rampes jasa , kg Emha. kg Rakeyan...!
asaaaaa teh , urg gumelar
di lemah cai Sunda...
nu kageuri...
....oca tea...

--- On Sat, 9/13/08, Wahyudi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Wahyudi <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [kisunda] SILAT SUNDA - Rujukan
To: [email protected], [EMAIL PROTECTED]
Date: Saturday, September 13, 2008, 12:08 PM









Sampurasun, assalamu alaikum
pami teu lepat kirang langkung sababaraha taun katukang mangsa simkuring masih 
keneh sok babrengan jeung adi-adi nonoman mahasiswa Sunda STTTelkom (SWS : 
Swara Waditra Sunda), harita kungsi bareng ngayakeun panalungtikeun 
budaya-budaya anu ampir punah salah sawiosna Silat Sunda. Riset budaya ieu 
diluluguan ku Disbudpar anu harita dicepeng ku Kang Memet HAmdan Gawe Reujeung 
sareng Lembaga Panalungtikan UNPAD (LPKM ???) anu di pimpin ku Kang Ganjar 
Kurnia (samemeh ka Prancis anu ayeuna janten Rektor).

Manawi Kang Ganjar tiasa ngagujubarkeun hasil panalungtikan lengkepna.
Mung ieu aya sababaraha artikel (duka timana wae ... da harita teh kukurilinga, 
aya anu ti Internet aya anu kapangan/ka Cianjur, aya anu tina majalah Duel, oge 
ka para tokoh Silat nu tiasa di tepungan).


1. Cimande

2. Cikalong

3. Syahbandar (Sahbandar)

4. Maenpo Peupeuhan "Adung Rais"

5. Maenpo H. Marzuk



(Bral geura guar budaya urang sunda!)

 

Terminology



Silat sunda dalam bahasa aslinya disebut Maenpo. Dan tiap perguruan mengartikan
Maenpo itu lain-lain. Ini yang saya tahu:

1. Maenpo berasal dari kata Maen dan Peupeuh (Peu = Po)
atau Maen dan Po, yang berarti "maen pukulan".
Peupeuh = Pukulan. Untuk kata Po sendiri ada yang menduga kata ini
berasal dari kosa kata china.

2. Maenpo berasal dari kata "Maen anu tara mere tempo".
Artinya, permainan yang tidak memberi tempo kepada lawan, sehingga lawan tidak
bisa mengembangkan jurusnya.

3. Maenpo berasal dari kata "Maen Poho". Poho dalam bahasa
Indonesia berarti lupa. Jadi Maenpo diartikan maen sampai kita lupa bagaimana
bentuk jurus itu. Maksudnya, badan kita digerakan bukan lagi oleh kemauan,
tetapi oleh badan itu sendiri (refleks dan rileks).



Perkembangannya sendiri meliputi daerah Jawa Barat bagian tengah dan priangan
timur. (Dari Bogor dan Cianjur menyebar ke Purwakarta, lalu
Sukabumi-Bandung-Garut-tasikmalaya, dst). Di banten sendiri, istilah Maenpo ini
kurang dikenal, oleh karena itulah Terumbu disebut Terumbu, bukan Maenpo
Terumbu. Lain dengan misalnya kalau orang menyebut Maenpo Cikaret, Maenpo
Cimande, Maenpo Cikalong... tetapi sekarang orang-orang juga lebih sering
menyebut langsung saja. (Cikaret, Cimande, Cikalong, dsb).



Maenpo juga sering disebut beserta nama orang yang mengembangkannya, contoh
Maenpo Peupeuhan Adung Rais, Maenpo H. Marzuk, Maenpo Ki Abu, dsb.

 

Cimande
(Sejarah)



Semua komunitas Maenpo Cimande sepakat tentang siapa penemu Maenpo Cimande,
semua mengarah kepada Abah Khaer (penulisan ada yang: Kaher, Kahir, Kair, Kaer
dsb. Abah dalam bahasa Indonesia berarti Eyang, atau dalam bahasa Inggris Great
Grandfather). Tetapi yang sering diperdebatkan adalah dari mana Abah Khaer itu
berasal dan darimana dia belajar Maenpo. Ada 3 versi utama yang sering
diperdebatkan, yaitu:



1. Versi Pertama

Ini adalah versi yang berkembang di daerah Priangan Timur (terutama meliputi
daerah Garut dan Tasikmalaya) dan juga Cianjur selatan. Berdasarkan versi yang
ini, Abah Khaer belajar Silat dari istrinya. Abah Khaer diceritakan sebagai
seorang pedagang (dari Bogor sekitar abad 17-abad 18) yang sering melakukan 
perjalanan
antara Batavia, Bogor, Cianjur, Bandung, Sumedang, dsb. Dan dalam perjalanan
tersebut beliau sering dirampok, itu terjadi sampai istrinya menemukan sesuatu
yang berharga. 



Suatu waktu, ketika Abah Khaer pulang dari berdagang, beliau tidak menemukan
istrinya ada di rumah... padahal saat itu sudah menjelang sore hari, dan ini
bukan kebiasaan istrinya meninggalkan rumah sampai sore. Beliau menunggu dan
menunggu... sampai merasa jengkel dan khawatir... jengkel karena perut lapar
belum diisi dan khawatir karena sampai menjelang tengah malam istrinya belum
datang juga. Akhirnya tak lama kemudian istrinya datang juga, hilang rasa
khawatir... yang ada tinggal jengkel dan marah. Abah Khaer bertanya kepada
istrinya... "ti mana maneh?" (Dari mana kamu?) tetapi tidak menunggu
istrinya menjawab, melainkan langsung mau menempeleng istrinya. Tetapi istrinya
malah bisa menghindar dengan indahnya, dan membuat Abah Khaer kehilangan
keseimbangan. Ini membuat Abah Khaer semakin marah dan mencoba terus memukul...
tetapi semakin mencoba memukul dengan amarah, semakin mudah juga istrinya
menghindar. Ini terjadi terus sampai Abah Khaer jatuh kecapean dan menyadari
kekhilafannya... dan bertanya kembali ke istrinya dengan halus "ti mana
anjeun teh Nyi? Tuluy ti iraha anjeun bisa Ulin?" (Dari mana kamu? Lalu
dari mana kamu bisa "Main"?).



Akhirnya istrinya menjelaskan bahwa ketika tadi pagi ia pergi ke sungai untuk
mencuci dan mengambil air, ia melihat Harimau berkelahi dengan 2 ekor monyet.
(Salah satu monyet memegang ranting pohon.) Saking indahnya perkelahian itu
sampai-sampai ia terkesima, dan memutuskan akan menonton sampai beres. Ia
mencoba mengingat semua gerakan baik itu dari Harimau maupun dari Monyet,
untungnya baik Harimau maupun Monyet banyak mengulang-ngulang gerakan yang
sama, dan itu mempermudah ia mengingat semua gerakan. Pertarungan antara
Harimau dan Monyet sendiri baru berakhir menjelang malam.



Setelah pertarungan itu selesai, ia masih terkesima dan dibuat takjub oleh apa
yang ditunjukan Harimau dan Monyet tersebut. Akhirnya ia pun berlatih sendirian
di pinggir sungai sampai betul-betul menguasai semuanya (Hapal), dan itu
menjelang tengah malam.



Apa yang ia pakai ketika menghindar dari serangan Abah Khaer, adalah apa yang
ia dapat dari melihat pertarungan antara Harimau dan Monyet itu. Saat itu juga,
Abah Khaer meminta istrinya mengajarkan beliau. Ia berpikir, 2 kepala yang
mengingat lebih baik daripada satu kepala. Ia takut apa yang istrinya ingat
akan lupa. Beliau berhenti berdagang dalam suatu waktu, untuk melatih semua
gerakan itu, dan baru berdagang kembali setelah merasa mahir. Diceritakan bahwa
beliau bisa mengalahkan semua perampok yang mencegatnya, dan mulailah beliau
membangun reputasinya di dunia persilatan.



Jurus yang dilatih:

1. Jurus Harimau/Pamacan (Pamacan, tetapi mohon dibedakan pamacan
yang "black magic" dengan jurus pamacan. Pamacan black magic biasanya
kuku menjadi panjang, mengeluarkan suara-suara aneh, mata merah dll. Silakan
guyur aja dengan air kalau ketemu yang kaya gini. ).


2. Jurus Monyet/Pamonyet (Sekarang sudah sangat jarang sekali
yang mengajarkan jurus ini, dianggap punah. Saya sendiri sempat melihatnya di
Tasikmalaya, semoga beliau diberi umur panjang, kesehatan dan murid yang
berbakti sehingga jurus ini tidak benar-benar punah).

3. Jurus Pepedangan (ini diambil dari monyet satunya lagi yang
memegang ranting).



Cerita di atas sebenarnya lebih cenderung mitos, tidak bisa dibuktikan
kebenarannya, walaupun jurus-jurusnya ada. Maenpo Cimande sendiri dibawa ke
daerah Priangan Timur dan Cianjur selatan oleh pekerja-pekerja perkebunan teh.
Hal yang menarik adalah beberapa perguruan tua di daerah itu kalau ditanya
darimana belajar Maenpo Cimande selalu menjawab "ti indung" (dari
ibu), karena memang mitos itu mempengaruhi budaya setempat, jadi jangan heran
kalau di daerah itu perempuan pun betul-betul mempelajari Maenpo Cimande dan
mengajarkannya kepada anak-anak atau cucu-cucunya, seperti halnya istrinya Abah
Khaer mengajarkan kepada Abah Khaer.



Perkembangannya Maenpo Cimande sendiri sekarang di daerah tersebut sudah
diajarkan bersama dengan aliran lain (Cikalong, Madi, Kari, Sahbandar, dll)..
Beberapa tokoh yang sangat disegani adalah K.H. Yusuf Todziri (sekitar
akhir 1800 - awal 1900), Kiai Papak (perang kemerdekaan, komandannya
Mamih Enny), Kiai Aji (pendiri Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka, perang
kemerdekaan), Kiai Marzuk (Maenpo H. Marzuk, jaman penjajahan Belanda),
dll.

 

Cimande
(Sejarah)



2. Versi Kedua

Menurut versi kedua, Abah Khaer adalah seorang ahli maenpo dari Kampung Badui.
Beliau dipercayai sebagai keturunan Abah Bugis (Bugis di sini
tidak merujuk kepada nama suku atau daerah di Indonesia Tengah). Abah Bugis
sendiri adalah salah seorang Guru ilmu perang khusus dan kanuragaan untuk
prajurit pilihan di Kerajaan Padjadjaran dahulu kala. Kembali ke Badui,
keberadaan Abah Khaer di Kampung Badui mengkhawatirkan sesepuh-sesepuh Kampung
Badui, karena saat itu banyak sekali pendekar-pendekar dari daerah lain yang
datang dan hendak mengadu jurus dengan Abah Khaer, dan semuanya berakhir dengan
kematian. Kematian karena pertarungan di tanah Badui adalah merupakan
"pengotoran" akan kesucian tanah Badui. 



Karena itu, pimpinan Badui (biasa dipanggil Pu'un) meminta Abah
Khaer untuk meninggalkan Kampung Badui, dengan berat hati... Abah Khaer pun
pergi meninggalkan Kampung Badui dan bermukim di desa Cimande-Bogor. Tetapi,
untuk menjaga rahasia-rahasia Kampung Badui (terutama Badui dalam), Abah Khaer
diminta untuk membantah kalau dikatakan dia berasal dari Badui, dan orang Badui
(Badui dalam) pun semenjak itu diharamkan melatih Maenpo mereka ke orang luar,
jangankan melatih... menunjukan pun tidak boleh. Satu hal lagi, Abah Khaer pun
berjanji untuk "menghaluskan" Maenpo nya, sehingga tidak ada lagi
yang terbunuh dalam pertarungan, dan juga beliau berjanji hanya akan memakai
dan memanfaatkannya untuk kemanusiaan. Oleh karena itu, dahulu beberapa
Guru-guru Cimande tua tidak akan menerima bayaran dari muridnya yang berupa
uang, lain halnya kalau mereka memberi barang... misal beras, ayam, gula merah
atau tembakau sebagai wujud bakti murid terhadap Guru. Barang-barang itupun,
oleh Guru tidak boleh dijual kembali untuk diuangkan.



Versi kedua ini banyak diadopsi oleh komunitas Maenpo dari daerah Jawa Barat
bagian barat (Banten, Serang, Sukabumi, Tangerang, dsb). Mereka juga
mempercayai beberapa aliran tua di sana awalnya dari Abah Khaer, misalnya Sera.
Penca Sera berasal dari Uwak Sera yang dikatakan sebagai salah
seorang murid Abah Khaer (ada yang mengatakan anak, tetapi paham ini
bertentangan dengan paham lain yang lebih tertulis). Penca Sera sendiri
sayangnya sekarang diakui dan dipatenkan di US oleh orang Indo-Belanda sebagai
beladiri keluarga mereka.

 

Cimande
(Sejarah)



3. Versi Ketiga

Versi ketiga inilah yang "sedikit" ada bukti-bukti tertulis dan
tempat yang lebih jelas. Versi ini pulalah yang dipakai oleh keturunan beliau
di Kampung Tarik Kolot - Cimande (Bogor). Meskipun begitu, versi ini
tidak menjawab tuntas beberapa pertanyaan, misal: Siapa genius yang menciptakan
aliran Maenpo ini yang kelak disebut Maenpo Cimande.



Abah Khaer diceritakan sebagai murid dari Abah Buyut, masalahnya dalam
budaya Sunda istilah Buyut dipakai sebagaimana "leluhur" dalam bahasa
Indonesia. Jadi Abah Buyut sendiri merupakan sebuah misteri terpisah, darimana
beliau belajar Maenpo ini... apakah hasil perenungan sendiri atau ada yang
mengajari? Yang pasti, di desa tersebut... tepatnya di Tanah Sareal terletak
makam leluhur Maenpo Cimande ini... Abah Buyut, Abah Rangga, Abah Khaer, dll.



Abah Khaer awalnya berprofesi sebagai pedagang (kuda dan lainnya), sehingga
sering bepergian ke beberapa daerah, terutama Batavia. Saat itu perjalanan
Bogor-Batavia tidak semudah sekarang, bukan hanya perampok... tetapi juga
Harimau, Macan Tutul dan Macan Kumbang. Tantangan alam seperti itulah yang
turut membentuk beladiri yang dikuasai Abah Khaer ini. Disamping itu, di
Batavia Abah Khaer berkawan dan saling bertukar jurus dengan beberapa pendekar
dari China dan juga dari Sumatra. Dengan kualitas basic beladirinya yang matang
dari Guru yang benar (Abah Buyut), juga tempaan dari tantangan alam dan
keterbukaan menerima kelebihan dan masukan orang lain, secara tidak sadar Abah
Khaer sudah membentuk sebuah aliran yang dasyat dan juga mengangkat namanya..



Saat itu (sekitar 1700-1800) di Cianjur berkuasa Bupati Rd. Aria
Wiratanudatar VI (1776-1813, dikenal juga dengan nama Dalem Enoh).
Sang Bupati mendengar kehebatan Abah Khaer, dan memintanya untuk tinggal di
Cianjur dan bekerja sebagai "pamuk" (pamuk=guru beladiri) di
lingkungan Kabupatian dan keluarga bupati. Bupati Aria Wiratanudatar VI
memiliki 3 orang anak, yaitu: Rd. Aria Wiranagara (Aria Cikalong),
Rd. Aria Natanagara (Rd.Haji Muhammad Tobri) dan Aom Abas
(ketika dewasa menjadi Bupati di Limbangan-Garut). Satu nama yang patut dicatat
di sini adalah Aria Wiranagara (Aria Cikalong), karena beliaulah yang merupakan
salah satu murid terbaik Abah Khaer dan nantinya memiliki cucu yang
"menciptakan" aliran baru yang tak kalah dasyat.



Sepeninggal Bupati Aria Wiratanudatar VI (tahun 1813), Abah Khaer pergi dari
Cianjur mengikuti Rd. Aria Natanagara yang menjadi Bupati di Bogor. Mulai saat
itulah beliau tinggal di Kampung Tarik Kolot - Cimande sampai wafat (Tahun
1825, usia tidak tercatat). Abah Khaer sendiri memiliki 5 orang anak,
seperti yang dapat dilihat di bawah ini. Mereka inilah dan murid-muridnya
sewaktu beliau bekerja di kabupaten yang menyebarkan Maenpo Cimande ke seluruh
Jawa Barat.





Dan ini adalah gambaran dari salah seorang anak Rd. Aria Wiratanudatar VI,
yaitu Aom Abas, yang setelah menjadi Bupati di Limbangan Garut juga bergelar
Rd. Aria Wiratanudatar. 





Sayangnya image tentang Abah Khaer sendiri tidak ada, cuma digambarkan bahwa
beliau: "selalu berpakain kampret dan celana pangsi warna hitam. Dan
juga beliau selalu memakai ikat kepala warna merah, digambarkan bahwa ketika
beliau "ibing" di atas panggung penampilannya sangat expressif,
dengan badan yang tidak besar tetapi otot-otot yang berisi dan terlatih baik,
ketika "ibing" (menari) seperti tidak mengenal lelah. Terlihat bahwa
dia sangat menikmati tariannya tetapi tidak kehilangan kewaspadaannya,
langkahnya ringan bagaikan tidak menapak panggung, gerakannya selaras dengan
kendang ("Nincak kana kendang" - istilah sunda). Penampilannya
betul-betul tidak bisa dilupakan dan terus diperbincangkan." (dari
cerita/buku Pangeran Kornel, legenda dari Sumedang, dalam salah satu bagian
yang menceritakan kedatangan Abah Khaer ke Sumedang, aslinya dalam bahasa
Sunda, pengarang Rd Memed Sastradiprawira).

 

Jurus-jurus
Cimande



Secara garis besar jurus-jurus Maenpo Cimande dibagi menjadi 3, yaitu:

1. Jurus Kelid Cimande (33 Jurus)

2. Jurus Pepedangan

3. Tepak Selancar ("Ibing" khas Cimande)



1. Jurus Kelid Cimande

Jurus Kelid Cimande dibagi menjadi 33 Jurus yang dilatih secara tunggal dan
berulang-ulang. Latihan diawali dengan posisi duduk dan biasanya
berpasang-pasangan. Latihan posisi duduk dimaksudkan agar murid konsentrasi
terlebih dahulu kepada gerakan tangan, dan tidak memikirkan dahulu langkah kaki
atau kuda-kuda. Nantinya, ketika murid sudah memiliki "rasa", baru
latihan dilanjutkan dengan berdiri.



Kuda-kuda Cimande termasuk salah satu kuda-kuda rendah, ini katanya disebabkan
karena awalnya Cimande dikembangkan di tanah yang licin, sehingga diperlukan
kuda-kuda yang rendah dengan langkah yang sangat berhati-hati sekali, beberapa
malah memakai langkah "seser". Walaupun begitu, hal ini tidak
mengurangi "mobilitas" dan kecepatan gerak dari pesilat. Perputaran
tumpuan kaki di jurus Cimande tidak terpaku ke tumit atau kaki bagian depan,
tetapi saling mengimbangi.



Ada yang menganggap bahwa aliran Cimande "cukup keras mengadu tangan"
ketika menangkis, padahal kalau digali lebih jauh sebenarnya tidak. Salah satu
ciri khas Cimande ketika menangkis adalah posisi tangan yang dirapatkan ke dada
(menempel ke ketiak, dari siku ke pergelangan melindungi dada, dengan telapak
tangan saling berhadapan, jari-jari mengarah ke luar). Tangkisan ini dilakukan
tidak semata-mata "membenturkan" badan/tangan dengan serangan lawan.
Tetapi dilakukan berbarengan dengan perputaran kuda-kuda, dilanjutkan
perputaran bagian tubuh dari pinggang ke atas, lalu perputaran dari siku tangan
sampai pergelangan (sehingga timbul gesekan antara ketiak dan lengan bagian
atas), perputaran telapak tangan dan diakhiri tekanan/dorongan ke luar atau ke
bawah (dalam hitungan detik). Efek yang dirasakan adalah
"seakan-akan" tidak ada benturan antara serangan lawan dan tangkisan
kita, malah lawan tertarik dan kehilangan keseimbangan. Ini saya rasakan
sendiri ketika bertamu ke guru di Tasikmalaya, waktu itu saya sampai jatuh
berguling-guling dan merasa sangat malu sekali, tetapi hal itu selalu membuat
saya ingat dan bersyukur. (Nuhun Pak...)



Berikut ini nama ke-33 Jurus Kelid Cimande:

1. Tonjok Bareng.

2. Tonjok Sabeulah.

3. Kelid Selup.

4. Timpah Sabeulah.

5. Timpah Serong.

6. Timpah Duakali.

7. Bateukan.

8. Teke Tampa.

9. Teke Purilit.

10. Geuweukan.

11. Kedutan.

12. Guaran.

13. Kedut Guar.

14. Kelid Dibeulah.

15. Selup Dibeulah.

16. Kelid Tonjok.

17. Selup Tonjok.

18. Kelid Tilu.

19. Selup Tilu.

20. Kelid Lima.

21. Selup Lima.

22. Peuncitan.

23. Timpah Bohong.

24. Serong Panggul.

25. Serong Gawil.

26. Serong Guar.

27. Singgul Serong.

28. Singgul Sabeulah.

29. Sabet Pedang.

30. Beulit Kacang.

31. Beulit Jalak Pengkor.

32. Pakala Leutik.

33. Pakala Gede.



Beberapa perguruan, terutama yang mengajarkan juga aliran lain, sudah tidak
mengajarkan ke-33 jurus itu secara asli, tetapi dicampurkan dengan jurus-jurus
lainnya, maka jangan heran apabila ada perguruan Cimande yang mengajarkan Jurus
Cimande hanya 18 atau 28. Tetapi juga tidak sedikit perguruan yang masih
mengajarkan ke-33 Jurus itu secara original.



2. Jurus Pepedangan

Untuk bagian ini saya tidak akan banyak menjelaskan, karena memang belum
belajar (hanya sempat melihat). Saya hanya akan sedikit menceritakan bahwa ada
anggapan bahwa jurus ini terinspirasi oleh monyet yang memegang ranting dalam
Sejarah Cimande Versi 1. Dan perputaran yang saya jelaskan di atas (soal
tangkisan) tetap diaplikasikan. Untuk Jurus Pepedangan ini saya sangat
mengharapkan Master-master Cimande di Forum ini untuk menjelaskan lebih jauh.



3. Tepak Selancar

Tepak Selancar adalah "Ibing Penca" khas Cimande. Mungkin bagi
sebagian orang Ibingan ini dianggap sepele, begitu juga saya ketika pertama
kali belajar, tetapi ternyata manfaat yang didapat sangat bernilai sekali.
Ibingan Cimande (dan juga dalam Maenpo lainnya) bukan hanya sekedar tarian
untuk hiburan, tetapi merupakan rangkaian jurus yang sudah disatukan secara
terpadu dan dipikirkan matang-matang. Bagi beberapa pesilat, ibingan ini adalah
pertarungan real "tanpa lawan", karena itu mereka melakukannya dengan
sungguh-sungguh sekali (dengan rasa) seakan-akan dalam pertarungan
sesungguhnya.
On Sat, Sep 13, 2008 at 9:57 PM, mh <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

















    
            Baraya, keur ngalegaan totoongan perkara SILAT, ieu aya referensi

mangrupa desertasi urang Ostrali,

Tuan Ian Douglas Wilson, judulna "The Politics of Inner Power: The

Practice of Pencak Silat in West Java".

Sabuku lengkep, tiasa di-download.



http://wwwlib.murdoch.edu.au/adt/browse/view/adt-MU20040210.100853



salam,

mh


      

    
    
        
        
        
        


        


        
        
        
        
        








      

Kirim email ke