ah... ieu mah nu can nyahoeun bae yen asal manusa teh Awewe, lain Lalaki. na ari lalaki bisa ngajuru kituh..? heu heu heu... jadi moal aya diskriminasi atuh...
salam... :-) ----- Original Message ----- From: waluya56 To: [email protected] Sent: Friday, June 08, 2007 1:10 PM Subject: [kisunda] Agama Teu Someah ka Awewe? Naha leres kitu Agama (sagala agama meureun) teu someah ka awewe, saperti wartos tina detikcom dihandap ieu? Ceuk cenah awewe teh didiskriminasi jeung dieksploitasi make legimentasi ku ajaran agama. AKibatna awewe bisa jadi atheis, liberal tepi ka .... narima pasrah, euweuh inisiatif. Tah kumaha yeuh pamikiran para Teteh jeung para Euceu? 08/06/2007 02:56 WIB Agama Tidak Ramah Perempuan? Nograhany Widhi K - detikcom Jakarta - Perempuan dinilai mengalami perlakuan diskriminatif dan eksploitatif yang seringkali dilegitimasi ajaran agama. Reaksi perempuan atas hal itu pun bermacam-macam, mulai dari menjadi atheis, liberal, hingga konservatif. Perilaku diskriminatif dan eksploitatif itu dialami perempuan tidak hanya di ranah rumah tangga. Namun di tingkat negara, perlakuan itu dinilai masih kerap terjadi. Hal tersebut disampaikan anggota Yayasan Rahima, Farha Ciciek, dalam diskusi publik 'Agama Seharusnya Ramah Terhadap Terhadap Perempuan' di Istora Bung Karno, Senayan Jakarta, Kamis (7/6/2007). "Dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga, saya pernah dicurhati perempuan yang juga direktur sebuah akademi kebidananan. Dia mengatakan, kata ustadnya, kalo sedang berhubungan suami istri tidak boleh telanjang bulat, karena malu sama malaikat. Saya tanggapi, aturan dari mana itu? Inilah kekuatan agama, bisa mempengaruhi hal- hal yang seharusnya ditanggapi secara rasional, tapi dipercaya begitu saja," ujar Ciciek. Ditambahkan dia, perilaku negara yang ikut-ikutan memperlakukan perempuan secara diskriminatif terlihat saat mempromosikan program keluarga berencana (KB) beberapa belas tahun yang lalu. "Semua institusi agama dikerahkan untuk mendukung program itu. Negara itu pakai agama semau-maunya, kalau butuh ya dipakai, kalau nggak ya sudah," ujar perempuan berjilbab ini. Tak heran, reaksi yang timbul dari kaum hawa ini bermacam-macam. Beberapa orang ada yang menjadi atheis karena melihat banyaknya inkonsistensi. "Mereka muak melihat inkonsistensi, seperti ada pemuka agama yang memperkosa jamaahnya sendiri, dan banyak contoh lainnya," ujar perempuan yang pernah mengadakan penelitian di Ponpes Al-Mukmin, Ngruki, asuhan Abu Bakar Ba'asyir ini. Reaksi lainnya adalah tidak percaya kepada agama kendati mempercayai adanya Tuhan. Yang lainnya, bisa menciptakan agama baru yang merupakan modifikasi dari agama yang sudah ada. "Seperti komunitas Lia Eden, atau gerakan New Age yang timbul tahun 1960-an di Amerika," jelas Ciciek. Selain itu, ada juga yang tetap mengikuti arus utama tradisi agama yang telah ada. Hal itu bisa dilihat dari sikap pasrah karena perlakuan diskriminatif itu dianggap biasa, melakukan liberalisasi melalui re-interpretasi yang lebih progresif, bahkan melakukan konservatisasi seperti menumbuhkan kembali fundamentalisme. Peneliti LIPI bidang pemikiran politik Islam yang juga Sekjen Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Siti Musdah Mulia mengatakan, untuk mengatasi terpuruknya perempuan dalam agama, dalam hal ini agama Islam, maka harus dimulai dengan merevisi penafsiran. Salah satu dalam revisi penafsiran, adalah merevisi fiqih, dimana fiqih adalah hasil ijtihad atau pemikiran berdasarkan akal. "Perkembangan historis berbagai mazhab fiqih merupakan bukti bahwa fiqih itu relatif, namun saat ini sudah dipandang sebagai aturan yang tetap, padahal itu kan sifatnya pemikiran," ujar Siti. Siti kemudian mencontohkan masalah perempuan yang harus didampingi wali bila menikah. Mazhab Imam Abu Hanifah mengatakan tidak usah didampingi wali karena wanita pada usia dewasa bisa menentukan pilihan sendiri. Namun Mazhab Imam Syafi'i mengatakan harus didampingi wali dengan alasan orangtualah yang bisa menentukan jodoh terbaik untuk anaknya. "Namun sekarang, anak sendiri bisa dijual orang tuanya, lihat saja kasus trafficking sangat banyak. Imam Syafi'i mungkin berubah pikiran bila beliau hidup di zaman sekarang," ujar Siti. Contoh lain, masalah poligami. Siti gusar karena alasan berpoligami adalah menyangkut kelamahan perempuan yang tidak bisa memenuhi kewajibannya, mandul atau sakit. "Kalau yang mandul laki-lakinya bagaimana?" dia mempertanyakan. Dia menjelaskan, meskipun Al-Qur'an adalah kebenaran abadi, namun penafsirannya tidak abadi dan selalu bersifat relatif. Perlu dipahami pula, para penafsir seobyektif apapaun, sulit melepaskan diri dari hukum dan tradisi yang berkembang pada masa dia hidup, termasuk para ahli fiqih. "Karena itulah, pembukuan pendapat-pendapat fiqih dalam suatu masyarakat yang bias jender akan melahirkan kitab-kitab fiqih yang memuat pandangan agama yang btidak ramah perempuan," tukas Siti. (nwk/nvt) Baktos, WALUYA . [Non-text portions of this message have been removed] PENTING..! attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member. dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa pencabutan membership. terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu mengupdate antivirusnya. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
