kang ulah ngambek nya, bahasan sae,
ngan ningali tulisana siga barisan tentara
nu teu biasa maca janten haroream macana
padahal sae eusina... hehehehehe ulah ngambek nya

--- On Sat, 6/12/08, mh <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: mh <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [kisunda] "Blossom" Tapi Teu Kembangan?
To: "kisunda" <[email protected]>, [EMAIL PROTECTED], "Urangsunda" 
<[EMAIL PROTECTED]>
Received: Saturday, 6 December, 2008, 11:44 PM










    
            Bandung Blossom Minus Bunga yang Mekar



RIBUAN warga menyaksikan iring-iringan kendaraan hias yang melintas,

saat parade kendaraan hias "Bandung Blossom 2008" di Jln. Merdeka Kota

Bandung, Sabtu (6/12). Acara yang bertema "Parade Bandung Creative"

tersebut, dalam rangka HUT ke-198 Kota Bandung.* ADE BAYU INDRA



JIKA Kota Kembang hanyalah kenangan masa lalu, kenangan itulah yang

coba dihadirkan kembali lewat "Bandung Blossom Parade Bandung Creative

198", Sabtu (6/12).



Sejak pukul 9.00 WIB, sedikitnya 700 kendaraan, termasuk delman,

becak, dan sepeda ontel mulai berjajar di depan podium di samping

Balai Kota Bandung Jln. Merdeka. Namun, dari ratusan kendaraan

tersebut, tak terlihat bunga-bunga yang bermekaran.



Sejumput rangkaian bunga hanya dipasang di pintu mobil milik kepala

satuan kerja perangkat daerah (SKPD). Hanya terlihat mobil hias dari

Dinas Pertamanan, Dinas Pertanian, dan PDAM yang ditutupi bunga secara

keseluruhan, sementara kendaraan hias dari Dinas Pendapatan Daerah

(Dispenda) Kota Bandung berhiaskan bulu unggas asli.



Peserta paling banyak justru dari kalangan motoris yang menampilkan

berbagai atraksi. Antusiasme masyarakat pun tidak tampak saat parade.

Mereka hanya menyemut di dekat podium utama. Padahal jalur parade

melewati 16 jalur utama lalu lintas di Kota Bandung.



Parade bunga tanpa bertabur bunga itu menjadi ironi. Bahkan, tidak

tampak bunga ki merak sebagai Puspa Kota Bandung berdasarkan SK. No.

552.51/SK.070- huk 1994 pada puluhan mobil berhias tersebut.



Memang, konsep parade tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya

yang mewajibkan menghias kendaraan dengan bunga. Pada pergelaran kali

ini, peserta dibebaskan untuk menghias kendaraan mereka sekreatif

mungkin dengan menggunakan bahan-bahan yang ada dan ramah lingkungan

sesuai dengan julukan Bandung Kota Kreatif.



"Secara teknis lapangan, banyak hal yang perlu diperbaiki. Harapan

kami, Bandung Blossom bisa menyerupai Tournament of Roses di Pasadena

Amerika Serikat yang betul-betul tampilan parade bunga dengan

kendaraan bermotor," ujar Kepala Dinas Pariwisata Kota Bandung M.

Askary Wirantaatmadja.



Tournament of Roses Pasadena dimulai sejak satu abad lalu dan biasa

digelar setiap awal tahun dengan menawarkan parade kendaraan 90%

hiasan bunga dan daun yang diikuti berbagai negara di belahan dunia.

Event tersebut lahir dari keinginan untuk mempromosikan daerah

penghasil bunga sekaligus memberdayakan ekonomi warga Pasadena.



Sementara, bunga belum menjadi budaya dan sumber penghasilan bagi

warga Bandung. Bahkan, Bandung harus mengimpor bunga untuk menggelar

acara tersebut. Lalu, dimanakah gaung Gerakan Sejuta Bunga yang sudah

digagas sejak 2003 lalu?



"Terus terang, kami kesulitan bunga. Selain karena musim hujan

produksinya berkurang, juga harganya jadi mahal. Kami jadi kesulitan

merias kendaraan, bunga terpaksa didatangkan dari daerah lain, mulai

Cihideung, Purwakarta, sampai Majalengka," ungkapnya.



Wali Kota Bandung Dada Rosada seusai parade mengakui pergelaran

Bandung Blossom minim bunga. "Selain bunga yang dipakai kurang, juga

harganya sedang mahal," ujarnya.



Dada meminta maaf kepada warga Bandung yang terganggu perjalanannya

karena kegiatan tersebut menimbulkan kemacetan di sejumlah titik lalu

lintas. Rute yang ditempuh setiap kendaraan berbeda sesuai dengan

klasifikasi kendaraan.



Sepeda, becak, dan delman melewati rute Jln.

Merdeka-Lembong- Veteran-Sunda- Sumbawa-Citarum- Diponegoro, dan berakhir

di Gasibu. Sementara mobil dan kendaraan hias melewati jalur Jln.

Diponegoro-Ir. H. Djuanda-Merdeka- Tamblong- Asia

Afrika-Sudirman- Rajawali- Supadio-Pajajara n-Cihampelas- Abdul

Rivai-Cipaganti- Dr. Djundjunan-Pasupati , dan berakhir di Gasibu.



Kekecewaan sedikit terbayar pada puncak acara berupa pergelaran

kesenian, budaya, dan bazar di Gasibu. Terdapat area yang menampung

sejumlah komunitas di Bandung,dan area bazar yang menawarkan ragam

kuliner modern dan tradisional. Namun, predikat Kota Kembang masih

sebatas kenangan, meskipun hanya dalam parade bunga. (Ririn

N.F./"PR")** *



Citation: http://newspaper. pikiran-rakyat. com/prprint. php?mib=beritade 
tail&id=46808


      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      Start your day with Yahoo!7 and win a Sony Bravia TV. Enter now 
http://au.docs.yahoo.com/homepageset/?p1=other&p2=au&p3=tagline

Kirim email ke