Ieu aya terjemahan laporan Majalah Time Asia, tgl 24 Mei 1999, soal "Si 
Embah" anu ayeuna nuju teu damang. Meunang "nimu" ti millis sabeulah. 
Majalah Time edisi ieu "leungit" di pasaran di Indonesia, sigana aya nu 
ngaborong. Kumargi laporan ieu, Majalah Time diadukeun ka Pangadilan ku 
Suharto nu harita geus "lengser". Lamun teu lepat mah "Time" akhirna 
meunang, gugatan Suharto ditolak ku pangadilan.

*SUHARTO INC:
KERAJAAN KELUARGA*

   *SUHARTO INC: KERAJAAN KELUARGA
LAPORAN MAJALAH** TIME - 24 MEI 1999
MENGENAI HARTA JARAHAN KELUARGA SUHARTO
*

*Penterjemah: UTT (Urgent-Translator Team)*

*Dapat digandakan, di-fotocopy, dan disebarluaskan secara bebas kepada
masyarakat sebagai respons atas menghilangnya majalah TIME edisi 24 Mei 1999
dari pasaran.
*

*Diterbitkan oleh International NGO Forum on Indonesia Development (INFID),
Solidaritas Perempuan (SP), dan Indonesia Corruption Watch (ICW)
Juni 1999*

* Home <http://www.angelfire.com/id/infid/index.html>
Link <http://members.fortunecity.com/edicahy/links.html>
  Marx-Engels Page http://www.geocities.com/edicahy/marx-engels*

*SEKTOR*

*ASSET DAN TUNAI*
* *

*YANG DIPEROLEH KELUARGA SELAMA 30 TAHUN LEBIH*

*Minyak dan gas*

*$ 17.000.000.000*

*Kehutanan dan perkebunan*

*$ 10.000.000.000*

*Bunga deposito*

*$ 9.000.000.000*

*Petrokimia*

*$ 6.500.000.000*

*Pertambangan*

*$ 5.800.000.000*

*Perbankan dan jasa keuangan*

*$ 5.000.000.000*

*Properti di Indonesia*

*$ 4.000.000.000*

*Import pangan*

*$ 3.600.000.000*

*TV, Radio, Penerbitan*

*$ 2.800.000.000*

*Telekomunikasi*

*$ 2.500.000.000*

*Hotel dan turisme*

*$ 2.200.000.000*

*Jalan tol*

*$ 1.500.000.000*

*Perusahaan penerbangan dan jasa angkasa*

*$ 1.000.000.000*

*Produksi dan distribusi tembakau*

*$ 1.000.000.000*

*Kendaraan*

*$ 460.000.000*

*Penghasil daya*

*$ 450.000.000*

*Manufaktur*

*$ 350.000.000*

*Properti di luar negeri*

*$ 80.000.000*

*T O T A L*

*$ 73.240.000.000*

*KEKAYAAN SAAT INI*

*$ 15.000.000.000*
   *

Sumber: TIME, konsultasi dengan lima ahli independen

SUHARTO INC. : KERAJAAN KELUARGA
*

*LAPORAN MAJALAH TIME - 24 MEI 1999 *
* *

*MENGENAI HARTA JARAHAN KELUARGA SUHARTO*
* *

*Penyelidikan TIME ke dalam kekayaan keluarga Suharto dan anak-anaknya
menemukan harta jarahan sebesar $ 15 milyar dalam bentuk uang tunai,
properti, barang-barang seni, perhiasan dan pesawat-pesawat jet pribadi*
* *

Oleh: JOHN COLMEY dan DAVID LIEBHOLD Jakarta

*PERUSAHAAN KELUARGA*
* *

Ketika tiba masa akhir Suharto, presiden Indonesia terlama, ia hanya nampak
pasif. Sementara para mahasiwa dan massa rakyat yang marah turun ke
jalan-jalan, dan disambut dengan tembakan dan gas air mata; jendral
berbintang lima itu mundur ke belakang sambil mencoba menata segala
sesuatunya dengan baik. Ketika ia akhirnya turun tahun lalu, ia hanya
berdiri menyingkir ke sebelah, sementara B.J Habibie mulai diambil
sumpahnya. Setelah itu Suharto jarang kedengaran lagi.

Tetapi nyatanya Suharto jauh lebih sibuk dari yang disadari oleh banyak
orang. Sesaat setelah Soeharto jatuh dari kekuasaan, telah tercium adanya
usaha-usaha untuk menyelamatkan harta pribadinya. Di bulan JulI 1998,
serangkaian laporan mengindikasikan bahwa uang dalam jumlah luar biasa yang
berhubungan dengan Indonesia telah dipindahkan dari sebuah Bank di
Switzerland ke Bank lain di Austria, yang dipertimbangkan sebagai tempat
berlindung yang lebih aman untuk deposito-deposito rahasia. Pemindahan
tersebut memperoleh perhatian dari kementerian keuangan Amerika, yang
mengikutinya secara seksama, dan menggerakkan penyelidikan-penyelidikan
diplomatik di Wina. Sekarang, sebagai bagian dari penelitian empat bulan
yang meliputi 11 negara, TIME telah menemukan bahwa $ 9 milyar dari uang
Soeharto dipindahkan dari Switzerland ke sebuah *account* Bank di Austria.
Nilai yang tidak jelek untuk seseorang yang gaji kepresidenannya sebesar $
1.764 per bulan.

Jumlah milyaran ini hanyalah sebagian dari kekayaan Soeharto. Meski pun
krisis keuangan Asia telah memotong kerajaan keluarga secara signifikan,
bekas presiden ini dan anak-anaknya masih menguasai kekayaan luar biasa.
Kerajaan ini dibangun dalam waktu lebih dari tiga dekade yang mencakup
perusahaan-perusahaan dari skala kecil hingga besar. Menurut data dari Badan
Pertanahan Nasional (BPN) dan majalah properti Indonesia, keluarga Soeharto
baik yang dimiliki sendiri maupun melalui perusahaan-perusahaannya,
mengontrol 3,6 juta hektar *real estate* di Indonesia, sebuah area yang
lebih besar dari Belgia. Luas ini mencakup 100.000 meter persegi ruangan
kantor di Jakarta dan hampir 40 persen dari luas seluruh propinsi Timor
Timur.

Di Indonesia, enam anak Soeharto memiliki saham dalam jumlah signifikan
sekurang-kurangnya di 564 perusahaan, dan kekayaan luar negeri mereka
mencakup ratusan perusahaan-perusahaan lainnya, tersebar dari Amerika ke
Uzbekistan, Belanda, Nigeria dan Vanuatu. Keluarga Soeharto juga memiliki
sejumlah besar hiasan-hiasan berharga. Selain itu, sebuah *ranch* untuk
berburu seharga $ 4 juta di Selandia Baru and memiliki setengah dari kapal
pesiar (*yatch*) seharga $ 4 juta yang ditambatkan di luar Darwin,
Australia. Hutomo Mandala Putra (nama kecilnya Tommy) putra terkecil,
mempunyai 75 persen saham di sebuah lapangan golf 18 lubang dengan 22
apartemen mewahnya di Ascot, Inggris. Bambang Trihatmojo, putra kedua
Soeharto, memiliki sebuah *penthouse* seharga $ 8 juta di Singapura dan
sebuah rumah besar seharga $ 12 juta di sebuah lingkungan esklusif di Los
Angeles, letaknya dua rumah dari rumah bintang rock Rod Steward dan hanya
beda satu jalan dari rumah saudaranya Sigit Harjoyudanto yang bernilai $ 9
juta. Putri tertua, Siti hardiyanti Rukmana, mungkin telah menjual Boeing
747-200 jumbo jetnya, tetapi armada kapal terbang keluarga Soeharto masih
mencakup, sekurang-kurangnya sampai saat ini, sebuah DC-10, sebuah Boeing
737 biru dan merah, sebuah Canadian Challenger 601 dan sebuah BAC-111. Yang
terakhir pernah dipunyai oleh *the Royal Squadron of Britain's Queen
Elizabeth II*, menurut Dudi Sudibyo, *managing editor* dari Angkasa, majalah
terbitan Indonesia.

Setelah melakukan ratusan wawancara dengan teman-teman Soeharto, baik yang
dahulu mau pun sekarang, pegawai pemerintah, kalangan bisnis, ahli-ahli
hukum, akuntan-akuntan, bankir-bankir dan keluarga mereka, serta meneliti
berlusin-lusin dokumen (termasuk catatan-catatan Bank tentang pinjaman luar
negeri terbesar), para koresponden TIME menemukan indikasi bahwa
sekurang-kurangnya $ 73 milyar melewati tangan-tangan keluarga Soeharto
antara tahun 1996 hingga tahun lalu. Sebagian besar berasal dari
pertambangan, perkayuan, komoditi-komoditi dan industri-industri
perminyakan. Investasi-investasi buruk dan krisis keuangan di Indonesia
telah menurunkan jumlah kekayaan tersebut. Tetapi bukti mengindikasikan
bahwa Soeharto dan enam anaknya tetap memiliki kekayaan $ 15 milyar tunai,
saham.saham, modal-modal perusahaan*, real estate*, perhiasan dan
benda-benda seni -termasuk karya-karya Affandi dan Basoeki Abdullah dalam
koleksi Siti Hediati Hariyadi, putri tengah yang dikenal sebagai "Titiek".

Soeharto membuat fondasi untuk kekayaan keluarganya dengan menciptakan
sistem patron yang berskala nasional yang mempertahankannya dalam kekuasaan
selama 32 tahun. Anak-anaknya, pada gilirannya, memfungsikan kedekatan
dengan Presiden kedalam peranan calo (perantara) untuk pembelian dan
penjualan dari produk-produk minyak, plastik, senjata, bagian-bagian pesawat
terbang dan petrokimia yang dimiliki pemerintah. Mereka memegang monopoli
pada distribusi dan import komoditi-komoditi utama. Mereka mendapatkan
pinjaman dengan bunga rendah melalui kerjasama dengan bankir-bankir, yang
seringkali takut untuk menanyakan pembayaran kembali. Subarjo
Joyosumarto, *managing
director* Bank Indonesia menyatakan bahwa selama pemerintahan Soeharto, "ada
sebuah situasi yang membuat sukar bagi Bank-Bank negara untuk menolak
mereka."

Sekarang, dengan setengah penduduk dibawah garis kemiskinan sebagai hasil
dari krisis keuangan, tidak ada keraguan bahwa keluarga Soeharto menumbuhkan
kekayaan diatas penderitaan rakyat. Seorang bekas kolega bisnis anak-anak
Soeharto memperkirakan bahwa mereka tidak membayar pajak antara $ 2,5 milyar
dan $ 10 milyar pada komisi saja. "Sangat mungkin tidak ada
perusahaan-perusahaan Soeharto telah membayar 10 persen dari kewajiban pajak
yang sebenarnya", kata Teten Masduki, seorang anggota eksekutif Indonesian
Corruption Watch, sebuah NGOs. "Dapatkah dibayangkan berapa besar pendapatan
yang telah hilang?"

Kebanyakan orang Indonesia juga menyalahkan Suharto karena menciptakan iklim
korupsi yang mempengaruhi seluruh perekonomian Indonesia. Bank Dunia
memperkirakan bahwa sampai sebanyak 30% anggaran pembangunan di Indonesia
selama dua dekade telah menguap karena korupsi yang meluas di lingkungan
pegawai negeri dari atas sampai ke bawah. "Kalau anda tidak membayar suap,
orang akan menganggap anda aneh", kata Edwin Soeryadjaya, Direktur
perusahaan patungan telekomunikasi Indonesia-Amerika. "Sungguh sedih. Saya
sampai tidak bisa bilang bahwa saya bangga menjadi orang Indonesia. Ini
adalah satu dari negara paling korup di dunia".

*HARAPAN YANG BESAR*
* *

Bagaimana perusahaan keluarga Suharto mendapatkan kekayaan dan kekuatannya;
dan memperpanjang impian jutaan orang Indonesia lainnya? Ketika Suharto
menjadi Presiden pada tahun 1967, gabungan yang unik antara kekuatan dan
kepintaran politik orang Jawa telah terwujud. Penyingkiran kehidupan
presiden Sukarno, nasionalis pendiri negara, terlaksana selama dua tahun
dengan disertai pembersihan anti-komunis yang memakan korban sebanyak lebih
dari 500.000 orang. Namun Suharto, seorang jenderal yang tidak dikenal dari
sebuah desa di pelosok Jawa Tengah, mengawalinya dari sebuah kehidupan yang
tampaknya sederhana. Ia dan istrinya Siti Hartinah (Ibu Tien) pada awalnya
hidup di rumah peristirahatan yang sederhana di daerah Menteng, Jakarta dan
biasa mengendarai Ford Galaxy. Hal inilah yang menandai perbedaan yang
kontras antara dia dengan Sukarno, yang dengan gaya hidup bak seorang raja,
dengan istana megah kepresidenannya dan istri ketiganya yang glamour Dewi,
yang sebelumnya sebagai penyanyi Jepang di *night club* Cobacabana di Tokyo.
Akan tetapi di balik topengnya, sesungguhnya Suharto telah menunjukkan awal
kesukaannya untuk menghasilkan uang.

Di tahun 1950an, ia diduga terlibat dengan sengaja dalam penyelundupan gula
dan kegiatan extra-militer lainnya di Jawa Tengah, yang menyebabkannya
kehilangan kedudukan sebagai panglima KODAM Diponegoro ketika terjadi
gerakan anti korupsi di tahun 1959. Dalam otobiografinya, Suharto menegaskan
bahwa ia menukar gula untuk mendapatkan beras, dalam upaya mengatasi
kekurangan pangan lokal dan secara pribadi ia tidak mendapatkan keuntungan
darinya. Pada akhirnya, pihak militer memindahkan Suharto ke posisi yang
tidak memiliki pengaruh kuat yaitu di sekolah staf angkatan bersenjata di
Bandung, Jawa Barat.

Pada tahun 1966, bisnis keluarga Suharto mulai terbentuk. Ketika menjadi
pejabat Presiden, Suharto mengeluarkan Peraturan Pemerintah no. 8 untuk
merampas dua konglomerasi yang dikuasai Sukarno yang memiliki aset sebanyak
$ 2 milyar. Konglomerasi tersebut kemudian menjadi PT Pilot Project
Berdikari, di mana Suharto menempatkan pengelolaannya di bawah Achmad
Tirtosudiro, seorang pensiunan jenderal yang pada saat ini mengetuai sebuah
organisasi muslim yang kuat yang didirikan oleh Presiden Habibie. Perusahaan
ini menjadi salah satu jantung utama kerajaan bisnis Suharto.

Keberuntungan presiden mulai melambung bersama-sama dengan beberapa teman
dekatnya, yang paling terkenal adalah Liem Sioe Liong dan The Kian Seng,
yang lebih dikenal sebagai Mohammad "Bob" Hasan. Di akhir tahun 1969,
Suharto memberikan sebagian monopoli -- yang pada akhirnya menjadi monopoli
penuh -- pada barang-barang impor, pabrik penggilingan dan distribusi gandum
dan tepung pada PT Bogasari Flour Mills, yang dikuasai oleh Kelompok Salim
milik Liem. Bertahun-tahun Liem dikenal sebagai Oom Liem pada keluarga
Suharto dan Hasan menjadi orang terpercaya Suharto dari luar kalangan
keluarga, yang pada akhirnya memperluas kerajaan bisnisnya sendiri dengan
cepat.

Dasar keberuntungan Suharto adalah yayasan kepresidenan. Lusinan yayasan
telah didirikan seolah-olah sebagai yayasan amal, dan yang membiayai
sejumlah besar rumah sakit, sekolah, dan mesjid. Tetapi yayasan-yayasan
tersebut juga merupakan dana raksasa yang tidak resmi untuk investasi
proyek-proyek Suharto dan kroninya, maupun untuk mesin politik presiden,
yaitu Golkar. Menurut George Aditjondro, pengajar Sosiologi di Universitas
Newcastle, Australia, terdapat sekitar 79 yayasan yang dikuasai oleh
Suharto, istrinya (meninggal tahun 1996), saudara-saudara istrinya dari
desa, sepupunya dan saudara tirinya, enam anaknya, keluarga dan orang tua
pasangan anak-anak tersebut, orang-orang militer yang dipercaya, dan
teman-teman dekat lainnya seperti Habibie, Hasan dan Liem.

"Yayasan-yayasan tersebut membeli berbagai saham, mendirikan berbagai
perusahaan, meminjamkan uang kepada para pengusaha," kata Adnan Buyung
Nasution, pengacara yang pada akhir tahun lalu mencoba membentuk komisi
independen terhadap kekayaan Suharto. Yayasan menerima "sumbangan", yang
seringkali tidak dalam bentuk sukarela. Diawali di tahun 1978, seluruh Bank
milik pemerintah diminta memberikan 2,5 persen keuntungannya untuk Yayasan
Dharmais dan Yayasan Supersemar, demikian menurut Jaksa Agung terdahulu
Soedjono Atmonegoro. Keppres no. 92 tahun 1996 memerintahkan bahwa setiap
pembayar pajak dan perusahaan yang berpenghasilan $ 40.000 setahun,
diharuskan menyumbang 2 % pendapatannya untuk Yayasan Dana Sejahtera
Mandiri, yang dibentuk untuk mendukung program pemberantasan kemiskinan
(perintah ini kemudian ditiadakan pada bulan Juli 1998). Saat ini, pegawai
negeri dan anggota militer menyumbang sebagian penghasilan mereka setiap
bulannya kepada Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila, yang digunakan Suharto
untuk memenangkan dukungan bagi kalangan umat Islam. Sementara "sumbangan"
tersebut menjadi bagian besar dari penghasilan yayasan, masih terdapat
sumber-sumber keuangan lainnya. Di tahun 1978, Yayasan Suharto menguasai 60%
saham Bank Duta -- sebuah Bank swasta terkemuka, kata seorang bekas pejabat
Bank Duta. Saham tersebut bertambah secara perlahan menjadi 87 %. Kemudian
yayasan-yayasan tersebut menginvestasikannya ke dalam berbagai perusahaan
swasta yang didirikan anggota keluarga Suharto dan kroninya. Setelahnya,
dengan pertolongan menteri-menteri atau perusahaan milik negara,
perusahaan-perusahaan tersebut akan mendapatkan sebuah kontrak atau sebuah
monopoli.

Sejak jatuhnya Suharto, yayasan-yayasan tersebut telah menjadi target utama
para penyelidik Indonesia. Segera setelah pengunduran Suharto, Jaksa Agung
Soedjono menyelidiki pembukuan empat yayasan terbesarnya. Apa yang
ditemukannya sungguh mengejutkan. "Yayasan-yayasan tersebut didirikan untuk
menyalurkan layanan sosial", ia mengatakan, "tetapi Suharto menyalurkan
uangnya ke anak-anak dan teman-temannya.". Soedjono menemukan bahwa salah
satu yayasan yang terbesar, Supersemar, telah menyebarkan 84 % dananya pada
sasaran yang tidak diketahui, termasuk pinjaman kepada perusahaan milik
anak-anak dan teman-temannya. Suharto, sebagai pimpinan, harus
menandatangani cek diatas $ 50.000. Sodjono menyampaikan laporan pendahuluan
atas temuannya kepada Presiden Habibie Juni lalu. Ia dipecat lima jam
kemudian. (Presiden berkata Soedjono dipecat karena ia melewati garis
komando untuk masuk masalah yang lain.)

*MINYAK DAN TANAH*
* *

Dalam dasawarsa pertama masa kekuasaannya, Suharto melalui Ibnu Sutowo
menjadikan Pertamina seakan-akan milik pribadinya. Ketika Ibnu Sutowo
dipecat di tahun 1976, tidaklah jelas apa sebabnya, apakah karena salah
mengelola perusahaan atau karena memiliki ambisi politik yang kelewat besar.
Saat ini, di usianya yang ke 84, Ibnu Sutowo menceritakan kepada TIME
mengenai hal tersebut. Menurutnya, tahun 1976 Suharto menyuruhnya mendirikan
perusahaan untuk mengangkut minyak mentah Indonesia ke Jepang. "Suharto
bilang, saya ingin kamu menarik $ 10 sen untuk setiap barrel yang terjual
oleh perusahaan baru itu." Ibnu Sutowo ingat saat itu. "Ketika saya
mengatakan tidak, ia kelihatannya kaget".

Setelah Ibnu Sutowo dipecat, Pertamina melakukan ekspor dan impor minyak di
pertengahan tahun 80-an melalui Perta Oil Marketing dan Permindo Oil
Trading, dua perusahaan di mana Tommy dan Bambang memiki saham. Menurut
seorang pejabat senior di pemerintahan Habibie, dua perusahaan tersebut
menerima komisi sekitar $ 30-35 sen per barrel. Di tahun fiskal pertama
tahun 1997-1998, kedua perusahaan itu menjual rata-rata 500.000 barrel per
hari, dengan komisi lebih dari $ 50 juta per tahun. Menurut Subroto, mantan
Menteri Pertambangan dan Energi: "Pertamina sebenarnya bisa mengekspor
langsung. Dua perusahaan itu sebenarnya tidak dibutuhkan".

Selanjutnya, seorang mantan mitra bisnis Tommy dan Bambang mengatakan bahwa
'mark up' tidak resmi dalam ekspor dan impor minyak telah memberikan dua
perusahaan itu sekitar $ 200 juta per tahun selama tahun 1980-an ketika
harga minyak bumi tinggi, dan sekitar separuhnya di tahun 1990an. Keluarga
Suharto juga mendapatkan kontrak-kontrak Pertamina untuk asuransi, keamanan,
suplai makanan dan jasa-jasa lainnya --170 kontrak secara keseluruhan. Tahun
lalu, ketika Suharto jatuh, Pertamina membatalkan banyak kontrak-kontrak
tersebut dan mengumumkan bahwa Pertamina berhasil menghemat $ 99 juta per
tahun karenanya. Seorang mantan mitra bisnis keluarga Suharto mengatakan:
"Mereka memerah Pertamina seperti layaknya sapi".

Salah satu penghasil uang utama bagi Suharto adalah PT. Nusantara Ampera
Bakti, atau Nusamba, didirikan tahun 1981 oleh tiga yayasan Suharto dengan
modal $ 1,5 juta bersama Bob Hasan dan Sigit Suharto (masing-masing
memperoleh saham 10%). Perusahaan ini menjadi jaringan besar dengan lebih
dari 30 anak perusahaan di bidang keuangan, energi, pulp dan kertas, baja
dan otomotif. Jantung Nusamba adalah saham sebesar 4,7 % pada Freeport
Indonesia, sebuah perusahaan AS yang merupakan penambang emas terbesar di
dunia dengan kegiatan di Papua Barat. Tahun 1992 tiga yayasan itu
memindahkan 80% sahamnya ke Bob Hasan, meskipun tidak jelas berapa banyak
yang ia bayar untuk itu. Sampai kini, penyelidik dari pemerintah tidak
pernah memeriksa keuangan Nusamba. OC Kaligis, ketua penasehat hukum Suharto
mengatakan: "Bila ingin tahu tentang Nusamba, tanya Bob Hasan. Dalam
penyelidikan Suharto, Jaksa Agung tidak pernah bertanya soal Nusamba".

Keluarga Suharto mendapatkan uang tidak saja melalui kontrak-kontrak
pemerintah, tetapi juga dari menyusahkan kehidupan orang Indonesia. Ketika
Suharto ingin membangun peternakan sapi di Jawa Barat, ia merampas tanah
lebih dari 751 ha yang dihuni oleh 5 desa. Menurut pemerintah, ia membayar
ganti rugi sebesar $ 5.243. Beberapa penduduk mengatakan, mereka tidak
memperoleh ganti rugi apapun. Muhammad Hasanuddin, yang saat itu masih
anak-anak, ingat ketika keluarganya kehilangan tanah mereka seluas dua
hektar. "Kami melihat sapi gemuk-gemuk dijaga oleh serombongan penjaga
berkuda, menginjak-injak ladang kami yang sudah hancur. Seluruh keluarga
hanya bisa menangis". Ayah Hasanuddin akhirnya menjadi tukang becak di
Jakarta.

Banyak cerita sama. Di tahun 1996 sebuah perusahaan milik Tommy merampas
tanah penduduk desa di Bali seluas 650 hektar untuk resort. Perusahaan itu
sebenarnya hanya memperoleh ijin untuk 130 ha, yang kemudian diperluas
secara ilegal, demikian menurut Sonny Qodri, ketua LBH Bali. Penduduk yang
menolak untuk menandatangani perjanjian menjual tanah, diintimidasi,
dipukuli dan sering direndam dalam air sebatas leher. Dua dari mereka dibawa
ke pengadilan dan dipenjara 6 bulan. Sekarang tak ada yang tertinggal dari
proyek itu: resesi datang ketika buldozer akan bekerja.

Hasan Basri Durin, Ketua BPN dan Menteri Agraria, mengatakan bahwa keluarga
Suharto bisa dikatakan tidak membayar untuk tanah-tanah yang mereka inginkan
--nilai yang dibayar hanya 6% dari nilai pasar sebenarnya, dan pemilik tanah
biasanya berubah pikiran dan bersedia menjual tanah setelah kedatangan
tentara. "Kadang-kadang mereka tidak membayar satu sen pun", kata Hasan.
"Namun semuanya legal karena mereka (keluarga Suharto) memiliki dokumen".
Hanya separuh petani Indonesia yang memiliki sertifikat tanah, sehingga
sulit bagi mereka untuk membuktikan kepemilikannya -- dan lebih sulit lagi
untuk membuktikan terjadinya intimidasi. Hasilnya, hanya sedikit yang
mengajukan gugatan.

*ANAK-ANAK KEBERUNTUNGAN*
* *

Selama bertahun-tahun, korupsi di Indonesia adalah semacam bentuk pemberian
komisi dari pembelian, yang umum dijumpai di negara-negara berkembang. Ada
dua faktor yang menyebabkan Indonesia agak berbeda dari yang lainnya.
Pertama, posisi Indonesia sebagai bintang panggung baru dalam keajaiban
ekonomi Asia, yang membawa aliran dana yang mengalir ke sektor bisnis dan
real estate. Bank Dunia memperkirakan bahwa antara tahun 1988 sampai tahun
1996, Indonesia telah menerima lebih dari $ 130 milyar dari investasi asing.
Ini semua hanya mungkin di bawah pengaruh Barat, yang telah mendukung
Suharto selama 30 tahun, kata Carel Mohn, juru bicara Transparansi
Internasional, sebuah Organisasi non-pemerintah (Ornop) yang berbasis di
Berlin.

Faktor kedua, adalah anak-anak Suharto. Ke-enam anak-anak tersebut masuk ke
dalam bisnis, panggilan hati yang telah ada semenjak usia dini mereka. Saya
ingat ketika kami masih remaja, saya dan Bambang dan teman-temannya datang
kerumah Oom Liem, kata seorang teman kecil anak Suharto yang kedua. Oom Liem
akan selalu memberi kami sepaket uang yang dibungkus kertaskoran. Paket itu,
katanya, berisi cek senilai sekitar $ 1.000 atau lebih. Wati Abdulgani,
seorang pengusaha perempuan yang juga berhubungan dengan perusahaan keluarga
Suharto di tahun 1980an mengatakan: "Anak-anak ini mengamati apa saja yang
diberikan oleh Oom-nya tersebut, dan kemudian mereka berpikir, Bagaimana
dengan kami nanti bila kami sudah besar, apakah bisa seperti dia?"

Sigit, anak yang tertua, secara jelas dipaksa oleh ibunya untuk masuk ke
bisnis. Peran ibunya sebagai orang di belakang layar membuatnya terkenal
dengan sebutan "Madam Tien Percent". Seorang teman bu Tien pernah berbicara
dengannya pada saat pemerintah sedang membangun bandara internasional
Soekarno-Hatta. "Ia bilang pada saya, saya ingin Sigit belajar tentang
Bisnis", katanya. Saya katakan sebaiknya Sigit menyelesaikan dulu
universitas-nya. Jawab ibunya, "Jangan, jangan, Sigit tidak bisa berpikir
jelas". Dua narasumber yang bekerja untuk proyek Bandara tersebut berkata
bahwa ketika kedua terminal bandara telah selesai di tahun 1984, sebanyak $
78,2 juta harus diserahkan ke Sigit dalam bentuk mark-up yang kelihatannya
akan seperti biaya berjalan. Sigit kemudian beranjak ke bisnis yang lebih
besar lagi. Di tahun 1988, Departemen Sosial menetapkan adanya karcis SDSB
(Sumbangan Dana Sosial Berhadiah), yang dipegang oleh perusahaannya. SDSB
tersebut dapat terus beroperasi sampai kemudian terpaksa harus dihapus
karena protes anti-judi dari kalangan Islam di tahun 1993. Pola judi
tersebut membuat Sigit dan perusahaannya mendapat jutaan dollar setiap
minggunya, kata Christianto Wibisono dari PDBI (Pusat Data Bisnis
Indonesia), yang telah mengumpulkan berbagai informasi diseputar bisnis dan
perusahaan-perusahaan yang terkait dengan Suharto semenjak tahun 1980.

Anak keduanya, Bambang, mendirikan Group Bimantara di tahun 1981 bersama
dengan dua teman bekas anggota kelompok band rock-nya. Mereka dibimbing
masuk ke bisnis oleh Oom Liem. Dari tahun 1967 sampai tahun 1998, BULOG
(Badan Urusan Logistik) mengimpor dan mendistribusikan bahan-bahan pokok,
seperti terigu, gula, kacang, dan beras melalui perusahaan-perusahaan yang
terkait dengan Suharto, termasuk enam diantaranya milik Liem. Sesuai
permintaan Bambang, Liem memberikan sebagian bisnis kepadanya. Dari
perdagangan gula saja, Bambang mendapat keuntungan sebesar $ 70 juta
setahunnya, hanya untuk menstempel dokumen. Sistem itu berjalan dengan
begitu baiknya, sehingga setiap anak yang mau masuk ke bisnis diberi
sebagian-sebagian dari bisnis tersebut. Praktek tersebut terus berjalan
sampai tahun 1998. Dari tahun 1997 sampai 1998, Liem mendapat kontrak dari
BULOG untuk mengimpor sekitar 2 juta ton beras yang bernilai $ 657 juta.
Sebagai bagian dari kontrak itu, disebutkan bahwa anak terkecil Suharto,
Siti Hutami Endang Adiningsih (*Mamiek*) mengimpor 300.000 ton beras yang
bernilai $ 90,3 juta. Selama 18 tahun terakhir, lewat adanya keinginan
pemerintah untuk menstabilkan harga beras, anak-anak Suharto telah
berhubungan dengan BULOG untuk menghasilkan sekitar $ 3 milyar sampai $ 5
milyar bagi mereka sendiri, demikian menurut seorang bekas pejabat
pemerintah.

Anak tertua, Tutut, tumbuh menjadi ratu lebah dari klan Suharto. Basis
kerajaan bisnisnya adalah Group Citra Lamtoro Gung. Bisnis besar pertamanya
adalah membangun dan mengoperasikan jalan tol. Proyek jalan tol-nya yang
pertama dimenangkannya tahun 1987, setelah pemerintah mengalahkan dua
pesaing tender lainnya. Pembiayaannya berasal dari dua bank pemerintah,
sebuah perusahaan semen milik pemerintah, dan yayasan milik Suharto. Ketika
presiden Bank Bumi Daya menolak permintaan Tutut akan pinjaman-bebas-bunga,
ia langsung dipecat. Di pertengahan tahun 1990, jalan tol-nya menghasilkan $
210.000 per-hari. Di tahun 1995 , konsesi sistem jalan tol yang dipunyainya,
bisnis yang paling menguntungkan di Indonesia, diperpanjang sampai tahun
2004. Kata Teddy Kharsadi, Direktur corporate-affair perusahaan jalan-tol PT
Citra Marga Nusaphala, "Perpanjangan ini merupakan konsekuensi yang wajar
dari investasi kami".

Kerajaan bisnis Tutut meliputi juga telekomunikasi, perbankan,
perkebunan,penggilingan tepung terigu, konstruksi, kehutanan, serta
penyulingan dan perdagangan gula. Para pengusaha asing tidak bisa lain
selain menjadikan keluarga Suharto sebagai partner-nya, bila mereka hendak
ber-bisnis diIndonesia, dan Tutut akan selalu berada di deretan pertama di
dalam daftar. "Banyak perusahaan multinasional besar menginginkan adanya
koneksi yang kuat, dan hal ini tentu saja berguna bagi mereka", kata Graeme
Robertson, seorang Australia kelahiran Indonesia, yang perusahaannya - Group
Swabara - bergerak di pertambangan emas dan batubara. Pada puncak kekuasaan
Tutut, investor yang berkeinginan untuk menemuinya, harus membayar terlebih
dahulu uang sebesar $ 50.000 sebagai "jasa konsultasi" kepadanya.

Di awal tahun 1990an, Indonesia mulai memperhatikan saran bagi dijalankannya
ekonomi berorientasi pasar dengan menswastakan perusahaan-perusahaan negara.
Keluarga Suharto adalah penerima manfaat terbesar. Suharto meniadakan
monopoli negara dalam telekomunikasi di tahun 1993, dengan memberikan
lisensi pengoperasian sambungan langsung internasional dan jaringan telpon
bergerak digital yang pertama di Indonesia kepada perusahaannya Bambang, PT
Satelit Palapa Indonesia (Satelindo). Pada saat yang sama, perusahaan negara
PT Telkom menyerahkan basis pelanggannya kepada Satelindo, ketika Satelindo
meluncurkan satelitnya sendiri, yang ketiga di Indonesia, lewat bantuan
hutang sebesar $ 120 juta dari Bank Export-import Amerika. TIME telah
meneliti bahwa pemerintah telah memberikan lisensi dan basis pelanggan
Telkom kepada Satelindo tanpa tender atau pembayaran. Dengan bantuan
cuma-cuma pemerintah inilah, Bambang mengontrol perusahaannya, yang menurut
harga pasar bernilai $ 2,3 milyar di tahun 1995. Ketika perusahaan Deutsche
Telekom Jerman membeli 25% saham Satelindo, mereka membayar sebesar $ 586
juta. Bambang juga menerima saham utama sebesar $ 90 juta sebagai jasa
fasilitasi dari Deutsche Telekom sebagai bagian dari penjualan tersebut.

*TERLALU BANYAK HAL YANG BAGUS*
* *

Kepentingan anak-anak Suharto menjadi semakin membesar sehingga mereka mulai
bentrok satu sama lain. Bambang dan Tutut bersaing dalam mendirikan stasion
televisi mereka masing-masing. Tommy bersaing dengan Sigit dalam
penerbangan, serta dengan Bambang dalam produksi mobil dan perkapalan. Di
tahun 1990 pemerintah mengadakan lelang bagi kontrak pengadaan peralatan
pemindah 350.000 sambungan telpon. Perusahaan NEC Jepang bergabung dengan
sebuah perusahaan milik Bambang. Pesaingnya perusahaan AT&T, memberi Tutut
25% saham dalam perusahaan lokal mereka bernama PT Lucent Technologies
Indonesia. Pada akhirnya proyek tersebut dibagi 50-50 diantara AT&T-Tutut
dengan NEC-Bambang. Di tahun 1996, Tutut berselisih dengan Sigit guna
mendapatkan hak pengembangan tambang emas terbesar Busang di Kalimantan
Timur. Partner Tutut, perusahaan Barrick-Gold dari Kanada, berlawanan dengan
partner Sigit, Bre-X Minerals. Kali ini, dua-duanya mendapat hasil nihil.
Busang ternyata hanyalah cerita bohong-bohongan terbesar dalam sejarah
pertambangan.

Persaingan menjadi semakin keras ketika anak-cucu Suharto mulai mencari
berbagai monopoli di bisnis pinggiran. Bambang mendapat kontrak untuk
mengimpor kertas khusus untuk mencetak uang. Tutut mengambil-alih usaha
pemrosesan SIM (Surat Ijin Mengemudi). Perusahaan istri Sigit, Elsye,
menjadi produsen tunggal dalam pembuatan KTP. Di tahun 1996, cucu Suharto,
Ari Sigit, merencanakan skema penjualan stiker pajak minuman bir dan alkohol
sebesar $ 0,25 per-botol di Indonesia (bisnis ini akhirnya hancur karena
para produsen menstop pengapalan bir ke Bali sebagai protes). Sembilan bulan
sebelum Suharto turun, Ari berusaha untuk mengadakan proyek "sepatu
nasional", di mana semua anak Indonesia diharuskan untuk membeli sepatu
sekolah dari perusahaan miliknya. "Pada akhirnya", kata seorang pengacara
Amerika yang telah 20 tahun bekerja di Indonesia, "satu hal yang paling
transparan di Indonesia adalah korupsi".

Ketika rejim Soeharto jatuh, anak-anaknya mempergunakan pengaruh yang mereka
miliki untuk dapat melepaskan diri dari belitan hutang dan bisnis yang
hancur. Pada bulan April 1994, Tommy beserta dua rekan bisnisnya dan Pusat
Koperasi Unit Desa (PUSKUD) -- organisasi petani yang dijalankan oleh
pemerintah -- meresmikan sepermarket Goro. Berdasarkan catatan Bank Bumi
Daya, untuk kepentingan ini mereka memperoleh pinjaman sebesar $ 100 juta,
dimana angsuran untuk pinjaman ini tidak pernah dibayar. Pada tanggal 4 Mei
1998, Tommy kemudian menjual dengan harga kontan seluruh saham atas
supermarket ini kepada petani dan koperasinya seharga $ 112 juta, sehingga
memindahkan seluruh beban hutang yang ada ke pundak petani dan PUSKUD.
Menurut Ibnu Hartomo, adik lelaki ibu Tien, anak-anak Suharto itu sangat
liar dan tampaknya sudah tidak lagi mengingat arti etika. Pada saat
kerusuhan Mei, satu minggu sebelum Suharto mengundurkan diri, massa yang
marah membakar habis salah satu toko Goro yang ada di Jakarta Selatan.

