Sunda, “Ulah Jati Kasilih Ku Junti” 
   
  BERBAGAI kenyataan sosial mutakhir menyangkut entitas kultural Sunda (etnis 
terbesar) di Jawa Barat belakangan ini, agaknya memang membuat para inohong 
Sunda mengernyitkan dahi. 
   
RATUSAN warga secara bersama-sama meneriakkan yel-yel kesundaan usai membacakan 
"Ikrar Gempungan Sunda" di Jln. Diponegoro Bandung, Senin (11/9). Para tokoh 
Sunda yang datang dari berbagai daerah, bersatu untuk menyikapi berbagai krisis 
yang menyebabkan keterpurukan di Jawa Barat.*M. GELORA SAPTA/”PR” 
Survei Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat terhadap kecenderungan dan 
karakteristik penduduk di Jawa Barat ("PR" 23/8), misalnya, menunjukkan 
penduduk migran (pendatang) yang bekerja di sektor jasa mencapai 34,38%, 
sedangkan penduduk nonmigran (penduduk asli) hanya 18,00%. 
  Pada sektor industri, pekerja migran sebanyak 22,97%, sedangkan penduduk 
nonmigran hanya 10,20%. Begitu pula di sektor perdagangan, sebanyak 15,92% 
pekerjanya adalah penduduk migran dan 15,68% nonmigran.
  Data itu menguak kenyataan, lapangan pekerjaan di sektor jasa, industri dan 
perdagangan (indag) di Jawa Barat didominasi para penduduk migran (pendatang). 
Sementara, pekerjaan di sektor pertanian, angkutan, dan lainnya lebih banyak 
dilakukan para penduduk asli. 
  Tak hanya dalam lapangan pekerjaan. Bidang politik pun rupanya tak 
serta-merta menggambarkan derajat keterwakilan otomatis terhadap etnis Sunda. 
Meski mayoritas dari sekitar 40 juta rakyat Jabar bersuku Sunda, ternyata 
jumlah anggota DPRD Jabar tidak sampai setengahnya yang benar-benar berasal 
dari etnis Sunda. 
  Pastilah bukan perwujudan etnosentrisme sempit, apalagi fanatisme kesukuan 
membabi buta yang melatari digelarnya kegiatan Gempungan Urang Sunda di depan 
Gedung Sate Bandung, Senin (11/9). Kegiatan yang digagas Forum Urang Sunda itu 
dihadiri para inohong Sunda lintas batas, di antaranya Setia Permana, Acil 
Bimbo, Tjetje Hidayat Padmadinata, Setia Hidayat, Lex Laksamana, Achmad Dradjat 
(Aa Boxer), Memet Surahman, Darso, Aom Kusman, Asep Truna, Sugih Wiramikarta, 
dll. 
  Akan tetapi, bahwa kegiatan yang dihadiri massa dari berbagai organisasi 
berbasis kultur Sunda itu, dilatari lekatnya keprihatinan terpinggirkannya 
etnis Sunda di kampung halaman sendiri, tidak bisa dikesampingkan. Peribahasa 
jati kasilih ku junti, perlahan mulai menemukan ladang persemaiannya. 
  "Tentu saja, data-data kuantitatif maupun kenyataan sosial politik yang ada 
sekarang, tentang gejala termarginalkannya etnis sunda membuat kita prihatin. 
Setidaknya, dari kegiatan semacam ini kita bisa menunjukkan bahwa kita (urang 
Sunda) itu masih ada," kata Setia Permana, tokoh Sunda yang kini menjadi ketua 
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jawa Barat.
  Ia menepis penilaian bahwa gerakan tersebut bakal diarahkan pada 
tujuan-tujuan politik jangka pendek, pemilihan kepala daerah (pilkada) 
misalnya. 
  "Tidak sejauh itu. Ini hanya merupakan gempungan untuk menyatakan bahwa urang 
Sunda harus menunjukkan kontribusi lebih besar dalam ruang sosial saat ini," 
ujarnya.
  Acil Bimbo, budayawan yang juga ketua Bandung Spirit mengatakan, kegiatan 
kultural yang kembali mengusung isu kesundaan, tetap penting dikedepankan. 
  "Setelahkegiatan ini, kita akan terus memperbanyak wacana tentang isu 
kesundaan serta memperluas visi, hingga ke daerah-daerah. Dengan demikian, 
diharapkan kesadaran tentang pentingnya persatuan etnis Sunda akan terus 
menyebar," katanya. 
  **
  TENTU, sekadar mengedepankan romantisme atau sentimen etnik untuk menjawab 
kenyataan termarginalkannya peran sebuah entitas kultural, bukan jawaban bijak 
untuk menjawab persoalan.
  Mantan Sekretaris Daerah Pemprov Jabar yang kini lebih aktif dalam aktivitas 
kesundaan, Setia Hidayat mengakui kecenderungan disharmoni antar-elite Sunda 
masih mencuat hingga saat ini. 
  "Kendala-kendala semacam itu perlu diluruskan, melalui komunikasi yang 
intensif. Salah satu salurannya lewat kegiatan-kegiatan semacam ini."
  Dalam bahasa lebih tegas, politisi senior dan pengamat budaya Sunda, Tjetje 
Hidayat Padmadinata menyatakan, hakikatnya etnis Sunda itu multipilar dan 
multipolar.
  "Banyak tokoh, banyak kelompok. Sudah sejak 1950-an. Kita misalnya mengenal 
para inohong sekaliber Mr. Iwa Koesoemasoemantri, Ema Bratakoesoemah, Ir. 
Djuanda, Sukanda Bratamanggala, dll.," kata politisi tiga zaman tersebut.
  Kegiatan Gempungan Urang Sunda itu, kata Tjetje H. Padmadinata, tetap harus 
dipandang positif. 
  "Meskipun, baru pada tataran romantik kesundaan. Yang paling menyenangkan, 
meski di sana-sini muncul gejala outburst emotion, tapi tidak terjadi gejala 
anarki. Tetap tertib, tidak merusak," kata Tjetje.
  Tentu saja, ia menegaskan, jawaban atas gejala marginalisasi etnis Sunda 
dalam ruang-ruang sosial, bukan sekadar lewat aktivitas romantik dan 
melankolik. 
  "Hal itu mesti dilanjutkan oleh aktivitas yang dinamis serta memunculkan 
program dan platform bersama. Bukan sekadar membesar-besarkan etnosentrisme 
sempit, tanpa disertai introspeksi. Bukan sekadar kumpul-kumpul yang sporadis," 
ujarnya menegaskan.
  Hal itu, menurut Tjetje, juga menyangkut persoalan penting yang juga mesti 
dijawab oleh orang Sunda sendiri, yakni sikap "tidak asal Sunda". 
  "Saya bukan penganut itu. Harapan agar lebih banyak elite Sunda yang 
makalangan di level nasional, mesti disertai persyaratan Sunda yang berkarakter 
dan berkualitas. Sunda yang bersih dan tidak terlibat korupsi. Ini penting agar 
gerakan kesundaan tidak menjadi gerakan yang picik," ujarnya.
  Dalam bahasa "akar rumput", pernyataan Tjetje paralel dengan apa yang juga 
disampaikan Mang Jajang dan Mang Engkus. 
  Pedagang bubur dan tukang becak yang berkesempatan berorasi dalam gempungan 
itu, menyampaikan unek-unek mereka (yang pastilah mewakili unek-unek jutaan 
warga Sunda lainnya).
  "Nu dipiharep ku abdi sadaya, jalmi alit, mugia para inohong anu kenging 
amanah jenten pamingpin, ngaheuyeuk dayeuh, ngolah nagara, sing leres-leres 
ngajalankeun amanahna. Sing emut ka purwadaksina," kata Jajang.
  Ia menambahkan, sering kali para elite hanya manis bicara dan mau menjangkau 
rakyat kecil tatkala mereka butuh suara. 
  "Nanging, saparantosna ku rahayat dipilih, teu nolih-nolih acan. Rahayat mah 
mung saukur janten lumbung sora wungkul." (Erwin Kustiman/Ririn/"PR")***
     
   
  dupina ieu seratan sae kanggo ku urang di lenyepan supados anak incu urang 
tiasa makalangan di lembur nyalira sareng di mancanagara ( Hatur Nuhun )
  

    
      Recent Activity
    
      5
  New Members

Visit Your Group 
  SPONSORED LINKS
      
   Culture change  
   Corporate culture  
   Cell culture  
   Call indonesia  
   Organization culture

      Yahoo! Avatars
  Express Yourself
  Show your style in
  Messenger & more.

    New business?
  Get new customers.
  List your web site
  in Yahoo! Search.

    Y! Messenger
  Instant hello
  Chat in real-time
  with your friends.



  .

 
         

                
---------------------------------
 All-new Yahoo! Mail - Fire up a more powerful email and get things done faster.

[Non-text portions of this message have been removed]






PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke