wargi sadaya , pendapat sim kuring mah, sunda ,khususna bandung memang ti kapungkur tos jadi tempat nu di istilah keun "melting pot" , tempat bercampur na berbagai budaya/seler .
Bandung, teh kota nu di bangun ku walanda , menak /priyayi na oge, di import ti sumedang jeung cianjur. kaleresan uyut teh ( aki na aki ) kapungkur janteun tuan tanah anu dagang di daerah pasar baru / jl dulatif , nya kapungkur oge, eusina kota bandung teh ( sakitar alun2 - stasiun kareta dsk ) , da perantau wungkul , boh ti cirebon, jawa, cina, arab,sumatera, jeung kota anu cakeut sapertos garut, tasik,cicalengka, cianjur jrrd , jeung puguh deui urang eropa (walanda, jerman jrrd). tah, matak oge urang bandung mah tina fisik na oge , asa campuran tina sakabeh bangsa/etnis nu ngaramekeun kota bandung. janten ceuk abdi mah, nu penting mah , naon tah esensi "kasundaan" nu rek dilestarikan, eta nu utama , ( karakter kasundaan ) ari masalah budaya, seni,bahasa , mah nya kudu sesuai perkembangan jaman,sabab lamun teu kitu moal aya kamajuan urang teh. mereun engkeu mah, aya budaya anyar, "sunda modern" , anu aktual sesuai perkembangan jaman, tapi teteup kuat ku esensi-karakter kasundaan) punten bilih kirang setuju mah, kitu pendapat sim kuring salam baktos wardi --- In [email protected], mh <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Baraya, > Ieu aya artikel perkara Ki Sunda, lumayan keur sasarap > isuk-isuk. Dititenan teh, asa geus sering US ngbahas > perkara kaayaan dirina kiwari. Boh perkara basa oge > budaya. Sababaraha waktu ka tukang, asana Kang Ayip > Rosidi ngabahas perkara nu ampir sarua. Ngan nu tacan > katinggali teh, kumaha komentar US nu nyepeng > kalungguhan di pamarentahan, ngeunaan panyawang, > harepan, jeung kahayang maranehna kana perkara ieu. > > Salam, > MH > > ========= > PR. BERITA UTAMA. Rabu, 13 April 2005 > Ki Sunda di Ambang Kepunahan > > "BAGAIKAN ayam mati di lumbung padi". Pepatah itu > sangat cocok disematkan kepada Ki Sunda, yang dengan > segala identitas kesundaannya saat ini justru seolah > tak punya tempat di buminya sendiri. Tidak percaya? > Lihat saja Kota Bandung. Kota yang dikenal sebagai > pusat pemerintahan dan sentra budaya Sunda, justru tak > punya identitas kesundaan yang bisa diperlihatkan ke > publik. > > "Boleh Anda lihat sendiri, saat kita memasuki Kota > Bandung, apakah disambut dengan tulisan berbahasa > Sunda atau yang ada hubungannya dengan budaya > kesundaan? Padahal kita masuk ke daerah Sunda. > Identitas (kesundaan) itu tidak ada. Justru yang > ditonjolkan outlet atau jajanan," tegas Dedi "Miing > Bagito" Gumilar saat memaparkan pandangannya tentang > keberadaan Ki Sunda dewasa ini dalam dialog yang > berlangsung di Redaksi Koran Sunda Galura, Jln. > Belakang Factory Bandung, Selasa (12/4). > > Dialog menghadirkan Ketua PWI Jabar, H. Us Tiarsa, > Pamingpin Redaksi Koran Sunda Galura, Eddy D. > Iskandar, Ketua STSI Bandung, Arthur S. Nalan, seniman > dan budayawan Nano S., Taufik Faturohman, Mas Nanu > Muda, S. Sen, Nana Munajat, S. Sen., Kusye D' Bodor, > dan undangan lainnya. > > Menurut Miing, generasi muda Sunda saat ini lebih > cenderung mengadopsi perilaku luar. Tidak hanya dalam > hal bahasa sebagai alat komunikasi, tetapi juga dalam > hal berkesenian maupun tatanan busana yang > memperlihatkan pusar dan celana dalam. Kondisi > tersebut, katanya, tidak hanya terjadi di masyarakat > perkotaan, tetapi juga sudah diadopsi masyarakat > pedesaan yang notabene sangat menjunjung tinggi nuansa > kedaerahan. "Coba saja datang ke Garut, Tasikmalaya, > atau Sumedang, pasti anak-anak mudanya lebih senang > menggunakan bahasa Indonesia atau berpakaian seperti > orang di perkotaan," ujarnya. > > Kondisi seperti itu, lanjut Miing, dikhawatirkan akan > mengarah pada