Walaupun banyak dari kekayaan Suharto hilang karena manajemen yang buruk dan
juga karena ekonomi negara yang hancur - misalnya PT. Sempati Air milik
Tommy bangkrut pada tahun 1998- keluarga ini masih tetap memiliki banyak
usaha yang masih memberikan keuntungan. Satu dari banyak contoh adalah PT.
Panutan Selaras milik Sigit yang memproduksi 25% dari bensin *Premix High
Octane* yang banyak digunakan oleh mobil-mobil di Indonesia dan juga ia
memiliki 22 tempat pengisian bensin di Jakarta, Surabaya dan Jawa Tengah.
Sedangkan PT. Humpuss Trading milik Tommy juga memproduksi bensin *High End*
.

Bisnis yang lain lagi adalah bisnis *Real Estate*. Saat harga-harga property
berjatuhan, kekayaan property keluarga ini diperkirakan sebesar $ 1 Milyar,
dan banyak lagi termasuk perkebunan tebu, mal-mal, hotel-hotel yang sampai
saat ini masih terus membawa keuntungan. Di pertengahan tahun 1980, Bambang
membayar pemerintah $ 700 per m2 untuk sebidang tanah di Jakarta Pusat
dimana saat ini berdiri Hotel Grand Hyaat, asset utama PT. Plaza Indonesia.
Di Bali, anak-anak tersebut juga berhasil menyabet permata yang paling
berharga dari industri pariwisata; seperti: Bali Cliff Hotel (Sigit),
Sheraton Nusa Indah Resort (Bambang), Sheraton Laguna Nusa Dua (Bambang),
Bali Intercontinental Resort (Masih milik Bambang sampai 2 bulan yang lalu),
Nikko Royal Hotel (milik Sigit sampai 6 bulan lalu), Four Seasons Resort di
Jimbaran (Tommy) dan Bali Golf dan Country Club di Nusa Dua (Tommy). Tutut
dan Tommy juga membeli Mabes Polri Pusat di Jakarta dengan harga 1/5 dari
harga pasar. Menteri kehutanan Muslimin Nasution mengatakan terdapat
4.5juta hektar hutan dan perkebunan yang terkait dengan anak-anak
Suharto.
Pengamat ekonomi Michael Backman dari Melbourne, yang telah menulis tentang
Suharto dalam bukunya *"Asian Eclipse: Exploring the Dark Side of Business
in Asia"*, menyatakan, "Bila ada yang mengatakan bahwa kerajaan bisnis
keluarga Suharto sudah hancur, maka dia salah. Mereka masih mempunyai
saham-saham di perusahaan kayu, perkebunan kelapa sawit, dan hotel-hotel.
Semuanya itu masih menghasilkan banyak dollar".

*RODA KEADILAN*
* *

Suharto tetap bertahan bahwa aset kekayaan yang dimilikinya tidaklah banyak
dan semuanya berada di Indonesia. Pengacara top-nya Kaligis mengatakan bahwa
Suharto tidak punya satu sen pun di luar negeri. "Jika seseorang ketahuan
membuka account atas namanya di luar negeri, dia (Suharto) menginstruksikan
saya untuk mengajukan tuntutan terhadap mereka", kata Kaligis. Sejak Suharto
mengundurkan diri, Bambang dan keluarganya lebih banyak menggunakan waktu
mereka di Los Angeles, Titik di Boston dimana anak lelakinya bersekolah, dan
sisanya hampir sepanjang tahun berada di Indonesia. Sedangkan Sigit
mempergunakan sebagian besar waktunya di sofa Versace favoritnya (dimana tak
seorangpun diijinkan mendudukinya), bermain video game, dan menonton rekaman
wayang kulit.

Ghalib mengatakan bahwa Suharto telah memindahkan tujuh yayasan miliknya
dengan aset seharga $ 690 juta ke tangan pemerintah. Beberapa staff Ghalib
menyatakan bahwa walaupun begitu Suharto masih tetap mengontrol
yayasan-yayasan tersebut, dan harga yayasan-yayasan tersebut sebenarnya jauh
lebih mahal.

Reformasi yang masih berlangsung di sektor perbankan tampaknya juga menolong
anggota keluarga Suharto dan *associate-*nya dalam menutupi kewajiban untuk
membayar hutang-hutang mereka. Oktober tahun lalu, Pemerintah merencanakan
untuk menyatukan 4 bank pemerintah - dengan total hutangnya (*performing
loan)* sebesar $ 11,5 milyar. Ke enam anak Suharto dan beberapa perusahaan
yang berafiliasi dengan mereka terdaftar di pemerintah sebagai pemilik
hutang *(bad debts*) sebesar $ 800 juta di ke 4 bank tersebut.

Bila jumlahnya diperinci, diantara mereka, Bambang dan Tommy saja sudah
memiliki hutang sebesar $ 635 juta hanya di satu dari empat bank tersebut,
yaitu Bank Bumi Daya. Seorang staf perbankan malaporkan bahwa
laporan-laporan mengenai *account* mereka sering dipalsukan, termasuk $ 172
juta yang dipinjamkan ke Hashim Djojohadikusuma, kakak ipar Titiek, untuk
membeli saham di salah satu bank lain. Meminjam uang untuk membeli saham
bank lain di Indonesia dianggap ilegal. Ketika hal ini ditanyakan, kantor
Hashim menyatakan bahwa dia tidak dapat diwawancarai karena kesibukannya.
Ketika TIME melaporkan hal ini kepada Habibie, presiden ini baru mulai
meneliti hal tersebut.

Penelitian yang sungguh-sungguh atas harta rampasan Suharto mungkin harus
menunggu pemerintah yang baru. Pemilihan wakil-wakil rakyat yang dijadwalkan
tanggal 7 Juni, yang kemudian akan diikuti dengan pemilihan presiden bulan
November, dapat merubah secara mendasar keseimbangan politik. Dua calon
utama presiden; Amien Rais dan Abdurrahman Wahid mengatakan bahwa mereka
akan mengadili Suharto atau mungkin memberikan pengampunan bila sebelumnya
harta tidak halal keluarga Suharto dikembalikan. Megawati Suukarnoputri,
anak perempuan presiden Sukarno dan juga calon presiden, belum meyatakan
pendapatnya dengan jelas. Beberapa analis berpikir bahwa dia akan melepaskan
Suharto sebagai ucapan terimakasihnya untuk tidak memenjarakan bapaknya.

Walau bagaimanapun ada kemungkinan anak-anak tersebut akan diperlakukan
lebih buruk. Seorang kenalan keluarga Suharto mengatakan bahwa selama
Suharto masih hidup, dia masih mungkin untuk melindungi mereka. Tetapi
setelah dia pergi, mereka harus melarikan diri. Tiga dari mereka memiliki
rumah di Amerika, sehingga jaksa-jaksa penuntut disana dapat mengejar mereka
dengan Undang-Undang yang baru yang lebih keras dalam hal korupsi dan
pencucian uang. Sedangkan Bambang yang mengontrol 2 perusahaan Amerika,
ternyata masih dapat diperiksa dengan peraturan praktek korupsi untuk orang
asing (*Foreign Corrupt Practices Act)*. Pengawas korupsi dari Masyarakat
Transparasi Indonesia; bekas menteri keuangan Mar'ie Muhammad menyatakan
bahwa 79 dari 528 keppres yang dikeluarkan sejak tahun 1993 - Mei 1998
adalah tidak sah. Tetapi Suharto cukup hati-hati. Keppres-keppres tersebut
-- yang umumnya dilakukan pada setiap akhir 5 tahun masa tugasnya, terlebih
dahulu telah di setujui oleh anggota DPR yang sebenarnya tidak banyak
berfungsi dan hanya bisa menyetujui apa saja yang diajukan presiden.
Lagipula, menurut pengacara Suharto, Juan Felix tampubolon, di Indonesia
terdapat aturan mengenai pembatasan dari tindakan semacam itu, "bagi setiap
kejahatan yang dilakukan seseorang, bila ada, sebelum tahun 1981, maka hak
untuk menghukum yang bersangkutan telah habis masa berlakunya sesuai dengan
aturan". Bagi Suharto, maka jumlah $ 9 milyar di sebuah Bank Austria - akan
mencukupi baginya untuk hidup enak di masa pensiunnya.

*DAFTAR KEKAYAAN PUTRA PUTRI SOEHARTO*

*Nama*

*Kekayaan ($)*

*Perusahaan *

Siti Hardiyanti Rukmana "Tutut"

700 juta

Citra Lamtoro Gung Group

Bambang Trihatmojo

3 milyar

Bimantara Citra

Hutomo Mandala Putra "Tommy"

800 juta

Humpuss Group

Sigit Harjoyudanto

800 juta

Humpuss Group

Siti Hutami Endang Adiningsih "Mamiek"

30 juta

Manggala Krida Yudha

Siti Hediati Hariyadi "Titiek"

75 juta

Banyak

*Tutut (50 tahun)*

Anak perempuan tertua Soeharto ini berumur 50 tahun. Bidang usahanya berada
dalam satu group usaha "Citra Lamtoro Gung" dengan lebih dari 90 perusahaan,
dengan beragam jenis usaha mulai dari telekomunikasi sampai infrastruktur.
Termasuk didalamnya jalan tol di Indonesia dan Filipina.

Kekayaan yang lain adalah rumah dengan 12 kamar tidur seharga $ 1 juta
dengan kelengkapan lapangan tenis dan kolam renang air hangat berlokasi
dekat kota Boston. Ada juga rumah di kota London berlokasi dekat dengan
kawasan elit Hyde Park.

Tutut terakhir terlihat di depan publik pada waktu meminta kenaikan tarif
jalan tol kepada DPR.

Gaya hidup: Mempunyai ambisi politik. Pada kabinet terakhir Suharto, dia
terpilih sebagai menteri sosial. Memulai bisnis pada usia 25 tahun, ketika
"paman" Liem Sioe Liong memberinya 14% saham bank BCA (Bank swasta
terbesar). Tutut mengadopsi anak dari Ari Sigit (keponakannya) diluar
perkawinan.. Seorang kawan keluarga yang bepergian ke San Francisco
bercerita dengan antusias : "Dia memberi saya tiket untuk pulang ke Jakarta.
Saya masih ingat bau kulit dari tempat duduknya dan parfum mahal Armani di
kamar mandinya"!

*Bambang Tri (45 tahun)*

Menguasai 38% kepemilikan saham dari Bimantara Citra, salah satu perusahaan
konglomerat terbesar dengan 27 anak perusahaan dan kepemilikan di semua
jenis usaha mulai dari minyak dan gas sampai hotel, telekomunikasi, dan
makanan hewan.

Kekayaan yang lain adalah apartemen seharga $ 8,2 juta, perumahan di Los
Angeles seharga $ 12 juta. Seorang pengunjung bercerita bahwa perumahan
tersebut terdiri dari: dua buah rumah, dua buah kolam renang, lapangan tenis
dan lapangan basket. Desain interior di rumah peristirahatan tersebut sangat
memamerkan kekayaan (mewah), lebih buruk lagi sofanya dilapis dengan kain
ala kulit macan.

Bambang terakhir terlihat di suatu tempat dekat Los Angeles.

Gaya hidup: Ia men-transfer uang kas ke luar negri dan membeli saham-saham
di pasar modal international selama beberapa tahun. Tahun 1997, ia
mengadakan kunjungan ke suatu pulau, Curaao (daerah dibawah kontrol negeri
Belanda) untuk menyimpan uang di suatu cabang bank internasional. Seorang
kawan bercerita, Bambang memperhatikan orang-orang yang memerlukan bantuan,
tetapi sesuatu terjadi dalam perjalanan menuju ke Bank tersebut. "Saya rasa
semua orang disekitarnya menjadi kaya dan dia merasa tertinggal".

*Tommy (36 tahun)*

Memiliki 60% kepemilikan Humpuss Group yang memiliki lebih dari 60 anak
perusahaan dalam industri yang beragam mulai dari konstruksi sampai
perusahaan farmasi.

Kekayaan lain adalah kebun di Selandia Baru, lapangan golf 18 lubang yang
sebagian dia miliki di Ascot, Inggeris. Bermain golf di tempat itu 2 kali
setahun dan bangga sekali dengan handikap 12-nya.

Tommy terakhir terlihat di pengadilan negeri Jakarta, dimana dia adalah
satu-satunya anak Suharto yang diadili.

Gaya hidup: Tommy mengkoleksi mobil balap (suatu kali disponsori oleh
Marlboro). Seperti kakaknya Sigit, Tommy suka berjudi, tidak berpikir
apa-apa walau kalah $1 juta dalam sekali permainan. Seorang teman berjudi
bercerita bahwa Tommy pernah pergi berjudi ke kasino-kasino di Eropa
menggunakan jet pribadinya dengan membawa uang jutaan dolar. Dalam
perjalanan pulang ia mampir di Singapura guna menyimpan (deposit) sisa
uangnya.. Tommy mencintai uang dan selalu menginginkannya melebihi
segalanya. Seorang teman keluarga bercerita bahwa ia mirip ayahnya, dia
sangat sopan dan kalem.

*Sigit (48 tahun)*

Memiliki 40% saham di perusahaan adiknya (Humpuss Group) dan partner tidur
(tanpa setor modal) di ratusan perusahaan.

Kekayaan lainnya adalah 2 buah rumah di London seharga masing-masing $ 12
juta. Selain itu ada juga rumah di dekat Jenewa (Swiss) dan di Los Angeles.

Terakhir terlihat pada saat acara keluarga di daerah Menteng.

Gaya hidup: Sigit adalah penjudi yang serius. Seringkali berjudi rolet dan
bakarat di kasino-kasino favoritnya, yaitu The Ritz London, Atlantic City
dan Perth. Seorang partner bisnis bercerita, ia mengadu untung sebanyak $ 3
juta semalam. Dalam karirnya ia pernah kalah sebanyak $ 150 juta. Setelah
Sigit mengalami kekalahan yang hebat di Las Vegas pada akhir tahun 1980-an
ayahnya melarangnya untuk berjudi di luar negeri. Bandar judi di Jakarta
kemudian mengorganisir judi bakarat melalui TV kabel. Dalam permainan ini,
menurut seorang kawan, Sigit mengalami kekalahan sampai $ 20 juta, "Mereka
hanya menciptakan kekalahan untuk Sigit".

*Mamiek (34 tahun)*

Kepemilikan di perusahaan saudara-saudaranya ditambah dengan usaha di bidang
buah-buahan, transportasi dan telekomunikasi.

Pada tahun 1995, Perusahaan miliknya Manggala Krida Yudha, ditunjuk untuk
melaksanakan proyek bernilai $ 500 juta untuk reklamasi pantai di Jakarta
Utara. Kemudian dia men-subkontrak proyek tersebut kepada perusahaan Hyundai
(Korea) senilai $100 juta. Tapi proyek tersebut di batalkan pemerintah dalam
usaha memberantas korupsi.

Kekayaan lainnya adalah, 264 hektar kebun buah di Jawa Barat.

Terakhir terlihat : di kediamannya.

Gaya hidup: Mamiek adalah seorang yang *low profile*, perokok berat. Terjun
ke dunia bisnis cukup terlambat untuk dapat mengumpulkan banyak uang. Ia
dikenal secara luas sebagai pemilik kebun buah "Mekar Sari" yang berlokasi
di dekat Bogor, dibuat pada tahun 1995 guna mempromosikan riset mengenai
botani.

Seorang kawan bercerita, suatu ketika ia menawarkan bisnis kepada Mamiek
untuk bekerja sama. Seminggu kemudian Mamiek kembali kepada kawannya dan
berkata bahwa ia (Mamiek) tidak bisa mengerjakan bisnis tersebut karena
ayahnya (Soeharto) telah memberikan bisnis tersebut kepada kakaknya Tommy.

*Titiek (40 tahun)*

Kepemilikannya diantaranya pada perusahaan jasa keuangan, pembangkit
listrik, bank dan properti.

Kekayaan lainnya adalah rumah di salah satu kawasan paling elit, Grosvenor
Square.

Terakhir terlihat di Boston, dimana anak lelakinya bersekolah (SMA).
Suaminya Letnan Jendral Prabowo Subianto sekarang berada di Jordan memimpin
bisnis milik Hashim di negara tersebut, di mana Prabowo adalah juga teman
dekat dari Raja Jordan yang baru (King Abdullah).

Gaya hidup: Titiek adalah seorang perokok berat, membenci anjing. Di Jakarta
dia tidur lain kamar dengan suaminya (suaminya ditemani oleh anjing
alsatian-nya). Kesukaan lain dari Titiek adalah mengkoleksi barang-barang
bermerek "Harry Winston", "Bulgari" dan "Cartier". Seseorang yang
menemaninya dalam perjalanan ke Swiss dan Inggeris bercerita bahwa Titiek
adalah seorang yang gemar akan berlian.

Sebagai bekas komisaris dari Yayasan Seni Indonesia (*Indonesian Fine Arts
Foundation*), Titiek memiliki benda seni pribadi senilai lebih dari $ 5
juta. Pada tahun 1994, pada pesta pembukaan restoran dan kafe "Planet
Hollywood", Titiek berkesempatan berdansa semalaman dengan Steven Seagal".

*RAHASIA PENYELIDIK-KEKAYAAN PROFESIONAL*
* *

  Oleh: Stephen Vickers

Bila Indonesia berkeinginan serius untuk mencari jejak kekayaan keluarga
Suharto, inilah cara melakukannya. Kesalahan pertama seorang penyelidik
dalam menyelidiki kasus seperti ini adalah dengan meneliti rekening dan buku
kas dari biaya-biaya nyata. Peraturan utama adalah jangan pernah percaya
pada integritas dari setiap dokumen sampai hal itu dapat diverifikasi secara
independen. Hal ini terutama berlaku bila kita berhubungan dengan kekayaan
seorang pemimpin yang telah sangat lama berkuasa dan sangat kuat., dan yang
mempunyai seluruh aparat pemerintah di belakangnya yang mampu menyembunyikan
tindakan-tindakannya.

Tahap pertama adalah mengembangkan sebuah strategi. Kami bekerjasama dengan
sebuah tim kecil orang-orang pemerintah untuk menentukan prioritas dan
lingkup kerja. Keamanan kerja haruslah sangat ketat. Para penjarah kekayaan
tidak pernah berhenti memindahkan asset-asset mereka, atau merubah-rubah
perusahaan-perusahaannya, tempat domisilinya maupun bank-banknya.

Tahap kedua, para penyelidik mulai mengumpulkan dan menganalisis informasi
yang tersedia. Sebuah tim penyelidik dan ahli forensik rekening meneliti
catatan-catatan bank dan pajak, dan mengidentifikasi berbagai korporasi,
saham-saham, dan perusahaan-perusahaan terdaftar lainnya yang kemudian
dipilah-pilah. Tujuannya adalah menemukan asset-asset nyata yang tidak bisa
ditutup-tutupi, serta mengembangkan dukungan dari berbagai institusi dan
perorangan yang terlibat di dalamnya yang dapat membongkar tabir tersebut.
Perolehan awal terhadap berbagai kekayaan properti dan uang tunai dapat
merupakan titik awal pekerjaan penyelidikan lebih lanjut.

Tahap ketiga adalah mengidentifikasi perorangan-perorangan -- siapa saja
mulai dari para supir, para pengacara, sampai ke mitra bisnis mereka. - yang
secara dekat terlibat dengan sasaran kita, keluarganya, maupun
kroni-kroninya. Mencari dengan terinci tagihan-tahihan telpon, surat-surat
fax, catatan-catatan komputer - hal-hal yang tidak bisa sepenuhnya dihapus
oleh mereka - akan dapat menentukan daftar pokok orang-orang yang mau diajak
bicara. Pejabat-pejabat dari dalam ataupun dari negara-negara lain juga
perlu didekati guna membantu membongkar didapatnya kerahasiaan-bank-bank
lokal yang hanya bisa diperoleh dari hubungan antar pemerintah ke
pemerintah. Dalam kasus penyelidikan Kroll terhadap kekayaan Saddam Huseein,
hasil yang terbesar didapat adalah ketika kami mampu berhubungan dengan
pengacaranya di Swiss, yang ini kemudian merembet ke Perancis, di mana
Saddam mempunyai milyaran dollar dalam bentuk saham di perusahaan media.

Tahap terakhir, adalah memulai serangkaian likuidasi, aksi-aksi sipil dan
diskusi pendukung guna mendorong terbukanya kerahasiaan. Dalam hal ini kita
mngikuti aksioma sederhana: ikuti uangnya, dan segalanya akan kelihatan.
Apabila tindakan kriminal telah dilakukan oleh para akuntan atau para
pengacara atas nama si sasaran, maka dibuatlah laporan resmi yang seterusnya
akan disampaikan ke pihak yang berwenang. Laporan-laporan ini juga
disampaikan ke perkumpulan akuntan dan pengacara. Hal ini akan dapat memaksa
para profesional tersebut untuk bekerjasama.

Dalam kasus keluarga Suharto, penyelidikan dapat berlangsung mulai dari satu
hingga dua tahun. Kami telah merekomendasikan sebuah tim yang terdiri dari
lima penyelidik, lima manajer kasus, 15 sampai 20 akuntan, lima pengacara,
dan tim lapangan internasional yang terdiri dari 100 orang yang dapat
dipanggil kapan saja bila diperlukan. Kami akan menggunakan software analis
intelijen, sebuah kit pembongkar enkripsi, sebuah kit 'computer memory
recovery', dan laboratorium forensik. Meskipun demikian, asset paling pokok
dari pekerjaan ini adalah orang-orang Indonesia sendiri, baik yang berada di
dalam negeri maupun yang tinggal di luar. Bila mereka mencarinya, maka pasti
dapat ditemukan. ***

*Stephen Vickers adalah executive managing director Kroll Associates di
Asia, yang telah menyelidiki berbagai asset Jean-Claude Duvalier dari Haiti,
Ferdinand Marcos dari Filipina, dan presiden-presidan penjarah lainnya.*

*DESPOT-DESPOT KAYA: DIMANA RANGKING SUHARTO DI DALAM SEJARAH?*

*KLEPTOKRAT*
* *

Diktator Filipina Ferdinand Marcos, tersingkir tahun 1986, menjarah sekitar
$ 10 milyar

*EMPEROR*
* *

Haile Selassie, raja dari Ethiopia, tersingkir tahun 1974, menjarah sekitar
$ 2 milyar

*KEKELUARGAAN*
* *

Dengan kekayaannya yang berlimpah, Suharto & Co. masih menguasai sekitar $
15 milyar

*RAKUS*
* *

Mobutu Sese Seko dari Zaire mencoba menjarah $ 5 milyar sebelum kemudian
dijatuhkan tahun 1997

*BABY DOC*
* *

Ketika ia jatuh dari kekuasaannya di tahun 1986, Jean-Claude Duvalier dari
Haiti mengantungi sekitar $ 500 juta. 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
You can search right from your browser? It's easy and it's free.  See how.
http://us.click.yahoo.com/_7bhrC/NGxNAA/yQLSAA/IotolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke