Indonesia = Frankestein, cenah dina kalimah panutup artikel Pak
Jakob Sumardjo nu dimuat Kompas, 7 Juli 2007. Sigana nu resep
novel/film Horror papada apal ka Dr. Frankestein, nu nyieun
mangkeluk hirup siga jelema, nu ahirna ieu mangkeluk teh jadi
individu anu teu boga asal-usul,jati diri jeung ngarusak kaditu-
kadieu.
Nya kunaon Pa Jakob nyaruakeun Indonesia jeung mangkeluk jijieunan
Dr. Frankestein? Mangga nyanggakeun artikelna:
Van Vollenhoven
Jakob Sumardjo
Cornelis van Vollenhoven adalah pakar hukum adat Indonesia. Pada
tahun 1950-an dan 1960-an ia mudah dijumpai para mahasiswa ilmu-ilmu
humaniora di ruang-ruang kuliah. Kini nama itu tak berarti lagi.
Hukum adat Indonesia pun tidak ada lagi dan yang ada adalah hukum
modern.
Bangsa Indonesia tidak punya sejarah. Sejarah adalah omong kosong.
Kita adalah kita sekarang. Cara berpikir, cara merasa, cara
berspiritual adalah cara hidup kita kini, tidak terkait masa lalu
nenek moyang. Bau kemenyan diganti parfum Perancis.
Sejak abad ke-19 Pemerintah Kolonial Belanda mengantongi kekayaan
hampir satu miliar gulden dari tanah jajahan, Indonesia, dari
industri agrikultural. Kesuksesan kolonial menangguk untung dari
pertanian Indonesia akibat cara pemerintahan kolonialnya yang
dualistik. Di tingkat pertama pemerintahan sentralistik-nasional
modern kolonial, di tingkat kedua pemerintahan berdasarkan hukum
adat setempat. Itu sebabnya pemerintah kolonial tidak segan
membiayai studi-studi etnologi di seluruh Indonesia.
Hukum adat setempat dan kebudayaannya menjadi dasar pemerintahan
modernnya.
Pegawai-pegawai kolonial yang akan ditempatkan di suatu daerah
diharuskan mengikuti kursus pemahaman bahasa, budaya, dan hukum
adat. Pikiran dan pengalaman Barat diharmonikan dengan cara berpikir
masyarakat setempat. Keresahan daerah dan konflik-konflik etnik
tidak muncul. Yang ada konflik politik masyarakat pribumi modern di
kota-kota Jawa.
Tak kenal bangsa sendiri
Kini kita tidak lagi mengenali bangsa sendiri dengan beragam budaya
dan cara berpikir. Kita menganggap Indonesia hanya sebagai satu
kesatuan cara berpikir dan cara merasa, yaitu cara berpikir
masyarakat kota yang merupakan melting pot etnik, ras, golongan, dan
agama.
Dipandang dengan cara ini, hidup masyarakat kota Indonesia tak beda
dengan Amerika Serikat, yang seluruh wilayahnya terdiri dari campur
aduk berbagai ras dan budaya dunia. Namun, dipandang secara Eropa,
tiap kelompok suku atau budaya di Indonesia merupakan satuan budaya
yang berbeda seperti berbedanya Belanda dengan Jerman, Rusia dengan
Inggris. Jadi Jawa adalah Belanda, Sunda adalah Belgia, Aceh adalah
Perancis.
Dulu, pemerintah kolonial menyadari, memerintah Ambon itu berbeda
dengan Flores, berbeda dengan Sunda. Pemerintahan roest en orde
(damai dan tertib) mencegah terjadinya pergolakan daerah. Rakyat
setempat dibiarkan melanjutkan cara berpikir dan cara merasa sendiri-
sendiri, sementara maksud kolonial dijalankan dengan cara mereka
masing-masing.
Begitu negara nasional terbentuk, tahun 1950-an, sentralisasi,
homogenisasi, "kesatuan", dipaksakan dianut oleh cara berpikir yang
berbeda-beda itu. Tak heran jika tahun 1950-an muncul berbagai
kegelisahan daerah yang disebut "pemberontakan separatis". Roest en
orde zaman kolonial terpaksa dilakukan dengan kekerasan atas nama
stabilitas nasional. Tentara dan bukan budaya yang menjadi andalan
membangun stabilitas nasional. Pikiran diganti bedil.
Sejak itu sejarah kekerasan mewarnai perjalanan negara kesatuan. Van
Vollenhoven disingkirkan dari kurikulum perguruan tinggi. Studi
etnologi tak diperlukan lagi. Bahasa daerah dimusnahkan. Anak-anak
lebih fasih bicara bahasa Jakarta daripada bahasa ibunya.
Berbagai pikiran sejarah kesatuan bangsa-bangsa Barat mentah-mentah
dijadikan model pembangunan di bidang apa pun. Katanya kita harus
mengatasi ketertinggalan dari bangsa lain yang telah modern. Kita
menjadi antikolonial dalam segala hal, juga dalam metode roest en
orde mereka di Indonesia. Padahal metode inilah yang menciptakan Pax
Neerlandica hampir setengah abad di Indonesia, Hindia-Belanda yang
ayem tentrem kerto raharjo bagi kepentingan kolonial.
Bahasa
Istilah hukum adat kini telah tak dikenal oleh kaum intelektual
Indonesia. Apa yang berhubungan dengan adat istiadat sudah bau
kemenyan mistik yang hanya laku di sinetron-sinetron horor televisi
kita. Padahal, di seluruh Indonesia, jika mau keluar kota sejauh 10
kilometer atau 15 kilometer, Anda akan menjumpai masyarakat yang
sehari-hari berbicara dalam bahasa daerah setempat. Anda seperti
turis Perancis yang kesasar di desa Rusia. Bengong dan bloon. Bahasa
adalah ungkapan cara berpikir dan cara merasa suatu
komunitas etnik. Bahasa kesatuan Indonesia tidak laku dan tidak
jalan di berbagai komunitas etnik ini. Deadlock bahasa berarti
deadlock budaya.
Literatur Van Vollenhoven, Snouck Hurgronye, dan etnologis Belanda
lain dimasukkan ke dalam peti-peti museum dan perpustakaan. Padahal
berbagai literatur Belanda itu banyak mendapat pujian bangsa-bangsa
kolonial lainnya. Boro-boro dikembangkan, justru dinilai sebagai
ilmu-ilmu tabu di Indonesia modern. Van Vollenhoven? Siapa itu?
Tragedi Indonesia adalah tragedi budaya. Selama ini kita salah
membaca Indonesia. Indonesia dikira sama dengan Amerika, Eropa, atau
Jepang, dan terakhir China. Indonesia adalah Indonesia. Imagined
community ini (Ben Anderson) adalah Amerika, atau Eropa, atau
Jepang, dan akhir-akhir ini China. Kepresidenannya ditiru,
kepartaiannya dijiplak, industrinya dioper,
filsafatnya pun diyakini. Padahal, Indonesia adalah Indonesia.
Semua ini terjadi karena kita telah menyingkirkan kerja keras guru
besar hukum adat Van Vollenhoven dari wacana budaya Indonesia.
Indonesia adalah dua dunia. Dunia mini perkotaan yang berbahasa
Indonesia (kini Inggris) suatu melting pot segala budaya, dengan
cara berpkir dan cara merasa modern; serta dunia besar kedaerahan
yang berbahasa suku, monokultural, dengan cara berpikir dan cara
merasa seperti dilakukan nenek moyang.
Indonesia itu sebuah frankenstein. Horor.
Jakob Sumardjo Esais
PENTING..!
attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.
dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa
pencabutan membership.
terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu
mengupdate antivirusnya.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/