Sugan aya nu kaeleketek urang sunda yeuh ...
Batur mah wani sosoranganan

Mana yeuh turunan SANJAYA !!!
Mana incuna NISKALA !!

yeuh surat ti nu boga kawani ....
rumasa kuring mah can boga kawani siga kieu .....

Ini tulisan Rizal Mallarangeng yang dipublikasikan di facebooknya.

Salam

Surat untuk Semua

Oleh: Rizal
Mallarangeng


Saya ingin mengucapkan terima
kasih atas perhatian dan simpati Anda semua, baik yang berada di tanah air
maupun yang di luar negri. Dalam waktu singkat, lewat Facebook, milis-milis
di
internet, maupun media massa konvensional di tanah air, begitu banyak yang
memberi komentar, salam persahabatan, dukungan,
pertanyaan, keraguan, hingga kritik yang tajam terhadap saya.

Teknologi membuka berbagai
kemungkinan baru, termasuk dalam menyatukan perhatian beragam komunitas dari
berbagai belahan dunia untuk menyampaikan pendapat secara cepat dan
personal.
Hal ini tentu perlu disambut dengan tangan terbuka.

Saya minta maaf sebab tidak
mungkin membalas satu persatu sapaan yang datang kepada saya.

Dalam kesempatan ini, saya hanya
ingin menyampaikan bahwa alasan utama bagi saya untuk tampil sekarang adalah
untuk memberi alternatif baru dalam proses pemilihan kepemimpinan nasional.
Sebenarnya, soal ini bukanlah soal saya sebagai pribadi, tetapi persoalan
sebuah generasi dan sebuah bangsa yang harus terus bergerak maju.

Sejak 10 tahun terakhir,
pilihan-pilihan kepemimpinan nasional tidak banyak berubah. Gus Dur dan
Amien
Rais tampaknya masih ingin ikut pemilihan presiden tahun depan, mendampingi
Presiden SBY dan Wapres Kalla serta Megawati. Begitu juga Jenderal (purn)
Wiranto dan Letjen (purn) Probowo. Mungkin Sultan Hemengkubuwono X dan
Letjen
(purn) Sutiyoso juga akan turut serta.

Saya menghormati tokoh-tokoh
senior tersebut. Tapi apakah pilihan kepemimpinan nasional harus berkisar
hanya
di seputar mereka, sebagaimana yang terjadi setelah Soeharto lengser? Apakah
di
Indonesia terjadi stagnasi dalam sirkulasi kepemimpinan nasional, sehingga
wajah-wajah baru tidak mungkin muncul sama sekali? Jika di Amerika Serikat
muncul Obama (47 tahun) dan di Rusia ada Medvedev (44 tahun), mengapa kita
tidak? Bukankah Republik Indonesia sebenarnya dipelopori oleh para tokoh
yang saat itu berusia muda, seperti dr.
Tjipto Mangunkusumo, HOS Tjokroaminoto, Sukarno, Hatta, Sjahrir?

Somebody has to do something. Kita harus menunjukkan bahwa Indonesia adalah
bangsa besar yang dinamis, berjalan mengikuti perubahan zaman dengan
membuka diri terhadap berbagai kemungkinan
baru. Kita harus berkata kepada para
senior tersebut, we respect you, Sir and
Madam. But please give some space to our new generation. Sudah saatnya
generasi baru kepemimpinan di Indonesia turut serta dalam penentuan
kehidupan bersama pada level politik yang
tertinggi.

Pemikiran seperti itulah yang
memberanikan saya untuk tampil sekarang. Dengan segala kelemahan yang ada,
saya
bersyukur mendapat kesempatan untuk melakukannya. Memang, kalau
dipikir-pikir, kata beberapa
kawan dekat saya, keputusan itu agak gila sedikit. Lebih banyak beraninya
ketimbang
pertimbangan yang dingin dan rasional.

Saya bukan menteri atau mantan
menteri. Saya bukan ketua umum partai, bukan presiden atau mantan presiden,
bukan jenderal berbintang, bukan anak proklamator, bukan pejabat tinggi,
bukan
bekas panglima TNI, bukan pula orang kaya raya atau anak orang kaya raya.
"Rizal," kata kawan-kawan dekat saya itu, "you
are a bit crazy. No, damn crazy!"

Bahkan, bukan hanya kawan-kawan
saya saja, bekas guru besar saya di Columbus, AS, yang
sangat saya sayangi pun, Prof. Bill Liddle, berkomentar lirih, "the time is
not yours yet. My dear Celli (nama
kecil saya), you don't have any chance
whatsoever."

Terhadap semua itu, saya hanya
bisa menjawab, "mungkin anda benar." Semboyan kampanye saya pun bunyinya
rada
mirip, If there is a will, there is a way.
Pada tahap awal ini, yang ada hanyalah kehendak, kemauan, keberanian, and
almost nothing else. Terhadap Bill Liddle saya sempat membalas emailnya
dengan kalimat ini: Pak Bill, the "will"
is here, and I am working out the "way".

Mungkin saya akan berhasil,
mungkin pula tidak. But let me say this: soalnya bukanlah kalah
dan menang, sukses atau tidak. Bahkan sebenarnya, seperti saya telah saya
singgung tadi, soalnya bukanlah tentang Rizal Mallarangeng atau siapa pun.
Soalnya adalah soal sebuah generasi dan sebuah negri yang kita cintai yang
harus bergerak maju, membuka peluang dan kemungkinan- kemungkinan baru.

If what I do will not fly anywhere, saya secara pribadi sudah cukup
puas karena saya sudah mencoba menunjukkan bahwa Indonesia tidak membeku,
stagnan
dengan pilihan-pilihan yang itu-itu saja selama bertahun-tahun.

Namun, kalau toh ada sedikit
harapan yang bisa dikatakan saat ini, saya sebenarnya menangkap sebuah
isyarat,
bahwa dalam masyarakat kita ada sebuah kerinduan terhadap sesuatu yang baru
dan
segar. But it is much too early to bet on this.

Untuk sementara, saya sudah
merasa senang bahwa sekarang sudah mulai ada wacana yang memperbincangkan
generasi baru sebagai pilihan kepemimpinan. Kita telah memecahkan
glass-ceiling yang membatasi kita selama
ini dalam membicarakan kemungkinan baru tersebut di forum publik.

Dengan wacana akan pilihan baru
tersebut, siapa pun orangnya, kita bisa mengatakan kepada dunia, bahkan
kepada
diri kita sendiri, we are a country on
the move. Zaman berubah, Indonesia berubah. Zaman bergerak, Indonesia
bergerak.

Buat saya secara pribadi, tentu
semua itu mengandung dua sisi, sebagaimana setiap hal yang kita lakukan
dalam
kehidupan ini. This is a serious business,
but I am taking it easy. Memang, ada beberapa hal yang menuntut pengorbanan
dalam berbagai hal, termasuk kritik pedas terhadap diri saya pribadi. Tapi,
saya sengaja memulai semua ini dari Banda Neira, salah satunya dari bekas
rumah
pengasingan dr. Tjipto Mangunkusumo, sebagaimana yang terlihat dalam iklan
dari Sabang sampai Merauke.

Entah kenapa, saya tidak pernah
berhenti kagum terhadap tokoh pergerakan kebangsaan yang satu ini, sejak
masih
mahasiswa sampai sekarang. Dia lahir tahun 1886 dan menjadi dokter generasi
pertama hasil didikan Belanda. Sebagai dokter muda di tahun 1920an, dia
sebenarnya bisa menduduki posisi sangat terhormat sebagai pegawai pemerintah
jajahan, apalagi dia pernah mendapat penghargaan tinggi dari Belanda, Order
van
Oranye, karena keberhasilannya membasmi wabah pes di Malang.

Tapi ternyata dia memilih jalan
berbeda dan, bersama Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara, meletakkan batu
pertama perjuangan politik menuju Indonesia merdeka. Dan karena itu,
dia diasingkan ke Banda Neira. Di pulau terpencil inilah, di rumah yang
disediakan Belanda, ia melewati hari-harinya selama 12 tahun, 1927-1939. Ia
meninggal sebelum sempat menyaksikan negri yang dicintainya berhasil merebut
kemerdekaan.

Bagi saya, dr. Tjipto
Mangunkusumo adalah sebuah inspirasi, sebuah cerita kehidupan tentang
kerelaan
menanggung konsekuensi dari sebuah cita-cita. Dan setiap orang, setiap kali
mengambil tindakan penting, pasti mengalami hal yang sama, dalam konteks
yang
berbeda-beda.

Dalam konteks saya, pengorbanan
yang ada terlalu kecil untuk menjadi bahan cerita. Yang ada adalah rasa
terima
kasih kepada banyak sahabat yang telah mendorong dan memungkinkan langkah
yang
saya tempuh. This is a road less-traveled
by, dan karenanya saya pun belum bisa menerka titik akhir dari perjalanan
ini. Semuanya bergantung pada dukungan anda dan masyarkat umumnya.

Sejauh ini, satu hal yang
menyenangkan saya adalah begitu banyaknya perhatian dan tanggapan dari warga
Indonesia yang sedang belajar maupun bekerja di luar
negri-- Amerika Serikat, Jepang, Inggris hingga Bahrain. Dari Sabang Sampai
Merauke yang saya tampilkan di Youtube dapat
disaksikan dari seluruh belahan dunia, secara serempak, kapan saja, dan
dalam
situasi apa saja.

Saya pernah sekolah, mengajar
dan hidup 8 tahun di Columbus, AS. Saat itu belum ada Youtube,
dan saya teringat betapa menyenangkannya mendapat kabar yang hangat dari
tanah
air. Tapi waktu itu hanya ada bacaan koran dan email. Dengan teknologi baru,
apa yang dilihat dan didengar di Metro TV, SCTV, RCTI dan TVOne oleh warga
kita
di Wamena, Jayapura juga bisa disaksikan oleh mahasiswa kita di Tokyo,
Washington DC.,
dan kota-kota lainnya di dunia.

Hal tersebut patut disyukuri.
Kerinduan begitu banyak warga kita di luar negri akan kehangatan berita di
tanah air, serta keterlibatan dalam peristiwa atau isu yang sama, dapat
terpuaskan.
Hal ini membawa dampak positif, berupa ikatan kebangsaan yang makin menebal,
yang melewati tapal batas negara. Perasaan memiliki tanah air yang sama dan
semangat yang sama akan semakin kental, walaupun, atau justru ketika, derap
globalisasi semakin intensif.

Kalau saya boleh mengungkapkan
kegembiraan, itulah yang bisa saya katakan sekarang. Saya sudah menyiapkan
dua
lagi iklan susulan, yang masing-masing akan dimuat selama 2 minggu di
berbagai
tv nasional dan lokal, hingga setelah 17 Agustus nanti. Ketiga seri iklan
inilah yang saya sebut sebagai Trilogi
Harapan Baru dan menjadi dasar filosofis dari awal kampanye saya.
Mudah-mudahan
sambutan terhadapnya juga akan sebaik yang ada saat ini.

Kepada kawan-kawan yang masih
belum puas pada jawaban sementara ini, saya mohon maaf. Selain buku saya
yang
sudah terbit beberapa tahun lalu (Mendobrak
Sentralisme Ekonomi, Penerbit: Pustaka Gramedia, 2002), dan banyak
tulisan-tulisan saya di berbagai media massa (dapat dilihat di www.freedom-
institute. org <http://www.freedom-institute.org/>),
saya memang masih butuh waktu untuk merumuskan hal-hal yang lebih kongkret.

Pada saatnya nanti, saya akan
menjelaskan semua pemikiran saya, yang saya harapkan dapat sedikit menjawab
begitu banyak pertanyaan yang ada.



Salam hangat.
Jakarta, 22 Juli 2008

Kirim email ke