Rizal teh pameget tambih Mallarangeng

*Ketiga seri iklan
inilah yang saya sebut sebagai Trilogi
Harapan Baru dan menjadi dasar filosofis dari awal kampanye saya.
Mudah-mudahan
sambutan terhadapnya juga akan sebaik yang ada saat ini.
*
eta trilogi teh jigana moal tebih ti Tri tangtu (meureun)
tapi urang Badui mah moal aya anu kersaeun jadi presiden,
tah tuntutan ti Kang Iman teh supados katurunan Niskala sareng Sanjaya
aya nu wantun tampil jadi presiden
ku sakolebatan oge kahartos rehna gerentes wantun janten
manusa no 1 di ieu nagari can aya di suku urang (Sunda)
padahal kuring ge keur ngantosan, teuing kaalaman moal tah

lamun kajantenan kang Rizal jadi Presiden,
nya atuh pulau Sulawesi
Sula = Kamoceng
Wesi = Beusi
kadua kalina "nyieun" sajarah

kumaha urang, "pemangku" Sundaland
nungguan keneh ?

sami atuh,
baktos rek ningal heula ka Youtube.







2008/7/26 Tirta widjaja <[EMAIL PROTECTED]>

>   Sami kang abdi ge teu boga kawani kawas kieu, isin lah tebih pisan ti
> lengkah2 Bah Kusno, Uwa Hatta, Uwa Djuanda, Uwa Syafruddin jste. Teu gaduh
> mental jenius, oge teu boga prestasi/gawe ajaib ujug-ujug hebat, komo bari
> teu boga duit. Ningal kana tuur sorangan mah tebih lah wawantunan nyalonkeun
> maneh.
>
>
>
> Ceuk sim kuring mah tos we lah ulah ngeunteung teuing ka Sanjaya atawa
> Niskala, anggur urang nurutan lengkah ramana atawa resi nu ngadidik Sanjaya
> atawa Prabu Bunisora nu ngadidik Niskala. Urang tarapti nyiapkeun Sanjaya2
> jeung Niskala2 ka hareup. Teu aya caritana pamingpin hebat ku jalan instan
> komo jaman kosmetik, penampilan, citra bari teu jelas timana beayana.
>
>
>
> baktos
>
> tirta
>
>
> *~ experientia docet sapientiam ~*
>
>
> ----- Original Message ----
> From: Kang Iman <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Thursday, July 24, 2008 18:42:12
> Subject: [kisunda] Surat ti Calon Presiden
>
>  Sugan aya nu kaeleketek urang sunda yeuh ...
> Batur mah wani sosoranganan
>
> Mana yeuh turunan SANJAYA !!!
> Mana incuna NISKALA !!
>
> yeuh surat ti nu boga kawani ....
> rumasa kuring mah can boga kawani siga kieu .....
>
> Ini tulisan Rizal Mallarangeng yang dipublikasikan di facebooknya.
>
> Salam
>
> Surat untuk Semua
>
> Oleh: Rizal
> Mallarangeng
>
>
> Saya ingin mengucapkan terima
> kasih atas perhatian dan simpati Anda semua, baik yang berada di tanah air
> maupun yang di luar negri. Dalam waktu singkat, lewat Facebook, milis-milis
> di
> internet, maupun media massa konvensional di tanah air, begitu banyak yang
> memberi komentar, salam persahabatan, dukungan,
> pertanyaan, keraguan, hingga kritik yang tajam terhadap saya.
>
> Teknologi membuka berbagai
> kemungkinan baru, termasuk dalam menyatukan perhatian beragam komunitas
> dari
> berbagai belahan dunia untuk menyampaikan pendapat secara cepat dan
> personal.
> Hal ini tentu perlu disambut dengan tangan terbuka.
>
> Saya minta maaf sebab tidak
> mungkin membalas satu persatu sapaan yang datang kepada saya.
>
> Dalam kesempatan ini, saya hanya
> ingin menyampaikan bahwa alasan utama bagi saya untuk tampil sekarang
> adalah
> untuk memberi alternatif baru dalam proses pemilihan kepemimpinan nasional.
> Sebenarnya, soal ini bukanlah soal saya sebagai pribadi, tetapi persoalan
> sebuah generasi dan sebuah bangsa yang harus terus bergerak maju.
>
> Sejak 10 tahun terakhir,
> pilihan-pilihan kepemimpinan nasional tidak banyak berubah. Gus Dur dan
> Amien
> Rais tampaknya masih ingin ikut pemilihan presiden tahun depan, mendampingi
> Presiden SBY dan Wapres Kalla serta Megawati. Begitu juga Jenderal (purn)
> Wiranto dan Letjen (purn) Probowo. Mungkin Sultan Hemengkubuwono X dan
> Letjen
> (purn) Sutiyoso juga akan turut serta.
>
> Saya menghormati tokoh-tokoh
> senior tersebut. Tapi apakah pilihan kepemimpinan nasional harus berkisar
> hanya
> di seputar mereka, sebagaimana yang terjadi setelah Soeharto lengser?
> Apakah di
> Indonesia terjadi stagnasi dalam sirkulasi kepemimpinan nasional, sehingga
> wajah-wajah baru tidak mungkin muncul sama sekali? Jika di Amerika Serikat
> muncul Obama (47 tahun) dan di Rusia ada Medvedev (44 tahun), mengapa kita
> tidak? Bukankah Republik Indonesia sebenarnya dipelopori oleh para tokoh
> yang saat itu berusia muda, seperti dr.
> Tjipto Mangunkusumo, HOS Tjokroaminoto, Sukarno, Hatta, Sjahrir?
>
> Somebody has to do something. Kita harus menunjukkan bahwa Indonesia adalah
> bangsa besar yang dinamis, berjalan mengikuti perubahan zaman dengan
> membuka diri terhadap berbagai kemungkinan
> baru. Kita harus berkata kepada para
> senior tersebut, we respect you, Sir and
> Madam. But please give some space to our new generation. Sudah saatnya
> generasi baru kepemimpinan di Indonesia turut serta dalam penentuan
> kehidupan bersama pada level politik yang
> tertinggi.
>
> Pemikiran seperti itulah yang
> memberanikan saya untuk tampil sekarang. Dengan segala kelemahan yang ada,
> saya
> bersyukur mendapat kesempatan untuk melakukannya. Memang, kalau
> dipikir-pikir, kata beberapa
> kawan dekat saya, keputusan itu agak gila sedikit. Lebih banyak beraninya
> ketimbang
> pertimbangan yang dingin dan rasional.
>
> Saya bukan menteri atau mantan
> menteri. Saya bukan ketua umum partai, bukan presiden atau mantan presiden,
> bukan jenderal berbintang, bukan anak proklamator, bukan pejabat tinggi,
> bukan
> bekas panglima TNI, bukan pula orang kaya raya atau anak orang kaya raya.
> "Rizal," kata kawan-kawan dekat saya itu, "you
> are a bit crazy. No, damn crazy!"
>
> Bahkan, bukan hanya kawan-kawan
> saya saja, bekas guru besar saya di Columbus, AS, yang
> sangat saya sayangi pun, Prof. Bill Liddle, berkomentar lirih, "the time is
> not yours yet. My dear Celli (nama
> kecil saya), you don't have any chance
> whatsoever."
>
> Terhadap semua itu, saya hanya
> bisa menjawab, "mungkin anda benar." Semboyan kampanye saya pun bunyinya
> rada
> mirip, If there is a will, there is a way.
> Pada tahap awal ini, yang ada hanyalah kehendak, kemauan, keberanian, and
> almost nothing else. Terhadap Bill Liddle saya sempat membalas emailnya
> dengan kalimat ini: Pak Bill, the "will"
> is here, and I am working out the "way".
>
> Mungkin saya akan berhasil,
> mungkin pula tidak. But let me say this: soalnya bukanlah kalah
> dan menang, sukses atau tidak. Bahkan sebenarnya, seperti saya telah saya
> singgung tadi, soalnya bukanlah tentang Rizal Mallarangeng atau siapa pun.
> Soalnya adalah soal sebuah generasi dan sebuah negri yang kita cintai yang
> harus bergerak maju, membuka peluang dan kemungkinan- kemungkinan baru.
>
> If what I do will not fly anywhere, saya secara pribadi sudah cukup
> puas karena saya sudah mencoba menunjukkan bahwa Indonesia tidak membeku,
> stagnan
> dengan pilihan-pilihan yang itu-itu saja selama bertahun-tahun.
>
> Namun, kalau toh ada sedikit
> harapan yang bisa dikatakan saat ini, saya sebenarnya menangkap sebuah
> isyarat,
> bahwa dalam masyarakat kita ada sebuah kerinduan terhadap sesuatu yang baru
> dan
> segar. But it is much too early to bet on this.
>
> Untuk sementara, saya sudah
> merasa senang bahwa sekarang sudah mulai ada wacana yang memperbincangkan
> generasi baru sebagai pilihan kepemimpinan. Kita telah memecahkan
> glass-ceiling yang membatasi kita selama
> ini dalam membicarakan kemungkinan baru tersebut di forum publik.
>
> Dengan wacana akan pilihan baru
> tersebut, siapa pun orangnya, kita bisa mengatakan kepada dunia, bahkan
> kepada
> diri kita sendiri, we are a country on
> the move. Zaman berubah, Indonesia berubah. Zaman bergerak, Indonesia
> bergerak.
>
> Buat saya secara pribadi, tentu
> semua itu mengandung dua sisi, sebagaimana setiap hal yang kita lakukan
> dalam
> kehidupan ini. This is a serious business,
> but I am taking it easy. Memang, ada beberapa hal yang menuntut pengorbanan
> dalam berbagai hal, termasuk kritik pedas terhadap diri saya pribadi. Tapi,
> saya sengaja memulai semua ini dari Banda Neira, salah satunya dari bekas
> rumah
> pengasingan dr. Tjipto Mangunkusumo, sebagaimana yang terlihat dalam iklan
> dari Sabang sampai Merauke.
>
> Entah kenapa, saya tidak pernah
> berhenti kagum terhadap tokoh pergerakan kebangsaan yang satu ini, sejak
> masih
> mahasiswa sampai sekarang. Dia lahir tahun 1886 dan menjadi dokter generasi
> pertama hasil didikan Belanda. Sebagai dokter muda di tahun 1920an, dia
> sebenarnya bisa menduduki posisi sangat terhormat sebagai pegawai
> pemerintah
> jajahan, apalagi dia pernah mendapat penghargaan tinggi dari Belanda, Order
> van
> Oranye, karena keberhasilannya membasmi wabah pes di Malang.
>
> Tapi ternyata dia memilih jalan
> berbeda dan, bersama Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara, meletakkan batu
> pertama perjuangan politik menuju Indonesia merdeka. Dan karena itu,
> dia diasingkan ke Banda Neira. Di pulau terpencil inilah, di rumah yang
> disediakan Belanda, ia melewati hari-harinya selama 12 tahun, 1927-1939. Ia
> meninggal sebelum sempat menyaksikan negri yang dicintainya berhasil
> merebut
> kemerdekaan.
>
> Bagi saya, dr. Tjipto
> Mangunkusumo adalah sebuah inspirasi, sebuah cerita kehidupan tentang
> kerelaan
> menanggung konsekuensi dari sebuah cita-cita. Dan setiap orang, setiap kali
> mengambil tindakan penting, pasti mengalami hal yang sama, dalam konteks
> yang
> berbeda-beda.
>
> Dalam konteks saya, pengorbanan
> yang ada terlalu kecil untuk menjadi bahan cerita. Yang ada adalah rasa
> terima
> kasih kepada banyak sahabat yang telah mendorong dan memungkinkan langkah
> yang
> saya tempuh. This is a road less-traveled
> by, dan karenanya saya pun belum bisa menerka titik akhir dari perjalanan
> ini. Semuanya bergantung pada dukungan anda dan masyarkat umumnya.
>
> Sejauh ini, satu hal yang
> menyenangkan saya adalah begitu banyaknya perhatian dan tanggapan dari
> warga Indonesia yang sedang belajar maupun bekerja di luar
> negri-- Amerika Serikat, Jepang, Inggris hingga Bahrain. Dari Sabang Sampai
> Merauke yang saya tampilkan di Youtube dapat
> disaksikan dari seluruh belahan dunia, secara serempak, kapan saja, dan
> dalam
> situasi apa saja.
>
> Saya pernah sekolah, mengajar
> dan hidup 8 tahun di Columbus, AS. Saat itu belum ada Youtube,
> dan saya teringat betapa menyenangkannya mendapat kabar yang hangat dari
> tanah
> air. Tapi waktu itu hanya ada bacaan koran dan email. Dengan teknologi
> baru,
> apa yang dilihat dan didengar di Metro TV, SCTV, RCTI dan TVOne oleh warga
> kita
> di Wamena, Jayapura juga bisa disaksikan oleh mahasiswa kita di Tokyo,
> Washington DC.,
> dan kota-kota lainnya di dunia.
>
> Hal tersebut patut disyukuri.
> Kerinduan begitu banyak warga kita di luar negri akan kehangatan berita di
> tanah air, serta keterlibatan dalam peristiwa atau isu yang sama, dapat
> terpuaskan.
> Hal ini membawa dampak positif, berupa ikatan kebangsaan yang makin
> menebal,
> yang melewati tapal batas negara. Perasaan memiliki tanah air yang sama dan
> semangat yang sama akan semakin kental, walaupun, atau justru ketika, derap
> globalisasi semakin intensif.
>
> Kalau saya boleh mengungkapkan
> kegembiraan, itulah yang bisa saya katakan sekarang. Saya sudah menyiapkan
> dua
> lagi iklan susulan, yang masing-masing akan dimuat selama 2 minggu di
> berbagai
> tv nasional dan lokal, hingga setelah 17 Agustus nanti. Ketiga seri iklan
> inilah yang saya sebut sebagai Trilogi
> Harapan Baru dan menjadi dasar filosofis dari awal kampanye saya.
> Mudah-mudahan
> sambutan terhadapnya juga akan sebaik yang ada saat ini.
>
> Kepada kawan-kawan yang masih
> belum puas pada jawaban sementara ini, saya mohon maaf. Selain buku saya
> yang
> sudah terbit beberapa tahun lalu (Mendobrak
> Sentralisme Ekonomi, Penerbit: Pustaka Gramedia, 2002), dan banyak
> tulisan-tulisan saya di berbagai media massa (dapat dilihat di www.freedom-
> institute. org <http://www.freedom-institute.org/>),
> saya memang masih butuh waktu untuk merumuskan hal-hal yang lebih kongkret.
>
>
> Pada saatnya nanti, saya akan
> menjelaskan semua pemikiran saya, yang saya harapkan dapat sedikit menjawab
> begitu banyak pertanyaan yang ada.
>
>
>
> Salam hangat.
> Jakarta, 22 Juli 2008
>
> Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
> 
>



-- 
Ema Sujalma

Kirim email ke