Haturan baraya

Ningali pabeulitna "centris DKI" nu rek ngembangkeun kota-kota ka  
gigir nu ngaleuwihan wates-wates teroterial Jabar jeung Kasundaana
bari jeung DPR Jabar teu di ajak kompromi.  Hiji tanda yen US teh  
erek ngadegkeun demokrasi keur kahirupan US jeung nu liana.

Teu pentes atuh upami sistem kapitalis megarkeun kota ka gigir nu teu  
aya undak usuk ka US khususna ka pimpinan US / DPR,
kedahna diusulkeun ngawangun mah tong ka "gigir" ngaleuwihan wates- 
wates taneuh Jabar, kedahna ka "luhur" lamun tujuanana
Megapolitan.

Kabeh keur tata kota keur kahirupan  usaha urang DKI  ngawanguna  
kedah " ka luhur" timiti alokasi peruntukan tanah keur:
1.wangunan perkantoran , militer, pendidikan / pasantren, pasar  
induk,,  pertokoan, hotel, lapangan udara, gareja, masjid, parkir,  
taman kota, museum, station, terminal, pelabuhan, tempat rekreasi /  
hiburan, rumah susun rata-rata lima tingkat nepi ka 50 tingkat.
2.Sistem tramsportasi luhur taneuh oge kedah ngawangun ka luhur  
timiti jalan layang jalur cepat jeung jalur lambat tingkatkeun jadi  
lima tingkat tiap arek abus ka kota siapkeum tempat parkir keur 24  
jam,  oge puluhan tingkat parkir ameh teu macet nga ganggu ka kota.
3.Sistem transportasi bawah taneuh oge 5 tingkat ti garis taneuh,  
keur tujuan macetna lalu lintas, aya kota bawah tanah.
4. Ruang sampah mutlak aman tina struktur / sistem  wangunan nomor  
hiji ameh teu bau jeung sumber panyakit teu keuna ka masyarakat.
5. Ayana riol  sa kuriling kota nu  diameter liangna minumum 4 kali  
luhur jelema keur kabel-kabel tel/listrik/pipa ledeng/, oge keur anti  
banjir nu diarahkeun ka laut.

Jiganamah kaum kapitalis teu jadi masalah dina urusan "duit" keur  
ngawangun Megapolitan sagala rupa intregasi wangunan kaluhur wae
oge ka handap.

cag ah
yan nyc



On Feb 12, 2006, at 11:11 PM, mh wrote:

> Baraya, aya artikel PR poe (13/2/06) ieu nu pakait sareng gagasan  
> "megapolitan" tea. Manawi aya mangpaatna. (mh).
>
> Ada Uang di Balik Megapolitan?
>              Oleh MUHAMMAD QUDRAT ISWARA DALAM rapat dengar  
> pendapat dengan Panitia Khusus (Pansus)             DPR RI Revisi  
> UU 34/1999, Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, menyampaikan usulan  
> konsep             pembentukan kawasan megapolitan sebagai upaya  
> membangun Ibu Kota Jakarta lebih baik lagi.             Kawasan  
> megapolitan tersebut, menurutnya, merupakan penyatuan Jakarta  
> dengan daerah-daerah             sekitarnya, yakni Tangerang,  
> Depok, Bekasi, Bogor, dan Cianjur. Alasan penyatuan              
> daerah-daerah itu, di antaranya untuk memudahkan pengelolaan  
> kawasan serta masalah             kompleks di daerah tersebut,  
> semacam transportasi, perumahan, air baku, sampah,  
> serta             banjir.
>              Usulan megapolitan seolah tidak mengindahkan visi dan  
> misi Provinsi Jawa Barat, yakni             menjadi mitra terdepan  
> ibu kota. Visi tersebut sesungguhnya mengandung makna Jawa  
> Barat             amat terbuka, mengusung semangat bekerja sama  
> dengan Pemprov DKI Jakarta dalam membangun             wilayah- 
> wilayah yang secara geografis berdekatan dengan wilayah DKI.  
> Sehingga, munculnya             usulan megapolitan dengan  
> "mencaplok" wilayah adminsitratif Jawa Barat, dapat              
> dikatakan bentuk penolakan kerja sama dan kebersamaan dalam  
> membangun wilayah-wilayah             tersebut.
>              Kerja sama pembangunan seharusnya tidak dengan  
> memaksakan kehendak dan ambisi yang over             acting melalui  
> perluasan wilayah administratif dengan mengambil alih beberapa  
> daerah             administratif Jawa Barat. Secara historis  
> Provinsi DKI Jakarta merupakan provinsi baru             yang  
> sebelumnya merupakan wilayah Provinsi Jawa Barat, sehingga usulan  
> megapolitan             terkesan sudah menghianati realitas sejarah.
>              Yang sangat disayangkan bahwa dalam konteks rencana  
> tersebut, Pemprov Jawa Barat             (termasuk DPRD) tidak  
> pernah diajak bekerja sama duduk satu meja merumuskan  
> rencana             pengembangan di wilayah tersebut. Tentu saja  
> langkah tersebut sangat mengagetkan dan             menyentuh harga  
> diri Pemprov dan masyarakat Jawa Barat. Usulan megapolitan  
> Sutiyoso             menegasikan etika pemerintahan dan etika  
> budaya serta tidak memiliki sensitivitas sosial.              
> Pengembangan terlebih pengambilalihan sebuah daerah yang secara  
> administratif menjadi hak             daerah lain akan dipersepsi  
> sebagai "perampasan hak" dan pelecehan harga diri             Jawa  
> Barat. Selain itu, gagasan megapolitan yang secara administratif  
> akan mengalihkan             beberapa kabupaten/kota menjadi bagian  
> dari DKI Jakarta, bukan semata persoalan teritorial              
> yang akan terampas, namun terdapat "pembunuhan" kultural Jawa  
> Barat, yang akan             terlibas
>  derasnya arus kultur negatif megapolitan.
>              Kalau kita cermati dari kacamata lain, usulan  
> megapolitan yang memperluas wilayah             administratif DKI  
> Jakarta ke Jabar, sesungguhnya mengindikasikan terdapat kegagalan  
> dan             ketidakmampuan jajaran Pemprov DKI, dalam mengelola  
> dan melakukan penataan wilayah             Jakarta. Misalnya,  
> daerah-daerah Jabar di sekitarnya menanggung persoalan kemacetan  
> luar             biasa karena overload kendaran yang berasal dari  
> Jakarta. Banyak lahan hijau diubah             untuk dijadikan  
> permukiman hanya untuk menopang keterbatasan lahan DKI Jakarta.  
> Sementara             Jabar harus rela menjaga kualitas dan  
> kuantitas air untuk memenuhi kebutuhan air baku             warga  
> Jakarta. Selama ini wilayah Jabar yang berbatasan dengan Jakarta  
> menanggung beban             sosial-budaya sangat berat yang  
> diakibatkan pengaruh negatif Jakarta.
>              Refleksi
>              Orang bijak berkata, "Di balik peristiwa pasti ada  
> hikmahnya." Otokritik             terhadap Pemprov Jabar layak  
> dilontarkan. Selama ini, sejauhmanakah upaya  
> pembangunan             wilayah tersebut dilaksanakan dengan baik.  
> Bagaimanakah responsivitas pemprov terhadap             dinamika  
> pembangunan di wilayah-wilayah tersebut.
>              Kita pun patut mencermati bahwa bagi masyarakat tidak  
> menjadi persoalan secara             administratif masuk DKI atau  
> Jawa Barat, yang terpenting sejauhmana tingkat  
> kesejahteraan             dan kemakmuran dirasakan oleh masyarakat.  
> Kalau fakta ini yang muncul di lapangan, maka             akan  
> semakin sulit bagi Pemprov Jawa barat untuk mempertahankan  
> kedaulatan wilayahnya,             terlebih kalau payung hukum  
> berupa undang-undang lahir sebagai keputusan politik.
>              Secara kultural, masyarakat Tangerang, Bekasi, Depok,  
> dapat dipastikan sudah budaya             metropolis. Demikian pula  
> Bogor dan (Cianjur?) barangkali semakin menguat budaya              
> metropolisnya, sehingga identitas budaya masyarakatnya sudah tidak  
> kohesif dengan entitas             Sunda secara kultural sebagai  
> entitas utama masyarakat Jawa Barat. Bisa dipahami  
> bahwa             mereka lebih tertarik oleh sebuah tawaran  
> pragmatis, sebagaimana lontaran Ketua DPRD             Cianjur.
>              Fakta ini merefleksikan bahwa Jawa Barat telah gagal  
> melakukan penguatan diplomasi             budaya terhadap warganya  
> sendiri. Budaya kesundaan tidak efektif membentuk  
> kohesivitas             sebuah entitas Ki Sunda. Fakta lain yang  
> harus dihadapi Pemprov Jawa Barat adalah masalah             UMR.  
> Gubernur Sutiyoso memanfaatkan fakta lebih rendahnya UMR di wilayah  
> Jabar             dibandingkan dengan DKI Jakarta, sehingga secara  
> propaganda lebih menarik masyarakat             Depok, Tengerang,  
> Bekasi, Cianjur untuk tergoda menjadi bagian dari DKI Jakarta.
>              Patut pula dicermati bahwa di balik rencana  
> pengembangan megapolitan ini sesungguhnya             adalah  
> kalangan kaum pemodal (kapitalis) yang terus mendorong agar  
> perlindungan hukum             terhadap wilayah tersebut (RTRW Jawa  
> Barat, Keppres tentang Penetapan Bogor, Puncak,             Cianjur  
> sebagai Kawasan yang Harus Dilindungi, dst.) dapat dipreteli  
> sehingga mereka bisa             leluasa menanamkan modalnya di  
> wilayah tersebut.
>              Pengalaman menunjukkan, di balik lahirnya kebijakan  
> pemerintah yang terkait dengan             pengelolaan wilayah  
> tertentu, terlebih yang kaya, selalu di belakangnya para  
> pengusaha.             Kalau kebijakan ini pun lahir karena pesanan  
> sponsor (pengusaha/kapitalis), pemerintah             sesungguhnya  
> tidak memiliki grand design yang berpihak pada kepentingan  
> rakyatnya.             Dalam menyikapi fenomena ini, tetap kita  
> harus bersikap bijaksana, dengan kepala dingin,             dan  
> bertindak taktis agar tidak salah langkah. Akhirnya, keputusan  
> apapun yang diambil             baik pemerintah maupun masyarakat,  
> semoga memberikan yang terbaik bagi kita semua.
>              Bandung, 11 Februari 2005.***
>              Penulis, Koordinator Forum Musyawarah Masyarakat  
> (Format) Jawa Barat, Ketua BM             Kosgoro '57 Jawa Barat,  
> anggota Fraksi Partai Golkar DPRD Jawa Barat.
>
>
>
>
> =====
> Situs: http://www.urang-sunda.or.id/
> [Pupuh17, Wawacan, Roesdi Misnem, Al-Quran, Koropak]
>               
> ---------------------------------
>  Yahoo! Mail
>  Use Photomail to share photos without annoying attachments.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
> PENTING..!
>
> attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.
>
> dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai  
> sanksi berupa pencabutan membership.
>
> terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk  
> selalu mengupdate antivirusnya.
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>



PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke