mang ucup kalo begitu bagaimana mengetahui alam kematian itu?

bagaimana sampai kesana selagi kita masih hidup?

untuk membuktikan kebenaran?

mangucup88 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               Banyak 
orang tidak yakin akan adanya jiwa di dalam tubuh kita, 
 maklum jiwa itu tidak bisa dilihat, tetapi anehnya di Indonesia ada 
 Dr Jiwa, Rumah Sakit Jiwa maupun Asuransi Jiwa, walaupun belum ada 
 satu orang pun yang pernah melihat jiwa. 
 
 Pertanyaan saya kapan jiwa/roh dari orang tsb akan keluar 
 meninggalkan tubuhnya? Apakah setelah ia tidak bernafas lagi? 
 Menurut beberapa kepercayaan dan pendapat orang, setelah orang itu 
 mati jiwa/roh dari orang tsb akan tetap berada melayang-layang 
 disekitar tubuhnya selama 72 jam oleh sebab itulah mereka tidak akan 
 mau menguburkan mayat tsb sebelum masa 72 jam ini lewat.
 
 Sedangkan menurut pendapat mang Ucup, orang itu meninggal dunia 
 (mati) apabila jiwanya sudah tidak bisa balik atau berhubungan lagi 
 dengan tubuhnya, jadi sudah benar-benar keluar dan putus hubungan 
 dari tubuh tsb. Kalau kita sudah keluar dari pintu untuk pindah ke 
 alam baka, kita tidak akan bisa balik lagi masuk kembali melalui 
 pintu yang sama. Orang yang mati suri pada umumnya belum keluar dari 
 pintu ini, mereka masih berada di dunia fana, mereka belum melewati 
 batas pintu kematian. 
 
 Kata jiwa dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa 
 Sansekerta "jiva" sedangkan kata roh diserap dari bahasa Arab Al-
 Ruh. Sedangkan Soul dalam bahasa Inggris diserap dari kata Jerman 
 Kuno "seula". Sedangkan jiwa sudah meninggalkan raganya dalam bahasa 
 Indonesia disebut "arwah".
 
 Jiwa dalam bahasa Arab disebut juga "al-nafs' seperti juga dalam 
 bahasa Ibrani "nefesy'. Kata ini identis dengan nafas, sebab Sang 
 Pencipta menciptakan manusia dengan cara meniupkan "nafas" kehidupan 
 kedalam raga manusiawi. Oleh sebab itu juga kata bernafas dalam 
 bahasa Jerman "atmen" diserap dari bahasa Sasenkerta "atman" yang 
 berarti jiwa. Sedangkan dalam bahasa Yunani "Psyche" maka dari itu 
 jurusan ilmu jiwa disebut Psikologi. 
 
 Keyakinan tentang keberadaannya jiwa bukan dibahas oleh para 
 agamaist saja melainkan sudah ribuan tahun sebelumnya dibahas dan 
 diakui juga oleh para filsuf besar Plato, Socrates maupun Rene 
 Descartes yang mengeluarkan pernyataan bahwa semuanya tidak ada yang 
 pasti, kecuali kenyataan, bahwa seseorang bisa berpikir. "Aku 
 berpikir maka aku ada" dalam bahasa Latin "Cogito ergo sum" atau 
 dalam bhasa Perancis "Je pense donc je suis".
 
 Mengenai jasad atau tubuh seseorang sudah jelas bahwa ia akan 
 kembali menjadi debu, tetapi kemana pergi jiwa/roh nya? Menurut 
 Prof. Dr. Werner von Braun Alm. seorang ilmuwan yang sangat piawai 
 sekali dalam hal pembuatan roket: "Saya percaya akan adanya 
 roh/jiwa, karena berdasarkan logika dari ilmu pengetahuan, tidak 
 mungkin sesuatu akan hilang begitu saja tanpa berbekas, kalau 
 tadinya ada nyawa di dalam tubuh kita, berarti nyawa tsb akan tetap 
 ada dan akan tetap hidup terus!"
  
 Banyak orang sudah berusaha untuk mengukur berdasarkan berat badan 
 orang hidup dan orang mati dan selisihnya inilah yang mereka 
 definisikan sebagai beratnya dari jiwa/roh. 
 
 Apakah mungkin jiwa/roh itu merupakan perasaan kita, seperti kasih 
 sayang, marah, sedih, senang, rasa cemburu? Karena perasaan juga 
 tidak bisa diukur dan ditimbang, disamping itu belum ada manusia 
 yang bisa menciptakan atau mendefinisikan secara exact perasaan itu 
 bagaimana! Kita bisa menciptakan robot yang serba canggih, tetapi 
 tidak mungkin manusia bisa menciptakan robot yang bisa mempunyai 
 perasaan, karena robot tidak mempunyai jiwa/roh. Maka dari itu juga 
 kata nafsu, seperti nafsu birahi, nafsu amarah dalam bahasa 
 Indonesia, diambil dari kata yang sama seperti jiwa "al-nafs" dalam 
 bahasa Arab.
 
 Walaupun demikian ada banyak orang yang berpendapat bahwa perasaan 
 itu adalah hasil produksi atau output dari daya pikir kita, maka 
 dari itu kalau otak dari orang tsb mati, maka matilah juga 
 perasaannya atau dalam arti kata lain tidak ada perasaan lagi 
 setelah kita mati atau tidak ada lagi kehidupan setelah mati. Aliran 
 yang mempercayai pendapat ini disebut Epiphänomenalismus. Apakah 
 bisa dibuktikan bahwa perasaan itu adalah hasil output dari daya 
 pikir kita? S/d detik ini tidak ada ilmuwan manapun juga yang bisa 
 melokalisir di bagian otak mana kita merasa senang, sedih ataupun 
 marah. 
 
 Menurut pendapat mang Ucup, otak kita bisa melaksanakan aktivitas 
 perasaan seperti menyayangi, senang, susah, sedih maupun marah, 
 tetapi penyebabnya bukanlah otak kita. Ini sama seperti TV, kita 
 bisa melihat film karena ada TV, tetapi TV itu sendiri tidak membuat 
 film, melainkan film dibuat di studio pemancar. Dan program tetap 
 berjalan terus walaupun TV tsb dipadamkan. Otak kita itu sama 
 seperti CPU dari computer, tetapi CPU tsb bukanlah programmer nya.
 
 Kalau jasad dan badan kita mati, berarti yang akan hidup terus ialah 
 arwah/roh/jiwa. Pertanyaan yang saya ingin ketahui dalam cara 
 bagaimana roh/jiwa ini bisa hidup terus.
 
 1. Apakah seperti dalam keadaan tidur atau seperti dalam keadaan 
 pingsan, jadi dalam keadaan pasiv?
 2. Apakah seperti pada saat kita lagi mimpi dimana kita bisa aktiv 
 melakukan kegiatan seperti dalam kehidupan sehari-hari ?
 3. Apakah mengulang lagi masa hidup yang lampau, jadi bisa bertemu 
 dengan kawan-kawan lama, maupun anggota keluarga yang sudah berada 
 di alam baka?
 4. Ataukah kita akan dilahirkan dalam bentuk dan wujud baru jadi 
 memulai sesuatu dari nol lagi?
 
 Berdasarkan pengalaman dari orang-orang yang pernah, bahkan sering 
 memanggil arwah, kemungkinan ke tiga lah yang sering dan mudah 
 dibuktikan. Karena kalau ia sudah dilahirkan kembali pasti arwahnya 
 tidak akan bisa dipanggil lagi, karena arwah tsb sudah berada di 
 dalam jasad atau tubuh baru, jadi tidak bisa keluar lagi dari 
 terminal. 
 
 Sedangkan kalau dalam keadaan tidur alias pasiv, tentu ia tidak akan 
 bisa aktiv berkomunikasi dengan orang yang memanggilnya. Tetapi 
 kemungkinan lainnya arwah dari orang yang sudah meninggal bisa 
 dipanggil kembali, karena mungkin arwah/roh tsb sedang menunggu 
 di "waitingroom" sebelumnya ia dilahirkan kembali, jadi masih belum 
 masuk ke tubuh atau jasad baru. Berapa lama ia harus menunggu di 
 waitingroom? Saya tidak tahu karena dalam soal ini saya belum 
 berpengalaman.
 
 Apabila rekan-rekan dan para pembaca belum bosan baca mengenai 
 masalah kematian; mungkin pada suatu saat, saya akan melanjutkan 
 untuk menulis pengalaman mereka yang sudah pernah mati alias Mati 
 Suri atau dalam bahasa Londonya disebut "Near Death Experience" 
 (NDE). Apa mungkin kita bisa Sightseeing sebagai tourist dengan 
 ticket PP ke dunia kematian ? Apa yang mereka telah lihat dan alami 
 disana ? Bagaimana rasanya mati itu ? 
 
 Mang Ucup
 Email: [EMAIL PROTECTED]
 http://www.friendster.com/mangucup
 Homepage: www.mangucup.net
 
 
     
                               

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

[Non-text portions of this message have been removed]



PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke