punten tumaros
dupi Pohon Mata Dewa sareng Tangkal mahkota dewa teh kulawargi caket ?


2008/8/25 mh <[EMAIL PROTECTED]>

>   Ganitri, Pohon Mata Dewa Penyerap Polutan
>
> Di Cipagalo dan Cipadung, Bandung, ada tempat bernama Ciganitri.
> Ganitri adalah nama pohon, yang bijinya keras dengan permukaannya
> seperti yang termakan cacing, terukir alur-alur dengan aneka bentuk
> yang indah. Kini, biji ganitri banyak dimanfaatkan sebagai hiasan
> bunga kering, dan bagi pemeluk agama Hindu, biji ganitri digunakan
> sebagai sarana peribadatan.
>
> Konon, pada suatu saat, air mata Siwa menitik, lalu tumbuh menjadi
> pohon rudraksa dan menyebar di Negeri Bharatawarsa dan sekitarnya,
> kemudian menyebar sampai ke bumi nusantara, nama populernya ganitri
> atau genitri.
>
> Rudraksa, berasal dari kata rudra (Siwa) dan aksa (mata). Rudraksa itu
> buah kesayangan Siwa sehingga dianggap tinggi kesuciannya. Biji mata
> Siwa ini oleh penganutnya dipercaya dapat membersihkan dosa dengan
> melihatnya, bersentuhan, maupun dengan memakainya sebagai sarana japa.
> Oleh karena itu, biji-biji itu diuntai, dipergunakan untuk japa mala.
> Japa artinya mengulang-ulang kata suci, sedangkan mala adalah kata
> lain untuk tasbih atau rosario, rangkaian biji-bijian, permata,
> mutiara, mute, merjan, butiran keramik, atau cendana.
>
> Selain pengaruh religius, bagi pemakainya, rudraksa dipercaya dapat
> memberikan efek biomedis dan bioelektromagnetis sehingga memberikan
> efek kesehatan, kesegaran, dan kebugaran.
>
> Di Indonesia, pohon rudraksa disebut ganitri (Elaeocarpus ganitrus).
> Ada tiga jenis ganitri dan empat jenis agak berlainan yang dinamai
> katulampa (Elaeocarpus glabra BL.). Tinggi pohon ganitri mencapai 30
> meter dengan besar batang 30-40 cm. Buahnya bulat, tergantung di ujung
> tangkai ranting, dengan warna biru agak ungu yang cerah dan sangat
> indah. Burung besar menyukai buah ini sehingga bijinya yang keluar
> dari kotoran burung itu warnanya cokelat yang indah.
>
> Dalam catatan Heyne (1927), daging buahnya yang tipis itu rasanya
> seperti minuman anggur, oleh anak-anak gembala dimakan menjadi
> penyegar di saat terik matahari. Namun belum ada yang penasaran
> menyelidikinya untuk dibuat sirup atau selai, misalnya, sehingga
> pemanfaatannya bukan saja bijinya namun juga daging buahnya.
>
> **
>
> Ganitri dipercaya dapat menyerap polutan sehingga di beberapa jalan di
> Bandung ditanam ganitri sebagai pohon pelindung jalan. Pohon ini
> paling banyak ditanam di Jawa Tengah, Sumatra, Kalimantan, Bali, dan
> Timor, dengan tujuan utama diambil bijinya.
>
> Indonesia adalah pemasok 70% kebutuhan biji ganitri dunia. Nilai
> transaksinya mencapai ratusan miliar rupiah. Menurut beberapa sumber,
> pengekspor membutuhkan 350 ton biji kering ganitri sekali kirim.
> Kelangkaan dan tingginya kebutuhan akan biji ganitri dunia dan
> banyaknya lahan kritis di lereng terjal, adalah paduan yang mungkin.
>
> Biji ganitri yang keras dan awet itu turut menentukan harga jualnya.
> Ukurannya dikelompokkan menjadi 10 nomor. Nomor 1 ukuran diameternya 5
> mm adalah yang terkecil, namun harganya termahal. Harga per butirnya
> turun sebanding dengan setiap kenaikan 0,5 mm. Nomor 1-9 dihargai per
> butir, sedangkan nomor 10 dihargai per kg.
>
> Dalam penyebutan ukuran biji ganitri di Jawa pada zaman kolonial
> Belanda menggunakan nama anggota badan, seperti: 1. endas (kepala), 2.
> gulu (leher), 3. asta (lengan), 4. dada (dada), 5. weteng (perut), 6.
> bokong (pantat), 7. pupu (paha), 8. dengkul (lutut), 9. kental
> (betis), dan 10. kikil (kaki). Ukuran sesuai posisi anggota badan itu
> menunjukkan ukuran butiran sekaligus harganya. Semakin atas ukurannya
> semakin kecil, tentu harganya semakin mahal.
>
> Oleh karena buah ganitri yang kecil mempunyai harga tinggi, para
> pemiliknya, seperti ditulis Heyne (1927), meniru bagaimana orang Cina
> yang menyewa pohon ganitri dari masyarakat, mempertahankan agar
> buahnya itu tidak terus membesar. Segera setelah buahnya jadi, kulit
> ranting-rantingnya dikerat dengan pisau tajam, tapi tidak sampai putus
> sehingga dapat mengurangi pengaliran zat makanan. Kerugiannya, pada
> saat panen, ranting-ranting itu dipatahkan, dan memerlukan waktu untuk
> pulih kembali.
>
> Selain ukurannya, semakin bulat biji dan banyak mukhis-nya, jumlah
> lekukan, harganya semakin tinggi. Biji ganitri memiliki mukhis yang
> berbeda, bervariasi dari 1 hingga 21 mukhis yang masing-masing
> memiliki arti. Warna yang disukai adalah warna cokelat kemerahan yang
> cerah dengan alur-alur kekuningan. Warna cokelat tua, apalagi
> bentuknya tidak bulat benar, tidak disukai. Untuk mendapatkan warna
> yang bagus, biji ganitri terlebih dahulu direndam dalam air laut.
>
> Bila lereng-lereng terjal ada yang dihijaukan dengan pohon ganitri,
> fungsi lingkungan terjaga baik karena tidak ditebang pohonnya. Fungsi
> ekonomi masyarakat pun terpenuhi karena dapat menikmati hasil yang
> luar biasa besarnya dengan memanen bijinya pada bulan
> September-Februari, bukan menebang pohonnya seperti bila dihijaukan
> dengan pohon pinus.
>
> Tentu saja, hutan produksi yang multifungsi itu bukan hanya ditanam
> ganitri, namun bisa juga dengan pohon kosambi atau pohon yang pucuk
> dan bunganya menghasilkan atsiri. Di sempadan sungai pun sebenarnya
> dapat ditanam pohon mata dewa ini.
>
> Di Bandung saat ini, pohon ganitri lebih dikenal sebagai pohon
> pelindung. Pada tahun 1909 diketahui bahwa di Cicalengka, Tasikmalaya,
> dan Banjar, pohon ganitri dibudidayakan dalam talun ganitri. Namun
> sayang kini sudah tak dikenal lagi adanya talun ganitri, padahal
> kebutuhan biji ganitri dunia terus meningkat. Bila tidak diekspor
> dalam bentuk biji kering, ganitri diolah menjadi kerajinan bunga
> kering dan untaian mala untuk peribadatan.
>
> Warga Cilacap dan warga Desa Gadungrejo, Kebumen, Jateng ada yang
> membuat talun ganitri. Di sana ada warga yang hanya memiliki lahan
> seluas 200 m2, lalu ditanami 8 pohon ganitri. Panen perdana dari tiga
> pohon yang baru belajar berbuah menghasilkan 17.000-an biji senilai Rp
> 2,1 juta.***
>
> T. Bachtiar, Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset
> Cekungan Bandung.
>
> Citation:
> http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=29619
>  
>



-- 
Ema Sujalma

Kirim email ke