikasikan.
> 
> Widiartha yang berjanji menyempurnakan karyanya
> berharap masyarakat,
> generasi muda khususnya, terbangkit semangatnya
> untuk belajar baca
> tulis aksara Jejawan. Juga sekolah yang mengajarkan
> aksara Jejawan
> sebagai muatan lokal menjadi terbantu.
> Lembaga-lembaga pendidikan kini
> memiliki minimal satu unit komputer, yang bisa diisi
> dengan program
> transliterator itu. Biaya mengisi relatif murah:
> sekeping compact disc
> program transliterator seharga Rp 10.000.
> 
> Kemungkinan lain juga terbuka lebar, seperti
> menyimpan tulisan,
> dokumen penting, dan literatur dalam naskah lontar,
> ke dalam komputer
> misalnya. Upaya penyalinan itu dimaksudkan demi
> mengurangi naskah
> 
=== message truncated ===



                
__________________________________ 
Do you Yahoo!? 
Meet the all-new My Yahoo! - Try it today! 
http://my.yahoo.com 
 



PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke