Ti milista urangsunda, seratan anu lumayan sae kanggo diskusi masalah penafsiran Al Qur'an nganggo pakakas elmu modern.
baktosna, manAR ---------- Forwarded message ---------- From: malki_tea <[EMAIL PROTECTED]> Date: Nov 13, 2006 2:07 PM Subject: [Urang Sunda] Celana Seksi dan Jilbab kangge kang yudi To: [email protected] assalamualaikum kang yudi, simkuring malki, punteun neupangkeun heula, kieu asa ka emut-emut, ku seratan kang yudi nu salah sahijina nyebat-nyebat habermas sareng foucalt, sigana upami kang yudi rada detil ngajelaskeunana pasti gumbira simkuring, sabab dua tokoh ieu aliranna benteun sanes? nu hiji ngangusung modernisme nu hiji deui maeh-an modernisme. janteun langkung sae, kumaha upami kang yudi , ieu mah mimitian weh, ngawangkon-keun kana topik ngiritik modernisme- scientisisme ku dua tokoh ieu, kumaha tah? upami tos ngadu bako backgroundna urang lucutan pikiran-pikirannana, sabab dua tokoh ieu nuju ngetrend dijadikeun pamadeugan kangge nafsirkeun al-qur'an jeung nu sanesna. tapi teu sawios-sawios upami ku simkuring dimimitian weh, aya artikel simkuring nu tos diterbitkeun dina majalah ISLAMIA, vol.1, 2004. punteun ieu dina footnotena rada benteun, hese ditransferna kana emeil teh. wassalam malki Hermeneutika kritis (Studi kritis atas Pemikiran Habermas) Oleh: Malki Ahmad Nasir Akhir-akhir ini di negeri kita, hermeneutika sebagai metode menafsirkan teks sedang digandrungi oleh berbagai elemen para intelektual. Bagi kelompok yang menyokong dan menyebarluaskan ide ini beranggapan bahwa merupakan langkah maju kalau gagasan hermeneutika diaplikasikan dalam, khususnya, Quranic studies. Sebabnya katanya dengan hermeneutika hal-hal yang berbau kemapanan, hegemoni, ideologisasi dan standarisasi pemahaman, akan terlihat sosoknya. Bukan itu saja, teks-teks suci agama pun kalau memainkan peran dan selalu berkubang pada dominasi tafsir superioritas teks, perlu dipertanyakan keabsahannya juga. Justru itulah, tulisan ini akan mempertanyakan apa benar pengertian dan kerja hermeneutika ini relevan untuk kajian Qur'anic studies? Dan kenapa sebagian orang "begitu ngotot" untuk mengaplikasikannya pada bidang Qur'anic studies? Apakah alasan-alasannya yang dikemukakan begitu kokoh?. Latar Belakang Dalam sejarah filsafat Barat, sejak zaman Yunani kuno, plot pertarungan dua pahlawan peradaban: Logos dan Mitos memiliki narasi yang kurang lebih sama. Biasanya narasi pertarungan ini ditutup dengan kematian sang antagosnis (yaitu Mitos) dan kemenangan sang protagonis (yaitu Logos) yang puncaknya ditandai dengan terjadinya revolusi industri dan janji-janji pencerahan, sebut saja Rasio manusia, dimana pandangan dan harapan ini bertugas untuk mengantarkan manusi kepada sebuah kebahagiaan total. Sehingga dapat dimaklumi bahwa sejarah kemodernan juga sejarah rasionalisasi, dalam hal ini sang protagonis berwujud dengan memakai baju sains, kemudian berkembang menjadi saintisme. Namum ternyata, sang protagonis ini telah gagal mewujudkan misi kemoderenan, yakni janji-janji pencerahan, malah ia dianggap yang paling bertanggungjawab ataas terjadinya dua Perang Dunia. Bukan itu saja, Rasio manusia ini terpleset dan kembali menunjukkan dirinya sebagai "mitos baru". Banyak sekali, yang menentang dan melakukan perlawanan terhadap pandangan saintisme ini, mulai dari Teori Tindakannya Weber , Fenomenologinya Dilthey dan Hermeneutisnya Gadamer sampai ke Teori Kritisnya Aliran Frankfurt yang kemudian dimodifikasi belakangan ini oleh Jurgen Habermas dengan tetap melakukan renewisasi atas kemampuan Rasio manusia. Dan tulisan ini akan lebih mengkhususkan pada sosok Habermas yang dianggap oleh sebagian orang, yang masih yakin akan Rasio dan modernistas adalah harapan manusia moderen, disamping itu, ia tokoh paling serius membela "mati-matian" dari serangan kaum post- structuralism/pasca-mdernisme. Terakhir, ia adalah pelanjut dan perevisi aliran Frankfrut yang terakhir. Dengan latar belakang ini, akan semakin jelas teori dan projek apa yang menjadi concern Habermas, dan yang lebih penting lagi, model hermeneutisnya seperti apa? Lalu apakah relevan untuk kajian Qur'an? Dan seterusnya. Pengertian Hermeuneutika Kata hermeneutika merupakan derivasi dari bahasa Yunani dari akar kata hermēneuin, yang berarti menafsirkan. Namun hermeneutika sebagai seni menafsir mengharuskan tiga komponen, yakni teks, penafsir dan penyampaian kepada pendengar (baca: pembaca) wujud bersamaan. Dengan begitu, kerja hermeneutika akan berjalan secara sempurna. Yang lebih penting lagi, hermeneutika ini berusaha menjelaskan teks seperti apa yang diinginkan oleh si pembuat teks tersebut. Ilustrasi ini persis seperti yang diibaratkan oleh figure Hermes yang bertugas membawakan pesan-pesan Tuhan Zeus kepada manusia. Karena pesan-pesan tersebut dalam bahasa langit maka memerlukan seseorang yang bisa menafsirkan dan menerjemahkan ke dalam bahasa bumi. Dari sinilah hermeneutika memulai kiprahnya baik sebagai sains atau seni menafsir yang mengacu pada paradigma diatas. Namun ia tidak hanya terpaku pada persoalan teks yang diam atau bahasa sebagai struktur dan makna, tetapi secara perlahan ia mulai mendeskripsikan penggunaan bahasa atau teks dalam seluruh realitas hidup manusia. Maka muncullah para philosof yang mendefinisikan cara kerja hermeneutik ini dengan berbagai penafsiran dan concern. Misalnya Schleiermacher, baginya hermeneutika adalah untuk memahami orisinalitas arti dari sebuah teks, bahkan lebih dari itu, arti hermeneutika baginya adalah untuk memahami sebuah wacana (discourse) dengan baik kalau perlu lebih baik dari si pembuatnya (to understand the discourse just well as well as and even better than its creator) . Lain lagi dengan Ast, buat dia, hermeneutika akan lebih berkesan jika diarahkan pada research ke hal-hal yang kepurbakalaan, baik itu berupa teks, artifak atau dokumen, kemudian dicari ruhnya. Sebab itu, ada tiga framework memahami, secara historical, gramatical dan spiritual. Kemudian belum lagi, hermeneutika ala Gadamer yang sangat menekankan pada aspek kebahasaan (spachlichkeit), muncul Habermas yang mengkritik arti definitif hermeneutikanya Gadamer, tapi Habermas lebih mengapresiasi pada aspek luar kebahasan, yaitu hubungan individu atau masyarakat dengan yang lainnya. Disamping perlunya mengawinkan aspek teori dan praktical dalam satu wadah. Terakhir kehadiran Post structuralisme yang mengusung aspek relativitas dalam metodenya yang cukup menohok, yakni dekonstruksi. Dengan begitu, hermeneutika yang dulunya sangat sederhana, yang arti definitifnya hanya menafsir teks, berubah sedemikian rupa, sehingga menjadi compleks dan rumit. Apalagi kalau ia mulai bersinggungan teks-teks agama, misalnya teks al-Qur'an, maka perbenturan dan perdebatan tentang konsep ini mulai dari pengunaan, kemudian pemilihan tokoh- tokohnya sampai ke sebuah pertanyaan terminologis, yakni apakah dianggap tepat istilah hermentika itu dengan ilmu tafsir, tentunya akan menjadi sebuah perdebatan panjang. Habermas dan Aliran Frankfrut Untuk mengetahui background pemikiran Habermas, maka ada baiknya menengok dulu ke belakang tentang kemunculan Madhab Frankfrut dimana ia diidentikkan sebagai penerus dan pengusung ide-ide Theori Kritis tersebut. Aliran Frankfrut awalnya adalah sebuah lembaga riset yang bergerak dan mengkaji berkaitan dengan bidang sosial. Lembaga riset tersebut didirikan pada tahun 1923 di lingkungan universitas di kota Frankfrut Jerman oleh sekolompok intelektual, yakni Max Horkheimer (Philosof dan Sosiolog), Friedrich Pollock (Ekonom), Theodor Adorno (Philosof dan Sosiolog), Erich Fromm (Psiko-analisa dan psikolog), Herbert Mercuse (Philosof), Franz Neumann dan Otto Kirchheimer (Pengamat Politik), Leo Lowenthal (Mahasiswa di bidang Budaya dan Bahasa), Henryk Grossmann (Political Ekonom), Arkadij Gurland (Ekonom dan Sosiolog), dan Walter Benjamin (Eseis dan pengkaji Bahasa). Namun pada perkembangannya Madhab Frankfrut ini mengalami dua pengerucutan, tahap pertama adalah hanya pada sosok-sosok berikut ini, yakni Horkheimer, Adorno, Mercuse, Lowenthal, dan Pullock. Kemudian tahap kedua adalah merupakan tahap akhir dan yang dimaksud dengan aliran Frankfrut pun hanya pada orang-orang yang ini saja, yakni Horkherimer, Mercuse dan Adorno dengan ditambah oleh Habermas. Juga pada masa merekalah, termasuk yang terakhir Habermas, theori kritis mencapai puncaknya. Secara ringkas, gagasan-gagasan madhab Frankfrut ini concern pada nilai hakikat logos, kemudian beralih pada isu-isu yang dasar sebuah pengeahuan, menurutnya karena logos merupakan warisan dan cita-cita enlightenment, maka sosoknya pun perlu dicurigai. Hal ini dimaksud untuk memberikan perlawanan terhadap kontruk hakikat ilmu yang telah dikembangkan oleh kaum positivisme (baca: Vienna Circle). Dari hasil perlawanan ini terjelma bahwa sebenarnya nilai bangunan fondasi knowledge sebuah ilmu itu mempunyai sisi-sisi, berikut ini historis, subjectif dan valeu laden. Namun perjuangan generasi pertama ini masih menyisakan kebuntuan (pesimisme) terkait dengan teori yang dianutnya, artinya mereka terperangkap seperti kasusnya Weber yang terjebak pada suasana dan iklim kontruk knowledge positivisme. Sebab itulah, Habemas meneruskan gagasan Madhab Frankfrut generasi pertama dengan mengusung teori Kritis dengan tafsir baru, yaitu teori tindakan komunikasi, lebih dari itu, gagasannya pun maju satu langkah dalam memahami persoalan yang pernah dihadapi baik generasi pertama maupun pada masa dirinya. Habermas dan Hermeneutika Kritis Dalam karya-karyanya, Habermas tidak pernah membicarakan secara utuh hermeneutika dalam arti definitif, baik itu sebagai sains untuk memahami atau sebagai sebuah gagasan tunggal apalagi secara khusus, seperti tafsir atas sebuah teks Kitab Suci. Namun jika hermeneutika dipahami sebagai cara memahami (verstehen), maka Habermas mempunyai gagasan yang sangat unik, yaitu bagaimana cara ia memahami, dan orang pun tetap menganggap bahwa teori yang dibangunnya merupakan teori hermeneutika baru, sebab disamping ada keunikannya ada juga sisi ke-khas-an aliran Frankfrut, yaitu kritis. Sehingga wajar kalau hermeneutika Habermas dapat disebut sebagai hermeneutika kritis. Salah satu keunikan dan kekhasan metodenya dibangun atas fondasi `mengklaim' bahwa setiap bentuk penafsiran dipastikan bentuk penafsirannya itu ada bias dan unsur-unsur kepentingan politik, ekonomi, sosial, termasuk bias strata klas, suku dan gender. Konsekuensinya ia (yakni metode Habermas) harus curiga dan waspada -- -dengan kata lain, ia harus kritis-- atas bentuk tafsir atau pengetahuan atau bentuk jargon-jargon yang berupa sains dan agama. Hal ini dapat dimaklumi, bahwa asas teori yang dibangun oleh Habermas tidak terlepas dari lingkungan akademiknya, yaitu universitas Frankfrut dan lingkungan komunitasnya, yakni aliran Frankfrut. Karena itu, habermas tidak dapat melepaskan dari keterkaitannya pada para pendahulunya, malah ia dianggap pelanjut proyek generasi pertama madhab Frankfrut yang telah dianggap buntu. Seperti yang telah disebut diatas, ternyata Habermas dibesarkan dilingkungan kesarjanaan yang sangat "setia" pada paradigma "marxis", karenanya sangatlah wajar kalau setiap pendekatannya dinamai sebagai teori kritis. Ungkapan ini bukan tanpa dasar sama sekali, tapi seperti yang diututurkan oleh Thomas McCharthy menunjukkan dugaan tersebut adalah benar, seperti berikut ini, His contributions to philosophy and psychology, political science and sociology, the history of ideas and social theory are distinguished not only by their scope but by the unity of perspective that informs them. This unity derives from a vision of mankind, our history and our prospects, that is rooted in the tradition of German thought from Kant to marx, a vision that draws its power as much from the moral-political intention that animates it as from the systematic from in which it is articulated. Maka kalau teorinya pun disebut teori kritis, tentunya bukan sesuatu yang salah kalau model hermeneutikanya dapat disebut juga sebagai hermeneutika kritis. Dan ciri-ciri knowledgenya pun bersifat membebaskan, yakni membebaskan dari segala jenis keterasingan, penyimpangan dan perlakuan dari ketidakprimanusiaan. Bukan itu saja, ia pun harus membebaskan diri dalam arti dapat mengkritik ke dalam/diri (to be self-critical), dimaksudkan supaya ia tetap mandiri. Dengan demikian respon dan gagasan Habermas yang kemudian dirumuskan seperti diatas dapat dianggap sebagai upaya melakukan meng- hermeneutika, atau memahami (verstehen), dan penjelasan ini dapat menegasikan upaya tafsir lain, bahwa hermeneutika Habermas sangat jelas tidak mengandung unsur-unsur yang bersifat menjelaskan (eklarung). Sebab sejak awal Dilthey telah menggiring dan membedakan antara verstehen dan eklarung, dua term ini sangat bermakna dan penting baginya, eklarung adalah fokus untuk dapat menjelaskan isus- isu yang berkaitan dengan dunia IPA, sedangkan verstehen sebaliknya fokus pada isu-isu yang berhubungan Geisteswissenschften (ilmu-ilmu kemanusiaan atau IPS). Dari Teori Kritis ke Teori Tindakan Komunikatif Setelah aksi `penelanjangan" atas teori Traditional oleh generasi pertama Madhab Frankfrut yang selalu menempatkan objek pada tempat dan wilayah yang tak tersentuh (ingat positivisme), sehingga peran manusia sebagai subject dan penafsir semakin mengecil, padahal dalam konsepsi Teori Kritis subject merupakan elemen yang sangat penting. Jadi teori Traditional ini mau melakukan penghilangan atas keterlibatan subjek dalam interpretasi dan ini adalah sesuatu yang a- historis. Namun pada saat mencandra semangat modernisme, Generasi pertama ini mengalami kebuntuan (pesimis). Faktor inilah yang memunculkan Habermas untuk melakukan perbaikan-perbaikan dan mencari penyebabnya pesimisme yang dialami generasi pertama itu, sampai akhirnya ditemukan faktor metamorfosis Logos menjadi Mitos, dan cara menyelamatkannya adalah denan mengambil nilai-nilai kritis emansipatoris dalam semangat modernisme. Adapun cara Habermas melakukan perbaikan-perbaikan tersebut, pertama adalah Habermas memperlihatkan keambiguaan "Pencerahan Barat" (enlightenment) yaitu sisi patologis dan sisi penemuan (individuasi) dan juga pendewasaan kehidupan sosial (sosialisasi) yang universal. Ambiguitas ini kemudian berpengaruh dalam ilmu-ilmu sosial moderen. Ternyata yang menjadi penyebabnya adalah paradigma filsafat kesadaran, dan dianggap oleh Habermas telah menyingkirkan potensi komunikatif masyarakat. Kedua, penyebab kebuntuan seniornya itu karena konsep rasio intrumental, yakni kemampuan akal budi kita untuk mengontrol proses- proses objektif melalui kerja (arbeit), yang pernah digunakan oleh Weber sebagai "end rationality" dipahami sebagai Logos sehingga menyisakan ruang probability Logos (rasio) berubah perawakan ke bentuk Mitos. Padahal mnurutnya, Logos pun bisa berbentuk "bahasa" dan komunikasi, maka ia pun dapat menjadi rasio komunikatif, yakni kemampuan akal budi kta untuk memahami maksud-maksud orang lain secara timbal balik (komunikation). Sebab itu, rasionalisasi narasi pergulatan antara Logos dan Mitos tidak perlu dianggap sebagai sejarah dominasi dan terror, kalau pencapaian Logos dipahami sebagai diskursus argumentatif, sepanjang argumen tersebut dapat memberikan pertanggungjawaban atas klaim kesahihan-kesahihan, diterima secara sukarela, kecuali gangguan yang baru itu muncul dalam konsensus. Jika konsesus itu berubah wujud menjadi pseode-komunikasi atau dominasi, maka Logos harus tanpil sebagai kritik untuk menyingkirkan distorsi-distorsi. Dengan lain kata, Habermas hendak menampilkan kembali Logos dengan segala kesadaran dan kemudaannya dalam membasmi Mitos yang beroperasi di dalam komunikasi sosial. Lalu kenapa dalam narasi diatas, Mitos begitu menakutkan dan membahayakan? Malah sejak enlightenment bergulir, salah satu element yang penting yang harus dileyapkan adalah Mitos, tentu ini akan dapat dimengerti karena janji-janji enlightenment menjadikan masyarakat moderen yang berasas masyarakat rasional. Disamping itu juga, Mitos dianggap selalu menggiring orang ke jurang ideologi, yang akhirnya ia tidak tesentuh, dan yang terperangkap pasti akan kehilangan ruh kritis, sehingga ia pun terkesan menjadi kebal terhadap kritik. Inilah yang menjadi concern Habemas dalam Teori Tindakan Komunikatif. Aksi pertama yang dicoba dilakukan oleh Teori Tindakan Komunikatif adalah mengurai dua distingsi yang menjadi tanda modernitas, yakni sistem (System) dan dunia-kehidupan (Lebenswelt) . Hal ini yang tidak dipikirkan oleh Weber dan Generasi Pertama. Jadi Teori Tindakan Komunikatif bertugas untuk bersifat kritis dan membuka tabir atau kedok terhadap berbagai pendekatan, jikalau tidak lagi sensitif terhadap paradok-paradok yang berkembang dimasyarakat, selain itu, ia juga krtis terhadap pendekatan yang tidak menampilkan kepekaannya terhadap intersubjektivitas dalam konteks lebenswelt. Gadamer v.s. Habermas Menurut Hardiman, kekurangan hermeneutika Dilthey yaitu absennya dialog dalam penciptaan makna dan belum bebes dari cacat saintisme dan objektivisme zaman pencerahan . Dan kemunculan Gadamer merupakan suatu yang signifikan karena ia telah menutupi kekurangannya dengan memperpaiki term verstehen. Menurut Gadamer, kunci pemahaman adalah partisipasi dan keterbukaan bukan manipulasi dan pengendalian. Bagi dia, verstehen (hermeneutika) itu bukanlah suatu tujuan, sebab itu ia tidak mengenal telos (tujuan). Tapi yang paling penting adalah bagaiman sejarah dan tradisi itu menjadi sebuah anyaman terjadinya dialog, dan pengetahuan itu ada kalau terjadinya dialog that we are. Karenanya bahasa menjadi medium untuk terjadinya suatu dialog, ini diperjelas oleh Gadamer dengan merujuk pada klaim Heidegger, "language is the house of Being" dan "discourse is the extenstial-foundation account of language". Dari kesimpulan diatas, bahasa pun bukan diartikan dengan makna definitif yang merujuk pada buku, teks, atau dokumen, lebih dari itu, kita pun dapat berubah posisinya menjadi bahasa, kalau melihat logika di atas, dan lebih tegasnya kita juga adalah "teks". Dengan melihat diatas, hermenerutik gadamer adalah sebuah hermeneutik ontologis. Artinya sebuah rasio pemahaman yang tidak dapat diukur oleh ruang waktu dan tempat, karena ini berhubungan dengan historisitas yang selalu berubah-ubah. Oleh karena itu, objektif adalah hal yang absurd dan niihilis. Bagi dia tidak ada kebenaran objektif sebab jika ada ia harus dapat terukur oleh ruang dan waktu. Apalagi menurutnya rasio pemahaman apapun atas sebuah riset pasti mengandung prejudice (vorurteile). Sebab itu sebuah riset tidak pernah sepi dari prasangka. Maka himbauan "making free with the text" adalah suatu hal yang does not make sense. Jadi kebenaran adalah merupakan invention dari pada discovery. Dengan begitu, ia kemudian mendeklarasikan gagasannya tentang the universality of Hermeneutics, ide inilah yang mengundang Habermas untuk berdebat dengannya. Namun poin yang paling penting dari kritikannya habemas, jika Gadamer yakin bahwa salah satu media yang paling baik dan universal terjadinya dialog adalah dengan bahasa (sprachlichkeit), seperti dalam ungkapannya, "langguage is the universal medium in which understanding itself is realized and the mode or realization of language is interpretation." Sebenarnya Gadamer lupa, kata Habermas, bahwa bahasa juga, seperti berikut ini "language is also a medium of domination and social power; it serves to legitimate relations of organized force...language is also ideological." Artinya menurut Habermas, bahasa tidak hanya dapat memunculkan bias dan kepentingan untuk terjadinya distorsi pseudo komunikasi, tapi juga dominasi dan paksaaan-paksaan, baik tertutup ataupun terbuka dalam dialog, karenanya hermeneutikanya tidak menaruh curiga, lebih tegasnya tidak kritis. Dari persepsi diatas, dapat diketahui perdebatan anatara Habermas versus hermeneutika ontologis yang Gadamer usung mempunyai banyak kelemahan, baik itu tidak curiga atau kehilangan kekritisannya dalam terjadinya ruang komunikasi. Hermeneutika Kritis (Teori Tndakan Komunikasi) dan Qur'anic Studies Metode Hermeneutika Kritis Habermas dalam memahami khususnya inter- subjektif merupakan sumbangan paling besar dalam ilmu-imu sosial, ini tidak bisa dinafikan. Namun apakah ia juga relevan dan signifikan, khususnya, terhadap kajian-kajian, khususnya, Al-Qur'an? Karena itu, sebelum dijawab atas pertanyaan ini, perlu dijelaskan sejak awal epistemologi dan latar belakang masing-masing, yakni Habermas dan Islam. Seperti yang telah disebut diatas, bahwa epistemologi Habermas sangat jelas bahwa yang menjadi sumber inspirasi dan sumber untuk mengeksplorasi adalah Rasio, sebab semenjak ditemukannya, janji-janjinya, seperti yang dilukiskan oleh filsuf Prancis Marquis de Condorcet, dalam karyanya yang sangat monemental, Sketch for a Historical Picture of the Progress of the Human Mind of 1794, akan membawa kearah masyarakat rasional dan kemajuan bukan sekedar pada pertumbuhan fisik, berupa ekonomi dan material, tapi akan terwujudnya tujuan (telos) sejarah, yakni kesempurnaan tak terbatas umat manusia yang juga bersifat etis. Dengan demikian, Rasio ini akan menghancurkan ketimpangan- ketimpangan kultural, politis dan ekonomis diantara bangsa, menyempurnakan kemampuan manusia, mewujudkan kebahagiaan pribadi dan kesejahteraan umum, menyingkirkan diskriminasi seksual dan rasional, dan menghapus perang di muka bumi. Namun epistemologi dalam Islam jelas sekali sangat berbeda. Dalam Islam sumber inspirasi dan ilmu pengetahuan juga alat eksplorasi tidak hanya bertumpu pada Rasio, dalam arti semua tertumpu pada usaha manusia, sebab bagaimanapun juga ada keterbatasan, banyak fakta sebuah kejadian atau pengetahuan yang tidak bisa masuk akal (scintifik). misalnya adalah khabar cerita Nabi Nuh a.s. membuat kapal yang sampai hari ini wujud kapalnya belum ditemukan, tidak terbakarnya Nabi Ibrahim a.s., cerita Nabi Musa a.s. yang membelah laut, termasuk isra dan mi'raj Nabi Muhammad saw. dan banyak lagi. Dan perlu diingat bahwa khabar tentang cerita-cerita seperti ini disebut dalam Islam sebagai khabar s�dik (artinya benar dan tidak dapat diragukan lagi). Lalu bagaimana menjelaskannya secara Rasio? Dan apakah ada implikasinya kalau tidak dapat dijelaskan secara scientifik dalam komunikasi dengan masyarakat? Kemudian bagaimana aplikasi Hermeneutika kritis yang bertujuan dan bertugas membangun suatu hubungan timbal balik kalau tokh metode tersebut tidak relevan? Itu sebabnya, dalam Islam peran wahy (revelation) pun menempati posisi penting, artinya tidak hanya Rasio an sich yang menjadi sumber inspirasi tapi unsur given, yakni wahy pun merupakan sumber dan penjelas juga. Disinilah letak perbedaan epistemologi Hermeneutika Kritis dan Islam. Dengan kejelasan seperti ini, maka Hermeneutika kritis, dispuse, atau ontologis yang sekarang ini sedang digandrungi dicoba diaplikasikan merupakan pemaksaan, apalagi khususnya dalam kajian Al-Qur'an. Walapun dengan tujuan untuk melihat dan memahami "maksud- maksud", "jargon", atau "ungkapan-ungkapan demi sesuatu," konseptualisasi kebenaran, entah dalam wujud budaya, sains, ataupun agama, dalam rangka melakukan manipulatif sebuah ajaran agama. Atau agar dapat mempermudah menampilkan maksud-maksud yang tesembunyi secara timbal balik, sehingga maksud-maksud yag tersembunyi itu bisa dikomunikasikan dengan baik tanpa adanya dominasi dan refresif apapun. Namun hal tersebut sangat ambigu, sebab yang tertampak adalah pemaksaan aplikasi seperti dalam kasus Al-Qur'an yang dicoba didudukan bukan sebagai kitab suci tapi sebuah layaknya kitab-kitab atau buku-buku yang lain yang bisa diposisikan seenaknya saja. Hal ini sangat disayangkan karena kecenderungan untuk mendudukan al- Qur'an bukan sebagai "benda suci", yang anti kritik, dan seterusnya terus meluas dan menjadi trend. Seperti akhir-akhir ini beberapa buku yang beredar di negri kita, mulai menggugat kedudukan Al- Qur'an, salah satunya buku Hermeneutika Transedental: Dari Konfigurasi Filosofis menuju Praksis Islamic Studies, terbitan IRCISoD (Yogyakarta: 2003). Dalam buku tersebut, salah satu penulisnya, hal. 204-205, mengatakan "...kiranya tidak ada salahnya jika digulirkan gerakan re-orientasi penafsiran al-Qur'an dari yang yang berwacana superioritas menuju Qur'an yang komunikatif. Artinya, pandangan tentang al-Qur'an yang mau mengakomodir pandangan-pandangan yang bernuansa kemanusiaan. Sehingga manusia "ada" ketika berhadapan dengan Al-Qur'an. Jika selama ini penafsiran tentang al-qur'an sudah menempatkan al-Qur'an sdebagai "benda suci" yang tak bisa salah, maka saat ini diperlukan sebuah paradigma yang tak bisa melepaskan al-Qur'an sebagai produk budaya manusia dalam menangkap keber"ada"an Tuhan. Inilah yang disebut dengan Qur'an komunikatif, dimana manusia diberi ruang kebebasan dalam menafsirkannya, telepas dari adiprasangka al-Qur'an yang terlanjur sudah dianggap Maha Suci bahkan anti kritik. Sekali lagi, kebenaran al-Qur'an adalah kebenaran menurut ukuran manusia. Al-Qur'an tidak bisa menunjukkan kebenarannya tanpa mengikutsertakan pandangan kebenaran dari manusia. Jadi kebenaran al-Qur'an adalah kebenaran yang bersifat manusiawi. Sudah sewajarnya jika manusia diberi ruang dalam menginterpretasikan al-Qur'an...Namun jika al- Qur'an hanya kita pandang secara absolut, maka tidak ada nilai guna yang kreatif bagi perkembangan manusia..." Pernyataan diatas adalah usaha untuk mengaplikasikan Hermeneutika Kritis atau ala Habermas sepatutnya dipertanyakan. Dan dari contoh ini, kita semakin yakin atas asumsi bahwa hakikat ilmu seperti sosok Hermeneutika itu ---sebagai produk ilmu--- tidak bebas nilai. Artinya ia membawa nilai pembuatnya, dan seperti telah dijelaskan diatas bahwa epistemologi ilmu hermeneutika ini adalah ternyata sekuler, dekonstruktif, menolak peran selain Rasio dan seterusnya. Sehingga catutan diatas terkesan bukan mengangkat Al-Qur'an pada posisi sebagai kitab suci yang seharusnya diamini dan diimani, malah terkesan usaha (atau pemaksaan) aplikasi Hermeneutika, justru mendekontruksi posisi al-Qur'an. Wajar kalau kemudian, karena hermeneutika itu mengajarkan untuk selalu waspada dan curiga termasuk pada usaha-usaha maksud baik, maka akhirnya melahirkan masyarakat yang secara timbal balik seharusnya terjadi komunikatif, sebab disitu ada sumber rujukan bersama, tetapi sebaliknya malah melahirkan sebuah masyarakat yang inferiority complek, nihilisme, relativisme, obskurantisme, terror, dst, sebab sumber rujukan tersebut dimatikan. Dengan demikian, sebenarnya Islam menyokong dan mngusung riset, dalam arti membangun sebuah masyarakat intelektual, namun bukan harus menjadi seorang intellektual angkuh. Dalam arti, setiap pernyataan yang dibuat idealnya dapat memberikan kenyamanan terhadap orang disekitarnya, kalau perlu ada usaha konkrit mewujudkannya ke masyarakat. Kp. Segambut. 09-10-3-2004 F. Budi Hardiman, "Ilmu-ilmu Sosial dalam Diskursus Modernisme dan Pasca-Modernisme," Jurnal Ulumul Quran, suplemen, Vol. 5, 1994. h. 1. Yang dimaksud dengan Teori Tindakan Weber ini adalah memaknai sebuah makna tindakan yang pemaknaannya mengandung unsur subjektif atau kesadaran, arti definitif ini sekaligus juga membedakan dari jenis tindakan prilaku (human behavior) yang hanya berdimensi naluriah. Untuk lebih lanjutnya, lihat Jurgen Habermas, Theory of Communicative Action, Vol. I, alih bahasa Thomas McCarthy, (Boston: Beacon Press, 1984), h. 279-280. Mircea Eliade, The Encyclopedia of Religion. Vol. 5. (New York: Macmillan, 1993), h. 279. Friedrich D.E. Schleiermarcher, "The Hermeneutics: Outline of the 1819 Lectures." Dalam buku Gayle L. Ormiston dan Alan D. Schrift, Hermeneutic Tradition: From Ast to Ricoeur. (New Youk: SUNNY,1990), h. 93. Friedrich Ast, "Hermeneutics." Dalam buku Gayle L. Ormiston dan Alan D. Schrift, Hermeneutic Tradition: From Ast to Ricoeur. (New Youk: SUNNY, 1990), h. 43. Davis Held, Introduction to Critical Theory: Horkheimer to Habermas, (Cambridge: Polity Press, 1980), hal. 14-15. Ibid. Untuk lebih jelas penjelasannya lihat buku, Davis Held, Introduction to Critical Theory, hal. 160-174. Walaupun begitu, ia secara khsus menggunakan istilah ini dengan istilah depth hermeneutics. Istilah ini diambil dari Freud, digunakan untuk melakukan perlawanan dan mengimbangi terhadap hermeneutika Gadamer yang terlalu philosofis. Depth hermeneutics ini mengklarifikasi salah ucap (lapsus Linguae) dan penipuan-penipuan yang biasa terjadi dalam bahasa. Ia pun memaksimumkan ekspresi perasaan yang mendalam yang tidak pernah terungkapkan dalam ungkapan bahasa. Untuk lebih detailnya lihat, Alan How, The Habermas-Gadamer Debate and the Nature of the Sosial, (Aldershot: Avebury, 1995) hal. 189-198. Lihat juga, Kaelan, M.S. Filsafat Bahasa, (Yogyakarta: Paradigma, 1998), hal. 228. Dikutip dari Richard J. Bernstein, "What is the Difference that makes a Difference? Gadamer, Habermas and Rorty", dalam buku Brice R. Wachterhauser, Hermeneutics and Modern Philosophy, (New York: SUNNY, 1986), h. 357. F. Budi Hardiman, "Ilmu-ilmu Sosial", hal. 8. Lihat juga, Micheal Payne, A Dictionary of Cultural and Critical Theory, (Cambridge: Blackwell, 1996), hal. 232-233. Ibid. lihat penjelasanya lebih detil, Herbert Schnadelbach, "The Transformation of Critical Theory", dalam buku Alex Honneth and Hans Joas, Communacative Action, Cambridge: Polity Press, 1991), hal. 16- 19. F. Budi Hardiman, "Ilmu-ilmu Sosial", hal. 6. Ibid. hal. 7 Gayle L. Ormiston dan Alan D. Schrift, Hermeneutic Tradition: From Ast to Ricoeur. (New Youk: SUNNY, 1990), hal. 18. Jurgen Habermas, "A review of Gadamer's Truth and Method," hal. 239. Dalam buku Gayle L. Ormiston dan Alan D. Schrift, Hermeneutic Tradition: From Ast to Ricoeur. (New Youk: SUNNY, 1990), hal. 18. F. Budi Hardiman, "Ilmu-ilmu Sosial", hal. 4. Namun Habermas mengkritik "manifesto janji-janji pencerahan" Condorcet yang menggiring ke arah masyarakat rasional yang matematis (saintis), seperti yang dikemukakannya berikut ini, "Condorcet does not, as Kant does, attempt to elucidate the foundations of the rationality of science; he is interested in what Weber will call the "cultural significance" of science, that is, in the question of what effects the methodically secured growth of theoretical knowledge has on the development of the human mind and of the cultural context of life as a whole. Condorcet wants to conceive the history of mankind on the model of the history of modern science, that is, as a process of rationalization." Untuk lebih detailnya, lihat Jurgen Habermas, Theory of Communicative Action, Vol. I, alih bahasa Thomas McCarthy, (Boston: Beacon Press, 1984), h. 145-151. [Non-text portions of this message have been removed] PENTING..! attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member. dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa pencabutan membership. terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu mengupdate antivirusnya. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
