--- isya dana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Assalamu'alaikum Wr. Wb.
>
> Ka sadaya Baraya Urang sunda sim kuring sakedik
> medarkeun perkawis G. Anak Krakatau nu rada heboh
> dina
> wangkid ieu, mamanawian aya manfaatna kanggo urang
> sadayana mangga nyanggakeun.
>
SUMBERDAYA G. KRAKATAU DAN ASPEK LAINNYA
Oleh : Isya Nurrahmat Dana
Latar Belakang
Komplek Gunungapi Krakatau merupakan salah satu
sumberdaya gunungapi, selain sebagai obyek penelitian
vulkanologi, geologi, geofisika, seismologi,
meteorologi, biologi dan oceanologi, juga merupakan
obyek wisata yang sangat menarik perhatian para
wisatawan Mancanegara, untuk menikmati keindahan
alamnya, sebagai wisata bahari, wisata hutan, wisata
pantai, wisata geologi maupun wisata gunungapinya.
Gunungapi Krakatau ini terletak di Selat Sunda,
Lampung Selatan terdiri atas empat pulau, yaitu Pulau
Rakata (Krakatau), Pulau Sertung (Verlaten), Pulau
Panjang (Lang) dan Anak Krakatau. Pulau Rakata biasa
disebut pulau Krakatau Besar, sedangkan Pulau Panjang
disebut Pulau Krakatau Kecil. Tiga pulau yang
disebutkan pertama adalah merupakan sisa gunungapi
pada saat pembentukan kaldera, dan Pulau Rakata
merupakan gunungapi yang tumbuh bersamaan dengan
gunungapi Danan dan Perbuatan sebelum terjadi letusan
yang sangat dahsyat tahun 1883.
Peta Lokasi Komplek G. Krakatau,di Selat Sunda.
G. Anak Krakatau berada di tengah-tengah antara Pulau
Rakata (Krakatau), Pulau Sertung (Verlaten) dan Pulau
Panjang (Lang)
Untuk mencapai Komplek G. Krakatau dapat dilakukan
dari beberapa jalur laut. Jalur pertama berangkat dari
Pelabuhan Tanjung Priuk dengan menggunakan kapal
Jet-Foils atau Kapal Pesiar. Jalur kedua dapat
ditempuh dari Pelabuhan Labuan, kota kecamatan di
pantai barat Banten, dari pelabuhan ini dapat menyewa
kapal motor atau kapal nelayan yang berkapasitas
antara 5 sampai 20 orang. Jalur ketiga ditempuh dari
Pelabuhan Canti, Kalianda. Di pelabuhan ini juga dapat
menyewa kapal motor atau kapal nelayan yang akan
menempuh Krakatau melalui P. Sebuku dan P. Sibesi.
Pencapaian pelabuhan Canti dari Jakarta dapat
menggunakan jalan tol Jakarta-Merak, kemudian
menyebrang ke P. Sumatra dengan Ferry dari Merak ke
Bakauhuni, dari Bakauhuni dilanjutkan ke Kota Kalianda
dan dari Kalianda ke pelabuhan Canti lk. 25 km. Waktu
yang paling baik untuk berkunjung ke Krakatau adalah
pada musim panas, yaitu antara Mei sampai September
dari arah Jakarta, Banten maupun dari Kalianda.
Komplek vulkanik ini tidak berpenduduk, tetapi
dijadikan obyek pariwisata yang bertujuan untuk
penelitian ilmiah atau menikmati pemandangan alamnya.
Sejarah Letusan Dan Kemungkinan Yang Akan Terjadi
Letusan G. Krakatau yang tercatat pertama tahun 1680
– 1681, yaitu adanya letusan dan leleran lava.
Kemudian letusan G. Krakatau yang menjadi terkenal
adalah dimulai 20 Mei 1883, kegiatannya diawali dari
G. Perbuatan, menghasilkan letusan abu dan semburan
uap mencapai tinggi 11 km dan suara dentumannya
terdengar sejauh 200 km. Pada bulan Juni 1883 kegiatan
vulkanik juga terjadi di G. Danan. Erupsi paroksisma
terjadi pada 26 – 28 Agustus 1883, yang mencapai
puncaknya pada Minggu 27 Agustus, pukul 10.02 dan pada
pukul 10.52 dentumannya terdengar di Singapura dan
Australia. Erupsi ini menyemburkan batuapung dan
abunya mencapai tinggi 70-80 km, endapannya menempati
area 827.000 km2. Runtuhan tubuh gunungapi ini
menyebabkan tsunami dengan tinggi gelombang rata-rata
20 m menyapu pantai-pantai di Selat Sunda dan
baratlaut Pulau Jawa, serta menyebabkan 36.417 koban
jiwa. Tsunami itu bisa akibat runtuhnya sebagian tubuh
gunungapi atau akibat maha dahsyatnya letusan yang
mendorong sejumlah besar air laut ke segala arah.
Aktivitas G. Krakatau setelah letusan 1883 berakhir
pada bulan Pebruari 1884, dan setelah itu tidak tampak
dipermukaan sampai dengan kemunculannya pada 29
Desember 1927 (tidak terpantau), dikarenakan
aktivitasnya saat itu berada di bawah laut. Sedangkan
lokasi aktifnya kembali itu berada di tengah-tengah
Kaldera pada kedalaman laut 188 m (kelahiran Anak
Krakatau) setelah 44 tahun, dan muncul ke permukaan
pada awal tahun 1930 yang aktivitasnya setiap tahun
terjadi letusan dan aliran lava yang sifatnya
membangun tubuh G. Anak Krakatau, sedangkan istirahat
terlama hanya 5 tahun. Letusan seperti yang terjadi
dan tercatat sejak 1927 sampai 2001 dalam tahap
membangun G. Anak Krakatau mencapai ketinggian 286,63
m dpl, (pengukuran DVMBG 2004), yang berlangsung lebih
dari 70 tahun oleh letusan tipe stombolian, yaitu
letusan yang didominasi oleh magma tidak kental dengan
kandungan gas relatif kecil.
Jadi setelah Letusan Besar G. Krakatau pada bulan
Agustus tahun 1883 yang merupakan letusan Gigantik,
yaitu letusan yang menghancurkan seluruh tubuh
gunungapi dan menimbulkan tsunami, dan kegiatan
gunungapi bawah laut Krakatau itu terus berlangsung.
Volume material letusan Gunungapi Krakatau mencapai 18
km3, yang kini meninggalkan sisa berupa P. Rakata,
lebih dari 2/3 P Rakata lenyap waktu itu. Kegiatan
tersebut kemudian menunjukkan manifestasinya diatas
permukaan laut pada 29 Desember 1927 berupa letusan
phreatik. Dan pada tahun 1930 barulah muncul gunungapi
di atas permukaan laut yang dikenal sebagai Gunungapi
Anak Krakatau. Posisi Anak Krakatau sekarang ini
menempati kawah Perboewatan dari Gunungapi Krakatau
lama. Pertumbuhan Anak Krakatau sejak pemunculan di
atas muka laut di tahun 1930, ketinggiannya kini
(2005) mencapai 286,63 m diatas permukaan laut, yang
berarti setiap tahun bertambah ketinggiannya rata-rata
3,8 meter. Jika dihitung dari dasar laut ynag
kedalamannya 188 m, maka ketinggian Anak Krakatau saat
ini 474,63 meter. Jika dihitung sejak 1883 (121 tahun
setelah meletus besar) Gunungapi Anak Krakatau
bertambah tinggi, rata-rata 3,8 meter pertahun. Saat
ini kegiatan Gunungapi Anak Krakatau masih berlangsung
dalam phase pertumbuhan yang dicirikan oleh
letusan-letusan tipe strombolian berskala kecil yang
menghasilkan aliran lava dan jatuhan piroklastik,
(letusan-letusan yang terkini terjadi di tahun 2001
dan tidak ada letusan sampai saat ini 2005). Bila
letusan yang terjadi dengan periode pendek seperti itu
kegiatannya kemungkinan tidak merusak (energi tidak
terakumulasi) dan kemungkinan tidak menyebabkan
munculnya tsunami. Malahan bila terjadi letusan tipe
strombolian seperti tahun 1992 – 2000, (letusan
seperti kembang api) akan sangat menarik wisatawan
untuk di tonton dengan jarak lebih dari 1 km, terutama
dimalam hari asal jangan mendarat di pulau Anak
Krakatau tersebut.
Tipe letusan strombolian dari letusan G. Anak Krakatau
perioda tahun 1993 - 2001.
Sumberdaya Alam Komplek G. Anak Krakatau
Sumberdaya alam suatu gunungapi secara umum adalah
berupa tanah yang sangat subur sehingga menjadikan
daerah tersebut sangat padat penduduknya. Dikarenakan
kawasan gunungapi merupakan tempat tersimpannya air
(reservoir air) merupakan sumber kehidupan bagi
manusia, dan hampir semua jenis pepohonan dapat tumbuh
di wilayah suatu gunungapi. Jadi selain hasil
pertanian juga hasil hutan yang dapat dijadikan suatu
sumber devisa negara.
Selain tanah subur keindahan alampun merupakan
sumberdaya yang tidak kalah penting dalam penghasilan
devisa negara tersebut yang mana gunungapi merupakan
objek yang hanya dilihat dan dikunjungi sudah
mendatangkan keuntungan yang tidak kecil nilai
rupiahnya, serta membantu masyarakat disekitarnya
untuk ikut berpartisipasi dalam upaya wisata atau
dalam penyediaan sarana-prasarana serta barang-barang
cindera mata bagi para wisatawan.
Potensi lainnya yang merupakan sumberdaya di suatu
wilayah gunungapi adalah berupa bahan galian terutama
untuk bangunan, tetapi tidak selalu menguntungkan
orang banyak, malahan sering menimbulkan suatu
permasalahan bagi banyak orang. Mengapa?
Bahan galian di suatu gunungapi kalau yang sifatnya
seperti dapat terbarukan misalnya bahan galian yang
berupa aliran lahar pada sungai-sungai di gunungapi
aktif yang terendapkan lagi bila terjadi hujan, (di
kawasan G. Merapi, di G. Semeru). Akan tetapi tidak
sedikit menimbulkan permasalahan baru dalam penggalian
tersebut, misalnya penambangan di kaki G. Cereme,
terdapat suatu penggalian bahan bangunan yang ternyata
menimbulkan suatu permasalahan antara lain menyebabkan
suatu danau tempat penampungan air (reservoir air)
secara alami mengering di lereng gunungapi tersebut,
yang akhirnya terpaksa penggalian tersebut harus
dihentikan dan dilakukan penambalan agar airnya tidak
bocor. Juga di daerah G. Galunggung, penggalian pasir
sudah merambah ke tanggul-tanggul pengelak aliran
lahar, yang dibangun tahun 1982, maka bila terjadi
letusan lagi, tanggul-tanggul lahar tersebut harus
dibangun kembali dengan biaya yang tidak sedikit.
Mengapa demikian? Dikarenakan volume pasir dan bahan
galian di sekitar G. Galunggung yang digali melebihi
bahan galian yang terendapkan.
Bagaimana di G. Krakatau? Apakah pasir di sana dapat
dipergunakan untuk bahan bangunan?
Berdasarkan sifat fisiknya batuan di G. Anak Krakatau
tidaklah banyak berbeda dengan di Gunungapi lainnya,
tentu bahan galian tersebut dapat dipergunakan,
mungkin kwalitasnya dapat menyamai pasir G.
Galunggung, G. Merapi atau G. Semeru. Namun karena
lokasinya di kawasan yang rawan bencana dan gunungnya
termasuk sangat aktif dan juga terdapat di suatu
komplek lingkungan yang sangat penting bagi kehidupan
biota yang ada di Selat Sunda. Jadi kalau ada
usaha-usaha untuk melakukan penggalian pasir di daerah
tersebut menurut pemikiran saya sangat tidak
disarankan. Selain daerahnya yang rawan terhadap
bencana juga akan merugikan para nelayan yang
beraktivitas di Selat Sunda, karena kehidupan biota di
sekitar daerah tersebut akan terganggu sehingga
lingkungan kehidupan flora dan fauna di daerah itu
tentu akan berubah oleh adanya ativitas tersebut.
Untuk pengambilan bahan galian sebaiknya di carikan
tempat lain yang lebih baik dan menguntungkan banyak
pihak.
Upaya Penanganan
Hal-hal yang perlu dan telah dilakukan dalam rangka
mitigasi bencana (peringatan dini) letusan G. Anak
Krakatau antara lain adalah :
Pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau sudah
dilaksanakan sejak awal 1980 hingga kini oleh
Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi,
dengan menggunakan seismograf sistem telemetri yang
dipasang (dipancarkan) langsung dari gunungapi
tersebut ke Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di
Kalianda, Propinsi Lampung dan Pos Pengamatan
Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran Pantai Carita
Propinsi Banten serta keadaannya saat ini berjalan
cukup baik.
Pembuatan Peta Kawasan Rawan Bencana Letusan Gunungapi
Anak Krakatau dan Daerah yang kemungkinan terlanda
tsunami (belum terbit).
Perlu dilakukan sosialisasi Kebencanaan Geologi kepada
Pemerintah Daerah dan masyarakat setempat (Daerah
Rawan Bencana Geologi), untuk meningkatkan kepedulian
dan kesiapan tentang kebencanaan geologi.
Perlu perencanaan untuk membangun penahan gelombang
pada daerah pantai yang diperkirakan terlanda oleh
tsunami, termasuk penanamam pohon mangrove / tanaman
pohon berakar kuat di sepanjang pantai yang rawan
terkena tsunami. Bila kemungkinan terburuk adanya
tsunami.
Bila letusan G. Anak Krakatau seperti letusan terkini
yaitu letusan yang terjadi sampai tahun 2001,
masyarakat tidak perlu khawatir akan adanya tsunami
akibat letusan G. Krakatau tersebut, hanya dalam
keadaan seperti saat ini disarankan untuk tidak
mendekati puncak (Kawah Anak Krakatau) dikarenakan gas
vulkanik yang keluar disekitar kawah dapat berbahaya
bagi kesehatan / keselamatan,
Demikian tulisan ini disampaikan mudah-mudahan
bermanfaat bagi yang membacanya terutama untuk
masyarakat di sekitar pantai Barat dan Utara Jawa
Barat dan Pantai Selatan Lampung, serta bagi para
wisatawan yang akan berkunjung di kawasan Selat Sunda
umumnya, pantai Utara Banten dan Lampung Selatan,
tidak perlu menghawatirkan keadaan yang saat ini cukup
menghebohkan.
Urutan kegiatan G. Anak Krakatau yang tercatat hingga
saat ini:
1680 – 1681 Mei 1680 sampai Mei 1681, letusan
abu disertai leleran lava.
1883 20 Mei 1883 kegiatan diawali dari G. Perbuatan,
letusan abu dan semburan uap mencapai tinggi 11 km dan
suara dentumannya terdengar sejauh 200 km. Pada Juni
kegiatan vulkanik juga terjadi di G. Danan. Erupsi
paroksisma terjadi pada 26 – 28 Agustus. Setelah
pukul 13.00, 26 Agustus beberapa erupsi terjadi dan
mencapai puncaknya pada Minggu 27 Agustus, pukul 10.02
dan pada pukul 10.52 dentumannya terdengar di
Singapura dan Australia. Erupsi ini menyemburkan
batuapung dan abunya mencapai tinggi 70-80 km,
endapannya menempati area 827.000 km2. Runtuhan tubuh
gunungapi ini menyebabkan tsunami dengan tinggi
gelombang rata-rata 20 m menyapu pantai-pantai di
Selat Sunda dan baratlaut Jawa, serta menyebabkan
36.417 koban jiwa.
September dan Oktober letusan freatik.
1884 Pebruari, letusan freatik merupakan kelanjutan
dari Oktober 1883.
1927 29 Desember, kegiatan vulkanik baru terjadi di
pusat kaldera, timurlaut dasar kaldera pada kedalaman
188 m dan dinyatakan sebagai kelahiran G. Anak
Krakatau. Kawah baru ini satu garis dengan kawah-kawah
Danan dan Perbuatan sebelumnya. Rentetan kegiatan
erupsi berlanjut hingga 1930, sebagai berikut :
1928 5 Februari, 25 Maret, 2 Juni, 6-13 Juli, 25
Agustus-4 September, 4-26 Nopember, 11-20 Desember.
1929 12 Januari-18 Februari, 6-13 Maret, 8-20 Juni,
25 Juli-25 Agustus, 19 September-7 Oktober, 7-23
Desember.
1930 14-28 Januari, 10 Maret-5 April, 30 April-15
Mei, 2 Juni-15 Agustus.
1931 Terjadi danau kawah, erupsi abu mencapai tinggi
2400 m dan erupsi samping pada 23-26 September, 5-7
Nopember, 5-21 Desember.
1932 12-17 Februari erupsi lanjutan dari tahun
sebelumnya.
1933 Erupsi di danau kawah pada 16 Januari-25 Mei,
10-17 Juni, 5-6 Juli, 5 September-5 Oktober, 10
Nopember-6 Desember.
1934 Kegiatan lanjutan dari tahun sebelumnya pada
6-26 Januari, selama Maret, 5-12 Mei, 7-9 Juni. Pada
periode ini salah satu erupsinya mencapai tinggi 6800
m.
1935 Erupsi abu dan erupsi freatik di danau kawah,
ukuran danau kawah mencapai 275 X 250 m2, kegiatan
terjadi pada 4-14 Januari, 6 Februari-6 Mei dan 25
Mei-12 Juli.
1936 Erupsi abu pada 13 Oktober dan selama Nopember
tinggi tiang abu berkisar antara 100 – 300 m.
1937 Erupsi di danau kawah terjadi pada 6 Agustus-21
September tinggi abu antara 2000-2600 m, kemudian pada
17-23 Nopember erupsi-erupsi kecil pada kawah baru di
bagian baratdaya.
1938 Erupsi abu dan erupsi freatik di danau kawah
berlangsung hingga 1940. Kegiatan terjadi pada 4
Juli-29 Agustus, 12-14 September, 2 Oktober, 7
Nopember, 8-9 Desember.
1939 15-27 Januari, 20 Maret, 1 Juni-4 Agustus,
23-25 September, 13 Desember sampai
1940 9 Januari, 3-10 Februari, 1 Maret-15 Mei, dan
10 Juni-2 Juli. Pada Juni tinggi letusan mencapai
1000-4000 m.
1941 Erupsi di danau kawah pada 28 Januari-12
Februari
1942 Erupsi di danau kawah pada 29-30 Januari.
1943 Erupsi di danau kawah.
1944 Erupsi di danau kawah.
1945 Erupsi di danau kawah.
1946 Erupsi di danau kawah pada 25 Juli dan selama
Desember.
1947 Erupsi di danau kawah selama April.
1948 Erupsi di danau kawah.
1949 Erupsi di danau kawah pada 12 Mei.
1950 Erupsi di danau kawah pada 3-7 Juli.
1952 Erupsi di danau kawah pada 10-11 Oktober,
terbentuk kerucut baru
dengan danau kawah bergaris tengah 440 m.
1953 Erupsi abu di danau kawah pada 20-23
September, tinggi kerucut
mencapai 116 m.
1958 Erupsi di danau kawah, tanggalnya tidak
diketahui.
1959 Erupsi di danau kawah selama Juni-Juli. Kegiatan
erupsi terdiri atas 4 fase: 1. Erupsi abu hitam, 2.
Erupsi abu dan gas dengan tiang asap setinggi 500 m,
3. Erupsi abu setinggi 1000 – 1500 m, dan 4.
Erupsi abu hitam.
1960 Kegiatan erupsi lanjutan dari tahun sebelumnya,
terjadi pada 12-13 Januari, tinggi asap mencapai 1000
m.
1961 Kegiatan erupsi tidak diketahui tanggalnya,
melenyapkan danau kawah bulan sabit dan leleran lava
mengisi kawah dan dan bibir kawah bagian timur.
1963 Leleran lava menembus laut melalui pematang
baratdaya kawah dan
membentuk seperti kipas.
1968 Erupsi freatik selama September.
1972-1973 Erupsi abu menerus mencapai tinggi 1600 m.
Saksi mata mengamati kejadian erupsi pada 26 Juni,
21-22 Desember dan 29 Desember 1972. Kagiatan erupsi
menerus hingga Januari 1973 dan diakhiri leleran lava
ke arah selatan, baratdaya dan barat, menembus laut
sehingga memperluas daratan.
1975 Erupsi abu selama tahun ini dan diakhiri dengan
leleran lava ke arah barat-baratlaut.
1979 Erupsi abu hampir selama tahun ini dan diakhiri
dengan leleran lava ke arah baratdaya.
1981 Erupsi abu sejak Februari hingga Juli, dan
diakhiri dengan leleran lava ke
arah selatan menindih lava 1973-1973.
1984 Erupsi abu terjadi pertengahan tahun dan tidak
diketahui tanggalnya.
1988 Erupsi abu pada 16-18 Maret membentuk kawah baru
di lereng selatan dan kegiatannya diakhiri dengan
leleran lava yang terbatas pada lereng selatan.
1992 - 2000 Erupsi abu terjadi pada 8 Nopember,
kegiatannya dimulai dengan peningkatan kegempaan
vulkanik sejak Agustus. Kegiatan erupsi menerus sampai
tahun 2000 setiap hari atau setiap beberapa menit,
menyemburkan abu dengan tinggi rata-rata 400 –
800 m dan leleran lava. Leleran lava terjadi pada
Nopember-Desember 1992, Februari 1993, April-Mei 1993,
Juni 1993, Januari 1996, Juni 1996 dan Juli 1996.
Leleran lava tersebut umumnya mencapai laut, sehingga
menambah daratan pulau tersebut. Perhitungan material
yang disemburkan selama itu berupa lava dan material
lepas adalah 22 juta m3 dan penambahan daratan 380.000
m2. Tinggi G. Anak Krakatau mencapai 305 m dml.
2001 Erupsi abu pada 5 Juli, kegiatan kegempaannya
dapat dipantau hingga bulan September .
2004 Kondisi G. Anak Krakatau dalam periode istirahat,
sekali-kali diselingi adanya peningkatan kegempaan
vulkanik, sehingga status naik menjadi level II,
seperti tanggal 16 Juli – 18 Agustus 2004 tidak
terjadi letusan .
2005 Kondisi saat ini G. Anak Krakatau dalam periode
istirahat, sekali-kali diselingi adanya peningkatan
kegempaan vulkanik, sehingga status naik menjadi level
II, seperti tanggal 13 April – 19 April 2005 dan
sejak 16 Mei 2005 sampai laporan ini ditulis masih
Status Waspada.
Sumber Bacaan:
Tom Simkin and Richard S. Fiske, 1983, Krakatau 1883,
The Volcanic eruption and its effects, Smithsonian
institution Press. Washinton.
Kusumadinata K. 1973, Data Dasar Gunungapi Indonesia.
Direktorat Vulkanologi, Bandung. Indonesia.
Bronto, S., 1990, G. Krakatau. Berita Berkala
Vulkanologi. Edisi Khusus No. 133. Direktorat
Vulkanologi, 5pp.
Laporan-laporan Penelitian di G. Krakatau. Direktorat
Vulkanologi Bandung. Tidak dipublikasikan.
> Wassalam
>
> Isya ND
>
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam
> protection around
> http://mail.yahoo.com
>
> [Non-text portions of this message have been
> removed]
>
>
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
PENTING..!
attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.
dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa
pencabutan membership.
terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu
mengupdate antivirusnya.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/