Sabtu, 30 April 2005

Oleh DHIPA GALUH PURBA

KETIKA Miing "Bagito" berbicara tentang Sunda, tak seorang pun
tertawa. Sebaliknya, ramailah orang berdebat tentang nasib Ki Sunda.
Banyak orang yang khawatir Ki Sunda punah. Sejumlah orang lainnya
lebih tegas menghendaki agar kehidupan orang Sunda tetap
dipertahankan. Tentu saja, kekhawatiran itu merupakan ekspresi dari
kecintaan mereka terhadap nilai-nilai kesundaan yang saat ini terasa
kian pudar, seperti yang terbukti dari penggunaan bahasa Sunda di
lingkungan masyarakat luas yang kian hari kian memprihatinkan.

Ajip Rosidi pernah memprediksikan kemungkinan hilangnya bahasa Sunda
dari muka bumi ini. "Menurut perhitungan para ahli, saat ini di dunia
ada kurang lebih 6.000 bahasa. Pada akhir abad ini, akan tersisa
kurang lebih setengahnya. Jadi, akan ada 3.000 bahasa yang mati pada
akhir abad ke-21. Artinya, 30 bahasa dalam setahun. Artinya, dua
setengah bahasa dalam sebulan akan mati. Kira-kira setiap 10 hari, ada
satu bahasa yang hilang dari dunia. Bahasa Sunda ada dalam antrean
yang akan mati, sebab orang Sunda sudah tidak mau berbicara
menggunakan bahasa Sunda," tulis Ajip dalam majalah Cupumanik (No. 11,
Juni 2004, hal. 23).

Pernyataan Ajip, lebih tampak sebagai ungkapan kekhawatiran yang
justru bisa dihindari, jika segera ada usaha untuk mengantisipasinya.
Pernyataan itu bukanlah penegasan bahwa bahasa Sunda akan mati. Bahkan
di balik pedaran itu, tersimpan banyak harapan agar bahasa Sunda tetap
lestari keberadaannya.

Begitu pula halnya dengan pernyataan Dedi "Miing" Gumelar, ketika
berdiskusi di kantor redaksi koran Galura (12/05). Miing pun
mengungkapkan ekspresi keprihatinannya terhadap kalumangsungan budaya
Ki Sunda, setelah melihat dan merasakan berbagai indikasi yang
jelas-jelas bisa mengantarkan Ki Sunda pada jurang kepunahan.

Dari hasil diskusi antara Miing dan beberapa tokoh Ki Sunda lahirlah
sebuah rencana kegiatan kesundaan, yang ditindaklanjuti di kampus STSI
Bandung (23/05). Berarti pernyataan Miing bukanlah semacam "ketuk
palu" yang menegaskan Ki Sunda sudah punah. Miing hanya memprediksikan
bahwa kehidupan Ki Sunda berada di ambang kepunahan. Artinya, masih
ada harapan untuk mencegahnya, jika kita berhasil mengatasi berbagai
indikasi yang selama ini sudah disadari oleh banyak kalangan.

Adapun opini berjudul "Ki Sunda Mustahil akan Mati", yang ditulis oleh
Mira R.G. Wiranatakusumah ("PR"/25/05), pada dasarnya mengungkapkan
pula harapan bagi hirup-huripna Ki Sunda. Bahkan Mira juga memperkuat
prediksi Miing pada alinea ke-14 dalam artikelnya, "Meski
kenyataannya, memang sampai hari ini belum ada satu Ki Sunda pun yang
mau memperhatikan sisi fisik atau mengubah penampilan luar, agar Ki
Sunda tampil lebih menonjol sekaligus meredakan kegelisahan eksistensi
Ki Sunda."

**

SEBENARNYA saya juga sangat sependapat dengan Mira bahwa Ki Sunda
mustahil mati. Namun Ki Sunda mana yang dimaksudkan? Menurut hemat
saya, Ki Sunda terbagi dua, yakni Ki Sunda yang diterawang dari sisi
Sunda sebagai fakta genetis (keturunan, seke seler), dan Ki Sunda
sebagai sosok orang Sunda yang masih berpegang teguh dan menjunjung
tinggi nilai-nilai kesundaan.

Nah, untuk Ki Sunda pada tipe pertama, saya setuju jika Mira
mengatakan, "Mustahil musnah". Tetapi pada Ki Sunda tipe ke-2, saya
terpaksa harus objektif dan melihat "tragedi" yang terjadi di
lapangan; bahwa berbagai indikasi menuju kepunahan memang sudah dan
masih sedang terjadi.

Mira pun tidak usah repot-repot mencari contoh kasus. Buka saja "PR"
edisi yang memuat tulisan Mira, tepatnya di halaman 19. Di sana ada
sebuah berita yang berjudul, "Tergerus, Bahasa Sunda di Kalangan Anak
Muda". Pada alinea pertama pun, kita sudah bisa meraba sebuah berita
keprihatinan mengenai Ki Sunda, "Wali Kota Cimahi, Ir. H. M. Itoc
Tochija, M.M., merasa prihatin atas makin tergerusnya bahasa dan
budaya Sunda di kalangan generasi muda." Sungguh sangat tragis, jika
memaknai kata "tergerus". Dan tentunya kita harus bertanya, siapa yang
menggerus, serta mutu seperti apa yang digunakan untuk menggerus?

Bandingkan pula dengan kahariwang yang disampaikan Letjen Mashudi,
pada sebuah acara paguyuban pasundan, "Kita pun tentunya sangat
prihatin dengan kondisi sekarang ini, di mana budaya Sunda hampir
tidak dikenali oleh masyarakat Sunda itu sendiri." ("GM"/23/05/04/hal
9).

Dari dua pernyataan keprihatinan tersebut, tentunya kita harus
memahami dan mengakui bahwa kondisi Ki Sunda sejak dulu sampai saat
ini sedang gering nangtung ngalanglayung. Semakin banyak orang Sunda
yang tidak mau menggunakan bahasa Sunda, gaya hidup yang sudah jauh
dari nilai-nilai kesundaan, generasi muda yang tidak mengenali warisan
karuhun-nya sendiri, dan seabrek masalah lainnya akibat -- meminjam
istilah klise -- pengaruh transformasi sosial-budaya.

Baik Ir. H. M. Itoc Tochija, M.M. atau Letjen Mashudi, bukanlah orang
"baru" yang mengatakan Ki Sunda di ambang kematian. Jauh hari
sebelumnya, tahun 1867, R.H. Moehamad Moesa, telah mengungkapkan
kekhawatiran akan punahnya Ki Sunda dalam buku Donging-Donging
Pieunteungeun. Sehingga kata Hawe Setiawan, orang yang berjuang
membangkitkan semangat Ki Sunda adalah orang-orang yang nangtang pati.

Karena itu pula, pertanyaan Mira, "Benarkah keprihatinan tentang
populernya kaus ketat dibanding kebaya yang dikenakan mojang priangan
adalah salah satu indikator kepunahan Ki Sunda?" Saya yakin,
jawabannya benar! Itu adalah salah satu indikasi menuju punahnya Ki
Sunda. Dalam hal ini, saya tidak akan mempersoalkan masalah kebaya
atau bukan kebaya. Tetapi kesan sensual dari kaus ketat itulah yang
telah merusak nilai-nilai kesundaan pada wanoja Sunda.

Kita tahu, wanoja Sunda dikenal memiliki karakteristik risi memamerkan
aurat, lembut, sopan, punya etika yang juga bisa kita lihat pada figur
Sunan Ambu. Lantas bagaimana tangtungan kebanyakan wanoja Sunda
kiwari? Saya melihat jati diri Ki Sunda yang melekat, hanya sebatas
fakta genetik belaka. Pasanggiri Mojang-Jajaka tidak bisa dijadikan
barometer untuk mengukur jati diri kawula muda Sunda, karena ketika
Mojang-Jajaka turun dari panggung, maka aksesoris kesundaannya pun
ikut-ikutan turun. Teh Mira, ternyata "Nyi Sunda" sudah mati lebih
awal.

**

MENGENAI daya juang Majalah Nyi Mangle, atau pun tujuh media massa
bahasa Sunda lainnya; Koran Kujang, Koran Galura, Koran Giwangkara,
Koran Mandiri(?), Majalah Cupumanik, Majalah Sunda Midang, Majalah
Seni Budaya Swara Cangkurileung, saat ini tengah menghadapi tantangan
yang sangat berat untuk bersaing di tengah hiruk-pikuknya pers
nasional dan dunia, di tengah perang komunikasi yang semakin
meruncing. Semuanya sedang mencoba untuk bangkit kembali dari
keterpurukannya, setelah sekian lama terpasung di ruangan gawat
darurat. Setelah sekian lama hanya bisa bernostalgia, mengenang
masa-masa kejayaannya.

Ya, sangat jaya, Teh Mira. Karena Mira pun tentu tahu, bahwa dulu kita
pernah mempunyai 36 media berbahasa Sunda (Derap Pembangunan Pers di
Jawa Barat, BPPP, 1987). Bahkan dua di antaranya adalah koran
berbahasa Sunda yang terbit harian, Sinar Pasoendan (1933-1942) dan
Sipatahoenan (1924-1942 di Tasikmalaya dan 1969-1985 di Bandung).
Sedangkan majalah Sunda yang paling tua adalah Parahiangan (1919) yang
diterbitkan Balai Poestaka Jakarta, di bawah asuhan M.A. Salmoen dan
R. Satjadibrata.

Mari kita saksikan kenyataan yang terjadi di era milenium ini. Siapa
yang akan menyangkal, jika saya berpandangan pers Sunda mengalami
kemunduran yang sangat tajam. Tentunya hal ini pun senada dengan
kekhawatiran yang yang ada di benak Miing atau Teh Mira; merupakan
salah satu dari indikasi terhadap punahnya Ki Sunda. Sedangkan
kemunduran pers Sunda, tampaknya bukan melulu terletak pada masalah
SDM (sumber daya manusia), modal, atau pun pemerintah. Melainkan
akibat dari indikasi-indikasi lain yang saling berhubungan, contohnya
persoalan bahasa Sunda yang diungkapkan oleh Ajip Rosidi; Mau membaca
pers Sunda bagaimana, jika berbicara bahasa Sunda pun sudah merasa
malu?

Terlebih lagi pada kalangan generasi muda, tampaknya pers Sunda sudah
tidak memiliki daya tarik lagi. Saya akan flash back ke tahun 2001,
ketika berlangsungnya Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) I
yang digelar pada bulan Agustus 2001 di Bandung. Lalu disambung pula
bulan November-nya, Kongres Bahasa Sunda (KBS) VII di Garut.

Dari tumpukan masalah kasundaan yang diperbincangkan pada saat itu,
pers Sunda ikut menimbrung, walaupun hanya menjadi topik yang kurang
dilirik. Pada KIBS I, Duduh Durahman yang menyajikan makalah
"Pengolahan Media Massa - Kasus Mangle", hanya dihadiri 20 orang dari
500 peserta KIBS. Demikian pula ketika Abdullah Mustappa menyajikan
makalah "Pers Sunda Kumaha Boa" pada KBS VII, peminatnya tidak lebih
dari 19 orang, itu pun lebih dominan dari (maaf) golongan tua.

Begitulah keberlangsungan pers kita. Teh Mira, Ki Mangle juga ternyata
telah mati lebih awal. Tetapi, apa pun adanya, Ki Sunda dan Nyi Mangle
tidak suka mengambing-hitamkan siapa pun, termasuk menyalahkan
pemerintah. Ki Sunda memiliki karakter yang mandiri, lantip dalam
berbuat, surti dalam memahami perasaan orang, dan asak hampura dalam
menghadapi kesalahan orang. Ki Sunda tentu akan setuju, jika kawula
muda bersama-sama memikirkan jalan keluarnya dan melakukan action,
daripada saling menyalahkan satu sama lain.

Teh Mira, sahabat tercinta, saya sangat bahagia dan bangga dengan
hariring Cianjuran, gema Nur Hidayahan, perjuangan kawan-kawan
Fokalismas (Forum Komunikasi Lingkung Seni Mahasiswa Sunda), dan gaung
sandiwara Miss Tjitjih.

Namun seandainya Miss Tjitjih tiba-tiba harus berubah nama menjadi Bi
Tjitjih, tentunya kita akan menjadi orang suka melupakan sejarah.
Betapa tidak? Miss Tjitjih telah merintis perjuangannya sejak tahun
1920-an. Tepatnya tahun 1928, Miss Tjitjih mulai mengibarkan bendera
Ki Sunda dengan digantinya nama group sandiwara Valencia Opera menjadi
Miss Tjitjih, termasuk merombak bahasanya, dari Melayu menjadi Sunda.
Kenapa Teh Mira, tidak meminta sebutan Bang Ali Sadikin diubah menjadi
Kang Ali Sadikin?

Sekali lagi, alangkah baiknya jika Teh Mira tidak terlena pada
"kenikmatan" Cianjuran dan Nurhidayahan, yang hanya bisa dinikmati
oleh segelintir orang, dari sekian juta masyarakat Sunda (bukan
berarti Cianjuran dan Nurhidayahan tidak memiliki peranan penting).
Sedangkan indikasi akan musnahnya Ki Sunda semakin hari, kian tampak
dengan jelas. Lihatlah alam Pasundan kita yang rusak, Teh Mira. Parijs
van Java atau Swiss van Java, kiwari kari waasna. Bukankah Ki Sunda
sangat dekat dengan alam?

Berarti jika alamnya rusak, maka rusak pula Ki Sunda. Konsep hidupnya
pun tidak mungkin nyunda lagi. Karena itu, mari kita rambaterata
mengantisipasi punahnya Ki Sunda, dengan mengontrol emosi. Sebab, jika
orang Sunda mulai menyelesaikan masalah secara emosional, maka hal itu
pun merupakan salah satu indikasi yang akan mengantar punahnya Ki
Sunda.***

Penulis mahasiswa STSI dan jurnalistik IAIN Sunan Gunung Djati
Bandung. Aktivis Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda, Pasamoan Sophia
dan Fokalismas.


PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke