http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/09/Jabar/22808.htm
UUD 1945 Rasa Sunda
Oleh Jamaludin Wiartakusumah
Saterusna, pikeun ngawangun hiji Pamaréntahan Nagara Indonésia nu
nangtayungan sakumna bangsa Indonésia jeung sakuliah lemah cai Indonésia
sarta pikeun ngamajukeun karaharjaan umum, nyerdaskeun kahirupan bangsa,
jeung milu ngalaksanakeun katartiban dunya dumasar kana kamerkaan,
karépéhrapihan anu langgeng jeung kaadilan sosial, nya disusun éta
kamerdékaan kabangsaan Indonésia teh dina hiji Undang-Undang Dasar Nagara
Indonésia, winangun nagara Républik Indonésia nu ngagem kadaulatan rayat
sarta dumasar kana Katuhanan Nu Maha Esa, kamanusaan nu adil jeung
beradab, persatuan Indonésia, jeung karayatan nu dipingpin ku hikmah
kawijaksanaan dina permusawarahan/perwakilan, dari jeung ngawujudkeun
kaadilan sosial pikeun sakumna rakyat Indonésia.
Kalimat di atas adalah paragraf ketiga Bubuka (Preambule) Undang-Undang
Dasar 1945 yang sudah dialibahasakan ke dalam bahasa Sunda. Alih bahasa
UUD 1945 ke dalam bahasa daerah adalah program Mahkamah Konstitusi yang
patut diacungi dua jempol. Upaya cemerlang ini untuk memperkuat basis
kebangsaan Indonesia dengan cara melakukan internalisasi konstitusi negara
ke dalam kebudayaan Nusantara, dalam hal ini bahasa daerah yang beraneka
ragam
Maka, UUD 1945 itu akan menjadi 'the living constitution' karena ada
dalam bahasa daerah dan dengan begitu dapat dipahami lebihmudah oleh
masing-masing pemakai bahasa daerah tersebut.
Upaya penerjemahan ke dalam bahasa Sunda, yang barangkali juga
dialami
panitia alih bahasa daerah lain, ternyata tidak mudah. Beberapa bagian
kalimat dalam konstitusi itu tampaknya tidak dapat diterjemahkan sesuai
dengan rasa bahasa Sunda, bahkan untuk kata atau kalimat yang tampak
sudah sangat akrab. Contohnya frasa 'Ketuhanan Yang Maha Esa' yang
terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 di atas hanya mengalami sedikit
perubahan menjadi Katuhanan Nu Maha Esa.
Tuhan dalam bahasa Sunda disebut Pangeran atau Gusti. Ketuhanan
tampaknya
tidak dapat diterjemahkan menjadi kapangeranan atau kagustian karena
faktor rasa bahasa. Terjemahan Ketuhanan Yang Maha Esa secara per kata
bisa Kapangeranan Anu Tunggal, tetapi rasa bahasa Sunda di frasa itu
janggal karena ketuhanan itu mengandung makna kepercayaan kepada Tuhan.
Adapun kapangeranan menunjuk pada sifat yang dimiliki Pangeran. Demikian
halnya bila diterjemahkan Kapercayaan ka Pangeran Anu Tunggal, frasa itu
tampak tidak mengena dengan rasa bahasa Sunda, salah satunya karena
tunggal juga terdapat dalam bahasa Indonesia.
Sejarah kata Tuhan sendiri konon berasal dari upaya menerjemahkan
God dan
Lord dalam Injil ke dalam bahasa Indonesia di masa kolonial. Kata itu
aslinya Tuan, yang karena faktor dialek mendapat sisipan h. Sekarang kata
Tuan hanya dipakai pada bon toko dan kartu berobat.
Monoteis
Edi S Ekadjati dalam Kebudayaan Sunda: Suatu Pendekatan Sejarah (1995)
mengungkapkan tentang agama dan kepercayaan orang Kanekes yang disebut
agama Sunda Wiwitan atau Sunda Asli. Tuhan atau sistem kekuasaan
tertinggi dalam agama Sunda Wiwitan berada pada Tuhan yang disebut dengan
sifatnya, Sang Hyang Keresa (Tuhan Yang Maha Kuasa), Nu Ngersakeun (Tuhan
Yang Maha Berkehendak), Batara Jagat (Penguasa Alam), Batara Seda Niskala
(Yang Gaib) dan Batara Tunggal.
Sebutan untuk Tuhan yang senada dengan Tuhan Yang Maha Esa hanya
Batara Tunggal. Yang terakhir ini, meskipun bermakna esa, tentu sulit
diterima dan tidak cukup memadai sebagai versi Sunda sekarang untuk Tuhan
Yang Maha Esa karena sebagian besar orang Sunda menganut Islam.
Tuhan didekati orang Sunda tidak dengan bilangan, tetapi dengan
sifat-sifat seperti Nu Welas Asih (Yang Maha Pengasih dan Penyayang),
sedang sisi kekuasaan terungkap dalam Nu Maha Kawasa (Yang Maha Kuasa), Nu
Murbeng Alam (Yang Menguasai Alam). Bahwa Tuhan itu Maha Esa, satu atau
tunggal, dalam pandangan religiusitas orang Sunda tampaknya sudah
merupakan sifat built-in atau nature (fitrah) Tuhan hingga tidak lagi
menjadi urusan penyebutan.
Monoteisme sudah merupakan landasan beragama orang Sunda sejak
dahulu kala ketika karuhun orang Sunda menganut agama Sunda
Wiwitan atau agama Sunda Asli. Semua dewa dalam konsep agama Hindu
(Brahma, Wisnu, Syiwa, Indra, Yama dan lain-lain) tunduk kepada
Batara Seda Niskala (Edi S Ekadjati, 1999:73). Konsep dewa dari
India disesuaikan dengan sistem kepercayaan lokal yang monoteis.
Akar monoteisme itu sering dijadikan alasan logis bila orang
mempertanyakan proses masuknya Islam ke Tatar Sunda yang relatif
mudah. Dari sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di pulau
Jawa, wilayah Tatar Sunda dahulu hanya perlu satu, yaitu Sunan
Gunung Jati. Meskipun bernada gurauan, kenyataan ini menunjukkan
bahwa bagi orang Sunda, hal pokok konsep ketuhanan adalah
monoteis.
Ketuhanan Yang Maha Esa adalah konsep kepercayaan bangsa Indonesia
terhadap Tuhan yang monoteis. Dalam hal penerjemahan ke dalam bahasa
Sunda, yang relatif tetap dengan katuhanan dan esa, tampaknya sebagai
tanda keikutsertaan Sunda dalam syahadat monoteis nasional tersebut.
Selamat datang Ketuhanan Yang Maha Esa dalam bahasa Sunda!
Jamaludin Wiartakusumah
Dosen Desain Itenas Bandung
mj
http://geocities.com/mangjamal
PENTING..!
attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.
dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa
pencabutan membership.
terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu
mengupdate antivirusnya.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/