nuhun abah MH baktos,
2008/6/28 mh <[EMAIL PROTECTED]>: > jaringao teh tutuwuhan obat daunna jiga bakung, sok dipake ubar orok > beureum, kucara dibalurkeun kana awakna, bauna khas. numatak aya > babasan "bau jaringao", nu maksudna masih keneh budak. gambarna mah > suwung. > > salam, > mh > > 2008/6/28 Ema Sujalma <[EMAIL PROTECTED] <sujalma%40gmail.com>>: > > > sae nya eta tradisi teh tiasa lestaro > > nu penting na mah rasa sukur > > > > Di atas timbunan tanah tempat kepala domba dikubur, ditancapkan sawen > > yang terdiri dari jenis daun-daunan. Masing-masing terdiri dari daun > > jaringao, jawer kotok, hanjuang, taleus hideung, dan daun labu. Di > > sekitar tempat tersebut kemudian dibakar kemenyan. > > > > tah aya anu ku simkuring dikandelan, nyaeta jaringao > > ari babasan nana mah osok terang pajarkeun bau jaringao > > dupi jaringaona kuanjeun teu acan terang, > > manawi aya image-na nun > > > > nuhun, > > > > 2008/6/26 mh <[EMAIL PROTECTED] <khs579%40gmail.com>>: > >> > >> Menyaksikan Hajat Solokan, Tradisi Masyarakat Cikondang > >> Her Suganda > >> > >> AIR bagi petani adalah sumber kehidupan. Tanpa air, sawah dan ladang > >> akan kering sehingga tanaman padi dan palawija mati dengan sendirinya. > >> Tanpa air, mereka akan kehausan sampai akhirnya mati perlahan-lahan. > >> Karena itu, sebelum nasib buruk menimpa, masyarakat Cikondang, Desa > >> Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung (Jawa Barat), > >> menyelenggarakan hajat solokan setiap tahun. > >> > >> Dulu, hujan akan turun pada sore hari setelah siang harinya > >> diselenggarakan hajat solokan," kata seorang penduduk. Tetapi, kini > >> alam rupanya sudah tidak mau diajak kompromi dan sulit dibaca walau > >> masyarakat sudah melakukan upacara ritual. > >> > >> Hajat solokan artinya ruwatan solokan atau saluran air. > >> > >> Upacara tersebut diselenggarakan di bendung Kali Cisangkuy, salah satu > >> anak Sungai Citarum. Dari bendung tersebut, sebagian debit airnya > >> disalurkan ke selokan sepanjang lebih kurang tiga kilometer untuk > >> mengairi sawah penduduk Cikondang dan beberapa kampung lainnya di > >> bagian hilir. > >> > >> Upacara tersebut diawali dengan menyembelih dua ekor domba jantan di > >> dekat bangunan pembagi air. Kedua kepala domba tersebut masing-masing > >> dikubur di bagian hulu dan hilir solokan. Sementara dagingnya diolah > >> menjadi rendang dan sebagian lagi dipanggang menjadi sate untuk lauk > >> makan bersama. > >> > >> Di atas timbunan tanah tempat kepala domba dikubur, ditancapkan sawen > >> yang terdiri dari jenis daun-daunan. Masing-masing terdiri dari daun > >> jaringao, jawer kotok, hanjuang, taleus hideung, dan daun labu. Di > >> sekitar tempat tersebut kemudian dibakar kemenyan. > >> > >> Seusai penguburan kepala domba, amil yang memimpin upacara melakukan > >> ruwatan. Akan tetapi, berbeda dengan ruwatan yang diselenggarakan pada > >> umumnya, upacara ruwatan masyarakat Cikondang tidak dengan > >> menyelenggarakan pertunjukkan kesenian wayang kulit atau wayang golek. > >> > >> Upacara ruwatan masyarakat Cikondang dilakukan dengan melemparkan uang > >> logam. Jumlahnya harus selalu sembilan. Misalnya Rp 90, Rp 900 atau Rp > >> 9.000, Rp 90.000 dan seterusnya dalam kelipatan "sembilan". Uang logam > >> tersebut tersimpan dalam sesajen yang berisi, bagian atas, nasi > >> tumpeng yang disebut congcot, buah jambe, serutu, rokok kretek, rokok > >> daun kawung, pisang, tebu, gula kelapa, daging mentah. Selain itu, > >> terdapat pula pangradinan yang terdiri dari sirih, gambir, kapur > >> sirih, dan tembakau. Di atas sesajen disimpan rengginang, makanan > >> kecil khas pedesaan yang biasa digunakan sebagai lauk minum kopi atau > >> teh. > >> > >> Sambil melemparkan uang logam ke hulu solokan, amil membakar kemenyan. > >> Asapnya mengepul, meninggalkan aroma khas sehingga menimbulkan suasana > >> magis. Apalagi lokasi yang dijadikan tempat upacara terletak pada dua > >> tebing curam. Di sebelah timur yang sekaligus menjadi bibir Sungai > >> Cisangkuy adalah tebing Cihideung tingginya sekitar 30 meter. Pada > >> sisi lain menjulang tebing batu Cadasgantung setinggi lebih kurang 20 > >> meter. Di bagian bawahnya tumbuh tanaman liar. > >> > >> Karena terletak di dekat lokasi yang disebut Cadasgantung, penduduk > >> setempat menamakan bendung tersebut Bendung Cadasgantung. > >> > >> *** > >> > >> BENDUNG Cadasgantung terletak sekitar 3 kilometer dari perkampungan > >> penduduk Cikondang. Lokasi bendung tersebut berada di bagian hilir > >> Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) Lamajan yang dibangun Belanda pada > >> tahun 1920-an. Tenaga listrik yang dihasilkan pada mulanya untuk > >> penerangan Kota Bandung, terutama daerah yang dijadikan hunian mereka. > >> > >> Dengan dibangunnya Bendung Cikondang, maka air Sungai Cisangkuy di > >> bagian hilir PLTA Lamajan terbagi dua. Sebagian debitnya mengalir > >> melalui palung sungai lama dan sebagian lagi masuk dan mengalir > >> melalui saluran yang dibangun secara bergotong royong oleh penduduk > >> setempat. Tetapi, pada awal pembangunannya ternyata tidak mudah > >> mengalirkan air ke saluran tersebut. > >> > >> Alkisah, ketika pemuka masyarakat Cikondang, seperti Mak Egoh, > >> Murnasam, dan penduduk desa lainnya, membangun solokan air ke desanya > >> pada tahun 1911, mereka kesulitan karena daerah bagian hulu yang > >> letaknya berdekatan dengan bendung, terhalang batu besar. Saat itu, > >> mereka hanya mengandalkan cangkul dan peralatan sederhana seadanya. > >> > >> Melihat betapa sulitnya pekerjaan tersebut, tokoh-tokoh masyarakat > >> Kampung Cikajang, Cikanyere, dan Tipar mengusulkan agar Lurah > >> Adiwinata yang saat itu menjabat sebagai Kepala Desa Lamajang meminta > >> bantuan sesepuh masyarakat setempat yang menjadi polisi desa. Namun, > >> masyarakat setempat lebih senang menjulukinya "Bah Kulisi". > >> > >> Julukan bah merupakan singkatan dari abah yang artinya panggilan untuk > >> orang yang sudah sepuh dan disegani karena memiliki kesaktian. Menurut > >> penduduk, panggilan itu merupakan nama samaran untuk menghindarkan > >> pengejaran Belanda. > >> > >> Malam ketika penduduk lainnya tidur nyenyak, Bah Kulisi menyusuri > >> solokan yang masih kering menuju batu besar yang menjadi penghalang. > >> Entah apa yang saat itu dilakukan. Yang jelas, pagi harinya, batu > >> besar yang menghalangi aliran air Cisangkuy ke solokan yang dibangun > >> berhasil dihancurkan. > >> > >> Masyarakat yang semula kebingungan, setelah menyaksikan peristiwa itu > >> berubah menjadi gembira bercampur kagum. Mereka bangga karena memiliki > >> sesepuh desa yang dianggap sakti. > >> > >> *** > >> > >> UPACARA hajat solokan antara lain bertujuan menghormati jasa-jasa Bah > >> Kulisi dan pemuka masyarakat lainnya, sekaligus sebagai ungkapan rasa > >> syukur mereka karena memperoleh air yang melimpah. Dengan air tersebut > >> mereka bisa bercocok tanam padi, palawija dan, sayuran serta dapat > >> meme-nuhi kebutuhan lainnya. > >> > >> Sebagai ungkapan kegembiraan dan kebahagiaan, sejak itu, setiap tahun > >> mereka selalu menyelenggarakan hajat solokan. Sejak pagi hari, kaum > >> wanita berbondong-bondong datang ke tempat upacara. Sebagian bekerja > >> di dapur umum dan sebagian lainnya datang dengan membawa nasi tumpang > >> lengkap dengan lauk-pauknya. Nasi tumpeng dan lauk-pauknya barulah > >> bisa dinikmati setelah dilakukan pembacaan doa. > >> > >> Haji Dasip, salah seorang pemuka masyarakat Cikon-dang, menyatakan, > >> kegiatan itu merupakan cerminan rasa gotong royong masyarakat yang > >> masih kuat. Mereka membiayai kegiatan tersebut secara patungan yang > >> dipungut berdasarkan iuran. > >> > >> Pada zaman dulu, upacara tersebut biasanya dimeriahkan dengan berbagai > >> kesenian sehingga upacara tersebut menjadi atraksi menarik, sekaligus > >> dijadikan ajang silaturahmi sesama warga. Lurah atau kepala desa yang > >> akan menghadiri upacara tersebut menaiki kuda lalu diiring tetabuhan > >> beduk, dog-dog, reog, dan kesenian kendang penca. Mereka menyusuri > >> tanggul saluran sejauh lebih kurang tiga kilometer. Sepanjang > >> perjalanan, masyarakat bersorak-sorai gembira mengiringi pimpinan > >> desanya. > >> > >> Akan tetapi, kesenian yang mengiringi upacara tersebut makin lama > >> makin berkurang jumlahnya. Salah satu sebabnya adalah > >> kesenian-kesenian tradisional tersebut sudah berguguran. Akibatnya, > >> tahun ini, upacara hajat solokan hanya dimeriahkan kacapi yang > >> diiringi Amih Sarifah, jurukawih yang usianya sudah setengah abad. > >> (Her Suganda) > >> > >> Citation: http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0211/05/daerah/meny34.htm > > > > > > > > -- > > Ema Sujalma > > -- Ema Sujalma
