Ti milista urangsunda, seratan anu lumayan sae kanggo diskusi masalah
penafsiran Al Qur'an nganggo pakakas elmu modern.

baktosna,
manAR

---------- Forwarded message ----------
From: malki_tea <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Nov 13, 2006 2:07 PM
Subject: [Urang Sunda] Celana Seksi dan Jilbab kangge kang yudi
To: [email protected]



assalamualaikum
kang yudi, simkuring malki, punteun neupangkeun heula, kieu asa ka
emut-emut, ku seratan kang yudi nu salah sahijina nyebat-nyebat
habermas sareng foucalt, sigana upami kang yudi rada detil
ngajelaskeunana pasti gumbira simkuring, sabab dua tokoh ieu
aliranna benteun sanes? nu hiji ngangusung modernisme nu hiji deui
maeh-an modernisme. janteun langkung sae, kumaha upami kang yudi ,
ieu mah mimitian weh, ngawangkon-keun kana topik ngiritik modernisme-
scientisisme ku dua tokoh ieu, kumaha tah? upami tos ngadu bako
backgroundna urang lucutan pikiran-pikirannana, sabab dua tokoh ieu
nuju ngetrend dijadikeun pamadeugan kangge nafsirkeun al-qur'an
jeung nu sanesna. tapi teu sawios-sawios upami ku simkuring
dimimitian weh, aya artikel simkuring nu tos diterbitkeun dina
majalah ISLAMIA, vol.1, 2004.

punteun ieu dina footnotena rada benteun, hese ditransferna kana
emeil teh.
wassalam
malki

Hermeneutika kritis
(Studi kritis atas Pemikiran Habermas)

Oleh: Malki Ahmad Nasir

Akhir-akhir ini di negeri kita, hermeneutika sebagai metode
menafsirkan teks sedang digandrungi oleh berbagai elemen para
intelektual. Bagi kelompok yang menyokong dan menyebarluaskan ide
ini beranggapan bahwa merupakan langkah maju kalau gagasan
hermeneutika diaplikasikan dalam, khususnya, Quranic studies.
Sebabnya katanya dengan hermeneutika hal-hal yang berbau kemapanan,
hegemoni, ideologisasi dan standarisasi pemahaman, akan terlihat
sosoknya. Bukan itu saja, teks-teks suci agama pun kalau memainkan
peran dan selalu berkubang pada dominasi tafsir superioritas teks,
perlu dipertanyakan keabsahannya juga. Justru itulah, tulisan ini
akan mempertanyakan apa benar pengertian dan kerja hermeneutika ini
relevan untuk kajian Qur'anic studies? Dan kenapa sebagian
orang "begitu ngotot" untuk mengaplikasikannya pada bidang Qur'anic
studies? Apakah alasan-alasannya yang dikemukakan begitu kokoh?.

Latar Belakang
Dalam sejarah filsafat Barat, sejak zaman Yunani kuno, plot
pertarungan dua pahlawan peradaban: Logos dan Mitos memiliki narasi
yang kurang lebih sama. Biasanya narasi pertarungan ini ditutup
dengan kematian sang antagosnis (yaitu Mitos) dan kemenangan sang
protagonis (yaitu Logos) yang puncaknya ditandai dengan terjadinya
revolusi industri dan janji-janji pencerahan, sebut saja Rasio
manusia, dimana pandangan dan harapan ini bertugas untuk
mengantarkan manusi kepada sebuah kebahagiaan total. Sehingga dapat
dimaklumi bahwa sejarah kemodernan juga sejarah rasionalisasi, dalam
hal ini sang protagonis berwujud dengan memakai baju sains, kemudian
berkembang menjadi saintisme. Namum ternyata, sang protagonis ini
telah gagal mewujudkan misi kemoderenan, yakni janji-janji
pencerahan, malah ia dianggap yang paling bertanggungjawab ataas
terjadinya dua Perang Dunia. Bukan itu saja, Rasio manusia ini
terpleset dan kembali menunjukkan dirinya sebagai "mitos baru".

Banyak sekali, yang menentang dan melakukan perlawanan terhadap
pandangan saintisme ini, mulai dari Teori Tindakannya Weber ,
Fenomenologinya Dilthey dan Hermeneutisnya Gadamer sampai ke Teori
Kritisnya Aliran Frankfurt yang kemudian dimodifikasi belakangan ini
oleh Jurgen Habermas dengan tetap melakukan renewisasi atas
kemampuan Rasio manusia.

Dan tulisan ini akan lebih mengkhususkan pada sosok Habermas yang
dianggap oleh sebagian orang, yang masih yakin akan Rasio dan
modernistas adalah harapan manusia moderen, disamping itu, ia tokoh
paling serius membela "mati-matian" dari serangan kaum post-
structuralism/pasca-mdernisme. Terakhir, ia adalah pelanjut dan
perevisi aliran Frankfrut yang terakhir.

Dengan latar belakang ini, akan semakin jelas teori dan projek apa
yang menjadi concern Habermas, dan yang lebih penting lagi, model
hermeneutisnya seperti apa? Lalu apakah relevan untuk kajian Qur'an?
Dan seterusnya.

Pengertian Hermeuneutika
Kata hermeneutika merupakan derivasi dari bahasa Yunani dari akar
kata herm&#275;neuin, yang berarti menafsirkan. Namun hermeneutika
sebagai seni menafsir mengharuskan tiga komponen, yakni teks,
penafsir dan penyampaian kepada pendengar (baca: pembaca) wujud
bersamaan. Dengan begitu, kerja hermeneutika akan berjalan secara
sempurna. Yang lebih penting lagi, hermeneutika ini berusaha
menjelaskan teks seperti apa yang diinginkan oleh si pembuat teks
tersebut. Ilustrasi ini persis seperti yang diibaratkan oleh figure
Hermes yang bertugas membawakan pesan-pesan Tuhan Zeus kepada
manusia. Karena pesan-pesan tersebut dalam bahasa langit maka
memerlukan seseorang yang bisa menafsirkan dan menerjemahkan ke
dalam bahasa bumi.

Dari sinilah hermeneutika memulai kiprahnya baik sebagai sains atau
seni menafsir yang mengacu pada paradigma diatas. Namun ia tidak
hanya terpaku pada persoalan teks yang diam atau bahasa sebagai
struktur dan makna, tetapi secara perlahan ia mulai mendeskripsikan
penggunaan bahasa atau teks dalam seluruh realitas hidup manusia.
Maka muncullah para philosof yang mendefinisikan cara kerja
hermeneutik ini dengan berbagai penafsiran dan concern. Misalnya
Schleiermacher, baginya hermeneutika adalah untuk memahami
orisinalitas arti dari sebuah teks, bahkan lebih dari itu, arti
hermeneutika baginya adalah untuk memahami sebuah wacana (discourse)
dengan baik kalau perlu lebih baik dari si pembuatnya (to understand
the discourse just well as well as and even better than its
creator) . Lain lagi dengan Ast, buat dia, hermeneutika akan lebih
berkesan jika diarahkan pada research ke hal-hal yang kepurbakalaan,
baik itu berupa teks, artifak atau dokumen, kemudian dicari ruhnya.
Sebab itu, ada tiga framework memahami, secara historical,
gramatical dan spiritual.

Kemudian belum lagi, hermeneutika ala Gadamer yang sangat menekankan
pada aspek kebahasaan (spachlichkeit), muncul Habermas yang
mengkritik arti definitif hermeneutikanya Gadamer, tapi Habermas
lebih mengapresiasi pada aspek luar kebahasan, yaitu hubungan
individu atau masyarakat dengan yang lainnya. Disamping perlunya
mengawinkan aspek teori dan praktical dalam satu wadah. Terakhir
kehadiran Post structuralisme yang mengusung aspek relativitas dalam
metodenya yang cukup menohok, yakni dekonstruksi. Dengan begitu,
hermeneutika yang dulunya sangat sederhana, yang arti definitifnya
hanya menafsir teks, berubah sedemikian rupa, sehingga menjadi
compleks dan rumit. Apalagi kalau ia mulai bersinggungan teks-teks
agama, misalnya teks al-Qur'an, maka perbenturan dan perdebatan
tentang konsep ini mulai dari pengunaan, kemudian pemilihan tokoh-
tokohnya sampai ke sebuah pertanyaan terminologis, yakni apakah
dianggap tepat istilah hermentika itu dengan ilmu tafsir, tentunya
akan menjadi sebuah perdebatan panjang.

Habermas dan Aliran Frankfrut
Untuk mengetahui background pemikiran Habermas, maka ada baiknya
menengok dulu ke belakang tentang kemunculan Madhab Frankfrut dimana
ia diidentikkan sebagai penerus dan pengusung ide-ide Theori Kritis
tersebut. Aliran Frankfrut awalnya adalah sebuah lembaga riset yang
bergerak dan mengkaji berkaitan dengan bidang sosial. Lembaga riset
tersebut didirikan pada tahun 1923 di lingkungan universitas di kota
Frankfrut Jerman oleh sekolompok intelektual, yakni Max Horkheimer
(Philosof dan Sosiolog), Friedrich Pollock (Ekonom), Theodor Adorno
(Philosof dan Sosiolog), Erich Fromm (Psiko-analisa dan psikolog),
Herbert Mercuse (Philosof), Franz Neumann dan Otto Kirchheimer
(Pengamat Politik), Leo Lowenthal (Mahasiswa di bidang Budaya dan
Bahasa), Henryk Grossmann (Political Ekonom), Arkadij Gurland
(Ekonom dan Sosiolog), dan Walter Benjamin (Eseis dan pengkaji
Bahasa).
Namun pada perkembangannya Madhab Frankfrut ini mengalami dua
pengerucutan, tahap pertama adalah hanya pada sosok-sosok berikut
ini, yakni Horkheimer, Adorno, Mercuse, Lowenthal, dan Pullock.
Kemudian tahap kedua adalah merupakan tahap akhir dan yang dimaksud
dengan aliran Frankfrut pun hanya pada orang-orang yang ini saja,
yakni Horkherimer, Mercuse dan Adorno dengan ditambah oleh Habermas.
Juga pada masa merekalah, termasuk yang terakhir Habermas, theori
kritis mencapai puncaknya.

Secara ringkas, gagasan-gagasan madhab Frankfrut ini concern pada
nilai hakikat logos, kemudian beralih pada isu-isu yang dasar sebuah
pengeahuan, menurutnya karena logos merupakan warisan dan cita-cita
enlightenment, maka sosoknya pun perlu dicurigai. Hal ini dimaksud
untuk memberikan perlawanan terhadap kontruk hakikat ilmu yang telah
dikembangkan oleh kaum positivisme (baca: Vienna Circle). Dari hasil
perlawanan ini terjelma bahwa sebenarnya nilai bangunan fondasi
knowledge sebuah ilmu itu mempunyai sisi-sisi, berikut ini historis,
subjectif dan valeu laden. Namun perjuangan generasi pertama ini
masih menyisakan kebuntuan (pesimisme) terkait dengan teori yang
dianutnya, artinya mereka terperangkap seperti kasusnya Weber yang
terjebak pada suasana dan iklim kontruk knowledge positivisme. Sebab
itulah, Habemas meneruskan gagasan Madhab Frankfrut generasi
pertama dengan mengusung teori Kritis dengan tafsir baru, yaitu
teori tindakan komunikasi, lebih dari itu, gagasannya pun maju satu
langkah dalam memahami persoalan yang pernah dihadapi baik generasi
pertama maupun pada masa dirinya.

Habermas dan Hermeneutika Kritis
Dalam karya-karyanya, Habermas tidak pernah membicarakan secara utuh
hermeneutika dalam arti definitif, baik itu sebagai sains untuk
memahami atau sebagai sebuah gagasan tunggal apalagi secara khusus,
seperti tafsir atas sebuah teks Kitab Suci. Namun jika hermeneutika
dipahami sebagai cara memahami (verstehen), maka Habermas mempunyai
gagasan yang sangat unik, yaitu bagaimana cara ia memahami, dan
orang pun tetap menganggap bahwa teori yang dibangunnya merupakan
teori hermeneutika baru, sebab disamping ada keunikannya ada juga
sisi ke-khas-an aliran Frankfrut, yaitu kritis. Sehingga wajar kalau
hermeneutika Habermas dapat disebut sebagai hermeneutika kritis.
Salah satu keunikan dan kekhasan metodenya dibangun atas
fondasi `mengklaim' bahwa setiap bentuk penafsiran dipastikan bentuk
penafsirannya itu ada bias dan unsur-unsur kepentingan politik,
ekonomi, sosial, termasuk bias strata klas, suku dan gender.
Konsekuensinya ia (yakni metode Habermas) harus curiga dan waspada --
-dengan kata lain, ia harus kritis-- atas bentuk tafsir atau
pengetahuan atau bentuk jargon-jargon yang berupa sains dan agama.

Hal ini dapat dimaklumi, bahwa asas teori yang dibangun oleh
Habermas tidak terlepas dari lingkungan akademiknya, yaitu
universitas Frankfrut dan lingkungan komunitasnya, yakni aliran
Frankfrut. Karena itu, habermas tidak dapat melepaskan dari
keterkaitannya pada para pendahulunya, malah ia dianggap pelanjut
proyek generasi pertama madhab Frankfrut yang telah dianggap buntu.
Seperti yang telah disebut diatas, ternyata Habermas dibesarkan
dilingkungan kesarjanaan yang sangat "setia" pada
paradigma "marxis", karenanya sangatlah wajar kalau setiap
pendekatannya dinamai sebagai teori kritis. Ungkapan ini bukan tanpa
dasar sama sekali, tapi seperti yang diututurkan oleh Thomas
McCharthy menunjukkan dugaan tersebut adalah benar, seperti berikut
ini,

His contributions to philosophy and psychology, political science
and sociology, the history of ideas and social theory are
distinguished not only by their scope but by the unity of
perspective that informs them. This unity derives from a vision of
mankind, our history and our prospects, that is rooted in the
tradition of German thought from Kant to marx, a vision that draws
its power as much from the moral-political intention that animates
it as from the systematic from in which it is articulated.

Maka kalau teorinya pun disebut teori kritis, tentunya bukan sesuatu
yang salah kalau model hermeneutikanya dapat disebut juga sebagai
hermeneutika kritis. Dan ciri-ciri knowledgenya pun bersifat
membebaskan, yakni membebaskan dari segala jenis keterasingan,
penyimpangan dan perlakuan dari ketidakprimanusiaan. Bukan itu saja,
ia pun harus membebaskan diri dalam arti dapat mengkritik ke
dalam/diri (to be self-critical), dimaksudkan supaya ia tetap
mandiri.

Dengan demikian respon dan gagasan Habermas yang kemudian dirumuskan
seperti diatas dapat dianggap sebagai upaya melakukan meng-
hermeneutika, atau memahami (verstehen), dan penjelasan ini dapat
menegasikan upaya tafsir lain, bahwa hermeneutika Habermas sangat
jelas tidak mengandung unsur-unsur yang bersifat menjelaskan
(eklarung). Sebab sejak awal Dilthey telah menggiring dan membedakan
antara verstehen dan eklarung, dua term ini sangat bermakna dan
penting baginya, eklarung adalah fokus untuk dapat menjelaskan isus-
isu yang berkaitan dengan dunia IPA, sedangkan verstehen sebaliknya
fokus pada isu-isu yang berhubungan Geisteswissenschften (ilmu-ilmu
kemanusiaan atau IPS).

Dari Teori Kritis ke Teori Tindakan Komunikatif
Setelah aksi `penelanjangan" atas teori Traditional oleh generasi
pertama Madhab Frankfrut yang selalu menempatkan objek pada tempat
dan wilayah yang tak tersentuh (ingat positivisme), sehingga peran
manusia sebagai subject dan penafsir semakin mengecil, padahal dalam
konsepsi Teori Kritis subject merupakan elemen yang sangat penting.
Jadi teori Traditional ini mau melakukan penghilangan atas
keterlibatan subjek dalam interpretasi dan ini adalah sesuatu yang a-
historis. Namun pada saat mencandra semangat modernisme, Generasi
pertama ini mengalami kebuntuan (pesimis). Faktor inilah yang
memunculkan Habermas untuk melakukan perbaikan-perbaikan dan mencari
penyebabnya pesimisme yang dialami generasi pertama itu, sampai
akhirnya ditemukan faktor metamorfosis Logos menjadi Mitos, dan cara
menyelamatkannya adalah denan mengambil nilai-nilai kritis
emansipatoris dalam semangat modernisme.

Adapun cara Habermas melakukan perbaikan-perbaikan tersebut, pertama
adalah Habermas memperlihatkan keambiguaan "Pencerahan Barat"
(enlightenment) yaitu sisi patologis dan sisi penemuan (individuasi)
dan juga pendewasaan kehidupan sosial (sosialisasi) yang universal.
Ambiguitas ini kemudian berpengaruh dalam ilmu-ilmu sosial moderen.
Ternyata yang menjadi penyebabnya adalah paradigma filsafat
kesadaran, dan dianggap oleh Habermas telah menyingkirkan potensi
komunikatif masyarakat.

Kedua, penyebab kebuntuan seniornya itu karena konsep rasio
intrumental, yakni kemampuan akal budi kita untuk mengontrol proses-
proses objektif melalui kerja (arbeit), yang pernah digunakan
oleh Weber sebagai "end rationality" dipahami sebagai Logos sehingga
menyisakan ruang probability Logos (rasio) berubah perawakan ke
bentuk Mitos. Padahal mnurutnya, Logos pun bisa berbentuk "bahasa"
dan komunikasi, maka ia pun dapat menjadi rasio komunikatif, yakni
kemampuan akal budi kta untuk memahami maksud-maksud orang lain
secara timbal balik (komunikation).

Sebab itu, rasionalisasi narasi pergulatan antara Logos dan Mitos
tidak perlu dianggap sebagai sejarah dominasi dan terror, kalau
pencapaian Logos dipahami sebagai diskursus argumentatif, sepanjang
argumen tersebut dapat memberikan pertanggungjawaban atas klaim
kesahihan-kesahihan, diterima secara sukarela, kecuali gangguan yang
baru itu muncul dalam konsensus. Jika konsesus itu berubah wujud
menjadi pseode-komunikasi atau dominasi, maka Logos harus tanpil
sebagai kritik untuk menyingkirkan distorsi-distorsi. Dengan lain
kata, Habermas hendak menampilkan kembali Logos dengan segala
kesadaran dan kemudaannya dalam membasmi Mitos yang beroperasi di
dalam komunikasi sosial.

Lalu kenapa dalam narasi diatas, Mitos begitu menakutkan dan
membahayakan? Malah sejak enlightenment bergulir, salah satu element
yang penting yang harus dileyapkan adalah Mitos, tentu ini akan
dapat dimengerti karena janji-janji enlightenment menjadikan
masyarakat moderen yang berasas masyarakat rasional. Disamping itu
juga, Mitos dianggap selalu menggiring orang ke jurang ideologi,
yang akhirnya ia tidak tesentuh, dan yang terperangkap pasti akan
kehilangan ruh kritis, sehingga ia pun terkesan menjadi kebal
terhadap kritik. Inilah yang menjadi concern Habemas dalam Teori
Tindakan Komunikatif.

Aksi pertama yang dicoba dilakukan oleh Teori Tindakan Komunikatif
adalah mengurai dua distingsi yang menjadi tanda modernitas, yakni
sistem (System) dan dunia-kehidupan (Lebenswelt) . Hal ini yang
tidak dipikirkan oleh Weber dan Generasi Pertama. Jadi Teori
Tindakan Komunikatif bertugas untuk bersifat kritis dan membuka
tabir atau kedok terhadap berbagai pendekatan, jikalau tidak lagi
sensitif terhadap paradok-paradok yang berkembang dimasyarakat,
selain itu, ia juga krtis terhadap pendekatan yang tidak menampilkan
kepekaannya terhadap intersubjektivitas dalam konteks lebenswelt.

Gadamer v.s. Habermas
Menurut Hardiman, kekurangan hermeneutika Dilthey yaitu absennya
dialog dalam penciptaan makna dan belum bebes dari cacat saintisme
dan objektivisme zaman pencerahan . Dan kemunculan Gadamer
merupakan suatu yang signifikan karena ia telah menutupi
kekurangannya dengan memperpaiki term verstehen. Menurut Gadamer,
kunci pemahaman adalah partisipasi dan keterbukaan bukan manipulasi
dan pengendalian. Bagi dia, verstehen (hermeneutika) itu bukanlah
suatu tujuan, sebab itu ia tidak mengenal telos (tujuan). Tapi yang
paling penting adalah bagaiman sejarah dan tradisi itu menjadi
sebuah anyaman terjadinya dialog, dan pengetahuan itu ada kalau
terjadinya dialog that we are. Karenanya bahasa menjadi medium untuk
terjadinya suatu dialog, ini diperjelas oleh Gadamer dengan merujuk
pada klaim Heidegger, "language is the house of Being"
dan "discourse is the extenstial-foundation account of language".

Dari kesimpulan diatas, bahasa pun bukan diartikan dengan makna
definitif yang merujuk pada buku, teks, atau dokumen, lebih dari
itu, kita pun dapat berubah posisinya menjadi bahasa, kalau melihat
logika di atas, dan lebih tegasnya kita juga adalah "teks".

Dengan melihat diatas, hermenerutik gadamer adalah sebuah
hermeneutik ontologis. Artinya sebuah rasio pemahaman yang tidak
dapat diukur oleh ruang waktu dan tempat, karena ini berhubungan
dengan historisitas yang selalu berubah-ubah. Oleh karena itu,
objektif adalah hal yang absurd dan niihilis. Bagi dia tidak ada
kebenaran objektif sebab jika ada ia harus dapat terukur oleh ruang
dan waktu. Apalagi menurutnya rasio pemahaman apapun atas sebuah
riset pasti mengandung prejudice (vorurteile). Sebab itu sebuah
riset tidak pernah sepi dari prasangka. Maka himbauan "making free
with the text" adalah suatu hal yang does not make sense. Jadi
kebenaran adalah merupakan invention dari pada discovery.

Dengan begitu, ia kemudian mendeklarasikan gagasannya tentang the
universality of Hermeneutics, ide inilah yang mengundang Habermas
untuk berdebat dengannya. Namun poin yang paling penting dari
kritikannya habemas, jika Gadamer yakin bahwa salah satu media yang
paling baik dan universal terjadinya dialog adalah dengan bahasa
(sprachlichkeit), seperti dalam ungkapannya, "langguage is the
universal medium in which understanding itself is realized and the
mode or realization of language is interpretation." Sebenarnya
Gadamer lupa, kata Habermas, bahwa bahasa juga, seperti berikut
ini "language is also a medium of domination and social power; it
serves to legitimate relations of organized force...language is also
ideological." Artinya menurut Habermas, bahasa tidak hanya dapat
memunculkan bias dan kepentingan untuk terjadinya distorsi pseudo
komunikasi, tapi juga dominasi dan paksaaan-paksaan, baik tertutup
ataupun terbuka dalam dialog, karenanya hermeneutikanya tidak
menaruh curiga, lebih tegasnya tidak kritis.

Dari persepsi diatas, dapat diketahui perdebatan anatara Habermas
versus hermeneutika ontologis yang Gadamer usung mempunyai banyak
kelemahan, baik itu tidak curiga atau kehilangan kekritisannya dalam
terjadinya ruang komunikasi.

Hermeneutika Kritis (Teori Tndakan Komunikasi) dan Qur'anic Studies
Metode Hermeneutika Kritis Habermas dalam memahami khususnya inter-
subjektif merupakan sumbangan paling besar dalam ilmu-imu sosial,
ini tidak bisa dinafikan. Namun apakah ia juga relevan dan
signifikan, khususnya, terhadap kajian-kajian, khususnya, Al-Qur'an?
Karena itu, sebelum dijawab atas pertanyaan ini, perlu dijelaskan
sejak awal epistemologi dan latar belakang masing-masing, yakni
Habermas dan Islam. Seperti yang telah disebut diatas, bahwa
epistemologi Habermas sangat jelas bahwa yang menjadi sumber
inspirasi dan sumber untuk mengeksplorasi adalah Rasio, sebab
semenjak ditemukannya, janji-janjinya, seperti yang dilukiskan oleh
filsuf Prancis Marquis de Condorcet, dalam karyanya yang sangat
monemental, Sketch for a Historical Picture of the Progress of the
Human Mind of 1794, akan membawa kearah masyarakat rasional dan
kemajuan bukan sekedar pada pertumbuhan fisik, berupa ekonomi dan
material, tapi akan terwujudnya tujuan (telos) sejarah, yakni
kesempurnaan tak terbatas umat manusia yang juga bersifat etis.
Dengan demikian, Rasio ini akan menghancurkan ketimpangan-
ketimpangan kultural, politis dan ekonomis diantara bangsa,
menyempurnakan kemampuan manusia, mewujudkan kebahagiaan pribadi dan
kesejahteraan umum, menyingkirkan diskriminasi seksual dan rasional,
dan menghapus perang di muka bumi.

Namun epistemologi dalam Islam jelas sekali sangat berbeda. Dalam
Islam sumber inspirasi dan ilmu pengetahuan juga alat eksplorasi
tidak hanya bertumpu pada Rasio, dalam arti semua tertumpu pada
usaha manusia, sebab bagaimanapun juga ada keterbatasan, banyak
fakta sebuah kejadian atau pengetahuan yang tidak bisa masuk akal
(scintifik). misalnya adalah khabar cerita Nabi Nuh a.s. membuat
kapal yang sampai hari ini wujud kapalnya belum ditemukan, tidak
terbakarnya Nabi Ibrahim a.s., cerita Nabi Musa a.s. yang membelah
laut, termasuk isra dan mi'raj Nabi Muhammad saw. dan banyak lagi.
Dan perlu diingat bahwa khabar tentang cerita-cerita seperti ini
disebut dalam Islam sebagai khabar s�dik (artinya benar dan tidak
dapat diragukan lagi). Lalu bagaimana menjelaskannya secara Rasio?
Dan apakah ada implikasinya kalau tidak dapat dijelaskan secara
scientifik dalam komunikasi dengan masyarakat? Kemudian bagaimana
aplikasi Hermeneutika kritis yang bertujuan dan bertugas membangun
suatu hubungan timbal balik kalau tokh metode tersebut tidak
relevan? Itu sebabnya, dalam Islam peran wahy (revelation) pun
menempati posisi penting, artinya tidak hanya Rasio an sich yang
menjadi sumber inspirasi tapi unsur given, yakni wahy pun merupakan
sumber dan penjelas juga. Disinilah letak perbedaan epistemologi
Hermeneutika Kritis dan Islam. Dengan kejelasan seperti ini, maka
Hermeneutika kritis, dispuse, atau ontologis yang sekarang ini
sedang digandrungi dicoba diaplikasikan merupakan pemaksaan, apalagi
khususnya dalam kajian Al-Qur'an.

Walapun dengan tujuan untuk melihat dan memahami "maksud-
maksud", "jargon", atau "ungkapan-ungkapan demi sesuatu,"
konseptualisasi kebenaran, entah dalam wujud budaya, sains, ataupun
agama, dalam rangka melakukan manipulatif sebuah ajaran agama. Atau
agar dapat mempermudah menampilkan maksud-maksud yang tesembunyi
secara timbal balik, sehingga maksud-maksud yag tersembunyi itu bisa
dikomunikasikan dengan baik tanpa adanya dominasi dan refresif
apapun.

Namun hal tersebut sangat ambigu, sebab yang tertampak adalah
pemaksaan aplikasi seperti dalam kasus Al-Qur'an yang dicoba
didudukan bukan sebagai kitab suci tapi sebuah layaknya kitab-kitab
atau buku-buku yang lain yang bisa diposisikan seenaknya saja. Hal
ini sangat disayangkan karena kecenderungan untuk mendudukan al-
Qur'an bukan sebagai "benda suci", yang anti kritik, dan seterusnya
terus meluas dan menjadi trend. Seperti akhir-akhir ini beberapa
buku yang beredar di negri kita, mulai menggugat kedudukan Al-
Qur'an, salah satunya buku Hermeneutika Transedental: Dari
Konfigurasi Filosofis menuju Praksis Islamic Studies, terbitan
IRCISoD (Yogyakarta: 2003). Dalam buku tersebut, salah satu
penulisnya, hal. 204-205, mengatakan

"...kiranya tidak ada salahnya jika digulirkan gerakan re-orientasi
penafsiran al-Qur'an dari yang yang berwacana superioritas menuju
Qur'an yang komunikatif. Artinya, pandangan tentang al-Qur'an yang
mau mengakomodir pandangan-pandangan yang bernuansa kemanusiaan.
Sehingga manusia "ada" ketika berhadapan dengan Al-Qur'an. Jika
selama ini penafsiran tentang al-qur'an sudah menempatkan al-Qur'an
sdebagai "benda suci" yang tak bisa salah, maka saat ini diperlukan
sebuah paradigma yang tak bisa melepaskan al-Qur'an sebagai produk
budaya manusia dalam menangkap keber"ada"an Tuhan. Inilah yang
disebut dengan Qur'an komunikatif, dimana manusia diberi ruang
kebebasan dalam menafsirkannya, telepas dari adiprasangka al-Qur'an
yang terlanjur sudah dianggap Maha Suci bahkan anti kritik. Sekali
lagi, kebenaran al-Qur'an adalah kebenaran menurut ukuran manusia.
Al-Qur'an tidak bisa menunjukkan kebenarannya tanpa mengikutsertakan
pandangan kebenaran dari manusia. Jadi kebenaran al-Qur'an adalah
kebenaran yang bersifat manusiawi. Sudah sewajarnya jika manusia
diberi ruang dalam menginterpretasikan al-Qur'an...Namun jika al-
Qur'an hanya kita pandang secara absolut, maka tidak ada nilai guna
yang kreatif bagi perkembangan manusia..."

Pernyataan diatas adalah usaha untuk mengaplikasikan Hermeneutika
Kritis atau ala Habermas sepatutnya dipertanyakan. Dan dari contoh
ini, kita semakin yakin atas asumsi bahwa hakikat ilmu seperti sosok
Hermeneutika itu ---sebagai produk ilmu--- tidak bebas nilai.
Artinya ia membawa nilai pembuatnya, dan seperti telah dijelaskan
diatas bahwa epistemologi ilmu hermeneutika ini adalah ternyata
sekuler, dekonstruktif, menolak peran selain Rasio dan seterusnya.
Sehingga catutan diatas terkesan bukan mengangkat Al-Qur'an pada
posisi sebagai kitab suci yang seharusnya diamini dan diimani, malah
terkesan usaha (atau pemaksaan) aplikasi Hermeneutika, justru
mendekontruksi posisi al-Qur'an. Wajar kalau kemudian, karena
hermeneutika itu mengajarkan untuk selalu waspada dan curiga
termasuk pada usaha-usaha maksud baik, maka akhirnya melahirkan
masyarakat yang secara timbal balik seharusnya terjadi komunikatif,
sebab disitu ada sumber rujukan bersama, tetapi sebaliknya malah
melahirkan sebuah masyarakat yang inferiority complek, nihilisme,
relativisme, obskurantisme, terror, dst, sebab sumber rujukan
tersebut dimatikan.

Dengan demikian, sebenarnya Islam menyokong dan mngusung riset,
dalam arti membangun sebuah masyarakat intelektual, namun bukan
harus menjadi seorang intellektual angkuh. Dalam arti, setiap
pernyataan yang dibuat idealnya dapat memberikan kenyamanan terhadap
orang disekitarnya, kalau perlu ada usaha konkrit mewujudkannya ke
masyarakat.

Kp. Segambut.
09-10-3-2004

F. Budi Hardiman, "Ilmu-ilmu Sosial dalam Diskursus Modernisme dan
Pasca-Modernisme," Jurnal Ulumul Quran, suplemen, Vol. 5, 1994. h.
1.

Yang dimaksud dengan Teori Tindakan Weber ini adalah memaknai
sebuah makna tindakan yang pemaknaannya mengandung unsur subjektif
atau kesadaran, arti definitif ini sekaligus juga membedakan dari
jenis tindakan prilaku (human behavior) yang hanya berdimensi
naluriah. Untuk lebih lanjutnya, lihat Jurgen Habermas, Theory of
Communicative Action, Vol. I, alih bahasa Thomas McCarthy, (Boston:
Beacon Press, 1984), h. 279-280.
Mircea Eliade, The Encyclopedia of Religion. Vol. 5. (New York:
Macmillan, 1993), h. 279.
Friedrich D.E. Schleiermarcher, "The Hermeneutics: Outline of the
1819 Lectures." Dalam buku Gayle L. Ormiston dan Alan D. Schrift,
Hermeneutic Tradition: From Ast to Ricoeur. (New Youk: SUNNY,1990),
h. 93.
Friedrich Ast, "Hermeneutics." Dalam buku Gayle L. Ormiston dan
Alan D. Schrift, Hermeneutic Tradition: From Ast to Ricoeur. (New
Youk: SUNNY, 1990), h. 43.
Davis Held, Introduction to Critical Theory: Horkheimer to
Habermas, (Cambridge: Polity Press, 1980), hal. 14-15.
Ibid.
Untuk lebih jelas penjelasannya lihat buku, Davis Held,
Introduction to Critical Theory, hal. 160-174.
Walaupun begitu, ia secara khsus menggunakan istilah ini dengan
istilah depth hermeneutics. Istilah ini diambil dari Freud,
digunakan untuk melakukan perlawanan dan mengimbangi terhadap
hermeneutika Gadamer yang terlalu philosofis. Depth hermeneutics ini
mengklarifikasi salah ucap (lapsus Linguae) dan penipuan-penipuan
yang biasa terjadi dalam bahasa. Ia pun memaksimumkan ekspresi
perasaan yang mendalam yang tidak pernah terungkapkan dalam ungkapan
bahasa. Untuk lebih detailnya lihat, Alan How, The Habermas-Gadamer
Debate and the Nature of the Sosial, (Aldershot: Avebury, 1995) hal.
189-198. Lihat juga, Kaelan, M.S. Filsafat Bahasa, (Yogyakarta:
Paradigma, 1998), hal. 228.
Dikutip dari Richard J. Bernstein, "What is the Difference that
makes a Difference? Gadamer, Habermas and Rorty", dalam buku Brice
R. Wachterhauser, Hermeneutics and Modern Philosophy, (New York:
SUNNY, 1986), h. 357.
F. Budi Hardiman, "Ilmu-ilmu Sosial", hal. 8. Lihat juga, Micheal
Payne, A Dictionary of Cultural and Critical Theory, (Cambridge:
Blackwell, 1996), hal. 232-233.
Ibid.
lihat penjelasanya lebih detil, Herbert Schnadelbach, "The
Transformation of Critical Theory", dalam buku Alex Honneth and Hans
Joas, Communacative Action, Cambridge: Polity Press, 1991), hal. 16-
19.
F. Budi Hardiman, "Ilmu-ilmu Sosial", hal. 6.
Ibid. hal. 7
Gayle L. Ormiston dan Alan D. Schrift, Hermeneutic Tradition: From
Ast to Ricoeur. (New Youk: SUNNY, 1990), hal. 18.
Jurgen Habermas, "A review of Gadamer's Truth and Method," hal.
239. Dalam buku Gayle L. Ormiston dan Alan D. Schrift, Hermeneutic
Tradition: From Ast to Ricoeur. (New Youk: SUNNY, 1990), hal. 18.
F. Budi Hardiman, "Ilmu-ilmu Sosial", hal. 4.
Namun Habermas mengkritik "manifesto janji-janji pencerahan"
Condorcet yang menggiring ke arah masyarakat rasional yang matematis
(saintis), seperti yang dikemukakannya berikut ini, "Condorcet does
not, as Kant does, attempt to elucidate the foundations of the
rationality of science; he is interested in what Weber will call
the "cultural significance" of science, that is, in the question of
what effects the methodically secured growth of theoretical
knowledge has on the development of the human mind and of the
cultural context of life as a whole. Condorcet wants to conceive the
history of mankind on the model of the history of modern science,
that is, as a process of rationalization." Untuk lebih detailnya,
lihat Jurgen Habermas, Theory of Communicative Action, Vol. I, alih
bahasa Thomas McCarthy, (Boston: Beacon Press, 1984), h. 145-151.




[Non-text portions of this message have been removed]



PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke