Rabu, 04 Mei 2005
 
Prof. Dr. H.M. DIDI TURMUDZI, M.Si.

KEADAAN ini justru akan memberikan warna keindahan "pelangi" wacana
dan pemikiran dalam Islam politik maupun Islam Sunda di Jawa Barat
khususnya maupun di tanah air pada umumnya. Oleh karena itu, penulis
tampaknya perlu memberikan counter argumen dan klarifikasi terhadap
beberapa bagian yang menjadi sorotan AS. Meskipun, untuk sorotan
tentang Islam politik, penulis sangat berterima kasih kepada Herman
Ibrahim -- disingkat HI -- ("PR", 29/5/05) yang telah memberikan
penguatan dan tanggapan balik yang dalam banyak hal sejalan dengan
pemikiran penulis termasuk untuk bagian yang berkaitan dengan
DI/TII-nya sehingga dalam bagian ini tidak banyak lagi yang akan
diulas.

Islam Sunda

Teori dominasi atau dalam kaitan budaya disebut mainstream yang
dikemukakan HI sangat tepat untuk menggambarkan suatu komunitas atau
negara dengan image tertentu tanpa mengabaikan yang minoritas.
Sehingga masuknya Indonesia ke dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI)
berlangsuing tanpa kontroversi, padahal jelas bahwa bangsa kita tidak
semua beragama Islam dan sampai saat ini warga yang non-Muslim ini
tidak pernah terdengar ada yang protes dengan keanggotaan kita dalam
OKI. Sebagaimana juga tidak semua warga Arab beragama Islam tapi bahwa
Arab sebagai negeri Muslim sudah tak terbantahkan.

Demikian juga kalau dikatakan bahwa jika etnis Sunda sangat identik
dengan Islam karena memang mayoritasnya beragama Islam sehingga akan
tetap menjadi suatu anomali jika ada orang Sunda yang tidak beragama
Islam. Bahkan, secara ekstrem ada seorang tokoh Sunda yang mengatakan
bahwa, "Islam teh Sunda jeung Sunda teh Islam" (lihat Jacob Sumardjo,
325:2003). Pernyataan ini tentu kontroversial, karena kalau Sunda itu
identik dengan Islam meskipun bisa diterima tapi bagi orang seperti AS
terbukti menolaknya bagaimana lagi kalau dikatakan Islam itu Sunda
maka reaksinya akan semakin keras dan luas -- khususnya dari kalangan
Islam fundamentalis -- karena berarti mereduksi Islam yang bersifat
samawi dengan kesundaan yang bersifat terbatas dan etnis (ardhi).

Oleh karena itu Ajip Rosidi menengahinya dengan mengatakan, "Islam
heula samemeh Sunda". Jadi, pertama-tama orang Sunda itu harus Islam
dahulu dan segala sesuatu yang Sunda dan tak bertentangan dengan Islam
dapat menjadikan seorang Sunda Islam menjadi Sunda. Dan di kalangan
masyarakat Sunda terlihat bahwa dua kekuatan ini memengaruhi perilaku
dan orientasi hidupnya, ada yang lebih kuat keislamannya dan sebagian
warga lain di daerah-daerah lebih kuat pengaruh sistem Sunda wiwitan
dari pengaruh Hindu-Buddhanya.

Dua kecenderungan ini dalam model Geertz dapat dibaca sebagai Islam
santri dan Islam abangan. Sebagai sebuah model, tentu saja ada
simplikasi dalam melihat realitas kecenderungan keagamaan yang lebih
kompleks di masyarakat, tapi justru karena itu kita lebih bisa
memahaminya dengan cara pemodelan tersebut.

Pola kecenderungan itu dalam model trikotomik Geertz disebut santri
yang berpusat di daerah perdagangan atau pasar. Golongan ini berusaha
mengamalkan ajaran Islam tanpa memasukkan unsur-unsur kepercayaan
lainnya. Sedangkan abangan, berpusat di daerah pedesaan. Pengalaman
keagamaan mereka merupakan campuran Islam dengan animisme. Dan priyayi
berpusat di kantor pemerintah. Pengalaman agama mereka banyak
dipengaruhi aspek-aspek Hindu.

Trikotomi Geertz memang sejak awal membingungkan karena
mencampuradukkan aspek keberagaman dengan stratifikasi sosial dan
dalam kenyataan tidak sesederhana itu karena masing-masing terjadi
konversi dan perbauran. Muncul dugaan, Geertz ingin menciptakan
konsepsi untuk memberikan substansi kepada teori kelas menengah.
Golongan priyayi menempati posisi teratas, kaum santri di bagian
tengah, dan golongan abangan berada di bagian bawah.

Tanpa harus membaca Headley, tulisan Geertz sejak awal banyak
dikritik. Salah satu yang pertama dari Harsya Bachtiar yang
menurutnya, ketiga varian Geertz tersebut tidak bersumber pada satu
sistem klasifikasi yang sama. Dalam kenyataannya, tidak selalu
demikian karena ketiga varian ini kadang-kadang bercampur. Meskipun
demikian, klasifikasi Geertz sangat membantu untuk melihat sifat dan
watak kaum Muslimin Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Karena
penggolongan religio-sosial tersebut didasarkan pada pengalaman agama,
maka yang digunakan biasanya konsep abangan dan santri, sementara
priyayi dipandang berada di tempat yang lain.

Klasifikasi santri-abangan dilakukan berdasarkan pengalaman agama dan
tampak secara horisontal. Sedangkan priyayi (secara sosial),
penggolongannya adalah vertikal. Dengan demikian, menggabungkan
ketiganya dalam satu klasifikasi adalah menyesatkan. Kritik yang sama
datang dari Heffner, seorang antropolog dari Universitas Boston
Amerika Serikat. Heffner lebih menyukai istilah Javanism daripada
abangan karena tidak semata-mata pada kepercayaan, tetapi juga
institusi sosial.

Ruth McVey, yang mengomentari konsep trikotomik Geertz berkata, "Dalam
kenyataan, pembagian tiga priyayi-santri-abangan didasarkan atas dua
pembagian yang termasuk susunan yang berlainan. Dalam hal kebudayaan
pemisahan utama terjadi antara ajaran Islam dan 'agama Jawa' yang
dianut para priyayi-abangan yang memasukkan pikiran pra-Islam ke
dalamnya serta mewakili kebudayaan desa dan keraton di Jawa pedalaman,
dalam mempertahankan diri terhadap kekuasaan Islam yang telah
melangkah maju dalam sejarah. Dilihat dari pendirian ini maka
masyarakat Jawa terbagi menjadi dua -- bukan tiga bagian kebudayaan.
Dan sesungguhnya ini merupakan pembagian dua atas golongan santri dan
abangan".

Sampai sekarang, kedua golongan ini masih ada dan pengaruhnya begitu
merasuk dalam kehidupan masyarakat Islam Jawa. Dalam sejarahnya,
keduanya merupakan unsur-unsur penting dalam proses perubahan sosial,
politik, dan agama di Indonesia. Dalam keadaan demikian, santri dan
abangan memiliki dampak yang berarti bagi kehidupan sosial, politik
dan beragama di Indonesia. Tidaklah berlebihan bila Emerson mengatakan
bahwa penggolongan santri-abangan merupakan favorit topik bagi para
pengamat politik Indonesia.

Dari pemikiran Geertz itu, Herbert Feith kemudian menderivasi menjadi
lima aliran pemikiran politik di Indonesia yang dipengaruhi oleh
Hindu, tradisionalisme Jawa, Islam serta Barat ke dalam ideologi
komunisme (PKI), nasionalisme radikal (PNI), sosialisme (PSI), Islam
(NU dan Masyumi) dan Tradisionalisme Jawa.

Pada saat ini, pengelompokan abangan-santri secara horisontal
(berdasarkan pengamalan keagamaan) dan priyayi-wong cilik (berdasarkan
karena adanya konvergensi sosial). Terjadi mobilitas sosial dari wong
cilik ke atas, dan sebaliknya dari priyayi ke bawah. Sementara itu,
golongan santri dan abangan sudah membuka diri sehingga terjadi proses
saling mengisi. Akibatnya, batas-batas kultural di antara mereka sulit
dikenali lagi. Bahkan di tengah kebangkitan dan antusiasme Islam
belakangan terjadi "santrinisasi" kelompok abangan & sekuler, malah
sebagian mereka mengeras menjadi "neo fundamentalisme".

Dengan demikian tentu saja model trikotomi Geertz dalam membaca pola
kecenderungan masyarakat Sunda tidak bisa dipakai seluruhnya, meskipun
di beberapa bagian dapat digunakan alakadarnya. Dulu, di tatar Sunda,
karena pengaruh Mataram, masyarakat dibagi ke dalam kaum menak (bupati
-priyayi) atau senata dalem (bangsawan keturunan bupati) dan golongan
atau somah (rakyat biasa). Sedangkan istilah santri di tatar Sunda
cukup populer yang berkonotasi taat beribadah dan berkelakuan baik
sehingga Bupati R.A.T. Wiranatakusumah pada saat itu dikenal sebagai
bupati yang nyantri. Sedangkan istilah abangan, di tatar Sunda memang
tidak populer untuk menggambarkan orang yang kurang taat melaksanakan
ajaran agama sering masuk dalam kategori ini misalnya apa yang dulu
disebut syahadat kalimusada, Islam Saepi dan Islam Madrais yang satu
sama lain mempunyai karakter tersendiri.

Berkaitan dengan Madrais, ini awalnya merupakan kesalahan strategi
dakwah sebagaimana dicontohkan para wali songo di mana mereka tidak
menghadapi budaya yang ada secara frontal tapi melingkar dan merasuk
ke dalam sehingga aspek substansi secara tidak disadari sudah berubah
dengan warna Islam, contoh cerita pewayangan dan beberapa adat
istiadat. Dan model ini tidak berhasil ketika proses Islamisasi di
daerah Cigugur karena telanjur dicap penyimpangan sehingga akhirnya
mereka lari ke PKI, Sunda wiwitan dan akhirnya ke Kristen, karena
masyarakat Islam yang ada sudah tidak menerimanya.

Terlepas dari itu, semua proses Islamisasi di Jawa sejak awal
dilakukan tanpa paksaan dan atas dasar sukarela, lembut dan penuh
toleransi dan justru ini yang menjadi salah satu keberhasilannya.
Sehingga jika ada beberapa kelompok yang belum tersentuh di satu etnis
yang sama harus dianggap suatu yang wajar saja, khususnya untuk
kelompok Kristen di Cideres dan sebaiknya justru menjadi "PR" juru
dakwah selanjutnya.

Modernisme Islam

Berkaitan dengan modernisme Islam seperti dipertanyakan AS, penulis
melihat bahwa modernisme Islam pada dasarnya adalah suatu gerakan
pemikiran untuk kembali kepada Alquran dan Sunnah yang pada tahap awal
dimotori oleh Ibnu Taymiyah, kemudian Muhammad Ibn Abdul Wahab dan
secara lebih kuat ditampilkan oleh Al-Afgani dalam penggalian keilmuan
dan filsafat untuk pembaharuan pendidikan yang berjuang penuh semangat
untuk membebaskan hati dan pikiran umat dari tahayul, masa bodoh dan
pasivisme. Dan dalam bidang politik dengan menggelorakan Pan
Islamisme-nya yang bertujuan untuk menentang penetrasi Eropa. Upaya
ini selanjutnya diteruskan oleh Muh. Abduh dan Rasyid Ridha sehingga
sering dikatakan bahwa, "Al-Afgani adalah pemberi ilham dari mazhab
salaf, Abduh adalah otaknya dan Rasyid Ridha adalah juru bicaranya".

Dengan demikian modernisme Islam berusaha memberikan tafsir terhadap
realitas kekinian dari perspektif keislaman atau seperti kata Bassam
Tibi yaitu upaya pengintegrasian ilmu dan teknologi modern ke dalam
Islam tetapi berusaha menghindari berbagai konsekuensi negatif dari
penerapannya. Kaum modernis berusaha melihat Islam sebagai "jalan
tengah", dari kecenderungan-kecenderungan ekstrem yang terdapat dalam
agama-agama dan paham. Karena Alquran sendiri menurut kaum ini,
menjadikan umat sebagai ummatan washatan (umat pertengahan) dan khayru
ummah (umat terbaik) yang ditonjolkan Allah terhadap umat-umat lain.
Berdasarkan itu, modernisme memandang dalam bidang muamallah, harus
bersifat terbuka (inklusif) dan memandang hikmah seperti dikatakan
suatu hadis sebagai, "harta kekayaan orang beriman yang hilang".

Oleh karena itu, dalam banyak hal, modernisme Islam sering dihadapkan
pada fundamentalisme sebagai gerakan sosial dan keagamaan yang
mengajak umat Islam kembali kepada prinsip-prinsip Islam yang
fundamental, kembali kepada kemurnian etika dengan cara
pengintegrasian doktrin agama dalam hubungan antarmanusia, Tuhan dan
kemasyarakatan. Oleh karena itu, dalam penafsiran kaum ini sering
bersifat rigid dan literalis karena memandang bahwa corak pengaturan
doktrin Islam bersifat total dan serbamencakup. Karena itu ijtihad
dibatasi hanya pada masalah-masalah ketika doktrin tidak memberikan
petunjuk dan pengaturan detail.

Hal ini tentu berbeda dengan kaum modernis yang melihat bahwa doktrin
hanya memberikan ketentuan-ketentuan umum yang bersifat universal dan
karena itu ijtihad harus digalakkan. Oleh karena itu, dalam bidang
politik kaum modernis tidak mementingkan simbol-simbol formal seperti
"negara Islam" atau "dasar negara Islam" melainkan semangat dan jiwa
hakikat hidup bernegara itu yang lebih penting. Sehingga secara umum
kaum modernis dapat beradaptasi dengan gagasan demokrasi liberal yang
berkembang di Barat seperti pluralisme, partisipasi politik, kebebasan
beragama, dan lain-lain.

Alhasil, dalam dinamika kehidupan mustahil melahirkan "kesatuan" dan
keseragaman pemikiran, aliran keagamaan dan ideologi politik, karena
takdir kehidupan sendiri setidaknya berpasangan. Oleh karena itu,
perbedaan harus dilihat secara positif dan rahmat untuk melahirkan
hikmah dan pencerahan, sebagaimana diharapkan dari polemik ini. Semoga
demikianlah adanya.***

Penulis Rektor Unpas dan Sekjen PB Paguyuban Pasundan.


PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke