Akibat sikap lemah dan kurang mengenal rasa persatuan bahkan nasionalisme, ........... Nasionalisme nu mana tea ? ... (sapuk jeung Bah Waluya)
..... pihak Portugis dan Belanda untuk bertindak serampangan serta berbuat semena-mena kepada bangsa Indonesia. ........... Semena-mena iraha ? ..... apan acan ngajajahna ge harita mah ..... karek ge dagang wungkul ... Sori menyori lain ngabela bule tapi da harita mah acan ngajajahna ge ..... Pada abad ke-16, seakan kehidupan di dalam pemerintahan Pajajaran belum mengenal wawasan kebangsaan. ..... harita mah bangsa na ge bangsa Sunda .... nya wawasan kasundaan meureun ... matak wawawuhan ka Portugal ge keur ngalindungi bangsa .... lain pedah rek ngontrak Ronaldo ... ........... Pihak kerajaan merasa takut kekuasaannya diambil kembali oleh pendahulunya, yaitu Tarumanegara. .......... Asa beuki teu puguh .... los-los Tarumanagara .... Taruma pan di Bekasi jeung geus euweuh deuih ..... harita mah anu jadi ancaman teh Cirebon jeung Demak ... .......... Kerajaan Sunda ini juga khawatir terhadap Majapahit yang sejak lama telah teampli menjadi sebuah kekuatan besar hampir di seluruh wilayah Jawa. ........ Geus leuwih ti heula Burak Majapahitna ge pan ..... ah ... lieueueueueuuurrrr........ --- On Mon, 30/6/08, Aschev Schuraschev <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Aschev Schuraschev <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [kisunda] Bagaimana Orang Jawa Menulis tentang Sunda To: [email protected] Date: Monday, 30 June, 2008, 7:52 PM Di bawah ini adalah cuplikan dari buku Pangeran Jayakarta (Perintis Jakarta Lewat Sejarah Sunda Kelapa) karangan Ade Soekirno SSP (mantan wartawan pada Harian Merdeka): Akibat sikap lemah dan kurang mengenal rasa persatuan bahkan nasionalisme, Kerajaan Pajajaran telah memberikan banyak peluang yang keliru kepada pihak Portugis dan Belanda untuk bertindak serampangan serta berbuat semena-mena kepada bangsa Indonesia. Pada abad ke-16, seakan kehidupan di dalam pemerintahan Pajajaran belum mengenal wawasan kebangsaan. Mereka terlalu mengagung-agungkan pihak asing yang datang sehingga akibatnya kerugian yang didapat bukan keuntungan. Kaum pedagang asing akhirnya berhasil memonopili perdagangan rempah-rempah, hasil bumi, bahkan hasil tambang seperti emasdan perak dari perut bumi Jawa Barat. Kedua bangsa itu bahkan mampu secara cepat mengubah tekadnya dari bangsa pedagang menjadi bangsa penjajah. (Halaman 3) Dengan bekal rasa ketakutan diserang dari belakang itulah kerajaan Pajajaran seakan secara tidak resmi telah tunduk dan minta perlindungan Portugis. Pihak kerajaan merasa takut kekuasaannya diambil kembali oleh pendahulunya, yaitu Tarumanegara. Kerajaan Sunda ini juga khawatir terhadap Majapahit yang sejak lama telah teampli menjadi sebuah kekuatan besar hampir di seluruh wilayah Jawa. (Halaman 5) Tidak seperti kerajaan lain yang telah berhasil dipesatukan, Pajajaran menolak harapan dan rencana Majapahit yang bermaksud baik. Sumpah Amukti Palapa Mahapatih Gajah ada seakan tidak dipedulikan dan dianggap lelucon yang menguntungkan pihak Majapahit. Pihak Pajajaran merasa mempunyai kekuatan yang sama dengan Majapahit sehingga tidak perlu menanggapinya. Apalagi kala itu Pajajaran merasa tidak ada hubungan dagang yang saling menguntungkan serta menghasilkan uang seperti yang dilakukan dengan Portugis. Akan tetapi, isi sumpah itu akhirnya terbukti. Sikap Pajajaran yang ingin berkuasa sendiri serta cenderung mengagungkan bangsa asing merupakan keputusan keliru yang membawa malapetaka di kemudian hari. Bahkan tindakan Kerajaan Sunda itu berpengaruh besar dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia sampai kini. Sunda Kelapa selalu menjadi rebutan berbagai pihak dan golongan dengan mksud serta tujuan yang sama, yaitu ingin menguasainya. (Halaman 6) Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
