Sampurasun, assalamu alaikum
pami teu lepat kirang langkung sababaraha taun katukang mangsa simkuring
masih keneh sok babrengan jeung adi-adi nonoman mahasiswa Sunda STTTelkom
(SWS : Swara Waditra Sunda), harita kungsi bareng ngayakeun panalungtikeun
budaya-budaya anu ampir punah salah sawiosna Silat Sunda. Riset budaya ieu
diluluguan ku Disbudpar anu harita dicepeng ku Kang Memet HAmdan Gawe
Reujeung sareng Lembaga Panalungtikan UNPAD (LPKM ???) anu di pimpin ku Kang
Ganjar Kurnia (samemeh ka Prancis anu ayeuna janten Rektor).
Manawi Kang Ganjar tiasa ngagujubarkeun hasil panalungtikan lengkepna.
Mung ieu aya sababaraha artikel (duka timana wae ... da harita teh
kukurilinga, aya anu ti Internet aya anu kapangan/ka Cianjur, aya anu tina
majalah Duel, oge ka para tokoh Silat nu tiasa di tepungan).
*1. Cimande
2. Cikalong
3. Syahbandar (Sahbandar)
4. Maenpo Peupeuhan "Adung Rais"
5. Maenpo H. Marzuk*
*(Bral geura guar budaya urang sunda!)*
* *
*Terminology*
Silat sunda dalam bahasa aslinya disebut Maenpo. Dan tiap perguruan
mengartikan Maenpo itu lain-lain. Ini yang saya tahu:
1. Maenpo berasal dari kata *Maen* dan *Peupeuh (Peu = Po)* atau *Maen* dan
*Po*, yang berarti *"maen pukulan"*. *Peupeuh = Pukulan.* Untuk kata Po
sendiri ada yang menduga kata ini berasal dari kosa kata china.
2. Maenpo berasal dari kata *"Maen anu tara mere tempo"*. Artinya, permainan
yang tidak memberi tempo kepada lawan, sehingga lawan tidak bisa
mengembangkan jurusnya.
3. Maenpo berasal dari kata *"Maen Poho"*. Poho dalam bahasa Indonesia
berarti lupa. Jadi Maenpo diartikan maen sampai kita lupa bagaimana bentuk
jurus itu. Maksudnya, badan kita digerakan bukan lagi oleh kemauan, tetapi
oleh badan itu sendiri (refleks dan rileks).
Perkembangannya sendiri meliputi daerah Jawa Barat bagian tengah dan
priangan timur. (Dari Bogor dan Cianjur menyebar ke Purwakarta, lalu
Sukabumi-Bandung-Garut-tasikmalaya, dst). Di banten sendiri, istilah Maenpo
ini kurang dikenal, oleh karena itulah Terumbu disebut Terumbu, bukan Maenpo
Terumbu. Lain dengan misalnya kalau orang menyebut Maenpo Cikaret, Maenpo
Cimande, Maenpo Cikalong... tetapi sekarang orang-orang juga lebih sering
menyebut langsung saja. (Cikaret, Cimande, Cikalong, dsb).
Maenpo juga sering disebut beserta nama orang yang mengembangkannya, contoh
Maenpo Peupeuhan Adung Rais, Maenpo H. Marzuk, Maenpo Ki Abu, dsb.
*Cimande (Sejarah)*
Semua komunitas Maenpo Cimande sepakat tentang siapa penemu Maenpo Cimande,
semua mengarah kepada Abah Khaer (penulisan ada yang: Kaher, Kahir, Kair,
Kaer dsb. Abah dalam bahasa Indonesia berarti Eyang, atau dalam bahasa
Inggris Great Grandfather). Tetapi yang sering diperdebatkan adalah dari
mana Abah Khaer itu berasal dan darimana dia belajar Maenpo. Ada 3 versi
utama yang sering diperdebatkan, yaitu:
*1. Versi Pertama*
Ini adalah versi yang berkembang di daerah Priangan Timur (terutama meliputi
daerah Garut dan Tasikmalaya) dan juga Cianjur selatan. Berdasarkan versi
yang ini, Abah Khaer belajar Silat dari istrinya. Abah Khaer diceritakan
sebagai seorang pedagang (dari Bogor sekitar abad 17-abad 18) yang sering
melakukan perjalanan antara Batavia, Bogor, Cianjur, Bandung, Sumedang, dsb.
Dan dalam perjalanan tersebut beliau sering dirampok, itu terjadi sampai
istrinya menemukan sesuatu yang berharga.
Suatu waktu, ketika Abah Khaer pulang dari berdagang, beliau tidak menemukan
istrinya ada di rumah... padahal saat itu sudah menjelang sore hari, dan ini
bukan kebiasaan istrinya meninggalkan rumah sampai sore. Beliau menunggu dan
menunggu... sampai merasa jengkel dan khawatir... jengkel karena perut lapar
belum diisi dan khawatir karena sampai menjelang tengah malam istrinya belum
datang juga. Akhirnya tak lama kemudian istrinya datang juga, hilang rasa
khawatir... yang ada tinggal jengkel dan marah. Abah Khaer bertanya kepada
istrinya... "ti mana maneh?" (Dari mana kamu?) tetapi tidak menunggu
istrinya menjawab, melainkan langsung mau menempeleng istrinya. Tetapi
istrinya malah bisa menghindar dengan indahnya, dan membuat Abah Khaer
kehilangan keseimbangan. Ini membuat Abah Khaer semakin marah dan mencoba
terus memukul... tetapi semakin mencoba memukul dengan amarah, semakin mudah
juga istrinya menghindar. Ini terjadi terus sampai Abah Khaer jatuh kecapean
dan menyadari kekhilafannya... dan bertanya kembali ke istrinya dengan halus
"ti mana anjeun teh Nyi? Tuluy ti iraha anjeun bisa Ulin?" (Dari mana kamu?
Lalu dari mana kamu bisa "Main"?).
Akhirnya istrinya menjelaskan bahwa ketika tadi pagi ia pergi ke sungai
untuk mencuci dan mengambil air, ia melihat Harimau berkelahi dengan 2 ekor
monyet. (Salah satu monyet memegang ranting pohon.) Saking indahnya
perkelahian itu sampai-sampai ia terkesima, dan memutuskan akan menonton
sampai beres. Ia mencoba mengingat semua gerakan baik itu dari Harimau
maupun dari Monyet, untungnya baik Harimau maupun Monyet banyak
mengulang-ngulang gerakan yang sama, dan itu mempermudah ia mengingat semua
gerakan. Pertarungan antara Harimau dan Monyet sendiri baru berakhir
menjelang malam.
Setelah pertarungan itu selesai, ia masih terkesima dan dibuat takjub oleh
apa yang ditunjukan Harimau dan Monyet tersebut. Akhirnya ia pun berlatih
sendirian di pinggir sungai sampai betul-betul menguasai semuanya (Hapal),
dan itu menjelang tengah malam.
Apa yang ia pakai ketika menghindar dari serangan Abah Khaer, adalah apa
yang ia dapat dari melihat pertarungan antara Harimau dan Monyet itu. Saat
itu juga, Abah Khaer meminta istrinya mengajarkan beliau. Ia berpikir, 2
kepala yang mengingat lebih baik daripada satu kepala. Ia takut apa yang
istrinya ingat akan lupa. Beliau berhenti berdagang dalam suatu waktu, untuk
melatih semua gerakan itu, dan baru berdagang kembali setelah merasa mahir.
Diceritakan bahwa beliau bisa mengalahkan semua perampok yang mencegatnya,
dan mulailah beliau membangun reputasinya di dunia persilatan.
*Jurus yang dilatih:*
*1. Jurus Harimau/Pamacan* (Pamacan, tetapi mohon dibedakan pamacan yang
"black magic" dengan jurus pamacan. Pamacan black magic biasanya kuku
menjadi panjang, mengeluarkan suara-suara aneh, mata merah dll. Silakan
guyur aja dengan air kalau ketemu yang kaya gini. ).
*2. Jurus Monyet/Pamonyet* (Sekarang sudah sangat jarang sekali yang
mengajarkan jurus ini, dianggap punah. Saya sendiri sempat melihatnya di
Tasikmalaya, semoga beliau diberi umur panjang, kesehatan dan murid yang
berbakti sehingga jurus ini tidak benar-benar punah).
*3. Jurus Pepedangan* (ini diambil dari monyet satunya lagi yang memegang
ranting).
Cerita di atas sebenarnya lebih cenderung mitos, tidak bisa dibuktikan
kebenarannya, walaupun jurus-jurusnya ada. Maenpo Cimande sendiri dibawa ke
daerah Priangan Timur dan Cianjur selatan oleh pekerja-pekerja perkebunan
teh. Hal yang menarik adalah beberapa perguruan tua di daerah itu kalau
ditanya darimana belajar Maenpo Cimande selalu menjawab "ti indung" (dari
ibu), karena memang mitos itu mempengaruhi budaya setempat, jadi jangan
heran kalau di daerah itu perempuan pun betul-betul mempelajari Maenpo
Cimande dan mengajarkannya kepada anak-anak atau cucu-cucunya, seperti
halnya istrinya Abah Khaer mengajarkan kepada Abah Khaer.
Perkembangannya Maenpo Cimande sendiri sekarang di daerah tersebut sudah
diajarkan bersama dengan aliran lain (Cikalong, Madi, Kari, Sahbandar, dll).
Beberapa tokoh yang sangat disegani adalah *K.H. Yusuf Todziri* (sekitar
akhir 1800 - awal 1900), *Kiai Papak* (perang kemerdekaan, komandannya Mamih
Enny), *Kiai Aji* (pendiri Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka, perang
kemerdekaan), *Kiai Marzuk* (Maenpo H. Marzuk, jaman penjajahan Belanda),
dll.
*Cimande (Sejarah)
2. Versi Kedua*
Menurut versi kedua, Abah Khaer adalah seorang ahli maenpo dari Kampung
Badui. Beliau dipercayai sebagai keturunan *Abah Bugis* (Bugis di sini tidak
merujuk kepada nama suku atau daerah di Indonesia Tengah). Abah Bugis
sendiri adalah salah seorang Guru ilmu perang khusus dan kanuragaan untuk
prajurit pilihan di Kerajaan Padjadjaran dahulu kala. Kembali ke Badui,
keberadaan Abah Khaer di Kampung Badui mengkhawatirkan sesepuh-sesepuh
Kampung Badui, karena saat itu banyak sekali pendekar-pendekar dari daerah
lain yang datang dan hendak mengadu jurus dengan Abah Khaer, dan semuanya
berakhir dengan kematian. Kematian karena pertarungan di tanah Badui adalah
merupakan "pengotoran" akan kesucian tanah Badui.
Karena itu, pimpinan Badui (biasa dipanggil *Pu'un*) meminta Abah Khaer
untuk meninggalkan Kampung Badui, dengan berat hati... Abah Khaer pun pergi
meninggalkan Kampung Badui dan bermukim di desa Cimande-Bogor. Tetapi, untuk
menjaga rahasia-rahasia Kampung Badui (terutama Badui dalam), Abah Khaer
diminta untuk membantah kalau dikatakan dia berasal dari Badui, dan orang
Badui (Badui dalam) pun semenjak itu diharamkan melatih Maenpo mereka ke
orang luar, jangankan melatih... menunjukan pun tidak boleh. Satu hal lagi,
Abah Khaer pun berjanji untuk "menghaluskan" Maenpo nya, sehingga tidak ada
lagi yang terbunuh dalam pertarungan, dan juga beliau berjanji hanya akan
memakai dan memanfaatkannya untuk kemanusiaan. Oleh karena itu, dahulu
beberapa Guru-guru Cimande tua tidak akan menerima bayaran dari muridnya
yang berupa uang, lain halnya kalau mereka memberi barang... misal beras,
ayam, gula merah atau tembakau sebagai wujud bakti murid terhadap Guru.
Barang-barang itupun, oleh Guru tidak boleh dijual kembali untuk diuangkan.
Versi kedua ini banyak diadopsi oleh komunitas Maenpo dari daerah Jawa Barat
bagian barat (Banten, Serang, Sukabumi, Tangerang, dsb). Mereka juga
mempercayai beberapa aliran tua di sana awalnya dari Abah Khaer, misalnya *
Sera*. Penca Sera berasal dari *Uwak Sera* yang dikatakan sebagai salah
seorang murid Abah Khaer (ada yang mengatakan anak, tetapi paham ini
bertentangan dengan paham lain yang lebih tertulis). Penca Sera sendiri
sayangnya sekarang diakui dan dipatenkan di US oleh orang Indo-Belanda
sebagai beladiri keluarga mereka.
*Cimande (Sejarah)
3. Versi Ketiga*
Versi ketiga inilah yang "sedikit" ada bukti-bukti tertulis dan tempat yang
lebih jelas. Versi ini pulalah yang dipakai oleh keturunan beliau di *Kampung
Tarik Kolot - Cimande (Bogor)*. Meskipun begitu, versi ini tidak menjawab
tuntas beberapa pertanyaan, misal: Siapa genius yang menciptakan aliran
Maenpo ini yang kelak disebut Maenpo Cimande.
Abah Khaer diceritakan sebagai murid dari *Abah Buyut*, masalahnya dalam
budaya Sunda istilah Buyut dipakai sebagaimana "leluhur" dalam bahasa
Indonesia. Jadi Abah Buyut sendiri merupakan sebuah misteri terpisah,
darimana beliau belajar Maenpo ini... apakah hasil perenungan sendiri atau
ada yang mengajari? Yang pasti, di desa tersebut... tepatnya di Tanah Sareal
terletak makam leluhur Maenpo Cimande ini... Abah Buyut, Abah Rangga, Abah
Khaer, dll.
Abah Khaer awalnya berprofesi sebagai pedagang (kuda dan lainnya), sehingga
sering bepergian ke beberapa daerah, terutama Batavia. Saat itu perjalanan
Bogor-Batavia tidak semudah sekarang, bukan hanya perampok... tetapi juga
Harimau, Macan Tutul dan Macan Kumbang. Tantangan alam seperti itulah yang
turut membentuk beladiri yang dikuasai Abah Khaer ini. Disamping itu, di
Batavia Abah Khaer berkawan dan saling bertukar jurus dengan beberapa
pendekar dari China dan juga dari Sumatra. Dengan kualitas basic beladirinya
yang matang dari Guru yang benar (Abah Buyut), juga tempaan dari tantangan
alam dan keterbukaan menerima kelebihan dan masukan orang lain, secara tidak
sadar Abah Khaer sudah membentuk sebuah aliran yang dasyat dan juga
mengangkat namanya.
Saat itu (sekitar 1700-1800) di Cianjur berkuasa Bupati *Rd. Aria
Wiratanudatar VI* (*1776-1813*, dikenal juga dengan nama *Dalem Enoh*). Sang
Bupati mendengar kehebatan Abah Khaer, dan memintanya untuk tinggal di
Cianjur dan bekerja sebagai *"pamuk"* (pamuk=guru beladiri) di lingkungan
Kabupatian dan keluarga bupati. Bupati Aria Wiratanudatar VI memiliki 3
orang anak, yaitu: *Rd. Aria Wiranagara* (*Aria Cikalong*), *Rd. Aria
Natanagara* (*Rd.Haji Muhammad Tobri*) dan *Aom Abas* (ketika dewasa menjadi
Bupati di Limbangan-Garut). Satu nama yang patut dicatat di sini adalah Aria
Wiranagara (Aria Cikalong), karena beliaulah yang merupakan salah satu murid
terbaik Abah Khaer dan nantinya memiliki cucu yang "menciptakan" aliran baru
yang tak kalah dasyat.
Sepeninggal Bupati Aria Wiratanudatar VI (tahun 1813), Abah Khaer pergi dari
Cianjur mengikuti Rd. Aria Natanagara yang menjadi Bupati di Bogor. Mulai
saat itulah beliau tinggal *di Kampung Tarik Kolot - Cimande* sampai wafat (
*Tahun 1825*, usia tidak tercatat). Abah Khaer sendiri memiliki 5 orang
anak, seperti yang dapat dilihat di bawah ini. Mereka inilah dan
murid-muridnya sewaktu beliau bekerja di kabupaten yang menyebarkan Maenpo
Cimande ke seluruh Jawa Barat.
Dan ini adalah gambaran dari salah seorang anak Rd. Aria Wiratanudatar VI,
yaitu Aom Abas, yang setelah menjadi Bupati di Limbangan Garut juga bergelar
Rd. Aria Wiratanudatar.
Sayangnya image tentang Abah Khaer sendiri tidak ada, cuma digambarkan bahwa
beliau: *"selalu berpakain kampret dan celana pangsi warna hitam. Dan juga
beliau selalu memakai ikat kepala warna merah, digambarkan bahwa ketika
beliau "ibing" di atas panggung penampilannya sangat expressif, dengan badan
yang tidak besar tetapi otot-otot yang berisi dan terlatih baik, ketika
"ibing" (menari) seperti tidak mengenal lelah. Terlihat bahwa dia sangat
menikmati tariannya tetapi tidak kehilangan kewaspadaannya, langkahnya
ringan bagaikan tidak menapak panggung, gerakannya selaras dengan kendang
("Nincak kana kendang" - istilah sunda). Penampilannya betul-betul tidak
bisa dilupakan dan terus diperbincangkan."* (dari cerita/buku Pangeran
Kornel, legenda dari Sumedang, dalam salah satu bagian yang menceritakan
kedatangan Abah Khaer ke Sumedang, aslinya dalam bahasa Sunda, pengarang Rd
Memed Sastradiprawira).
*Jurus-jurus Cimande*
Secara garis besar jurus-jurus Maenpo Cimande dibagi menjadi 3, yaitu:
1. Jurus Kelid Cimande (33 Jurus)
2. Jurus Pepedangan
3. Tepak Selancar ("Ibing" khas Cimande)
*1. Jurus Kelid Cimande*
Jurus Kelid Cimande dibagi menjadi 33 Jurus yang dilatih secara tunggal dan
berulang-ulang. Latihan diawali dengan posisi duduk dan biasanya
berpasang-pasangan. Latihan posisi duduk dimaksudkan agar murid konsentrasi
terlebih dahulu kepada gerakan tangan, dan tidak memikirkan dahulu langkah
kaki atau kuda-kuda. Nantinya, ketika murid sudah memiliki "rasa", baru
latihan dilanjutkan dengan berdiri.
Kuda-kuda Cimande termasuk salah satu kuda-kuda rendah, ini katanya
disebabkan karena awalnya Cimande dikembangkan di tanah yang licin, sehingga
diperlukan kuda-kuda yang rendah dengan langkah yang sangat berhati-hati
sekali, beberapa malah memakai langkah "seser". Walaupun begitu, hal ini
tidak mengurangi "mobilitas" dan kecepatan gerak dari pesilat. Perputaran
tumpuan kaki di jurus Cimande tidak terpaku ke tumit atau kaki bagian depan,
tetapi saling mengimbangi.
Ada yang menganggap bahwa aliran Cimande "cukup keras mengadu tangan" ketika
menangkis, padahal kalau digali lebih jauh sebenarnya tidak. Salah satu ciri
khas Cimande ketika menangkis adalah posisi tangan yang dirapatkan ke dada
(menempel ke ketiak, dari siku ke pergelangan melindungi dada, dengan
telapak tangan saling berhadapan, jari-jari mengarah ke luar). Tangkisan ini
dilakukan tidak semata-mata "membenturkan" badan/tangan dengan serangan
lawan. Tetapi dilakukan berbarengan dengan perputaran kuda-kuda, dilanjutkan
perputaran bagian tubuh dari pinggang ke atas, lalu perputaran dari siku
tangan sampai pergelangan (sehingga timbul gesekan antara ketiak dan lengan
bagian atas), perputaran telapak tangan dan diakhiri tekanan/dorongan ke
luar atau ke bawah (dalam hitungan detik). Efek yang dirasakan adalah
"seakan-akan" tidak ada benturan antara serangan lawan dan tangkisan kita,
malah lawan tertarik dan kehilangan keseimbangan. Ini saya rasakan sendiri
ketika bertamu ke guru di Tasikmalaya, waktu itu saya sampai jatuh
berguling-guling dan merasa sangat malu sekali, tetapi hal itu selalu
membuat saya ingat dan bersyukur. *(Nuhun Pak...)*
Berikut ini nama ke-*33 Jurus Kelid Cimande*:
1. Tonjok Bareng.
2. Tonjok Sabeulah.
3. Kelid Selup.
4. Timpah Sabeulah.
5. Timpah Serong.
6. Timpah Duakali.
7. Bateukan.
8. Teke Tampa.
9. Teke Purilit.
10. Geuweukan.
11. Kedutan.
12. Guaran.
13. Kedut Guar.
14. Kelid Dibeulah.
15. Selup Dibeulah.
16. Kelid Tonjok.
17. Selup Tonjok.
18. Kelid Tilu.
19. Selup Tilu.
20. Kelid Lima.
21. Selup Lima.
22. Peuncitan.
23. Timpah Bohong.
24. Serong Panggul.
25. Serong Gawil.
26. Serong Guar.
27. Singgul Serong.
28. Singgul Sabeulah.
29. Sabet Pedang.
30. Beulit Kacang.
31. Beulit Jalak Pengkor.
32. Pakala Leutik.
33. Pakala Gede.
Beberapa perguruan, terutama yang mengajarkan juga aliran lain, sudah tidak
mengajarkan ke-33 jurus itu secara asli, tetapi dicampurkan dengan
jurus-jurus lainnya, maka jangan heran apabila ada perguruan Cimande yang
mengajarkan Jurus Cimande hanya 18 atau 28. Tetapi juga tidak sedikit
perguruan yang masih mengajarkan ke-33 Jurus itu secara original.
*2. Jurus Pepedangan*
Untuk bagian ini saya tidak akan banyak menjelaskan, karena memang belum
belajar (hanya sempat melihat). Saya hanya akan sedikit menceritakan bahwa
ada anggapan bahwa jurus ini terinspirasi oleh monyet yang memegang ranting
dalam Sejarah Cimande Versi 1. Dan perputaran yang saya jelaskan di atas
(soal tangkisan) tetap diaplikasikan. Untuk Jurus Pepedangan ini saya sangat
mengharapkan Master-master Cimande di Forum ini untuk menjelaskan lebih
jauh.
*3. Tepak Selancar*
Tepak Selancar adalah "Ibing Penca" khas Cimande. Mungkin bagi sebagian
orang Ibingan ini dianggap sepele, begitu juga saya ketika pertama kali
belajar, tetapi ternyata manfaat yang didapat sangat bernilai sekali.
Ibingan Cimande (dan juga dalam Maenpo lainnya) bukan hanya sekedar tarian
untuk hiburan, tetapi merupakan rangkaian jurus yang sudah disatukan secara
terpadu dan dipikirkan matang-matang. Bagi beberapa pesilat, ibingan ini
adalah pertarungan real "tanpa lawan", karena itu mereka melakukannya dengan
sungguh-sungguh sekali (dengan rasa) seakan-akan dalam pertarungan
sesungguhnya.
On Sat, Sep 13, 2008 at 9:57 PM, mh <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Baraya, keur ngalegaan totoongan perkara SILAT, ieu aya referensi
> mangrupa desertasi urang Ostrali,
> Tuan Ian Douglas Wilson, judulna "The Politics of Inner Power: The
> Practice of Pencak Silat in West Java".
> Sabuku lengkep, tiasa di-download.
>
> http://wwwlib.murdoch.edu.au/adt/browse/view/adt-MU20040210.100853
>
> salam,
> mh
>
>