kepunahan Ki Sunda sebagai warisan > leluhur. Apalagi, pada saat yang sama, untuk > melestarikan Ki Sunda, baik bahasa maupun seni budaya, > baru sebatas wacana dengan teori yang dihasilkan dalam > diskusi, seminar, maupun dialog. Sementara, begitu > kembali ke lapangan, apa yang terungkap tidak > dilaksanakan sebagaimana yang diharapkan. > > Diakui Miing, identitas Ki Sunda memang masih ada dan > diperlihatkan di sejumlah daerah. Namun, itu pun sudah > dalam kondisi terancam kepunahan. Identitas kesundaan > itu masih bisa dijumlah di sejumlah daerah di Tatar > Sunda, misalnya dalam upacara perkawinan. "Tidak saja > bahasa, tata cara dan kesenian yang ditampilkan > semuanya serba nyunda," ujarnya. > > Miing berpendapat, untuk menghidupkan kembali Ki Sunda > sehingga bisa terhindar dari kepunahan, tidak hanya > dibutuhkan dana, tetapi juga upaya serius ke depannya. > "Hal ini saya rasakan saat berupaya menghidupkan seni > budaya di Jakarta melalui Gedung Miss Tjitjih, selain > sulit mencari orang Sunda, juga sulit untuk mencari > dana penyelenggaraan," ujarnya. > > Kendala dana > > Hal senada dikatakan seniman, budayawan, dan praktisi > seni Sunda, Nano S., bahwa masalah keuangan selalu > dijadikan kendala. Tetapi, menurutnya, hal tersebut > bila terus menjadi kendala justru akan menghambat > kreativitas, yang pada akhirnya mematikan profesi > seniman itu sendiri. > > Untuk itu, menurut Nano, ke depan meski tanpa bantuan > dari pihak pemerintah atau pihak mana pun, perlu > dilakukan upaya-upaya yang nyata. "Upaya tersebut di > antaranya memberikan kesempatan maupun motivasi kepada > generasi muda terus berkreasi dengan ada maupun tidak > ada biaya. Bila hanya keresahan dan ketakutan yang > diungkapkan, justru dikhawatirkan akan mematikan > semangat berkreasi," tegasnya. > > Demikian juga dengan Athur S. Nalan, Ketua Sekolah > Tinggi Seni Indonesia, untuk mempertahankan keberadaan > Ki Sunda perlu komitmen bersama tidak saja dari pelaku > seni, tetapi juga pemerintah maupun warga Sunda. > "Sebagai wujud kepedulian sudah dibentuk perda. Untuk > itu, kita perlu ada komitmen dalam pelaksanaannya dan > hal ini harus didukung oleh warga Sunda. Tanpa itu, > tetap saja tidak akan terealisasi alias loba catur teu > ngabukur," ujarnya. > > Taufik Faturohman sependapat dengan Miing. "Bagaimana > tidak memprihatinkan, di sejumlah daerah seperti > Banten, Tangerang, dan Depok, guru bahasa Sunda sudah > tidak lagi dibutuhkan," ujarnya. > > Hal ini menunjukkan kurangnya keseriusan pihak > pemerintah terhadap keberadaan Ki Sunda. Bahkan > program dengan anggaran yang cukup besar justru > dijadikan projek yang dibagi-bagi di kalangan > pemerintahan sendiri. > > "Seperti pengadaan buku yang akan dijadikan parameter, > justru dibuat oleh lingkungan pemerintahan. Hasilnya > banyak yang salah seperti ungkapan katempuhan buntut > maung diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan > 'ketiban ekor macan' atau teu mais teu meuleum dengan > terjemahan 'tidak mepes tidak membakar," ujarnya yang > disambut gelak tawa hadirin. > > Parahnya, kata Taufik, dari 29 masalah di Kota > Bandung, seni budaya maupun bahasa Sunda tidak > dicantumkan (Retno HY/"PR")*** > > > ===== > Situs: http://free.angeltowns.com/studio579/ > [Pupuh17, Wawacan, Roesdi Misnem, Al-Quran, Koropak] > > > > __________________________________ > Yahoo! Mail Mobile > Take Yahoo! Mail with you! Check email on your mobile phone. > http://mobile.yahoo.com/learn/mail PENTING..! attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member. dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa pencabutan membership. terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu mengupdate antivirusnya. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
