Ngiring mairan nya sauetik. Ari ceuk kuring mah, sah-sah wae kang
sunardhie yogantara ngomentaran, da lepat Aa Gym nyalira der daek
diwawancara ku TV. Nya tangtu we bakal mucunghul komentar tinu
nengetan (positif, negatif, netral) gumantung kana presepsina masing-
masing. Kabeneran kuring mah teu hayang lalajo, sanajan nyaho oge,
bosen lah kasusna geus lawas ....
Tapi ari perkara nyandung mah, lain kasus lawas, malah salah sahiji
isu "kasundaan" nu kudu dianggap serieus, paling henteu aya label ka
lalaki Sunda .... cenah bareuki nyandung.
Kebeneran kuring meunang resensi buku karangan urang PKS, eusina
nyebutkeun yen polygami teh loba gorengna tinimbang alusna.
Nyanggakeun resensina: (Bukuna cenah ayeuna hese diteangan)
Majalah Gatra, 6 Desember 2007
Nabi Itu Monogami
BAHAGIAKAN DIRI DENGAN SATU ISTRI
Penulis: Cahyadi Takariawan
Penerbit: Era Intermedia, 2007, xxxi + 278 halaman
Terbitnya buku ini tak kalah kontroversialnya dari poligami Aa Gym,
beberapa waktu lalu, yang berakibat pesantren dan bisnisnya makin
sepi. Konon, saking kontroversialnya, buku ini sempat ditarik dari
peredaran karena membuat gerah aktivis dan petinggi Partai Keadilan
Sejahtera (PKS). Padahal, pengantar buku ini ditulis istri pertama
presiden partai itu, Sri Rahayu Tifatul Sembiring.
Membuat gerah, lumrah saja, karena buku ini ditulis Ustad Cahyadi
Takariawan, anggota Majelis Syuro PKS. Sementara itu, sudah jadi
rahasia umum bahwa ikhwan partai ini lazim melaksanakan praktek
poligami dengan tujuan perluasan dakwah Islam.
Di sinilah menarik dan beraninya buku ini. Meski gaya penulisannya
populer dan santun, isinya memang benar-benar menelanjangi praktek
poligami yang banyak menyengsarakan kaum istri dan anak. Lebih
khusus lagi, kata penulis, berakibat buruk pada dakwah Islam.
Artinya, Cahyadi mendekonstruksi pemahaman dan
keyakinan sebagian besar koleganya di partai dan umat Islam tentang
poligami.
Sedari awal Cahyadi menekankan, ia menulis buku ini bukan dalam
rangka menolak hukum atau ajaran Islam tentang poligami. Yang ia
tolak adalah praktek poligami itu sendiri. Sebab banyak fakta dan
kasus poligami yang menghancurkan institusi keluarga, khususnya
perempuan dan anak.
Cahyadi tetap mengakui, pada kasus-kasus tertentu, seperti menolong
janda dan anak korban konflik, poligami tetaplah menjadi solusi.
Tapi jarang sekali suami berpoligami karena alasan tersebut.
Alasannya lebih karena perempuan yang akan dijadikan istri
selanjutnya itu lebih muda, lebih menarik, lebih pintar, dan
lebih segalanya dibandingkan dengan istri sebelumnya.
Seperti diketahui, biasanya para pelaku poligami membenarkan
perbuatannya itu berdasarkan dua hal: Al-Quran surat An-Nisa ayat 3
dan mengikuti sunah Nabi.
Padahal, bila merujuk pada kehidupan Nabi secara cermat,
sesungguhnya Nabi melakukan monogami. Dalam kurun waktu kehidupan
rumah tangganya, Nabi sangat monogami.
Kehidupan rumah tangga Nabi dengan Khadijah berlangsung 25 tahun.
Sedangkan poligami yang dilakukan Nabi hanya berlangsung 10 tahun.
Itu pun setelah Khadijah wafat dan kebanyakan pernikahannya itu
lebih karena menolong janda-janda sahabat beliau yang wafat akibat
perang membela Islam (halaman xviii).
Sementara itu, ayat Al-Quran yang menjadi acuan poligami itu pun
titik tekannya pada sikap suami yang bisa berlaku adil. Sikap ini
sulit sekali ditentukan ukurannya karena sangat melibatkan perasaan,
tidak hanya kecukupan materi dan kepuasan seksual. Seperti diulas
dengan baik oleh Bintu Syathi dalam bukunya,
Istri-istri Nabi, kehidupan istri-istri Nabi saja tak sepenuhnya
harmonis, malah cenderung saling cemburu.
Untuk lelaki setingkat Nabi saja, yang banyak diberi kelebihan oleh
Allah, mengelola perasaan dan menghadapi istri-istrinya itu cukup
merepotkan. Apalagi untuk lelaki biasa. Cahyadi pun menyimpulkan,
karena kita bukan Nabi, istri kita pun bukan Aisyah, maka jangan
coba-coba berpoligami (halaman 238).
Ada juga yang berargumen, poligami dilakukan untuk menghindari zina.
Cahyadi mengkritik, kok bisa poligami disejajarkan dengan zina
(selingkuh). Penyejajaran seperti ini adalah cara berpikir yang tak
nyambung. Ia menyodorkan beberapa pilihan selain poligami. Misalnya,
daripada suami berpoligami, lebih baik berpuasa untuk menjaga diri
atau berkonsentrasi dan fokus pada istri atau onani
dan masturbasi atau banyak pilihan perbuatan yang lebih baik dan
positif (halaman 99).
Di tengah komunitas yang menjadikan poligami sebagai praktek yang
lazim, banyak yang bertanya, kenapa Cahyadi tak berpoligami. Dengan
memarodikan lagu Aa Gym, ia menjawab, "
Jagalah istri, jangan kau sakiti.
Sayangi istri, amanah Ilahi.
Bila diri kian bersih, satu istri terasa lebih.
Bila bisa jaga diri, tidak perlu menikah lagi.
Bila suami berpoligami, dakwah akan terbebani.
Demarketing menjadi-jadi, dakwah bisa dibenci....''
Tentu saja buku ini tak hanya layak dibaca para lelaki. Bagi
perempuan pun, buku ini sangat bermanfaat, karena banyak kiat dan
nasihat agar para istri tidak dimadu. Sayang sekali, sekarang buku
ini sangat sulit didapat.
Nong Darol Mahmada
Manajer program di Freedom Institute, Jakarta
[Buku, Gatra Nomor 4 Beredar Kamis, 6 Desember 2007]
PENTING..!
attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.
dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa
pencabutan membership.
terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu
mengupdate antivirusnya.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/