Oleh T. BACHTIAR
(http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/042006/21/10-pariwisata.htm)

CURUG Sigay, airnya mengalir di atas aliran lava Gunung Tangkubanparahu.
Curug adalah air terjun, sedangkan sigay berarti sebatang bambu yang diberi
titian untuk memanjat, biasanya sebagai alat bantu untuk menyadap
kawung/enau.

Saat ini, Curug Sigay benar-benar ditelantarkan. Wc gantung persis berada di
pinggir air terjun itu. Jejalan rumah malang-melintang sepanjang sempadan
sungai yang berada di wilayah Kota Bandung, benar-benar telah menutupi daya
tarik itu.

Kebutuhan akan ruang yang mendesak telah menyerobot sempadan sungai. Kalau
masyarakat membangun dengan caranya sendiri karena kebutuhan dan
ketidaktahuannya, serta lemahnya penegakan hukum dari Pemkot Bandung, apakah
demikian juga yang ada dalam pikiran perencana di rerguruan tinggi sekelas
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), yang masih menjadikan *view* Curug
Sigay ini bagian belakang dari kampusnya?

Kalau sedikit saja berpikir, penataan lanskap stadion olah raga milik UPI,
khususnya dari arah kolam renang, bukankah dapat dibuat taman yang dapat
memandang dari ketinggian ke arah air terjun yang bagus ini?

Tampaknya, para perencana di kampus UPI masih menganggap sungai adalah
bagian belakang tempat membuang sesuatu yang kotor! Setelah berolah raga,
sambil menyeruput teh hangat, duduk di kehijauan taman memandang ke arah air
terjun, sesungguhnya itu merupakan bagian dari upaya pendidikan untuk
memupuk keseimbangan antara kekuatan fisik, akal, budi pekerti, dan
imajinasi.

Curug Sigay berada di aliran Cibeureum yang menjadi batas administratif
antara Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. Sesungguhnya, sisi timur air
terjun dapat dimanfaatkan oleh Kota Bandung, dan sisi baratnya dapat
dimanfaatkan oleh Kabupaten Bandung.

Untuk tujuan penataan, tampaknya sisi barat akan lebih leluasa, sebab
bangunan relatif masih jarang. Pemda Kabupaten Bandung sebaiknya membuat
jalan lintas alam yang baik, sejajar dengan sungai ini sampai di Curug
Sigay, bahkan bisa diteruskan hingga ke utara.

Bila dibarengi penghijauan dengan pohon buah-buahan sepanjang sempadan
sungai itu, Curug Sigay merupakan potensi wisata alam yang sangat baik,
menyehatkan dan mengandung pendidikan, khususnya ilmu kebumian.

Daya tariknya bukan sekadar karena adanya air terjun, tapi dasar dan dinding
sungainya merupakan aliran lava Gunung Tangkubanparahu. Begitu menuruni
jalan Gegerarum sedikit saja, terlihat sisi timurnya merupakan blok batuan
beku yang menjulang, memanjang ke utara menyusuri Cibeureum, dan Cihideung,
memotong jalan Sersan Bajuri hingga ke Kancah, dan akhirnya sampai di
pusatnya di Gunung Tangkubanparahu.

Kalau lava yang mengalir sepanjang Cibeureum dan Cihideung hingga Curug
Sigay ini sama kejadiannya dengan lava yang mengalir di Cikapundung hingga
Curug Dago, maka peristiwa itu terjadi 55.000 tahun yang lalu.

Letusan Gunung Tangkubanparahu secara ekstrem dapat dibagi menjadi dua jenis
letusan berdasarkan bahan yang dikeluarkannya. Pertama letusan yang
mengeluarkan bahan lepas, seperti bom, lapili, dan yang kedua letusan yang
mengeluarkan lava.

Letusan Gunung Tangkubanparahu yang mengeluarkan lava, terjadi 55.000 tahun
yang lalu. Lembah-lembah Gunung Tangkubanparahu yang menghadap Bandung, saat
itu dialiri lava. Lava adalah batuan pijar yang keluar dari perut bumi,
suhunya 10.000 erajat C, yang terus bergerak meleleh mengalir di
lembah-lembah: Lebak Cigugur, Cibeureum, Cihideung, Cimahi, Cikapundung
hingga panasnya menurun kemudian membeku.

Sepanjang lembah-lembah itu terdapat bongkah-bongkah batuan beku. Ujung lava
yang membeku di lembah-lembah yang kemudian dialiri sungai, membentuk air
terjun. Pada umumnya tempat itu dijadikan daerah tujuan wisata bumi.

Curug Sigay hanya beberapa ratus meter dari SD dan SMP yang berada di Jalan
Gegerarum, Gegerkalong Girang, Kota Bandung. Juga sangat berdekatan dengan
kampus yang memiliki program studi geografi, fisika, dan kimia.

Apakah tempat ini pernah dijadikan tempat ekskursi bagi siswa SD dan SMP
pada saat menerangkan kegunungapian? Pada saat menerangkan tentang lava,
misalnya, apakah para mahasiswa program studi geografi, paling tidak, apakah
pernah melihat, memegang aliran lava yang sudah membeku di Curug Sigay?

Apakah para mahasiswa dari program studi kimia, misalnya, pernahkah mengurai
kimiawi lava yang ada di Curug Sigay? Lingkungan sekitar merupakan
laboratorium mahabesar untuk pendidikan.

Apakah potensi sekitar sekolah/kampus sudah dimanfaatkan dengan baik dan
maksimal? Selalu, itulah masalahnya!**** *

*(Penulis, anggota Masyarakat Geografi Indonesia, dan Kelompok Riset
Cekungan Bandung)*.


[Non-text portions of this message have been removed]



PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke