janten emut iklan Tantowi Yahya te nya:

". . . malas membaca adalah pangkal kebodohan,kebodohan adalah pangkal 
kemiskinan . . . " 
 
Jadi yang menyebabkan Indonesia miskin... konklusina kana artikel anu 
dialungkeun ku ABAH HARJA...wilujeng
 



----- Original Message ----
From: mh <[EMAIL PROTECTED]>
To: kisunda <[email protected]>; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Sunday, September 21, 2008 10:42:19 AM
Subject: [kisunda] MACA Euy! MACA!

Tantangan Indonesia ke Depan Susutnya Budaya Baca
Minggu, 21 September 2008 | 01:48 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Perkembangan multimedia dan budaya menonton yang
tinggi di kalangan masyarakat Indonesia, dan menjadi bagian dari
budaya kita, merupakan tantangan yang harus dijawab. Kondisi ini
memunculkan fenomena menyusutnya budaya baca. Jumlah penerbit
bertambah dan jumlah toko buku bertambah, tetapi di sisi lain budaya
baca harus terus dipicu dan dipacu.

Demikian dikemukakan Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama dalam
orasinya tentang "Peran Buku dalam Pengembangan Intelektualitas dan
Karakter Bangsa" pada Syukuran 25 Tahun Penerbit Mizan, Sabtu (20/9)
malam di Jakarta. "Karena budaya baca yang masih rendah, Human
Development Index Indonesia berada pada peringkat ke-107 dari 177
negara. Membaca buku, budaya membaca, masih merupakan sesuatu yang
harus kita picu dan pacu agar Indonesia bisa bersaing dengan
negara-negara maju," tandasnya.

Syukuran 25 Tahun Mizan yang bertajuk "Menjelajah Semesta Hikmah"
dihadiri sekitar 300 orang. Tampak hadir sejumlah tokoh, antara lain
Komaruddin Hidayat, Mudji Sutrisno, Anies Baswedan, Mochtar
Pabottingi, dan August Parengkuan.

Jakob menilai, 25 tahun Mizan yang mengesankan tidak saja menjelajah
semesta, tetapi juga telah memberikan sumbangsih guna membangun
karakter bangsa, sesuatu yang masih diperlukan bangsa ini. "Dengan
kerja keras, disiplin waktu, dan dengan rasa saling percaya dan
menafikan rasa curiga, Mizan mencoba menjawab tantangan bangsa ini.
Tantangan justru membangkitkan jawaban," ujarnya.

Direktur Utama Mizan Haidar Bagir mengatakan, tantangan yang dihadapi
Mizan dan penerbitan buku pada umumnya tak kurang dari suatu cut
throat competition. Sebuah samudra merah membentang di hadapan. Di
satu sisi, langkah-langkah yang sudah diambil Mizan selama ini tak
mungkin diulang, tak mungkin lagi menengok ke belakang. Mizan tak
mungkin lagi hanya melakukan business as usual.

"Dengan kesadaran itulah, pada usianya yang ke-25 tahun ini, Mizan
memantapkan langkah untuk melanjutkan perjalanannya, bukan lagi dengan
sikap anak muda yang ingin tampil eksklusif dan memonopoli kebenaran,
tetapi dengan rendah hati mengakui bahwa mutiara kebenaran ada di
mana-mana, dan—sebagaimana pesan Sang Nabi—menjadi kewajiban
orang-orang yang percaya untuk memungutnya. Pada usia yang ke-25 tahun
inilah Mizan melanjutkan perjalanan Menjelajah Semesta Hikmah,"
ungkapnya.

Kuntowijoyo Award

Syukuran 25 Tahun Mizan juga ditandai dengan peluncuran Kuntowijoyo
Award. Komaruddin Hidayat selaku Ketua Komite Kuntowijoyo Award
mengatakan, Kuntowijoyo namanya diabadikan untuk Kuntowijoyo Award
guna mengenang dia selaku cendekiawan, pemikir, dan penggagas ilmu
sosial profetik dan ilmu sastra profetik yang telah menulis lebih dari
50 buku.

"Kuntowijoyo Award akan diberikan kepada para cendekiawan yang
berprestasi dalam mengembangkan penelitian dan praktik di berbagai
cabang ilmu- ilmu sosial dan humaniora," katanya. (nal)

nal

Dapatkan artikel ini di URL:
http://entertainment.kompas.com/read/xml/2008/09/21/01482920/tantangan.indonesia.ke.depan.susutnya.budaya.baca

------------------------------------

Yahoo! Groups Links




      

Kirim email ke