--- In [email protected], "dudi_ss" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Jigana candi borobudur atawa candi angkor di birma titinggalna
bangsa atlantis kitu? ngan diaku we ku urang hindu/budha,meureun -
meureun
Baktos
Tisna Wae
> Baraya,
> ari keur sa-kuring mah, anu kapanggih ku kuring sorangan jeung
dokrin bohong ti kolot, boga kayakin yen jalma anu mimiti teh turuna
di tatar sunda terus nyebar ka sa-ampar jagat.
>
> Perkara naon anu disebut atlantis, ceuk kuring deui: lamun enya aya
peradaban dina awal peradaban diplanet (bumi) pasti didaerah equator,
moal disub-tropis sabab dina jaman es mah moal hiruplah komo can aya
teknologi mah dina ayana ge paling hiji-hijieun, komo deui di kutub
nepi ka ayeuna ge pan, teu aya anu jualan es goroyak.
>
> Kukituna ayeuna urang fokus ka sabaraha darajat ti garis imajiner
equator, terus bayangkeun lamun cai laut turun 100 - 200 meter,
marucunghul pulo-pulo anyar, (lamun rada hese ngabayangkeunana
download "google earth"). Khusus diwewengkon sundaland moal boa jadi
lengitna sababaraha selat atawa laut, bentuk kontinetal sundaland
gumantung kana asumsi susutna permukaan laut, umpana lamun selat
malaka, selat sunda, laut jawa, laut cina selatan murengked ka kaler
jadina sundaland ngagebleg deui nepi ka sunda kecil. Dibelah wetan
tangtuna sahulland oge kitu maluku, irian ngahiji jeung australia.
Celah Sempit, pasti dipalebah pertemuan atara eta dua dataran Celah
Timor, terus malipir ka laut banda anu kasebut laut dalam.
>
> Ari selat malaka, laut jawa, selat karimata harita mangrupa
naonnya?
>
>
> Catetan:
> Penadapat Oppenheimer, sarimbag jeung dongeng kolot kuring bari
jeung inget-inget poho da ngadengena ge basa kuring keur leutik.
>
> ----- Original Message -----
> From: oman abdurahman
> To: kisunda
> Cc: urangsunda ; [EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Friday, September 12, 2008 9:23 AM
> Subject: [kisunda] Atlantis si Benua nu Leungit teh SUNDALAND,
Ceuk Geologi, Ceuk Kang Okki
>
>
> Baraya,
>
> Kaingetan deui ku postingan kang Oca anu nyabit-nyabit yen
Sundaland
> teh Atlantis nu leungit tea, dihandap ieu kahaturkeun seratan ki
> dulur, Kang Okki Oktariadi, sarjana geologi ti Unpad anu ayeuna
damel
> di Badan Geologi tur keur neruskeun program doktor sami di Unpad.
> Kanggo catetan sareng kanggo saha wae anu bade nyutat ieu seratan
> mangga teh teuing asal disebutkeun sumber. Anapon sumberna,
kusabab
> ieu tulisan teh tos dipublish dina Warta Geologi Volume 3 Nomor 1
> Tahun 2008 nya sebatkeun wae eta penerbitan (Warta Geologi Volume
3
> Nomor 1 Tahun 2008) salaku sumberna.
>
> Mangga nyanggakeun, pamugi aya manfaatna kalawan foto-fotona engke
> nyusul, Insya Alloh.
>
> manAR
>
> BENARKAH SUNDALAND ITU ATLANTIS YANG HILANG?
> (Pandangan dari Sisi Geologi dan Peluang dari Spekulasi Ilmiah)
> Oleh : Oki Oktariadi ([EMAIL PROTECTED])
>
> "Peradaban Atlantis yang hilang" hingga kini barangkali hanyalah
> sebuah mitos mengingat belum ditemukannya bukti-bukti yang kuat
> tentang keberadaannya. Mitos itu pertama kali dicetuskan oleh
> seorang akhli filsafat terkenal dari Yunani, Plato (427 - 347 SM),
> dalam bukunya "Critias dan Timaeus". Disebutkan oleh Plato bahwa
> terdapat awal peradaban yang disebut Benua Atlantis; para
penduduknya
> dianggap sebagai dewa, makhluk luar angkasa, atau bangsa superior;
> benua itu kemudian hilang, tenggelam secara perlahan-lahan karena
> serangkaian bencana, termasuk gempa bumi.
>
> Selama lebih dari 2000 tahun, Atlantis yang hilang telah menjadi
> dongeng. Tetapi sejak abad pertengahan, kisah Atlantis menjadi
> populer di dunia Barat. Banyak ilmuwan Barat secara diam-diam
meyakini
> kemungkinan keberadaannya. Diantara para ilmuwan itu banyak yang
> menganggap bahwa Atlantis terletak di Samudra Atlantis, bahkan ada
> yang menganggap Atlantis terletak di Benua Amerika sampai Timur
> Tengah. Penelitian pun dilakukan di wilayah-wilayah tersebut. Akan
> tetapi, kebanyakan peneliti itu tidak memberikan bukti atau telaah
> yang cukup. Sebagian besar dari mereka hanya mengira-ngira. .
>
> Hanya beberapa tempat di bumi yang keadaannyua memiliki
persayaratan
> untuk dapat diduga sebagai Atlantis sebagaimana dilukiskan oleh
Plato
> lebih dari 20 abad yang lalu. Akan tetapi Samudera Atlantik tidak
> termasuk wilayah yang memenuhi persyaratan itu. Para peneliti masa
> kini malahan menunjuk Sundaland (Indonesia bagian barat hingga ke
> semenanjung Malaysia dan Thailand) sebagai Benua Atlantis yang
hilang
> dan merupakan awal peradaban manusia
> .
> Fenomen Atlantis dan awal peradaban selalu merupakan impian para
> peneliti di dunia untuk membuktikan dan menjadikannya penemuan
ilmiah
> sepanjang masa. Apakah pandangan geologi memberi petunjuk yang
kuat
> terhadap kemungkinan ditemukannya Atlantis yang hilang itu?
Apabila
> jawabannya negatif, apakah peluang yang dapat ditangkap dari
> perdebatan ada tidaknya Atlantis dan kemungkinan lokasinya di
wilayah
> Indonesia?.
>
> PENDAHULUAN
>
> "Mitos" atau cerita tentang benua Atlantis yang hilang pertama
kali
> dicetuskan oleh seorang filosof terkenal dari Yunani bernama Plato
> (427 - 347 SM) dalam bukunya berujudl Critias and Timaeus.
Penduduknya
> dianggap dewa, makhluk luar angkasa atau bangsa superior. Plato
> berpendapat bahwa peradaban dari para peghuni benua Atlantis yang
> hilang itulah sebagai sumber peradaban manusia saat ini.
>
> Hampir semua tulisan tentang sejarah peradaban menempatkan Asia
> Tenggara sebagai kawasan 'pinggiran'. Kawasan yang kebudayaannya
dapat
> subur berkembang hanya karena imbas migrasi manusia atau riak-riak
> difusi budaya dari pusat-pusat peradaban lain, baik yang berpusat
di
> Mesir, Cina, maupun India. Pemahaman tersebut mengacu pada teori
yang
> dianut saat ini yang mengemukakan bahwa pada Jaman Es paling akhir
> yang dialami bumi terjadi sekitar 10.000 sampai 8.000 tahun yang
lalu
> mempengaruhi migrasi spesies manusia.
>
> Jaman Es terakhir ini dikenal dengan nama periode Younger Dryas.
Pada
> saat ini, manusia telah menyebar ke berbagai penjuru bumi berkat
> ditemukannya cara membuat api 12.000 tahun yang lalu. Dalam kurun
> empat ribu tahun itu, manusia telah bergerak dari kampung
halamannya
> di padang rumput Afrika Timur ke utara, menyusuri padang rumput
purba
> yang kini dikenal sebagai Afrasia.
> Padang rumput purba ini membentang dari pegunungan Kenya di
selatan,
> menyusuri Arabia, dan berakhir di pegunungan Ural di utara. Jaman
Es
> tidak mempengaruhi mereka karena kebekuan itu hanya terjadi di
bagian
> paling utara bumi sehingga iklim di daerah tropik-subtropik justru
> menjadi sangat nyaman. Adanya api membuat banyak masyarakat
manusia
> betah berada di padang rumput Afrasia ini.
>
> Maka, ketika para ilmuwan barat berspekulasi tentang keberadaan
benua
> Atlantis yang hilang, mereka mengasumsikan bahwa lokasinya
terdapat di
> belahan bumi Barat, di sekitar laut Atlantik, atau paling jauh di
> sekitar Timur Tengah sekarang. Penelitian untuk menemukan sisa
> Atlantis pun banyak dilakukan di kawasan-kawasan tersebut. Namun
di
> akhir dasawarsa 1990, kontroversi tentang letak Atlantis yang
hilang
> muluai muncul berkaitan dengan pendapat dua orang peneliti, yaitu:
> Oppeheimer (1999) dan Santos (2005).
>
> KONTROVERSI DAN REKONTRUKSI OPPENHEIMER
>
> Kontroversi tentang sumber peradaban dunia muncul sejak
diterbitkannya
> buku Eden The East (1999) oleh Oppenheimer, Dokter ahli genetik
yang
> banyak mempelajari sejarah peradaban. Ia berpendapat bahwa Paparan
> Sunda (Sundaland) adalah merupakan cikal bakal peradaban kuno atau
> dalam bahasa agama sebagai Taman Eden. Istilah ini diserap dari
kata
> dalam bahasa Ibrani Gan Eden. Dalam bahasa Indonesia disebut
Firdaus
> yang diserap dari kata Persia "Pairidaeza" yang arti sebenarnya
adalah
> Taman.
> Menurut Oppenheimer, munculnya peradaban di Mesopotamia, Lembah
> Sungai Indus, dan Cina justru dipicu oleh kedatangan para migran
dari
> Asia Tenggara. Landasan argumennya adalah etnografi, arkeologi,
> osenografi, mitologi, analisa DNA, dan linguistik. Ia mengemukakan
> bahwa di wilayah Sundaland sudah ada peradaban yang menjadi
leluhur
> peradaban Timur Tengah 6.000 tahun silam. Suatu ketika datang
banjir
> besar yang menyebabkan penduduk Sundaland berimigrasi ke barat
yaitu
> ke Asia, Jepang, serta Pasifik. Mereka adalah leluhur Austronesia.
>
> Gambar 1. Buku Eden The East
> (Oppenheimer, 1999)
>
> Rekonstruksi Oppenheimer diawali dari saat berakhirnya puncak
Jaman Es
> (Last Glacial Maximum) sekitar 20.000 tahun yang lalu. Ketika itu,
> muka air laut masih sekitar 150 m di bawah muka air laut sekarang.
> Kepulauan Indonesia bagian barat masih bergabung dengan benua Asia
> menjadi dataran luas yang dikenal sebagai Sundaland. Namun, ketika
> bumi memanas, timbunan es yang ada di kutub meleleh dan
mengakibatkan
> banjir besar yang melanda dataran rendah di berbagai penjuru
dunia.
>
> Data geologi dan oseanografi mencatat setidaknya ada tiga banjir
besar
> yang terjadi yaitu pada sekitar 14.000, 11.000, dan 8,000 tahun
yang
> lalu. Banjir besar yang terakhir bahkan menaikkan muka air laut
hingga
> 5-10 meter lebih tinggi dari yang sekarang. Wilayah yang paling
parah
> dilanda banjir adalah Paparan Sunda dan pantai Cina Selatan.
Sundaland
> malah menjadi pulau-pulau yang terpisah, antara lain Kalimantan,
> Jawa, Bali, dan Sumatera. Padahal, waktu itu kawasan ini sudah
cukup
> padat dihuni manusia prasejarah yang berpenghidupan sebagai
petani dan
> nelayan.
>
> Bagi Oppenheimer, kisah 'Banjir Nuh' atau 'Benua Atlantis yang
hilang'
> tidak lain adalah rekaman budaya yang mengabadikan fenomena alam
> dahsyat ini. Di kawasan Asia Tenggara, kisah atau legenda seperti
ini
> juga masih tersebar luas di antara masyarakat tradisional, namun
belum
> ada yang meneliti keterkaitan legenda dengan fenomena Taman Eden.
>
> BENUA ATLANTIS MENURUT ARYSO SANTOS
>
> Kontroversi dari Oppenheimer seolah dikuatkan oleh pendapat Aryso
> Santos. Profesor asal Brasil ini menegaskan bahwa Atlantis yang
hilang
> sebagaimana cerita Plato itu adalah wilayah yang sekarang disebut
> Indonesia. Pendapat itu muncul setelah ia melakukan penelitian
selama
> 30 tahun yang menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent
Finally
> Found, The Definitifve Localization of Plato's Lost Civilization
> (2005). Santos dalam bukunya tersebut menampilkan 33 perbandingan,
> seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan
cara
> bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah
> Sundaland (Indonesia bagian Barat).
>
> Santos menetapkan bahwa pada masa lalu Atlantis merupakan benua
yang
> membentang dari bagian selatan India, Sri Langka, dan Indonesia
bagian
> Barat meliputi Sumatra, Kalimantan, Jawa dan terus ke arah timur.
> Wilayah Indonesia bagian barat sekarang sebagai pusatnya. Di
wilayah
> itu terdapat puluhan gunung berapi aktif dan dikelilingi oleh
samudera
> yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan
> Samudera Pasifik.
>
> Argumen Santos tersebut didukung banyak arkeolog Amerika Serikat
> bahkan mereka meyakini bahwa benua Atlantis adalah sebuah pulau
besar
> bernama Sundaland, suatu wilayah yang kini ditempati Sumatra,
Jawa dan
> Kalimantan. Sekitar 11.600 tahun silam, benua itu tenggelam
diterjang
> banjir besar seiring berakhirnya zaman es.
>
> Gambar 2. Wilayah Sundaland (Indonesia bagian Barat dalam buku
Santos (2005)
>
> Menurut Plato, Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan
> gunung berapi yang secara bersamaan meletus dan mencairnya
Lapisan Es
> yang pada masa itu sebagian besar benua masih diliputi oleh
> Lapisan-lapisan Es. Maka tenggelamlah sebagian benua tersebut.
>
> Santos berpendapat bahwa meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi
> secara bersamaan tergambarkan pada wilayah Indonesia (dulu).
Letusan
> gunung api yang dimaksud di antaranya letusan gunung Meru di India
> Selatan, letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau
Toba,
> dan letusan gunung Semeru/Mahameru di Jawa Timur. Letusan yang
paling
> dahsyat di kemudian hari adalah letusan Gunung Tambora di Sumbawa
yang
> memecah bagian-bagian pulau di Nusa Tenggara dan Gunung Krakatau
> (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa membentuk Selat
Sunda
> (Catatan : tulisan Santos ini perlu diklarifikasi dan untuk
sementara
> dikutip di sini sebagai apa yang diketahui Santos).
>
> Berbeda dengan Plato, Santos tidak setuju mengenai lokasi Atlantis
> yang dianggap terletak di lautan Atlantik. Ilmuwan Brazil itu
> berargumentasi, bahwa letusan berbagai gunung berapi menyebabkan
> lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya
> bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut
> membebani samudera dan dasarnya sehingga mengakibatkan tekanan
luar
> biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai
benua.
> Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh
> gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan
menimbulkan
> gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich
Events.
> Catatan : pernyataan Santos ini disajikan seperti apa adanya dan
tidak
> merupakan pendapat penulis.
>
> Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos
> sependapat yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu
adalah
> Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik
> Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung
berapi di
> Indonesia, diantaranya ialah: Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar,
> Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung,
Rinjani.
> Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.
>
> Dalam usaha mengemukakan pendapat, tampak Plato telah melakukan
dua
> kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya
datar.
> Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di
Samudera
> Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian oleh para akhli
> Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil
menemukan
> bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah
> semena-mena ada peribahasa yang berkata, "Amicus Plato, sed magis
> amica veritas." Artinya,"Saya senang kepada Plato tetapi saya
lebih
> senang kepada kebenaran."
>
> Atlantis memang misterius, dan karenanya menjadi salah satu tujuan
> utama arkeologi di dunia. Jika Atlantis ditemukan, maka penemuan
> tersebut bisa jadi akan menjadi salah satu penemuan terbesar
sepanjang
> masa.
>
> PANDANGAN GEOLOGI
>
> Pendekatan ilmu geologi untuk mengungkap fenomena hilangnya Benua
> Atlantis dan awal peradaban kuno, dapat ditinjau dari dua sudut
> pandang yaitu pendekatan tektonik lempeng dan kejadian zaman es.
>
> Wilayah Indonesia dihasilkan oleh evolusi dan pemusatan lempeng
> kontinental Eurasia, lempeng lautan Pasifik, dan lempeng Australia
> Lautan Hindia (Hamilton, 1979). umumnya disepakati bahwa
pengaturan
> fisiografi kepulauan Indonesia dikuasai oleh daerah paparan
kontinen,
> letak daerah Sundaland di barat, daerah paparan Sahul atau
Arafura di
> timur. Intervensi area meliputi suatu daerah kompleks secara
geologi
> dari busur kepulauan, dan cekungan laut dalam (van Bemmelen,
1949).
>
> Kedua area paparan memberikan beberapa persamaan dari inti-inti
> kontinen yang stabil ke separuh barat dan timur kepulauan. Area
> paparan Sunda menunjukkan perkembangan bagian tenggara di bawah
> permukaan air dari lempeng kontinen Eurasia dan terdiri dari
> Semenanjung Malaya, hampir seluruh Sumatra, Jawa dan Kalimantan,
Laut
> Jawa dan bagian selatan Laut China Selatan.
> Tatanan tektonik Indonesia bagian Barat merupakan bagian dari
sistim
> kepulauan vulkanik akibat interaksi penyusupan Lempeng Hindia-
> Australia di Selatan Indonesia. Interaksi lempeng yang berupa
jalur
> tumbukan (subduction zone) tersebut memanjang mulai dari kepulauan
> Tanimbar sebelah barat Sumatera, Jawa sampai ke kepulauan Nusa
> Tenggara di sebelah Timur. Hasilnya adalah terbentuknya busur
> gunungapi (magmatic arc).
>
> Gambar 3. Rekontruksi Tektonik Lempeng di Wilayah Asia Tenggara
(Hall,
> 2002). Garis merah adalah batas wilayah yang dikenal sebagai
Sundaland
>
> Rekontruksi tektonik lempeng tersebut akhirnya dapat menerangkan
> pelbagai gejala geologi dan memahami pendapat Santos, yang
menyakini
> Wilayah Indonesia memiliki korelasi dengan anggapan Plato yang
> menyatakan bahwa tembok Atlantis terbungkus emas, perak, perunggu,
> timah dan tembaga, seperti terdapatnya mineral berharga tersebut
pada
> jalur magmatik di Indonesia. Hingga saat ini, hanya beberapa
tempat di
> dunia yang merupakan produsen timah utama. Salah satunya disebut
> Kepulauan Timah dan Logam, bernama Tashish, Tartessos dan nama
lain
> yang menurut Santos (2005) tidak lain adalah Indonesia. Jika Plato
> benar, maka Atlantis sesungguhnya adalah Indonesia.
>
> Selain menunjukan kekayaan sumberdaya mineral, fenomena tektonik
> lempeng tersebut menyebabkan munculnya titik-titik pusat gempa,
> barisan gunung api aktif (bagian dari Ring of Fire dunia), dan
> banyaknya komplek patahan (sesar) besar, tersebar di Sumatera,
Jawa,
> Nusa Tenggara dan Indonesia bagian timur. Pemunculan gunungapi
aktif,
> titik-titik gempa bumi dan kompleks patahan yang begitu besar,
seperti
> sesar Semangko (Great Semangko Fault membujur dari Aceh sampai
teluk
> Semangko di Lampung) memperlihatkan tingkat kerawanan yang begitu
> besar. Menurut Kertapati (2006), karakteristik gempabumi di daerah
> Busur Sunda pada umumnya diikuti tsunami.
>
> Para peneliti masa kini terutama Santos (2005) dan sebagian
peneliti
> Amerika Serikat memiliki kenyakinan bahwa gejala kerawanan bencana
> geologi wilayah Indonesia adalah sesuai dengan anggapan Plato yang
> menyatakan bahwa Benua Atlantis telah hilang akibat letusan gunung
> berapi yang bersamaan.
>
> Pendekatan lain akan keberadaan Benua Atlantis dan awal peradaban
> manusia (hancurnya Taman Eden) adalah kejadian Zaman Es. Pada
zaman Es
> suhu atau iklim bumi turun dahsyat dan menyebabkan peningkatan
> pembentukan es di kutub dan gletser gunung. Secara geologis,
Zaman Es
> sering digunakan untuk merujuk kepada waktu lapisan Es di belahan
bumi
> utara dan selatan; dengan definisi ini kita masih dalam Zaman Es.
> Secara awam untuk waktu 4 juta tahun ke belakang, definisi Zaman
Es
> digunakan untuk merujuk kepada waktu yang lebih dingin dengan
tutupan
> Es yang luas di seluruh benua Amerika Utara dan Eropa.
>
> Penyebab terjadinya Zaman Es antara lain adalah terjadinya proses
> pendinginan aerosol yang sering menimpa planet bumi. Dampak ikutan
> dari peristiwa Zaman Es adalah penurunan muka laut. Letusan
gunung api
> dapat menerangkan berakhirnya Zaman Es pada skala kecil dan teori
> kepunahan Dinosaurus dapat menerangkan akhir Zaman Es pada skala
> besar.
>
> Gambar 4. Penyebaran es di belahan bumi utara pada masa
Pleistosen (USGS, 2005)
>
> Dari sudut pandang di atas, Zaman Es terakhir dimulai sekitar
20.000
> tahun yang lalu dan berakhir kira-kira 10.000 tahun lalu atau pada
> awal kala Holocene (akhir Pleistocene). Proses pelelehan Es di
zaman
> ini berlangsung relatif lama dan beberapa ahli membuktikan proses
ini
> berakhir sekitar 6.000 tahun yang lalu.
>
> Pada Zaman Es, pemukaan air laut jauh lebih rendah daripada
sekarang,
> karena banyak air yang tersedot karena membeku di daerah kutub.
Kala
> itu Laut China Selatan kering, sehingga kepulauan Nusantara barat
> tergabung dengan daratan Asia Tenggara. Sementara itu pulau Papua
juga
> tergabung dengan benua Australia.
>
> Ketika terjadi peristiwa pelelehan Es tersebut maka terjadi
> penenggelaman daratan yang luas. Oleh karena itu gelombang migrasi
> manusia dari/ke Nusantara mulai terjadi. Walaupun belum ditemukan
> situs pemukiman purba, sejumlah titik diperkirakan sempat menjadi
> tempat tinggal manusia purba Indonesia sebelum mulai menyeberang
selat
> sempit menuju lokasi berikutnya (Hantoro, 2001).
>
> Tempat-tempat itu dapat dianggap sebagai awal pemukiman pantai di
> Indonesia. Seiring naiknya paras muka laut, yang mencapai
puncaknya
> pada zaman Holosen ï± 6.000 tahun dengan kondisi muka laut ï± 3
m lebih
> tinggi dari muka laut sekarang, lokasi-lokasi tersebut juga
bergeser
> ke tempat yang lebih tinggi masuk ke hulu sungai.
>
> Berkembangnya budaya manusia, pola berpindah, berburu dan meramu
> (hasil) hutan lambat laun berubah menjadi penetap, beternak dan
> berladang serta menyimpan dan bertukar hasil dengan kelompok lain.
> Kemampuan berlayar dan menguasai navigasi samudera yang sudah
lebih
> baik, memungkinkan beberapa suku bangsa Indonesia mampu
menyeberangi
> Samudra Hindia ke Afrika dengan memanfaatkan pengetahuan cuaca dan
> astronomi. Dengan kondisi tersebut tidak berlebihan Oppenheimer
> beranggapan bahwa
> Taman Eden berada di wilayah Sundaland.
>
> Taman Eden hancur akibat air bah yang memporak porandakan dan
mengubur
> sebagian besar hutan-hutan maupun taman-taman sebelumnya. Bahkan
> sebagian besar dari permukaan bumi ini telah tenggelam dan berada
> dibawah permukaan laut, Jadi pendapat Oppenheimer memiliki
kemiripan
> dengan akhir Zaman Es yang menenggelamkan sebagian daratan
Sundaland.
>
> MENANGKAP PELUANG
>
> Pendapat Oppenheimer (1999) dan Santos (2005) bagi sebagian para
> peneliti adalah kontroversial dan mengada-ada, tentu hal yang
wajar
> dalam pengembangan ilmu untuk mendapatkan kebenaran. Beberapa
tahun ke
> belakang pendapat yang paling banyak diterima adalah seperti yang
> dikemukakan oleh Kircher (1669) bahwa Atlantis itu berada di
> tengah-tengah Samudera Atlantik sendiri, dan tempat yang paling
> meyakinkan adalah Pulau Thera di Laut Aegea, sebelah timur Laut
> Tengah.
>
> Pulau Thera yang dikenal pula sebagai Santorini adalah pulau
gunung
> api yang terletak di sebelah utara Pulau Kreta. Sekira 1.500 SM,
> sebuah letusan gunung api yang dahsyat mengubur dan menenggelamkan
> kebudayaan Minoan. Hasil galian arkeologis menunjukkan bahwa
> kebudayaan Minoan merupakan kebudayaan yang sangat maju di Eropa
pada
> zaman itu, namun demikian sampai saat ini belum ada kesepakatan
dimana
> lokasi Atlantis yang sebenarnya. Setiap teori memiliki pendukung
> masing-masing yang biasanya sangat fanatik dan bahkan bisa saja
> Atlantis hanya ada dalam pemikiran Plato.
>
> Perlu diketahui pula bahwa kandidat lokasi Atlantis bukan hanya
> Indonesia, banyak kandidat lainnya antara lain : Andalusia, Pulau
> Kreta, Santorini, Tanjung Spartel, Siprus, Malta, Ponza, Sardinia,
> Troy, Tantali, Antartika, Kepulauan Azores, Karibia, Bolivia,
Meksiko,
> Laut Hitam, Kepulauan Britania, India, Srilanka, Irlandia, Kuba,
> Finlandia, Laut Utara, Laut Azov, Estremadura dan hasil penelitian
> terbaru oleh Kimura's (2007) yaitu menemukan beberapa monument
batu
> dibawah perairan Yonaguni, Jepang yang diduga sisa-sisa dari
> peradaban Atlantis atau Lemuria.
>
> Gambar 5. Monument Batu yang berhasil ditemukan dibawah perairan
> Yonaguni, Jepang, (Spiegel Distribution TV, 2000)
>
> PELUANG PENGEMBANGAN ILMU
>
> Adalah fakta bahwa saat ini berkembang pendapat yang menjadikan
> Indonesia sebagai wilayah yang dianggap ahli waris Atlantis yang
> hilang. Untuk itu kita harus bersyukur dan membuat kita tidak
rendah
> diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya
> adalah merupakan pusat peradaban dunia yang misterius. Bagi para
> arkeolog atau oceanografer moderen, Atlantis merupakan obyek
menarik
> terutama soal teka-teki dimana sebetulnya lokasi benua tersebut
dan
> karenanya menjadi salah satu tujuan utama arkeologi dunia. Jika
> Atlantis ditemukan, maka penemuan tersebut bisa jadi akan menjadi
> salah satu penemuan terbesar sepanjang masa.
>
> Perkembangan fenomena ini menyebabkan Indonesia menjadi lebih
dikenal
> di dunia internasional khususnya diantara para peneliti di
berbagai
> bidang yang terkait. Oleh karena itu Pemerintah Indonesia perlu
> menangkap peluang ini dalam rangka meningkatkan pengembangan ilmu
> pengetahuan dan teknologi. Peluang ini penting dan jangan sampai
> diambil oleh pihak lain.
>
> Kondisi ini mengingatkan pada Sarmast (2003), seorang arsitek
Amerika
> keturunan Persia yang mengklaim telah menemukan Atlantis dan
> menyebutkan bahwa Atlantis dan Taman Firdaus adalah sama. Sarmast
> menunjukkan bahwa Laut Mediteranian adalah lokasi Atlantis,
tepatnya
> sebelah tenggara Cyprus dan terkubur sedalam 1500 meter di dalam
air.
> 'Penemuan' Sarmast, menjadikan kunjungan wisatawan ke Cyprus
melonjak
> tajam. Para penyandang hibah dana penelitian Sarmast, seperti
editor,
> produser film, agen media dll mendapat keuntungan besar. Mereka
seolah
> berkeyakinan bahwa jika Sarmast benar, maka mereka akan terkenal;
dan
> jika tidak, mereka telah mengantungi uang yang sangat besar dari
para
> sponsor.
>
> Santos (2005) dan seorang arkeolog Cyprus sendiri yaitu Flurentzos
> dalam artikel berjudul : "Statement on the alleged discovery of
> atlantis off Cyprus" (Santos, 2003) memang menolak penemuan
Sarmast.
> Mereka sependapat dengan Plato dan menyatakan secara tegas bahwa
> Atlantis berada di luar Laut Mediterania. Pernyataan ini didukung
oleh
> Morisseau (2003) seorang ahli geologis Perancis yang tinggal di
pulau
> Cyprus. Ia menyatakan tidak berhubungan sama sekali dengan fakta
> geologis. Bahkan Morisseau menantang Sarmant untuk melakukan debat
> terbuka. Namun demikian, usaha Sarmat untuk membuktikan bahwa
> Atlantis yang hilang itu terletak di Cyprus telah menjadikan
kawasan
> Cyprus dan sekitarnya pada sauatu waktu tertentu dibanjiri oleh
> wisatawan ilmiah dan mampu mendatangkan kapital cukup berasal dari
> para sponsor dan wisatawan ilmiah tersebut.
>
> Gambar 6. Peta Atlantis menurut Kircher (1669). Pada peta
tersebut,
> Atlantis terletak di tengah Samudra Atlantik.
>
> Demikian juga dengan letak Taman Eden, sudah banyak yang melakukan
> penelitian mulai dari agamawan sampai para ahli sejarah maupun
ahli
> geologi jaman sekarang. Ada yang menduga letak Taman Eden berada
di
> Mesir, di Mongolia, di Turki, di India, di Irak dsb-nya, tetapi
tidak
> ada yang bisa memastikannya.
>
> Penelitian yang cukup konprehensif berkenaan dengan Taman Eden
> diantaranya dilakukan oleh Zarins (1983) dari Southwest Missouri
State
> University di Springfield. Ia telah mengadakan penelitian lebih
dari
> 10 tahun untuk mengungkapkan rahasia dimana letaknya Taman Eden.
Ia
> menyelidiki foto-foto dari satelit dan berdasarkan hasil
penelitiannya
> ternyata Taman Eden itu telah tenggelam dan sekarang berada di
bawah
> permukaan laut di teluk Persia.
>
> Gambar 7. Taman Eden menurut Zarins (1983)
>
> Hingga saat ini, letak dari Atlantis dan Taman Eden masih menjadi
> sebuah kontroversi, namun berdasarkan bukti arkeologis dan
beberapa
> teori yang dikemukakan oleh para peneliti, menunjukkan kemungkinan
> peradaban tersebut berlokasi di Samudera Pasifik (disekitar
Indonesia
> sekarang). Ini menjadi tantangan para peneliti Indonesia untuk
> menggali lebih jauh, walaupun banyak juga yang skeptis,
beranggapan
> bahwa Atlantis dan Taman Eden tidak pernah ada di muka bumi ini.
>
>
> PENUTUP
>
> Peluang pengembangan ilmu sebenarnya telah direalisasikan oleh
LIPI
> melalui gelaran 'International Symposium on The Dispersal of
> Austronesian and the Ethnogeneses of the People in Indonesia
> Archipelago, 28-30 Juni 2005 yang lalu. Salah satu tema dalam
gelaran
> tersebut menyangkut banyak temuan penting soal penyebaran dan asal
> usul manusia dalam dua dekade terakhir. Salah satu temuan penting
> dari hasil penelitian yang dipresentasikan dalam simposium
tersebut
> adalah hipotesa adanya sebuah pulau yang sangat besar terletak di
Laut
> Cina Selatan yang kemudian tenggelam setelah Zaman Es.
>
> Menurut Jenny (2005), hipotesa itu berdasarkan pada kajian ilmiah
> seiring makin mutakhirnya pengetahuan tentang arkeologi molekuler.
> Salah satu pulau penting yang tersisa dari benua Atlantis jika
memang
> benar, adalah Pulau Natuna, Riau. Berdasarkan kajian biomolekuler,
> penduduk asli Natuna diketahui memiliki gen yang mirip dengan
bangsa
> Austronesia tertua. Bangsa Austronesia diyakini memiliki tingkat
> kebudayaan tinggi, seperti bayangan tentang bangsa Atlantis yang
> disebut-sebut dalam mitos Plato.
>
> Ketika Zaman Es berakhir, yang ditandai tenggelamnya 'benua
Atlantis',
> bangsa Austronesia menyebar ke berbagai penjuru. Mereka lalu
> menciptakan keragaman budaya dan bahasa pada masyarakat lokal yang
> disinggahinya. Dalam tempo cepat yakni pada 3.500 sampai 5.000
tahun
> lampau kebudayaan ini telah menyebar. Kini rumpun Austronesia
> menempati separuh muka bumi.
>
> Dari berbagai pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa asal usul
> Taman Eden (manusia modern) dan hilangnya benua Atlantis sangat
> berkaitan dengan kondisi geologi khususnya aktivitas tektonik
lempeng
> dan peristiwa Zaman Es. Perubahan iklim yang drastik di dunia,
> menyebabkan berubahnya muka laut, kehidupan binatang dan
> tumbuh-tumbuhan.
>
> Zaman Es memberi ruang yang besar kepada perkembangan peradaban
> manusia yang amat besar di Sundaland. Pada saat itu suhu bumi amat
> dingin, kebanyakan air dalam keadaan membeku dan membentuk
glasier.
> Oleh karena itu kebanyakan kawasan bumi tidak sesuai untuk didiami
> kecuali di kawasan khatulistiwa yang lebih panas.
>
> Diantara kawasan ini adalah wilayah Sundaland dan Paparan Sahul
serta
> kawasan di sekitarnya yang memiliki banyak gunung api aktif yang
> memberikan kesuburan tanah. Dengan demikian keduanya memiliki
tingkat
> kenyamanan tinggi untuk berkembangnya peradaban manusia.
>
> Adapun wilayah lainnya tidak cukup memiliki kenyamanan
berkembangnya
> peradaban, karena semua air dalam keadaan membeku yang membentuk
> aapisan es yang tebal. Akibatnya, muka laut turun hingga 200 kaki
> dari muka laut sekarang.
>
> Wilayah Sundaland yang memiliki iklim tropika dan memiliki kondisi
> tanah subur, menunjukkan tingkat keleluasaan untuk didiami.
> Kemungkinan pusat peradaban adalah berada antara Semenanjung
Malaysia
> dan Kalimantan, tepatnya sekitar Kepulauan Natuna (sekitar laut
China
> Selatan) atau pada Zaman Es tersebut merupakan muara Sungai yang
> sangat besar yang mengalir di Selat Malaka menuju laut China
Selatan
> sekarang. Anak-anak sungai dari sungai raksasa tersebut adalah
> sungai-sungai besar yang berada di Pulau Sumatera, dan Pulau
> Kalimantan bagian Barat dan Utara.
>
> Gambar 8. Pola aliran sungai purba di daratan paparan tepian
kontinen
> Sunda (Hantoro, 2007).
>
> Kemungkinan kedua adalah Muara Sungai Sunda yang mengalir di Laut
Jawa
> menuju Samudera Hindia melalui Selat Lombok. Hulu dan anak-anak
sungai
> terutama berasal dari Sumatera bagian Selatan, seluruh Pulau
Jawa, dan
> Pulau kalimantan bagian Selatan.
> Oleh karena itu klaim bahwa awal peradaban manusia berada di
wilayah
> Mediterian patut dipertanyakan. Sebab pada masa itu kondisi iklim
> sangat dingin dan beku, lapisan salju di wilayah Eropa dapat
> menjangkau hingga 1 km tebalnya dari permukaan bumi. Keadaan di
Eropa
> dan Mesir pada masa itu adalah sama seperti apa yang ada di
kawasan
> Artik dan Antartika sekarang ini.
>
> Kawasan Sundaland pada saat itu walaupun memiliki suhu paling
dingin
> sekalipun, tetap dapat didiami dan menjadi kawasan bercocok tanam
> kerena terletak di sekitar garisan khatulistiwa. Lebih menarik
lagi,
> dengan muka laut yang lebih rendah, pada masa itu Sundaland adalah
> satu daratan benua yang menyatu dengan Asia dan terbentang
membentuk
> kawasan yang amat luas dan datar. Apabila bumi menjadi semakin
panas
> dan sebagian daratan Sundaland tenggelam daerah ini tetap dapat
> didiami dan tetap subur.
>
> Di sisi lain kenyamanan iklim dan potensi sumberdaya alam yang
> dimiliki wilayah Sundaland, juga dibayangi oleh kerawanan bencana
> geologi yang begitu besar akibat pergerakan lempeng benua seperti
yang
> dirasakan saat ini. Kejadian gempabumi, letusan gunung api, tanah
> longsor dan tsunami yang terjadi di masa kini juga terjadi di masa
> lampau dengan intensitas yang lebih tinggi seperti letusan Gunung
> Toba, Gunung Sunda dan gunung api lainnya yang belum terungkap
dalam
> penelitian geologi.
> Instansi yang terkait diharapkan dapat berperan menangkap peluang
> dalam mengembangkan ilmu pengetahuan untuk mengungkap fenomena
> Sundaland sebagai Benua Atlantis yang hilang maupun sebagai Taman
> Eden. Paling tidak peranan instansi tersebut dapat memperoleh
> temuan-temuan awal (hipothesis) yang mampu mengundang minat
penelitian
> dunia untuk melakukan riset yang komprehensif dan
berkesinambungan..
>
> Keberhasilan langkah upaya mengungkap suatu fenomena alam akan
membuka
> peluang pengembangan berbagai sektor diantaranya adalah sektor
> pariwisata. Kemampuan manajemen kepariwisataan yang baik, suatu
> kegiatan penelitian berskala internasional artinya hipotesis
> penelitian yang dibangun dapat mempengaruhi wilayah dunia lainnya,
> akan berpotensi menjadi kegiatan wisata ilmiah yang dapat
> menghasilkan devisa negara andalan dan basis ekonomi masyarakat
> seperti yang telah dinikmati oleh Mesir, Yunani, Cyprus dll.
>
> Ucapan Terima Kasihâ"Terima kasih penulis sampaikan kepada:
> 1) Prof. Dr. Ir. Adjat Sudradjat, M.Sc atas saran dan koreksinya.
> 2) Ir. Oman Abdurahman atas review dan editing keseluruhan isi
tulisan.
>
> Penulis adalah peserta Program Doktor Pengembangan Kewilayahan di
> Universitas Padjadjaran Bandung
>
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/