Ngadange beja samodel kitu, geus teu aneh deui sigananya Ki Dulur.  Rancamaya, 
Jatigede, Batutulis, Ayeuna Kendan. Nanjeurkeun ajen  kasundaan teh siga ngan 
saukur papaes biwir, pikeun nu sieun ditundung  ti tanah sunda tapi hayang 
meunang hasil mucekil tina ngajual lemah  cai. 
  Cik hayu urang babarengan paluruh, naon satukangeun " Gorobag Runtah ". 
  

mh <[EMAIL PROTECTED]> wrote:        Baraya,
  Aya beja ti PR, majar situs Kendan rek dirancamayakeun.
  mh
  ------------
  
  PR. Sabtu, 06 Mei 2006
  Situs Kendan di Nagreg
               Jadi TPS atau Pekuburan?
              Oleh PROF. DRS. YOSEPH ISKANDARAKHIR-AKHIR  ini,              
tersiar kabar bahwa tempat pembuangan (penampungan) sampah akhir  regional Kota 
 Bandung,              Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Garut, akan dilokasikan 
di wilayah  Nagreg  Kabupaten              Bandung. Konon menurut beberapa 
calon pemborong (pelaksana) projek  tersebut, di  sekitar              Desa 
Citaman, akan didirikan bangunan pengolahan sampah secara modern.
                Selain itu, di lokasi yang sama, rencananya akan dijadikan 
kompleks  pekuburan  etnis              Tionghoa, pindahan dari kompleks 
pekuburan Cikadut (Kota Bandung).  Sehubungan,  lokasi              Cikadut 
akan dijadikan lokasi pusat industri dan perdagangan.
                Benar atau tidaknya kedua rencana tersebut, perlu kiranya  
dipertimbangkan dari  berbagai              aspek, terutama dari kepentingan 
sejarah dan kepurbakalaannya.  Terjadinya kasus  pemusnahan              Situs 
Rancamaya dan perusakan Prasasti Batutulis Bogor beberapa waktu  yang lalu,  
yang              sangat meresahkan dan menyakitkan masyarakat Jawa Barat 
(Sunda), jangan  sampai  terulang              kembali.
                Ihwal Nagreg, sesungguhnya telah dipublikasikan dalam buku 
"Rintisan  Masa  Silam              Sejarah Jawa Barat" tahun 1984, Jilid II, 
yang diterbitkan oleh  Pemerintah  Daerah              Provinsi Jawa Barat. 
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak  diinginkan, ada  baiknya              
diungkapkan kembali beberapa catatan, tentang riwayat Nagreg di masa  silam.
               Situs kepurbakalaan Kendan
                Kendan adalah nama sebuah bukit, yang berlokasi kira-kira 500 
meter di  sebelah              timur-laut stasiun kereta api Nagreg, sebelah 
tenggara Cicalengka,  Kabupaten Bandung.  Pada              kaki bukit ini 
terdapat sebuah kampung bernama Kendan, masuk Desa  Citaman,  Kecamatan         
     Cicalengka.
                Kira-kira 200 meter di sebelah utara Stasiun Nagreg, terdapat 
sebuah  situs              kepurbakalaan, yang oleh penduduk setempat disebut 
pamujaan (pemujaan).  Mungkin,              tempat itu bekas kabuyutan. Karena, 
menurut Pleyte (1909), di situ  pernah  ditemukan              sebuah patung 
Durga yang sangat mungil, yang kini tersimpan di Museum  Nasional di Jakarta.
                Adanya patung Durga di tempat itu merupakan indikasi bahwa di 
situ  pernah  berkembang              agama Siwa. Mungkin dari aliran Syakta. 
Sebab Dewi Durga, dipandang  sakti, sebagai  sumber              kekuatan Siwa. 
                Nama Kendan, sudah lebih dikenal dalam dunia arkeologi. Sebab, 
tempat  itu  diketahui,              sebagai pusat industri perkakas neolitik. 
Istilah "batu Kendan", sudah  merupakan              semacam tanda paten, di 
dalam dunia kepurbakalaan di tanah air kita.
                Beberapa abad sebelum tarikh Masehi, di daerah Kendan, sudah  
terindikasi  adanya              permukiman manusia. Merupakan permukiman yang 
ramai pada zamannya, dan  menjadi  pusat              pembuatan perkakas, yang 
diperuntukkan bagi penduduk di daerah  sekitarnya.
                Hasil penyelusuran Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan dan  
Kebudayaan  Kabupaten              Bandung (sekitar tahun 1980-an) membuktikan 
bahwa legenda Kendan masih  dikenal.  Dalam              segala kekaburan 
kisahnya, legenda itu masih menyebut tokoh Manikmaya,  sebagai  salah           
   seorang penguasa di tempat itu. Peninggalannya, sampai saat ini, masih  
dianggap              "keramat" oleh penduduk di sekitarnya. 
                Nama Resiguru Manikmaya masih mengendap dalam cerita rakyat. 
Tentu,  sebab  posisi              kesejarahannya yang sangat penting. 
Terbukti, penulis naskah Carita  Parahiyangan              pun, memulai kisah 
kerajaan Galuh, dari tokoh Resiguru Kendan ini.
               Resiguru Manikmaya, Raja Pertama Kendan
                Kisah lengkap tokoh Resiguru Manikmaya dapat kita ikuti dalam 
naskah  Pustaka              Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 4, 
yang selesai ditulis  tahun 1602  Saka              (1680 Masehi) di Keraton 
Kasepuhan Cirebon.
                Sang Resiguru Manikmaya datang dari Jawa Timur. Ia berasal dari 
 keluarga  Calankayana,              India Selatan. Sebelumnya, ia telah 
mengembara, mengunjungi beberapa  negara,  seperti:              Gaudi 
(Benggala), Mahasin (Singapura), Sumatra, Nusa Sapi (Ghohnusa)  atau Pulau  
Bali,              Syangka, Yawana, Cina, dan lain-lain.
                Resiguru Manikmaya menikah dengan Tirtakancana, putri Maharaja  
Suryawarman,  penguasa              ke-7 Tarumanagara (535-561 M). Oleh karena 
itu, ia dihadiahi daerah  Kendan (suatu  wilayah              perbukitan Nagreg 
di Kabupaten Bandung), lengkap dengan rakyat dan  tentaranya. 
                Resiguru Manikmaya, dinobatkan menjadi seorang Rajaresi di 
daerah  Kendan. Sang  Maharaja              Suryawarman, menganugerahkan 
perlengkapan kerajaan berupa mahkota Raja  dan  mahkota              Permaisuri.
                Semua raja daerah Tarumanagara, oleh Sang Maharaja Suryawarman, 
diberi  tahu  dengan              surat. Isinya, keberadaan Rajaresi Manikmaya 
di Kendan, harus diterima  dengan baik.  Sebab,              ia menantu Sang 
Maharaja, dan mesti dijadikan sahabat. Terlebih, Sang  Resiguru Kendan  itu,    
          seorang Brahmana ulung, yang telah banyak berjasa terhadap agama. 
Siapa  pun yang  berani              menolak Rajaresiguru Kendan, akan dijatuhi 
hukuman mati dan kerajaannya  akan dihapuskan.
               Penerus tahta 
               Kerajaan Kendan
                Dari perkawinannya dengan Tirtakancana, Sang Resiguru Manikmaya 
Raja  Kendan,  memperoleh              keturunan beberapa orang putra dan 
putri. Salah seorang di antaranya  bernama  Rajaputera              Suraliman. 
                Dalam usia 20 tahun, Sang Suraliman semakin tampak 
ketampanannya dan  sudah mahir  ilmu              perang. Oleh karena itu, ia 
diangkat menjadi Senapati Kendan, kemudian  diangkat  pula              menjadi 
Panglima Balatentara (Baladika) Tarumanagara.
                Resiguru Manikmaya memerintah di Kerajaan Kendan selama 32 
tahun  (536-568  Masehi).              Setelah wafat, Sang Baladika Suraliman 
dirajakan di Kendan, sebagai  penguasa  baru.              Penobatan Rajaputra 
Suraliman, berlangsung pada tanggal 12 bagian gelap  bulan Asuji  tahun         
     490 Saka (tanggal 5 Oktober 568 M.). Pada masa pemerintahannya, Sang  
Suraliman  terkenal              selalu unggul dalam perang.
                Dalam perkawinannya dengan putri Bakulapura (Kutai, 
Kalimantan), yaitu  keturunan              Kudungga yang bernama Dewi 
Mutyasari, Sang Suraliman mempunyai seorang  putra dan  seorang              
putri. Anak sulungnya yang laki-laki diberi nama Sang Kandiawan.  Adiknya 
diberi nama  Sang              Kandiawati.
                Sang Kandiawan, disebut juga Rajaresi Dewaraja atau Sang 
Layuwatang.  Sedangkan  Sang              Kandiawati, bersuamikan seorang 
saudagar dari Pulau Sumatra, tinggal  bersama suaminya. 
                Sang Suraliman, menjadi raja Kendan selama 29 tahun (tahun 
568-597 M).  Kemudian  ia              digantikan oleh Sang Kandiawan yang 
ketika itu telah menjadi raja  daerah di Medang  Jati              atau Medang 
Gana. Oleh karena itu, Sang Kandiawan diberi gelar  Rahiyangta ri Medang Jati.
                Setelah Sang Kandiawan menggantikan ayahnya menjadi penguasa 
Kendan, ia  tidak              berkedudukan di Kendan, melainkan di Medang Jati 
(Kemungkinan di  Cangkuang,  Garut).              Penyebabnya adalah karena 
Sang Kandiawan pemeluk agama Hindu Wisnu.  Sedangkan  wilayah              
Kendan, pemeluk agama Hindu Siwa. Boleh jadi, temuan fondasi candi di  Bojong 
Menje  oleh              Balai Arkeologi Bandung, terkait dengan keagamaan masa 
silam Kendan.
                Sebagai penguasa Kendan ketiga, Sang Kandiawan bergelar 
Rajaresi  Dewaraja. Ia  punya              lima putra, masing-masing bernama 
Mangukuhan, Karungkalah,  Katungmaralah,  Sandanggreba,              dan 
Wretikandayun. Kelima putranya, masing-masing menjadi raja daerah  di  
Kulikuli,              Surawulan, Peles Awi, Rawung Langit, dan Menir. 
Kemungkinan, lokasi  kerajaan  bawahan              Kendan tersebut berada di 
sekitar Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut.
               Pendahulu 
               Kerajaan Galuh
                Sang Kandiawan menjadi raja hanya 15 tahun (597-612 M). Tahun 
612  Masehi,  ia              mengundurkan diri dari tahta kerajaan, lalu 
menjadi pertapa di  Layuwatang  Kuningan.              Sebagai penggantinya, ia 
menunjuk putra bungsunya, Sang Wretikandayun,  yang waktu  itu              
sudah menjadi rajaresi di daerah Menir.
                Sang Wretikandayun dinobatkan sebagai penguasa Kerajaan Kendan 
pada  tanggal 23  Maret              612 Masehi, dalam usia 21 tahun. Malam 
itu, bulan sedang purnama. Esok  harinya,  matahari              terbit, tepat 
di titik timur garis ekuator.
                Sang Wretikandayun tidak berkedudukan di Kendan ataupun di 
Medang Jati,  tidak juga  di              Menir. Ia mendirikan pusat 
pemerintahan baru, kemudian diberi nama  Galuh (permata).  Lahan              
pusat pemerintahan yang dipilihnya diapit oleh dua batang sungai yang  bertemu, 
 yaitu              Citanduy dan Cimuntur. Lokasinya yang sekarang, di desa 
Karang  Kamulyan,  Kecamatan              Cijeungjing, Kabupaten Ciamis.
                Sebagai Rajaresi, Sang Wretikandayun memilih istri, seorang 
putri  pendeta  bernama              Manawati, putri Resi Makandria. Manawati 
dinobatkan sebagai permaisuri  dengan  nama              Candraresmi. Dari 
perkawinan ini, Sang Wretikandayun memperoleh tiga  orang putra,  yaitu         
     Sempakwaja (lahir tahun 620 M), Jantaka, (lahir tahun 622 M), dan Amara  
(lahir tahun  624              M).
                Ketika Sang Wretikandayun dinobatkan sebagai Raja Kendan di 
Galuh,  penguasa  di              Tarumanagara saat itu, adalah Sri Maharaja 
Kretawarman (561-628 M).  Sebagai Raja di  Galuh,              status Sang 
Wretikendayun adalah sebagai raja bawahan Tarumanagara.
                Berturut-turut, Sang Wretikandayun menjadi raja daerah, di 
bawah  kekuasaan  Sudawarman              (628-639 M), Dewamurti (639-640 M), 
Nagajayawarman (640-666 M), dan  Linggawarman  (666-669              M). 
                Ketika Linggawarman digantikan oleh Sang Tarusbawa, umur Sang  
Wretikandayun  sudah              mencapai 78 tahun. Ia mengetahui persis 
tentang Tarumanagara yang sudah  pudar  pamornya.              Apalagi Sang 
Tarusbawa yang lahir di Sunda Sembawa dan mengganti nama  Tarumanagara  menjadi 
             Kerajaan Sunda. Ini merupakan peluang bagi Sang Wretikandayun 
untuk  membebaskan  diri              (mahardika) dari kekuasaan Sang Tarusbawa.
                Sang Wretikendayun segera mengirimkan duta ke Pakuan (Bogor), 
sebagai  ibu kota  Kerajaan              Sunda (lanjutan Tarumanagara) yang 
baru, menyampaikan surat kepada Sang  Maharaja              Tarusbawa. Isi 
surat tersebut menyatakan bahwa Galuh memisahkan diri  dari Kerajaan  Sunda,    
          menjadi kerajaan yang mahardika.
                Sang Maharaja Tarusbawa adalah raja yang cinta damai dan adil  
bijaksana. Ia  berpikir,              lebih baik membina separuh wilayah bekas 
Tarumanagara daripada  menguasai  keseluruhan,              tetapi dalam 
keadaan lemah. Tahun 670 Masehi, merupakan tanda  berakhirnya  Tarumanagara.    
          Kemudian muncul dua kerajaan penerusnya, Kerajaan Sunda di belahan  
barat dan  Kerajaan              Galuh di belahan timur, dengan batas wilayah 
kerajaan Sungai Citarum.  Pada tahun  1482,              kedua kerajaan ini 
dipersatukan oleh Sri Baduga Maharaja (Prabu  Siliwangi),  menjadi              
Kerajaan Sunda Pajajaran.
                Oleh karena itu, betapa pentingnya posisi dan nilai Situs 
Kendan dan  sekitarnya  dalam              perspektif sejarah dan kepurbakalaan 
Jawa Barat. Tidak menutup  kemungkinan, jika  diadakan              penggalian 
dan penelitian arkeologis, pada tebaran radius 5-10 km dari  situs Kendan,  
akan              ditemukan bekas candi, arca-arca, artefak, tembikar, keramik, 
terakota,  dan  benda-benda              peninggalan sejarah lainnya. 
                Semoga nilai sejarah dan kepurbakalaan Kerajaan Kendan di 
Nagreg,  sebagaimana  yang              diungkapkan dalam tulisan ini, akan 
menjadi pertimbangan kebijakan dan  kearifan  kita              semua, sebelum 
telanjur, wilayah Nagreg akan dijadikan pembuangan  (penampungan)  sampah       
       akhir, ataupun dijadikan pekuburan Tionghoa pindahan dari Cikadut  
Bandung.*** 
                Penulis, Alumnus Faculty of Arts and Sciences University of  
Pittsburgh,              Pennsylvania, USA.
  
  
  
  
  
  
  
  =====
  Situs: http://www.urang-sunda.or.id/
  [Pupuh17, Wawacan, Roesdi Misnem, Al-Quran, Koropak]
              
  ---------------------------------
  Love cheap thrills? Enjoy PC-to-Phone  calls to 30+ countries for just 2ยข/min 
with Yahoo! Messenger with Voice.
  
  [Non-text portions of this message have been removed]
  
          

    PENTING..!
  
  attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.
  
  dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.
  
  terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
    

                      

          SPONSORED LINKS    
                                                        Culture                 
                         Bahasa indonesia                                       
                      
        
---------------------------------
    YAHOO! GROUPS LINKS  
  
      
    Visit your group "kisunda" on the web.
     
    To unsubscribe from this group, send an email to:
 [EMAIL PROTECTED]
     
    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.  
  
      
---------------------------------
  
  
          

                
---------------------------------
New Yahoo! Messenger with Voice. Call regular phones from your PC and save big.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Protect your PC from spy ware with award winning anti spy technology. It's free.
http://us.click.yahoo.com/97bhrC/LGxNAA/yQLSAA/IotolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke