Jurnal Republik
21 Februari 1906
Bandung, "Pusat" dan "Pinggiran"
By Taufik Rahzen*)
Hari ini, wilayah yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Bandung secara
resmi dinyatakan sebagai daerah pemerintahan yang bediri sendiri dengan status
sebagai Kotamadya (Gementee).
Sejak itu, Bandung hadir dalam peta bumi Hindia Belanda dalam gengsi yang
mendekati Batavia dan Surabaya. Bandung, seperti dua kota itu, menjadi-- dalam
kata-kata Ben Anderson-tempat "ziarah baru" yang menandai mekarnya benih-benih
nasionalisme dalam bentuknya yang paling dini.
Kelahiran nasionalisme dimulai - salah satunya- oleh munculnya tempat "ziarah
baru" lokal, menggantikan tempat ziarah lama yang universal, seperti Mekkah
atau Vatikan. Tempat ziarah baru jadi rujukan ihwal mobilitas sosial, tempat di
mana orang berpikir untuk secepatnya hijrah ke sana. Membuka jalur baru
karirnya. Menguakkan harapan ihwal masa depan yang kemilau.
Dalam kasus Hindia Belanda, tempat "ziarah baru" itu adalah Batavia, Surabaya
dan Bandung. Berbeda dengan Batavia dan Surabaya yang selain ramai oleh
berdirinya sekolah-sekolah modern juga dihiruki dunia perniagaan, Bandung
menjadi tempat "ziarah baru" dalam status yang spesifik: sebagai "kota pelajar"
dengan institusi pendidikan modern yang berlimpah, beberapa merupakan yang
paling terkemuka, seperti Sekolah Tinggi Teknik tempat Soekarno meraih insinyur.
Nasionalisme selalu lahir dari kerumunan pelajar muda yang bersemangat itu.
Jangan heran, jika di sinilah Soekarno menemukan Marhaenisme. Di sini pula
Sjahrir mendirikan Jong Indonesia. Partai Nasional Indonesia juga didirikan di
kota ini. Pers-pers bumiputera mekar di kota ini juga. Di Bandung pula
pengadilan kolonial yang paling menggugah digelar, yakni ketika Soekarno
diadili di Landraad pada pengujung tahun 1929. Sepanjang tahun 1920-1930-an,
Bandung muncul sebagai pusat baru aktivisme pergerakan.
Tetapi dari sana pula terkuak salah satu dilema historis yang dihayati selama
berabad-abad lamanya oleh kota Bandung: ketegangan antara "pusat" dan "pinggir".
Ketegangan itu dimulai sejak zaman Majapahit, terkhusus dimulai sejak Perang
Bubat. Problem pusat (Majapahit) dan pinggir (Sunda/Bandung) berujung pada
tragika perang Bubat, yang menumpas seluruh anggota kerajaan Sunda, termasuk
Dyah Pitaloka yang diinginkan Hayam Wuruk. Sejak itulah, tak akan pernah
ditemui ada nama jalan Gajah Mada, Hayam Wuruk atau Majapahit di seantero kota
Bandung, dan mungkin di seluruh wilayah berbahasa Sunda.
Pada dasawarsa kedua abad 20, Gubernur Jenderal van Limburg Stirum sempat
melansir ide menjadikan Bandung sebagai ibu kota. Dibentuklah tim gabungan
antara tim karesidenan dengan tim pemerintah pusat. Ide tersebut, tak ayal,
membuat pembangunan Bandung kian pesat. Transportasi makin lengkap, bahkan pada
1920-an, bandar udara sudah berdiri di Bandung.
Sayangnya, Bandung tak pernah menjadi ibu kota Hindia Belanda, apalagi
Indonesia. Ibu kota Indonesia merdeka sempat pindah, tapi tak ke Bandung,
melainkan ke Jogjakarta. Soekarno, di awal tahun 1960-an, sempat punya ide
memindahkan ibu kota lagi. Tapi Soekarno tak pernah menyebut Bandung, tetapi
satu kota di Kalimantan. Bandung seperti ditakdirkan akan selalu dipinggir.
Bandung menjadi Parijs van Java karena eksotisme bentang alamnya. Kota ini
menjadi tempat tetirah orang-orang yang tinggal di pengapnya Batavia; peran
yang hingga kini tetap dimainkan Bandung. Pembukaan jalan tol Cipularang
beberapa tahun silam membuat jarak tempuh Jakarta-Bandung makin pendek dan
membuat Bandung makin jadi tempat favorit orang-orang Jakarta berakhir pekan.
Tapi dengan itulah justru Bandung makin tampak sebagai "pinggir".
Persoalan sampah yang mencengkeram Bandung beberapa bulan silam, yang biasanya
menumpuk usai pesta weekend, sempat meretakkan citra eksotis Bandung. Perkara
itu, salah satunya, diakibatkan oleh hal itu tadi: oleh ketegangan antara
"pusat" dan "pinggir". n
*) Redaktur Senior Koran Jurnal Nasional
[Non-text portions of this message have been removed]
PENTING..!
attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.
dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa
pencabutan membership.
terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu
mengupdate antivirusnya.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/