Hermeneutika Naskah Sunda
Sabtu, 5 Juli 2008 | 12:46 WIB

Oleh SUKRON ABDILAH

Dalam naskah kuno Sunda, kita akan menemukan cerita kejayaan kerajaan
Sunda. Naskah itu berbentuk pantun Sunda, babad, wawacan, carita, dan
kisah-kisah penuturan dari masyarakat Sunda secara lisan. Hampir di
setiap daerah tatar Sunda, ada naskah cerita yang mengaitkan luluhur
(nenek moyang) daerah tersebut dengan Prabu Siliwangi. Ini merupakan
tanda, orang Sunda memiliki pola pemikiran hampir sama antara satu
daerah dan daerah lainnya.

Pemikiran bahwa dirinya merupakan keturunan raja Pajajaran yang
heroik, dihormati, ditakuti, dan memiliki kesaktian hampir terdapat
dalam naskah berbentuk pantun Sunda, babad, wawacan, dan sebagainya.
Pada masa mudanya, dalam pantun Sunda atau wawacan, seorang pangeran
keturunan Siliwangi kerap melakukan pengembaraan ke langit untuk
bertemu Batara Guru atau Sunan Ambu, dan ke dasar bumi untuk
mengalahkan Jonggrang Kalapitung, Buta Hejo, atau dedemit yang rakus.

Pengembaraan tokoh dalam naskah Sunda sempat ditafsirkan oleh Jakob
Sumardjo secara cerdik. Manusia Sunda dalam perspektif Jakob Sumardjo
adalah penyatu dualisme kosmos, dunia atas-langit dan dunia
bawah-bumi, sakral dan profan, bahkan yang ilahiyah dan manusiawi
adalah dualisme yang bisa disatukan manusia Sunda (Hermeneutika Sunda;
Simbol-simbol Babad Pakuan/Guru Gantangan, 2004). Tesis itu
dilontarkan Jakob Sumardjo setelah beliau melakukan upaya hermeneutis
ketika membaca naskah Sunda sebagai satu dari sekian banyak produk
kebudayaan.

Jadi, ketika cerita Sunda telah menjadi mitos, sesungguhnya, melakukan
upaya hermeneutis terhadap teks akan terus menghidupkan kembali mitos
yang telah mati sehingga dapat berjalan-beriringan dengan konteks
masyarakat sekitar. Hal ini ditangkap Jakob Sumardjo dengan
menafsirkan Babad Pakuan secara hermeneutis agar masyarakat Sunda
sadar bahwa secara genealogis nenek moyangnya pernah menganut agama
Hindu-Buddha yang bersifat mistis-spiritual.

Setiap usaha para pemikir dalam menafsirkan kebudayaannya tentu saja
tidak bisa dilepaskan diri dari tendensi subyektivitas, yang bisa
menggerus produk penafsirannya dalam kubangan relativitas. Nilai
keabsahannya tidaklah bersifat absolut. Sebab, budaya senantiasa
"mengepakkan sayap" untuk terus terbang atau bertransformasi
menyesuaikan diri dengan putaran ruang dan waktu. Begitu juga dengan
kebudayaan Sunda yang sampai saat ini akan dan masih terus mengubah
wujudnya agar banyak dijadikan falsafah hidup.

Pendekatan hermeneutis

Hermeneutika berasal dari bahasa Yunani, hermeneuies, yang berarti
membaca atau menafsirkan. Kata ini sering kali dikaitkan dengan cerita
mitologis Yunani kuno, yakni Hermes, utusan dewa yang bertugas
menyampaikan pesan dari dewa kepada manusia agar bisa dipahami secara
mudah. Kalau Hermes tidak berhasil menyampaikan pesan kepada manusia
dengan tepat, akan muncul kehancuran. Indikasi keberhasilan
menyampaikan pesan itu adalah adanya manusia yang tidak tahu menjadi
tahu (Sibawaihi, 2007: 6).

Maka, untuk memperoleh kesimpulan yang tak melenceng dari makna teks
dalam naskah Sunda, kita bisa menelusurinya dengan pendekatan
hermeneutis. Itulah cara yang ditempuh Jakob Sumardjo dengan
menawarkan pisau analisis berupa konsep tritangtu Sunda ketika
menafsirkan naskah-naskah yang dibuat leluhur masyarakat Sunda.
Kesimpulannya, salah satu upaya hermeneutik terhadap kebudayaan Sunda
adalah dengan mengetengahkan pembacaan tritangtu yang simbolik.

Ia menafsirkan produk kebudayaan Sunda yang mewujud menjadi korpus
teks yang jarang ditafsirkan masyarakat Sunda secara cerdik dan
ilmiah. Alhasil, makna di balik teks (beyond the text) kisah raja
Pajajaran berupa babad, pantun Sunda, atau wawacan menemukan bentuk
makna aslinya.

Misalnya, anutan agama masyarakat Sunda buhun (dulu) pernah disinggahi
ajaran Hindu dan Buddha. Bahkan, seperti yang dikatakan Jakob
Sumardjo, dalam kisah pantun Sunda, misalnya, ketika membaca naskah
Sunda akan diketahui, masyarakat Sunda waktu itu menganut pemikiran
religi yang mistis-spiritual. Selain itu, pokok pemikiran Sunda juga
selalu membentuk pola dualisme-antagonistik (Jakob Sumardjo,
Simbol-simbol Artefak Sunda, 2003).

"Tritangtu"

Jakob Sumardjo, meskipun berasal dari Jawa, sadar atas budaya
lingkungan sekitarnya (budaya Sunda). Maka, layak kiranya jika ia
disebut sebagai "man is an interpreter being", yang menafsirkan
kebudayaan Sunda dengan aneka tendensi yang melatarbelakanginya
menawarkan konsep tritangtu dalam membaca kesundaan. Arti tritangtu
Sunda adalah tiga ketentuan yang harus dipegang masyarakat Sunda
ketika menjalani hidup kesehariannya.

Lebih kurang, konsep tritangtu kesundaan ini berkisar pada aktivitas
kehidupan masyarakat Sunda yang dibagi-bagi menjadi dua wilayah yang
paradoks, seperti dalam konsep teo-kosmologis orang Sunda ada yang
dinamakan dunia atas dan dunia bawah. Sebagai konvergensi dari dunia
atas dan dunia bawah, ada yang dinamakan dunia tengah. Manusia yang
hidup di dunia tengah adalah perwujudan dari dewa atas dan dewa bumi.

Meskipun memiliki perspektif lain ketika menafsirkan Babad Pakuan,
saya sangat menghargai tawaran tritangtu kesundaan khas Jakob
Sumardjo. Sebab, tiga hal itu mengindikasikan hubungan
manusia-Tuhan-alam. Secara hermeneutis, itulah yang ingin disampaikan
Jakob Sumardjo kepada masyarakat Sunda. Dalam penafsiran terhadap
teks-teks sastra atau karya tulis, dunia si pembaca (the world of
reader) sangat menentukan. Maka, ketika kangmas Jakob membaca naskah
Babad Pakuan dan menafsirkannya, hasilnya tidak bisa dilepaskan dari
pengaruh sosio-religius-budaya kesehariannya.

Lantas, bisakah kita, orang Sunda menafsirkan babad, wawacan, dan
pantun Sunda yang mitologis menjadi rasional dan kontekstual dengan
zaman Sunda kiwari? Saya rasa kita bisa menafsirkan kisah perjuangan
keturunan raja Pajajaran dengan aneka tendensi keilmuan. Secara
hermeneutis itu sah-sah saja. Yang pasti, dengan usaha hermeneutis
yang dilakukan Jakob Sumardjo, masyarakat Sunda akan tersadar bahwa
Sunda tidak seperti yang digagas (alm) Endang S Anshari: Islam-Sunda
dan Sunda-Islam.

Dengan adanya penafsiran terhadap naskah warisan leluhur Sunda, kita
akan berlapang dada ketika ada orang Sunda yang menganut agama
Kristen, Hindu, Buddha, bahkan penganut agama asli Sunda Wiwitan.
Nikmat rasanya jika urang Sunda mampu menafsirkan warisan
kebudayaannya untuk kepentingan harmonisasi di ranah sosial-keagamaan.
Sebab, kita tidak bisa memukul rata: masyarakat Sunda harus menganut
salah satu agama. Keyakinan adalah hak prerogatif setiap manusia
Sunda.

SUKRON ABDILAH Pemerhati Budaya Sunda, Pegiat Studi Agama dan Kearifan
Lokal Sunda

Citation: 
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/05/1246553/hermeneutika.naskah.sunda

------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke