Rabu, 04 Mei 2005
 
Oleh H. RACHMAT M.A.S.

TULISAN Mira R.G. Wiranatakusumah, Mustahil Ki Sunda Akan Punah di
"PR" tanggal 25 April 2005 dan juga tulisan Dhipa Galuh Purba, Ki
Sunda Justru Telah Punah Lebih Awal di koran yang sama tanggal 30
April 2005 menyenangkan hati saya. Dengan gaya dan sudut pandang yang
berbeda, keduanya menunjukkan kepeduliannya kepada Ki Sunda. Karena
ada perbedaan itulah mereka berbeda pula dalam berkesimpulan.

Mira berpendapat, Ki Sunda sedang berada di ambang kelahiran baru
sedang Dhipa mengatakan justru sudah punah. Perbedaan sudut pandang
itu pasti berasal dari perbedaan perasaan, pemahaman tentang Ki Sunda
serta peranan masing-masing di dalamnya. Bagaimanapun, kesamaan
kepeduliannya itulah yang menyenangkan dan selayaknya membesarkan
harapan urang Sunda.

Sebelum masuk ke dalam materi pokok, lebih dahulu saya ingin mengajak
para satria Sunda untuk tidak berhenti dan segan terus membicarakan
dan memperjuangkan Ki Sunda. Jangan seperti yang sudah-sudah, takut
disebut provinsialistis atau yang fanatik kesukuan yang mengancam
keutuhan NKRI. Membicarakan dan memperjuangkan Ki Sunda sebagai
pernyataan cinta kepadanya, bukanlah fanatisme. Menurut riwayat,
pernah ada tanya jawab antara Nabi saw. dengan beberapa sahabat.
Sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, kalau saya mincintai kaumku, apakah
itu termasuk fanatik?" Rasulullah menjawab, "Bukan! Kalau kamu
membantu kaummu berbuat kezaliman, itulah fanatik."

Etnis Sunda bukan muncul begitu saja, melainkan sengaja diciptakan
Allah SWT bersama-sama etnis yang lain dengan maksud saling mengenal.
Yang paling mulia dari antara bangsa-bangsa itu ialah yang paling
takwa (Q.S. 49:13). Orang Sunda mencintai Sunda dan segala yang
berkait kepadanya, merupakan tanda syukur kepada Penciptanya. Karena
itu, perjuangan Ki Sunda memuliakan Sunda bisa menjadi ibadah.

Kata orang bijak, "Sebuah peperangan dimulai di satu ruangan." Walau
tidak semua pembicaraan mewujud, tetap bangkitnya Sunda akan merupakan
suatu peristiwa besar dan pasti akan berawal dari wacana. Agar wacana
kita bisa menjadi kenyataan yang menguntungkan, bukan hanya
marebutkeun paisan kosong mari kita arahkan wacana kita ke sana. Untuk
itu diperlukan bukan hanya titik pemberangkatan yang sama tetapi sama
pentingnya, sudut pandang yang sama. Mari kita samakan sudut pandang
mulai dengan menyepakati siapa sebenarnya yang dimaksud Ki Sunda,
sedang dalam keadaan bagaimana sekarang ini dan apa yang
dikehendakinya.

Di samping banyak dari kita yang sudah biasa mendengar dan menggunakan
kata "Ki Sunda", hampir sama banyaknya yang masih bertanya-tanya
mengapa memakai gelar "Ki" dan siapa sebenarnya "Ki Sunda" itu. "Ki"
adalah sapaan hormat kepada lelaki dewasa, tetapi berusia lebih muda
dari penyapa (Kamus Umum Basa Sunda BSS). Walau saya tidak tahu siapa
yang pertama kali memberikannya dan kapan mulainya, saya yakin bahwa
yang memberikan sapaan tidak menganggap Sunda lebih muda daripadanya,
melainkan semata-mata dengan tujuan menghormat. Apakah yang dimaksud
seluruh urang Sunda? Bisa saja, tetapi menurut perasaan saya, hampir
sama dengan pendapat Dhipa, ada yang lebih khusus dari yang umum itu,
yaitu sekelompok urang Sunda yang mencintai Sunda dan memperjuangkan
kemuliaan Sunda. Mereka yang lebih pantas mendapat penghormatan itu.
Mereka adalah elitenya urang Sunda.

Dalam kaitan ini Mira banyak menggunakan istilah roh Sunda atau roh
kesundaan. Kalau yang disebut roh Sunda itu memang ada, saya yakin
sekali sebelum roh Sunda itu lahir ada roh lain yang mendahuluinya
yaitu roh dari Allah yang ditiupkan kepada setiap insan tatkala baru
berumur sekira 100 hari dan masih berada dalam rahim ibunya (Q.S.
23:14 dan hadis qudsi tentang penciptaan manusia). Roh itu mengajak
setiap manusia bertauhid kepada Allah walau dalam kenyataan banyak di
antaranya yang membangkang. Manusia yang dikelompok-kelompok dalam
berbagai bangsa diberi tempat menurut ketentuan Tuhan sendiri untuk
menjalani kehidupan masing-masing. Alam sekitar tempat, keyakinan, dan
filsafat hidup bangsa itu mewarnai roh asal tadi dan muncullah roh
bangsa (ruh Sunda) yang mewujud menjadi budaya. Roh ini bisa ada
kesamaannya dengan roh bangsa lain, tetapi perbedaannya pasti akan
akan lebih banyak lagi.

Mengingat sejak sebelum Islam masuk ke tatar Sunda, urang Sunda sudah
mempunyai keyakinan dan filsafat hidup (agama Sunda?) yang monoteistis
seperti intinya ajaran Islam. Maka kalau kita menyebut Ki Sunda
haruslah diartikan elite urang Sunda yang pantas dihormati karena
mencintai dan memperjuangkan kemuliaan Sunda sebagai tanda bersyukur
kepada Sang Pencipta. Itulah Ki Sunda. Roh yang menyemangati sepak
terjang dan berembus dari kedalaman Ki Sunda. Menurut pemahaman saya,
itulah roh Sunda. Semua produk Ki Sunda akan bermuatan roh itu.

Apakah Ki Sunda sudah punah (mati)? Benar, dalam sejarah kemanusiaan
banyak kaum yang telah dipunahkan atau dibinasakan Allah SWT.
Penyebabnya sama, kaum itu telah secara total membelakangi Tuhan.
Punah atau mati atau dibinasakan bagi kaum yang mengalaminya adalah
kiamat sagir. Kita harus percaya kepada apa yang disabdakan Nabi saw.,
"Belum akan terjadi kiamat sebelum timbul peperangan besar antara dua
pasukan besar, antara keduanya timbul perang besar sedang seruan
keduanya sama" (H.R. Bukhari). Dalam konteks kepunahan Sunda saya
memahaminya tidak akan punah kaum Sunda, sebelum ada perang besar
antara sesama Sunda dan seagama. Alhamdulillah sampai sekarang, dan
mudah-mudahan untuk seterusnya, tidak terjadi perang saudara di antara
urang Sunda.

Elite Sunda atau Ki Sunda dari generasi-generasi terdahulu bisa jadi
sudah tiada. Tetapi yang punah itu bukan elitenya melainkan
orang-orangnya. Bukan pula karena membelakangi Allah, melainkan karena
waktunya sudah datang. Di sini berlaku pepatah, "Patah tumbuh hilang
berganti. Sepanjang tidak terjadi perang saudara antara sesama Sunda
dan sekeyakinan, selama itu pula kaum Sunda akan eksis dan selama itu
pula Ki Sunda mustahil punah. Insya Allah.

Kaus ketat yang lebih populer dari kebaya Sunda dan berkurangnya
pemakai bahasa Sunda di kalangan orang Sunda sendiri belum bisa
diartikan bukti Sunda berada di ambang kepunahan. Benar kata Dhipa,
tidak perlu kita mempermasalahkan kaus atau kebayanya, tetapi
kesannya. Sebab, kalau model dan bentuknya yang akan dipermasalahkan
apa yang hendak kita katakan mengenai rok dan blus, yang bukan asli
pakaian Sunda tetapi sudah puluhan, bahkan bisa jadi ratusan tahun
telah menjadi pakaian sehari-hari mojang-mojang Sunda?

Juga tentang pantalon, setelan jas, dan dasinya yang sudah lama biasa
dipakai pria-pria Sunda. Tentang kesan sensualitas yang ditimbulkan
kaus ketat pun sebenarnya tidak ada perlunya dipermasalahkan. Sebab,
apa bedanya dengan kebaya yang sering dibuat ketat dan lahak
diserasikan dengan kain panjang yang sama ketatnya sehingga mampu
memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh? Berkurangnya pemakai bahasa Sunda
memang seharusnya diprihatinkan. Tetapi tidak perlu dibesar-besarkan
sebagai pengantar Ki Sunda ke ambang kepunahannya. Basa memang ciciren
bangsa, tetapi bukan satu-satunya.

Geliatnya sekelompok urang Sunda tidak bisa dimungkiri memang sekarang
sudah terasa. Terlepas dari apakah geliat itu merupakan proses
penyembuhan dari yang sedang gering nangtung atau geliat lulungu orang
bangun dari tidur panjang, atau geliat sedang berlangsungnya proses
"patah tumbuh, hilang berganti" tak pelak lagi menunjukkan adanya
kehidupan Ki Sunda yang patut disyukuri. Karena itu, kepada mereka
yang berkata Ki Sunda berada di ambang kepunahan atau bahkan sudah
punah, layak diucapkan, Na'udzubillahi min dzalik!!! Ssssst! Jaga
mulut Anda!

Dengan keyakinan akan benarnya ungkapan orang Barat you are what you
said, so watch your mouth mungkin sekali Mira akan menambahkan, "Kalau
Anda, sebagai orang Sunda mengatakan Ki Sunda sudah mati atau
sekurang-kurangnya sedang sekarat atau sudah putus asa atau sedang
tidur panjang, Anda termasuk di dalamnya. Persamaan yang sangat
menonjol antara mati, sekarat (di ambang kepunahan), putus asa dan
tidur panjang adalah ketidakberdayaan". Saya sendiri akan cenderung
mengatakan, "Ih, palias teuing. Sieun katuliskeun jurig!" Nabi
Muhammad saw., kepercayaan dan panutan kita sudah bersabda,
"Kata-katamu adalah doamu!"

Mudah-mudahan kita semua sepakat, memang ada geliat perjuangan
menjayakan kembali Ki Sunda di bidang poleksosbud. Perjuangan ini
pasti nangtang pati, dalam arti memerlukan keuletan, kesabaran, dan
pengorbanan karena memerlukan waktu yang lama dan bukan mudah.
Sekali-kali bukan perjuangan melawan angin.

Kalau ini disepakati, mari kita teruskan dengan menyamakan persepsi
tentang apa yang dikehendaki oleh Ki Sunda. Ki Sunda dengan
karakteristik seperti digambarkan di atas, tidak bisa tidak pasti
bercita-cita menjadi yang termulia di antara bangsa, paling sedikit di
antara bangsa-bangsa pemilik NKRI tercinta ini. Sekalipun belum sampai
ke tujuan akhir, perjuangannya sendiri akan memberikan saham yang
sangat besar -- kalau bukan yang menentukan -- dalam mencapai
cita-cita Pemda Jabar yang hendak menjadikan Jabar provinsi termaju
dalam tahun 2010.

Perjuangan ini tidak akan bisa selesai oleh satu generasi. Tetapi
segala perolehan suatu generasi akan bernilai sangat tinggi bagi
generasi-generasi berikutnya. Sasaran antara yang konkret satrategis
yang harus dan bisa dicapai oleh generasi sekarang adalah mencegah
perang saudara sekecil dan dalam bentuk apa pun lewat jalan menyamakan
persepsi, menyatukan segenap daya dan tenaga, mengoordinasikan langkah
dan masing-masing tetap aktif di bidangnya masing-masing. Dur
panjak!!!***

Penulis, urang Sunda tinggal di Bandung.


PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke