sae nya eta tradisi teh tiasa lestaro nu penting na mah rasa sukur Di atas timbunan tanah tempat kepala domba dikubur, ditancapkan sawen yang terdiri dari jenis daun-daunan. Masing-masing terdiri dari daun * jaringao*, jawer kotok, hanjuang, taleus hideung, dan daun labu. Di sekitar tempat tersebut kemudian dibakar kemenyan.
tah aya anu ku simkuring dikandelan, nyaeta jaringao ari babasan nana mah osok terang pajarkeun bau jaringao dupi jaringaona kuanjeun teu acan terang, manawi aya image-na nun nuhun, 2008/6/26 mh <[EMAIL PROTECTED]>: > Menyaksikan Hajat Solokan, Tradisi Masyarakat Cikondang > Her Suganda > > AIR bagi petani adalah sumber kehidupan. Tanpa air, sawah dan ladang > akan kering sehingga tanaman padi dan palawija mati dengan sendirinya. > Tanpa air, mereka akan kehausan sampai akhirnya mati perlahan-lahan. > Karena itu, sebelum nasib buruk menimpa, masyarakat Cikondang, Desa > Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung (Jawa Barat), > menyelenggarakan hajat solokan setiap tahun. > > Dulu, hujan akan turun pada sore hari setelah siang harinya > diselenggarakan hajat solokan," kata seorang penduduk. Tetapi, kini > alam rupanya sudah tidak mau diajak kompromi dan sulit dibaca walau > masyarakat sudah melakukan upacara ritual. > > Hajat solokan artinya ruwatan solokan atau saluran air. > > Upacara tersebut diselenggarakan di bendung Kali Cisangkuy, salah satu > anak Sungai Citarum. Dari bendung tersebut, sebagian debit airnya > disalurkan ke selokan sepanjang lebih kurang tiga kilometer untuk > mengairi sawah penduduk Cikondang dan beberapa kampung lainnya di > bagian hilir. > > Upacara tersebut diawali dengan menyembelih dua ekor domba jantan di > dekat bangunan pembagi air. Kedua kepala domba tersebut masing-masing > dikubur di bagian hulu dan hilir solokan. Sementara dagingnya diolah > menjadi rendang dan sebagian lagi dipanggang menjadi sate untuk lauk > makan bersama. > > Di atas timbunan tanah tempat kepala domba dikubur, ditancapkan sawen > yang terdiri dari jenis daun-daunan. Masing-masing terdiri dari daun > jaringao, jawer kotok, hanjuang, taleus hideung, dan daun labu. Di > sekitar tempat tersebut kemudian dibakar kemenyan. > > Seusai penguburan kepala domba, amil yang memimpin upacara melakukan > ruwatan. Akan tetapi, berbeda dengan ruwatan yang diselenggarakan pada > umumnya, upacara ruwatan masyarakat Cikondang tidak dengan > menyelenggarakan pertunjukkan kesenian wayang kulit atau wayang golek. > > Upacara ruwatan masyarakat Cikondang dilakukan dengan melemparkan uang > logam. Jumlahnya harus selalu sembilan. Misalnya Rp 90, Rp 900 atau Rp > 9.000, Rp 90.000 dan seterusnya dalam kelipatan "sembilan". Uang logam > tersebut tersimpan dalam sesajen yang berisi, bagian atas, nasi > tumpeng yang disebut congcot, buah jambe, serutu, rokok kretek, rokok > daun kawung, pisang, tebu, gula kelapa, daging mentah. Selain itu, > terdapat pula pangradinan yang terdiri dari sirih, gambir, kapur > sirih, dan tembakau. Di atas sesajen disimpan rengginang, makanan > kecil khas pedesaan yang biasa digunakan sebagai lauk minum kopi atau > teh. > > Sambil melemparkan uang logam ke hulu solokan, amil membakar kemenyan. > Asapnya mengepul, meninggalkan aroma khas sehingga menimbulkan suasana > magis. Apalagi lokasi yang dijadikan tempat upacara terletak pada dua > tebing curam. Di sebelah timur yang sekaligus menjadi bibir Sungai > Cisangkuy adalah tebing Cihideung tingginya sekitar 30 meter. Pada > sisi lain menjulang tebing batu Cadasgantung setinggi lebih kurang 20 > meter. Di bagian bawahnya tumbuh tanaman liar. > > Karena terletak di dekat lokasi yang disebut Cadasgantung, penduduk > setempat menamakan bendung tersebut Bendung Cadasgantung. > > *** > > BENDUNG Cadasgantung terletak sekitar 3 kilometer dari perkampungan > penduduk Cikondang. Lokasi bendung tersebut berada di bagian hilir > Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) Lamajan yang dibangun Belanda pada > tahun 1920-an. Tenaga listrik yang dihasilkan pada mulanya untuk > penerangan Kota Bandung, terutama daerah yang dijadikan hunian mereka. > > Dengan dibangunnya Bendung Cikondang, maka air Sungai Cisangkuy di > bagian hilir PLTA Lamajan terbagi dua. Sebagian debitnya mengalir > melalui palung sungai lama dan sebagian lagi masuk dan mengalir > melalui saluran yang dibangun secara bergotong royong oleh penduduk > setempat. Tetapi, pada awal pembangunannya ternyata tidak mudah > mengalirkan air ke saluran tersebut. > > Alkisah, ketika pemuka masyarakat Cikondang, seperti Mak Egoh, > Murnasam, dan penduduk desa lainnya, membangun solokan air ke desanya > pada tahun 1911, mereka kesulitan karena daerah bagian hulu yang > letaknya berdekatan dengan bendung, terhalang batu besar. Saat itu, > mereka hanya mengandalkan cangkul dan peralatan sederhana seadanya. > > Melihat betapa sulitnya pekerjaan tersebut, tokoh-tokoh masyarakat > Kampung Cikajang, Cikanyere, dan Tipar mengusulkan agar Lurah > Adiwinata yang saat itu menjabat sebagai Kepala Desa Lamajang meminta > bantuan sesepuh masyarakat setempat yang menjadi polisi desa. Namun, > masyarakat setempat lebih senang menjulukinya "Bah Kulisi". > > Julukan bah merupakan singkatan dari abah yang artinya panggilan untuk > orang yang sudah sepuh dan disegani karena memiliki kesaktian. Menurut > penduduk, panggilan itu merupakan nama samaran untuk menghindarkan > pengejaran Belanda. > > Malam ketika penduduk lainnya tidur nyenyak, Bah Kulisi menyusuri > solokan yang masih kering menuju batu besar yang menjadi penghalang. > Entah apa yang saat itu dilakukan. Yang jelas, pagi harinya, batu > besar yang menghalangi aliran air Cisangkuy ke solokan yang dibangun > berhasil dihancurkan. > > Masyarakat yang semula kebingungan, setelah menyaksikan peristiwa itu > berubah menjadi gembira bercampur kagum. Mereka bangga karena memiliki > sesepuh desa yang dianggap sakti. > > *** > > UPACARA hajat solokan antara lain bertujuan menghormati jasa-jasa Bah > Kulisi dan pemuka masyarakat lainnya, sekaligus sebagai ungkapan rasa > syukur mereka karena memperoleh air yang melimpah. Dengan air tersebut > mereka bisa bercocok tanam padi, palawija dan, sayuran serta dapat > meme-nuhi kebutuhan lainnya. > > Sebagai ungkapan kegembiraan dan kebahagiaan, sejak itu, setiap tahun > mereka selalu menyelenggarakan hajat solokan. Sejak pagi hari, kaum > wanita berbondong-bondong datang ke tempat upacara. Sebagian bekerja > di dapur umum dan sebagian lainnya datang dengan membawa nasi tumpang > lengkap dengan lauk-pauknya. Nasi tumpeng dan lauk-pauknya barulah > bisa dinikmati setelah dilakukan pembacaan doa. > > Haji Dasip, salah seorang pemuka masyarakat Cikon-dang, menyatakan, > kegiatan itu merupakan cerminan rasa gotong royong masyarakat yang > masih kuat. Mereka membiayai kegiatan tersebut secara patungan yang > dipungut berdasarkan iuran. > > Pada zaman dulu, upacara tersebut biasanya dimeriahkan dengan berbagai > kesenian sehingga upacara tersebut menjadi atraksi menarik, sekaligus > dijadikan ajang silaturahmi sesama warga. Lurah atau kepala desa yang > akan menghadiri upacara tersebut menaiki kuda lalu diiring tetabuhan > beduk, dog-dog, reog, dan kesenian kendang penca. Mereka menyusuri > tanggul saluran sejauh lebih kurang tiga kilometer. Sepanjang > perjalanan, masyarakat bersorak-sorai gembira mengiringi pimpinan > desanya. > > Akan tetapi, kesenian yang mengiringi upacara tersebut makin lama > makin berkurang jumlahnya. Salah satu sebabnya adalah > kesenian-kesenian tradisional tersebut sudah berguguran. Akibatnya, > tahun ini, upacara hajat solokan hanya dimeriahkan kacapi yang > diiringi Amih Sarifah, jurukawih yang usianya sudah setengah abad. > (Her Suganda) > > Citation: http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0211/05/daerah/meny34.htm > > -- Ema Sujalma
